
“Oh jadi begitu ya bi, pantas saja tadi Tuan Dean langsung teriak histeris pas lihat darah netes ke bajunya,” ucap Akira setelah mendengarkan cerita Dean yang phobia darah.
“Ya begitu non, kami semua yang kerja disini sudah di beri tahu terlebih dahulu bahwa tuan phobia darah, bahkan kami gak boleh memakai baju warna merah karena itu persis dengan warna darah.” Ucap Santi yang sudah bekerja lama di rumah Dean, dia itu kepala dapur yang mengurusi semua keperluan di dapur kecuali masak karena untu masak ada chef khusus.
Akira mengangguk-ngangguk kecil. Ia sekarang paham kenapa di perusahaan Dean ada peraturan dilarang memakai baju warna merah dan tidak boleh memakai lipstik merah terang ketika Tuan Dean berada di kantor, ternyata alasannya itu.
“Sebenarnya dulu Tuan Dean gak phobia darah, tapi semenjak tiga tahun lalu, setelah kejadian yang sangat mengerikan itu membuat Tuan Dean jadi phobia darah,” lanjut Santi.
Akira mengerutkan kedua halisnya penasaran, “Emangnya kejadian apa bi?”
Santi yang sadar akan kelancangannya langsung tersenyum tidak enak, “Ya ampun, sepertinya saya terlalu berlebihan ceritanya.” Ucap santi sungkan sambil berdiri dari duduknya. “Non Akira lebih baik ke kamar tuan saja, mungkin sekarang tuan sudah bangun,” lanjutnya.
“Eh tapi bi, saya ingin deng—“
“Saya pergi kebelakang dulu non, masih banyak yang harus saya kerjakan.! Non Akira kalau butuh apa-apa tinggal panggil saya saja,” potong Santi sambil berlalu meninggalkan Akira.
“Bi Santi bikin penasaran aja, aku kan jadi ingin tahu apa yang terjadi tiga tahun yang lalu.” Gumam Akira lalu ia beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju kamar sang tuan.
Saat membuka kamar, Dean masih dalam keadaan tidur. Bajunya sudah diganti bahkan baju yang hanya terkena satu tetes darah itu sudah di buang. Akira tidak menyangka Dean bisa setakut itu dengan darah.
Semua di rumah ini tidak boleh ada warna merah, bahkan warna bumbu dalam masakan pun tidak boleh ada warna merahnya, makannya Dean menyediakan chef khusus untuk dirinya. Alkohol yang di minumnya juga tidak boleh bewarna merah, intinya semua yang berada di dekatnya tidak boleh mengandung warna merah.
Kata bi Santi, sebenarnya Dean tidak takut dengan warna merah tetapi warna merah itu selalu mengingatkannya pada warna darah. Ya, untung saja Dean bukan seorang wanita. Kalau dia seorang wanita yang setiap sebulan sekali mendapatkan datang bulan, mungkin selama datang bulannya akan dalam keadaan pingsan.
__ADS_1
Akira menatap wajah Dean yang sudah di obati. Omong-omong, tadi Dokter yang memeriksa Dean sempat curiga dengan warna biru di pipi pria itu, dan menanyakan hal itu pada Akira. Tetapi Akira berpura-pura tidak tahu, ia tidak mungkin jujur kan? Bahwa ia adalah pelaku yang telah membuat pipi pria itu bonyok dan mengakibatkan munculnya darah di hidung Dean. Lagipula itu salah Dean sendiri, berani-beraninya bermain dengan dirinya. Gini-gini juga Akira sudah tingkat sabuk hitam dalam ilmu bela diri tapak suci. Jadi senggol dikit, bacok.
Akira berjalan ke arah sofa, dan mendaratkan pantatnya disana. Sebenarnya Akira tidak nyaman berada di kamar ini karena membuatnya teringat akan kejadian dua hari kemarin, ia juga merasa sangat canggung ketika nanti berhadapan dengan Dean tapi mau bagaimana lagi ia harus bekerja ditambah hari ini banyak sekali yang harus ia kerjakan, belum lagi jadwal tuan Dean hari ini di censel semua. Membuat kerjaannya tambah banyak.
Sebagian kerjaannya sudah ia ambil dari lantai empat tempat ia bekerja selama dirumah ini, dan mengerjakannya di kamar Dean sambil menunggu Dean bangun. Akira pun larut dalam kerjaannya tanpa sadar bahwa Dean sudah terbangun.
Sudah sekitar satu jam Dean memandangi Akira yang sedang sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya. Sesekali wanita itu memijit keningnya, mungkin karena pusing mengerjakan pekerjaan yang manumpuk. kadang-kadang juga menggigit ujung kukunya dan mendagahkan kepalanya ke atas langit-langit kamar sambil mengibaskan tangannya ke leher, padahal kamar ini sama sekali tidak panas. Tapi seolah-olah wanita itu merasa kepanasan.
Dean tersenyum kecil melihat tingkah Akira, menurutnya sangat lucu melihat hal itu.
Dua hari yang lalu Dean selalu terbayang-bayang akan percintaanya yang panas dengan Akira. Suara erangan Akira terus berdengung di telinganya, wajah seksinya ketika mendapat pelepasan tidak luput dari pikiran Dean. Dan jangan lupa, lekuk tubuh Akira yang sangat menggiurkan membuat Dean frustasi, karena hanya dengan membayangkannya saja sudah membuat sisi kepriannya bangun.
Kemarin malam seperti biasa, ia memanggil wanita sewaan untuk menuntaskan hasratnya tapi saat wanita sewaanya itu sudah melepaskan semua bajunya, Dean malah kehilangan gairahnya dan mengurungkan niatnya yang ingin menuntaskan hasratnya. Ia tidak mengerti dengan dirinya sendiri, bukankah tadi ia sungguh bergairah tapi kenapa saat sudah ada wanita sewaan di depanya malah jijik dengan wanita itu. Dean tidak pernah seperti itu sebelum tidur dengan Akira.
Tadi malam Dean sengaja minum alkohol sampai mabuk, biasanya ia minum hanya untuk menghilangkan bayangan mengerikan tiga tahun lalu, tapi tadi malam untuk pertama kalinya ia minum untuk menghilangkan bayangan percintaannya yang panas dengan Akira serta lekuk tubuh wanita itu. Dan ia baru bisa tidur di jam 5 pagi.
“Eh Tuan Dean sudah bangun,?” ucap Akira sedikit kaget saat melihat tuannya sedang duduk bersandar pada kepala kasur. Akira yang ingin menelpon seseorang meletakan kembali ponselnya dan berjalan mendekati Dean.
Semakin Akira mendekat semakin membuat Dean kikuk, seketika Dean terbayang lekukan tubuh Akira. Dibalik baju longgar wanita itu tersimpan tubuh seksi yang bisa menggelapkan semua mata lelaki jika melihatnya.
Dean berdehem tidak karuan, memalingkan matanya dari Akira tapi tetap menjaga sikap wibawanya.
Akira mengambil air putih dari atas nakas dan memberikannya ke hadapan sang tuan yang terus berdehem “Ini minum dulu, tuan.”
__ADS_1
Dean menerima air putih yang diberikan kepadanya tanpa melihat ke arah Akira dan menghabiskan satu gelas penuh air itu dalam 3 kali tegukan.
Akira tersenyum menerima gelas yang sudah kosong lalu menaruhnya kembali di atas nakas,
“Apa Tuan Dean membutuhkan sesuatu? Atau masih merasakan sakit di tubuh anda, Tuan?” tanya Akira penuh perhatian.
“Apa kata Dokter yang memeriksaku tadi? apa penyebab hidungku berdarah?” tanya Dean, tidak mengacuhkan pertanyaan Akira.
“Dokter juga tidak tahu pasti penyebab hidung tuan berdarah, tapi menurut dugaannya, Hidung tuan berdarah karena mendapatkan tonjokan yang cukup keras di wajah anda,tuan.”
Dean menyentuh pipinya dan memang lumayan sakit ketika ia menyentuhnya. Tapi perasaan ia tidak berkelahi dengan siapapun, dan siapa pula yang berani menonjoknya, atau mungkin karena ia terbentur dengan suatu benda saat ia tidur. Tapi benda apa? Dean melihat ke sekitar kasur tapi tidak ada benda apapun yang berpotensi membuat pipinya merasa sakit.
Dean menepuk-nepuk bantal, kemungkinan di dalam bantalnya ada benda keras tapi saat memeriksanya tidak ada apapun, bantalnya seperti biasa sangat empuk.
Lantas apa penyebab yang membuat pipinya sakit sampai membuat hidungnya berdarah,? Ah, atau mungkin saat tadi malam ia mabuk, ia tidak sadar wajahnya terbentur benda keras, tapi kalau tadi malam terbenturnya, pasti hidungnya akan berdarah saat tadi malam juga dan saat pagi darahnya sudah mengering.
Ah, Kepala Dean pusing memikirkan hal itu. ia menggelengkan kepalnya mencoba menghilangkan hal yang memusingkan itu dan melihat ke arah Akira yang sedang tersenyum memperhatikannya.
“Apa ada sesuatu yang Tuan Dean inginkan?” tanya Akira ramah, dihatinya ada sedikit merasa bersalah karena telah membuat kondisi tuannya seperti saat kini.
“Aku ingin mencium bibirmu?” lirih Dean menatap lekat ke bibir Akira
“Hah?”
__ADS_1
...----------------...
...----------------...