Aku Milikmu

Aku Milikmu
Roma II


__ADS_3

Dean menghela napas kecewa ketika melihat wajah yang ia sangka Akira ternyata bukan. Dari jauh memang terlihat sangat mirip tapi setelah dilihat dari dekat sangat berbeda dengan Akira, walaupun ada beberapa kesamaan dengan wajah Akira. Dan yang pasti Akira lebih cantik daripada wanita itu.


Dean pergi begitu saja dari hadapan wanita itu tanpa mengucapkan permintaan maaf walaupun sudah menarik tangan wanita itu dengan kasar.


Kenapa aku bisa-bisanya menyangka wanita itu adalah Akira? Akira tidak mungkin berada di Roma, untuk apa wanita itu ada Roma? Oh, sial. Gara-gara ucapan Ethan aku jadi membayangkan Akira berada di Roma. Umpat Dean dalam hati.


Saat di perjalanan menuju bandara Ethan mengatakan sesuatu hal yang membuat pikiran Dean kembali mempertanyakan untuk apa sebenarnya ia mencari Akira?


“Akira memang sudah membohongi Tuan Dean tentang status asli dirinya, tapi selebihnya tidak ada satupun hal yang membuat Tuan Dean dirugikan. Justru Akira lah yang banyak dirugikan.” Ucap Ethan saat itu sambil tetap fokus mengendarai mobil.


Dean yang duduk kursi belakang menghentikan membaca laporan di tabletnya


“Misalnya, seperti Akira yang kehilangan keperawanannya oleh Tuan Dean. Saya tahu Tuan Dean adalah pria pertama bagi Akira. Lalu kemudian Akira hamil, berhenti bekerja dan segala keadaan ibu hamil yang tidak menyenangkan. Begitu banyak kerugian yang Akira dapatkan... Sedangkan Tuan Dean? apa yang dirugikan.?”


“Setahu saya Akira sama sekali tidak pernah meminta uang pada Tuan Dean, jangankan minta uang, minta pertanggung jawaban pada Dean saja tidak. Justru Tuan Dean lah yang memaksa ingin bertanggung jawab. Dan Akira juga tidak meminta jabatan yang tinggi di perusahaan, bahkan dia langsung memundurkan diri setelah mengetahui dirinya hamil. Lalu kenapa Tuan Dean ngotot sekali ingin membalas perbuatan Akira? Padahal Akira tidak melakukan hal yang merugikan Tuan Dean.”


Dean yang mendengarkan kata-kata itu terdiam membisu, ia tidak tahu harus menjawab seperti apa karena jika di pikir-pikir perkataan yang diucapkan Ethan ada benarnya.


“Akira juga tidak mengancam Tuan Dean, seperti mencemarkan nama baik atau melakukan hal buruk lainnya. Dan saat Akira keguguran saya bisa melihat bahwa Akira sangat merasa kehilangan atas bayinya. Saya rasa itu bukan sebuah sandiwara. Mungkin saja Akira yang saat ini menghilang sedang menenangkan dirinya dari segala keburukan yang sudah terjadi dalam hidupnya. Jadi saya rasa, lebih baik Tuan Dean menghentikan untuk mencari Akira, itu hanya akan membuang-buang waktu Tuan Dean yang berharga.”


“Mau sebanyak apapun kamu bicara, aku tidak akan berhenti mencari Akira sampai wanita itu ditemukan! Aku ingin mendengar langsung penjelasan dari wanita itu dan sebaiknya kamu tidak melewati batas, Ethan. Kamu hanya sekedar bawahanku, jadi jangan sok menasehati ku, seakan-akan apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan,” balas Dean dengan sinis.


Ethan hanya menghembuskan napas pelan. Walaupun respon Dean terdengar kasar tapi setidaknya ia sudah mengeluarkan perkataan yang sudah ia pendam sejak lama. Ia hanya ingin Dean menjalani kehidupannya dengan tenang, tidak terus dikelilingi dengan rasa marah.


Dean membenarkan apa yang dikatakan Ethan, tapi ada satu hal yang tidak Ethan ketahui, bahwa dulu Sarah pun sama seperti Akira.


Sarah tidak pernah meminta uang sepeserpun pada Dean, tidak banyak menuntut, dan mengerti semua keterpurukan yang Dean alami. Sarah sama sekali tidak melakukan hal yang membuat Dean rugi, semua yang diminta wanita itu hanya hal-hal sederhana yang membuat Dean semakin jatuh cinta pada wanita itu. Tetapi ada satu hal yang membuat Dean hingga saat ini belum bisa terlepas dari kejadian tiga tahun lalu, yaitu karena Sarah telah mencuri sesuatu yang berharga dan sensitif bagi setiap orang. Bahkan bisa membuat seseorang gila jika hal itu dicuri.

__ADS_1


Ya, apalagi jika bukan persoalan hati, perasaan. Sarah telah mencuri hati Dean, seluruh ruangan di hati Dean diisi oleh nama Sarah, hingga ia tidak percaya jika Sarah bisa berbuat hal keji saat tiga tahun lalu. Dan Sekarang yang dilakukan Akira sama seperti yang dilakukan Sarah saat itu. Akira memang tidak merugikan secara materi tetapi Akira telah membawa lari seluruh hati Dean, hingga membuat Dean merasa frustasi dengan kepergian Akira yang tiba-tiba.


Memainkan perasaan orang lain adalah sebuah kejahatan yang sangat keji, yang seharusnya diberikan hukuman yang berat. Dan Akira yang sudah mempermainkan perasaan Dean harus diberi hukuman yang setimpal. Pikir Dean.


Dean tidak sadar, entah sejak kapan ia jatuh cinta pada Akira. Ia hanya merasa nyaman bersama Akira dan saat mendapati kebenaran identitas Akira, Dean langsung berpikiran buruk di tambah Akira menghilang begitu saja, hingga membuat Dean berpikir bahwa Akira ingin menghancurkan hidupnya, sama seperti yang dilakukan Sarah.


Dean menghembuskan napas lelah, mengusap wajahnya sambil melihat ke atas langit. Sebenarnya Engkau sedang merencanakan apa, Tuhan? Kenapa Engkau memberikan kehidupan yang begitu berat padaku? Aku juga ingin hidup normal seperti kebanyakan orang-orang.


Dean melihat ke sekeliling dengan perlahan, melihat satu persatu orang yang berlalu lalang di hadapannya dengan tatapan kosong. Akira, apakan kita akan bisa bertemu lagi? Aku ingin mengambil kembali hatiku yang kamu bawa pergi. Bisakah kamu kembalikan hatiku seperti sebelum aku mengenal kamu? Sungguh, aku tidak ingin menanggung perasaan menyesakkan ini sendirian, Akira. kamu juga harus merasakan apa yang hatiku rasakan.


Akhirnya Dean memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanannya ke tempat tujuan, dan tanpa Dean sadari wanita yang mencuri hatinya baru saja lewat di belakang punggungnya. Wanita itu tertawa bahagia bersama teman laki-lakinya. Tidak sedikitpun di dalam pikirannya memikirkan tentang mantan calon suaminya yang berada di tanah air. Saat ini ia hanya ingin menikmati setiap waktu yang ia lewati dengan penuh rasa syukur.


***


“Maaf Tuan, ternyata bensinnya habis,” ucap supir yang mengantarkan Dean setelah Dean bertanya penyebab mobilnya tiba-tiba berhenti.


Ini pertama kalinya Dean datang ketempat ini walaupun sudah beberapa kali datang ke Roma, dan setahu Dean kediaman sepupunya bukan berada di tempat yang sedang ia tuju.


Tempat yang sedang Dean tuju sekarang seperti sebuah pedesaan, sangat jauh dari perkotaan. Jadi perlu beberapa jam untuk sampai kesana.


“Oh sial,bisa-bisanya ponselku mati di saat darurat seperti ini,” umpat Dean dalam bahasa Indonesia.


“Tuan, rekan saya nanti akan datang kesini membawa bensin tapi untuk dia sampai kesini membutuhkan waktu kurang lebih tiga jam. Jika Tuan tidak mau menunggu, Tuan bisa naik bus ke tempat tujuan, Tuan.” Ucap supir itu dengan penuh rasa salah.


Dean mengepalkan tangannya kuat-kuat menahan rasa kesal. Ia ingin sekali mengumpat pada sang supir, bisa-bisanya pria itu lupa mengisi bensin padahal perjalanan yang mereka tuju sangat jauh.


Awas saja... aku akan membuat perhitungan pada orang yang mengirimkan supir idiot itu padaku. Umpat Dean dalam hati sambil keluar dari dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan kasar, hingga sang supir yang berada di dekatnya tersentak kaget.

__ADS_1


Untung saja udara di luar tidak panas karena sudah sore menjelang malam. Warna kemerahan di langit pun sudah berkemilaun di ufuk barat dan seketika Dean bisa melihat pemandangan yang begitu indah di sekitar tempatnya berada.


Rasa kesalnya tiba-tiba meluap setelah melihat pemandangan di luar dan di gantikan dengan rasa damai sekaligus tentram.


“Setidaknya pemandangan disini tidak terlalu membuat aku rugi.” Gumam Dean pelan.


Tetapi rasa damai dan tentram tidak bertahan lama dalam diri Dean, apalagi setelah menghabiskan satu jam menunggu bus lewat. Pemandangan di sekitar tidak bisa lagi menahan rasa kesal Dean yang merasa lelah dengan perjalanan seharian penuh. Di tambah dari tadi tidak ada satupun kendaraan lewat.


Dean merasa dejavu dengan keadaan yang sedang ia alami. Beberapa bulan lalu ia juga pernah mengalami hal seperti ini bersama Akira saat di puncak, dan waktunya juga sama saat sore hari menjelang malam tetapi bedanya saat itu ban mobil Dean yang kempes sedangkan saat ini mobilnya yang kehabisan bensin dan yang pasti saat ini ia hanya sendirian tanpa ada Akira di sampingnya.


Di saat Dean sedang melamun mengingat kejadian saat di puncak bersama Akira, tiba-tiba ia dikagetkan dengan sebuah mobil yang berhenti di dekat mobilnya.


Dean menoleh pada pria pengemudi mobil itu yang baru saja keluar dari mobilnya, kemudian Dean beralih pada wanita yang juga ikut keluar dari mobil tersebut.


Tubuh Dean mematung melihat wanita itu, jantungnya berdetak kencang melihat si pelaku yang mencuri hatinya. Apakah karena aku sedang memikirkan Akira, aku jadi melihat wanita lain menjadi mirip dengan Akira? Tapi wanita di hadapanku sama persis seperti Akira!


Oh sial, sepertinya aku harus segera periksa mata untuk tidak salah lagi mengenali orang lain. Aku bisa gila jika semua wanita yang aku lihat menjadi mirip seperti Akira.


“Ini Dean kan?” tanya wanita itu yang sama terkejutnya melihat mantan calon suaminya ada di tempat ini.


Apakah dunia selebar daun Kelor itu benar? Aku sudah pergi jauh dari rumahku tapi kenapa aku harus bertemu dia lagi? Sesempit itukah Dunia ini? ucap Akira dalam hati.


------------


Akhirnya Dean ketemu juga sama Akira, huhuhu... sebenarnya abang Dean kangen banget sama Akira tapi dia gengsi aja buat ngaku.


dan makasih buat para pembaca yang luar biasa, author terharu banget kalian selalu nunggu cerita ini up. padahal cerita jauh banget dari kata bagus. Peluk hangat untuk para readers yang luar biasa :)

__ADS_1


__ADS_2