
Ada rasa bersalah dalam hati Dean melihat wanita yang baru ia temui empat hari lalu sedang berbaring lemah di atas kasur rumah sakit. Ya, kini Akira sedang berada di rumah sakit karena mengalami hidrasi dan kekurangan nutrisi yang cukup parah.
Selama empat hari Akira sama sekali tidak menyentuh makanan yang diberikan Dean, bahkan ia sama sekali tidak minum setetes air pun, hingga akhirnya pertahanan tubuh Akira berada dibatas akhir dan jatuh sakit.
Dean menatap ngeri pada pergelangan tangan Akira yang di infus, tangan itu terlihat sangat rapuh dan tak berdaya. Tubuh Akira juga menjadi lebih kurus daripada empat hari yang lalu, dan wajahnya pun terlihat sangat pucat. Kini Akira terlihat seperti mayat hidup.
Akira, apa yang kamu lakukan? kenapa kamu selalu menolak makanan yang aku berikan? Apakah kamu sedang mencoba bunuh diri? Asalkan kamu tahu, Akira, aku tidak membiarkanmu mati begitu saja. batin Dean.
Sudah lebih dari empat jam Dean menunggu Akira sadar, ia sama sekali tidak beranjak dari tempatnya walau hanya sesenti. Ia tetap menatap lurus pada wajah Akira seakan-akan jika ia menoleh sedikit ke arah lain ia akan kehilangan Akira.
Bahkan perawat dan pasien yang berlalu lalang di sekitar IGD pun merasa heran pada Dean yang sama sekali tidak bergerak sedikitpun kecuali mata yang berkedip dan dada yang berkembang kepis menarik napas.
“Ughh...”
Dean yang melihat Akira mulai sadar langsung beranjak dari kursi dan mendekati Akira dengan cepat, dan hal itu membuat orang-orang yang berada di ruangan IGD sontak menoleh pada Dean.
Mereka merasa iri pada Akira yang begitu dikhawatirkan oleh Dean, padahal jika mereka mengetahui kebenaran sesungguhnya, mungkin mereka akan mencaci maki Dean habis-habisan.
Akira perlahan membuka mata, wajahnya meringis kesakitan merasakan pusing yang luar biasa dan saat penglihatannya sudah jelas ia langsung membuang wajah ke arah lain, ia tidak ingin melihat wajah Dean yang pas sekali berada di depan wajahnya.
Semenjak kejadian Dean membentak Akira dan mencengkram lehernya, Akira selalu membuang wajahnya ke arah lain ketika berhadapan dengan Dean. Melihat wajah Dean membuat Akira terus terbayang-bayang wajah Dean yang seram sekaligus tatapannya yang tajam.
“Apa ada bagian tubuh kamu yang sakit?” tanya Dean dengan canggung dan Akira hanya terdiam tidak menjawab.
Mendapati respon Akira yang seperti itu Dean hanya bisa menghela nafas panjang. Namun sekarang ia merasa lega karena Akira sudah kembali sadar walaupun sikapnya masih sama seperti hari-hari yang lalu, terlihat dingin dan acuh tak acuh.
Tak selang berapa lama datang seorang dokter untuk memeriksa keadaan Akira, dan memberitahu bahwa Akira bisa langsung pulang setelah infusnya habis, lalu memberi resep obat untuk Akira.
“Ini resep obatnya, bisa langsung di tebus di apotek dan diusahakan untuk meminumnya secara rutin,” ucap sang dokter dan Dean hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Setelah menunggu dua jam lebih akhirnya Akira bisa pulang dan selama itu tidak ada obrolan yang keluar dari mulut Akira dan Dean, mereka sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing.
Sebelum pulang Dean terlebih dahulu ke apotek yang ada di rumah sakit untuk mengambil obat Akira. Akira yang duduk menunggu di kursi roda tiba-tiba saja terlintas dalam pikirannya untuk melarikan diri.
Kini posisi Dean sedang membelakangi dirinya dan lorong rumah sakit pun dalam keadaan lenggang, akan memudahkan dirinya untuk kabur.
Jantung Akira mulai berpacu kencang memikirkan dirinya yang ingin kabur. Ini adalah satu-satunya kesempatan Akira untuk kabur karena jika ia sudah kembali ke apartemen yang disewa Dean selama di Roma, maka tidak akan ada kesempatan lagi bagi dirinya untuk terlepas dari cengkraman Dean.
Sekarang atau tidak sama sekali, Akira. Batin Akira yang merasa ragu-ragu.
Akira menatap silih berganti antara punggung Dean dan lorong rumah sakit dan saat ia ingin menapakkan kakinya di atas ubin tiba-tiba Dean menoleh pada Akira, membuat Akira kaget luar biasa, untungnya ia bisa mengendalikan wajahnya berpura-pura biasa saja.
Saat Dean kembali menoleh ke depan, Akira langsung menepis keraguannya dan dengan cepat turun dari kursi roda lalu berlari menjauh dari Dean.
Dean langsung membalikan badannya ketika kursi roda yang di duduki Akira menyenggol kakinya dan betapa kagetnya Dean melihat Akira yang sedang berlari.
“Akira apa yang kamu lakukan?” teriak Dean
“Sial,” umpat Dean sambil mengambil obat tersebut lalu berlari kencang menyusul Akira. Sedangkan penjaga apotek itu hanya tercengang melihat wajah Dean yang terlihat menyeramkan.
“Akira,” panggil Dean sambil terus berlari. Kini mereka sudah keluar dari area rumah sakit dan terus saling berlarian.
“AKIRA BERHENTI!” Teriak Dean, “TUBUH KAMU MASIH DALAM KEADAAN LEMAH, AKIRA.” lanjut Dean.
Dean benar-benar merasa heran, wanita itu baru saja keluar dari rumah sakit dan sudah 4 hari tidak makan lalu dari mana Akira mempunyai kekuatan untuk berlari.
“AKIRA AKU MOHON BERHENTI!”
Akira tidak memperdulikan ucapan Dean, bahkan ia sama sekali tidak mengurangi kecepatan langkah kakinya. Dalam pikirannya hanya ada kata ‘kabur’ Ia tidak ingin terus menerus di kurung oleh Dean, apalagi tidak ada alasan yang jelas Dean mengurung dirinya. Padahal Akira sudah menjelaskan alasannya bekerja di perusahaan Dean dan menutupi identitas dirinya, tetapi Dean tetap tidak membebaskan dirinya.
__ADS_1
“YANG SEDANG KAMU LAKUKAN INI AKAN TETAP SIA-SIA, AKIRA.” Napas Dean sudah mulai terengah-engah dan keringat pun sudah mulai bermunculan di keningnya.
“AKU TIDAK PEDULI!” Akira dengan lihai menyelip di antara kerumunan orang-orang yang sedang berjalan, ia mengeluarkan seluruh tenaganya untuk tetap berlari cepat.
“Sorry, sorry, sorry,” ucap Akira pada beberapa orang yang tidak sengaja ia senggol.
Orang-orang di sekitar yang melihat aksi kejar-kejaran kedua orang itu hanya menggeleng-gelengkan kepala dan hanya menganggap kedua orang itu hanya sedang bertengkar layaknya seorang pasangan.
“KAMU TAHU AKIRA? AKU TIDAK AKAN BERHENTI MENGEJAR KAMU... JADI LEBIH BAIK KAMU BERHENTI SAJA KARENA UJUNG-UJUNGNYA KAMU AKAN TERTANGKAP JUGA!” Berbicara sambil berlari kencang ternyata sangat melelahkan. Napas Dean sudah terengah-engah dan kakinya sudah mulai lemas.
“LEBIH BAIK KAMU SAJA YANG BERHENTI MENGEJARKU, DEAN! KARENA AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!!” Akira tidak peduli ia akan tertangkap lagi atau tidak, yang terpenting sekarang ia harus tetap berlari sampai titik penghabisan. Setidaknya ia sudah berusaha sekuat dirinya, untuk hasilnya nanti ia pasrahkan pada takdir hidupnya
Dean terkekeh mendengar jawaban Akira yang begitu percaya diri. Mari kita lihat seberapa kuat wanita itu melarikan diri dariku,? seberapa kuat tubuhnya yang tidak diberi asupan empat hari itu terus bergerak menjauh? Dan seberapa kuat kamu ingin bermain-main denganku, Akira? Ah, sudah lama sekali aku tidak mendapatkan hiburan seperti ini.
Akira yang tidak mendengar suara Dean menoleh kebelakang dan ia melihat Dean masih mengejar dirinya. Akira berdecak kesal, ia sudah mulai lelah dan kakinya sudah sangat lemas.
Ah, sial. Seharusnya aku makan dengan benar kalau akan ada acara kejar-kejaran seperti ini. kalau saja tubuhku dalam keadaan sehat seperti biasanya mungkin saja aku bisa berlari lebih kencang dan terlepas dari pria gila itu... Oh Tuhan, kakiku sudah tidak kuat untuk lari...
“MENYERAHLAH AKIRA, AKU LIHAT KAMU SUDAH KELELAHAN.” Dean terkekeh melihat langkah kaki Akira yang sudah tidak sekencang sebelumnya.
Akira tidak membalas ucapan Dean, ia terus tetap berlari memaksakan kakinya yang sudah lemas. Hey kaki, aku mohon jangan dulu menyerah. Kita harus terbebas dari pria gila itu, aku tahu kamu pasti masih ingin berpetualang ke banyak tempat. Jadi aku mohon , bertahanlah sedikit lagi dan teruslah berlari!!!
KIIIKK...BRUG...
Dean sontak menghentikan langkah kakinya sambil terbelalak melihat pemandangan yang begitu mengerikan di hadapan matanya. Detak jantungnya seolah-olah berhenti berdetak mendapati keterkejutan yang luar biasa. Tiba-tiba kejadian kecelakaan dua puluh tahun lalu kembali terlintas dari bayangan Dean yang menewaskan ibunya tercinta.
Akira.
-----------------
__ADS_1
Semoga kalian gak kecewa sama endingnya ya gaes.. Yuk, komen Yuk..