
“MENYERAHLAH AKIRA, AKU LIHAT KAMU SUDAH KELELAHAN.” Dean terkekeh melihat langkah kaki Akira yang sudah tidak sekencang sebelumnya.
Akira tidak membalas ucapan Dean, ia terus tetap berlari memaksakan kakinya yang sudah lemas. Hey kaki, aku mohon jangan dulu menyerah. Kita harus terbebas dari pria gila itu, aku tahu kamu pasti masih ingin berpetualang ke banyak tempat. Jadi aku mohon sekali, bertahanlah sedikit lagi dan teruslah berlari!!!
KIIIKK...BRUG...
Dean sontak menghentikan langkah kakinya sambil terbelalak melihat pemandangan yang begitu mengerikan di hadapan matanya. Detak jantungnya seolah-olah berhenti berdetak mendapati keterkejutan yang luar biasa. Tiba-tiba kejadian kecelakaan dua puluh tahun lalu terlintas dari bayangan Dean yang menewaskan ibunya tercinta.
Akira.
“AKIRA,” teriak Dean dengan suara bergetar.
Hampir saja Akira tertabrak mobil yang berlalu lalang. Wanita itu menyebrang jalan tanpa memperdulikan mobil yang lewat, bahkan ketika hampir tertabrak wanita itu seperti tidak punya rasa takut sama sekali, terus melanjutkan berlari seakan-akan tidak ada kejadian yang hampir membuat nyawanya melayang.
Dean masih berdiri di tempat sambil melihat tubuh Akira yang semakin mengecil dari pandangannya. Dadanya masih kembang kempis dengan napas terengah-engah. Ya, beberapa detik lalu jantungnya bagaikan dicabut dari tempatnya.
Bagaimana jika tadi Akira benar-benar tertabrak? Mungkin saja ia akan menyalahkan dirinya seumur hidup karena kejadian tersebut! dan paling Dean takutkan adalah kehilangan Akira untuk selama-lamanya, bagaimana ia menjalankan hidupnya jika Akira tidak ada di dunia ini?
Kehilangan Akira selama dua bulan lebih saja sudah membuat hidupnya kehilangan arah, apalagi jika ditinggalkan selama-lamanya? Mungkin dirinya akan menjadi mayat hidup atau bahkan lebih mengerikan daripada mayat hidup.
Aku tidak akan membiarkan kamu pergi, Akira.
Dean langsung lari secepat mungkin ketika lampu hijau menyala. Ia tidak boleh kehilangan Akira untuk yang kedua kalinya. Tidak peduli Akira suka atau tidak suka, ia akan tetap memaksa Akira berada di sampingnya.
Aku bersumpah Akira. Aku tidak akan membiarkanmu lepas setengah jengkal pun dariku. Batin Dean dengan sepenuh hati dan jiwa, ia sama sekali tidak bercanda mengucapkan sumpahnya itu.
Dean bagaikan mendapatkan transfer energi yang begitu luar biasa, ia berlari dua kali lebih cepat daripada sebelumnya, hingga akhirnya ia menemukan punggung wanita yang amat ia kenal luar dalamnya.
Dean tersenyum melihat punggung Akira yang masih saja berlari. Kekuatan fisik Akira tidak bisa diremehkan begitu saja. Tidak makan empat hari saja wanita itu masih kuat berlari sangat jauh apalagi jika tubuhnya dalam keadaan sehat, mungkin Akira bisa berlari mengalahkan orang yang juara lari.
Sudah ku bilang, Akira. pelarianmu akan tetap sia-sia karena Aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Maafkan aku Akira, sudah membuat perjuanganmu sia-sia.
“AKIRA,” teriak Dean dengan suara bahagia seperti seorang teman yang memanggil teman lamanya yang sudah lama tidak bertemu.
__ADS_1
Akira terbelalak mendengar suara Dean, ia menoleh kebelakang dan benar saja Dean tengah mengejarnya, bahkan jaraknya sudah semakin dekat.
Oh sial, aku kira dia sudah tertinggal jauh di belakang. Energi apa yang dia punya, bagaimana bisa Dean menyusulku. Apakah ini waktunya aku untuk menyerah, aku sudah tidak kuat untuk berlari.
Ketika Dean menggapai pundak Akira, tubuh Akira langsung terjatuh ke atas rerumputan pinggir jalan. Kini Akira sudah menyerah, tidak ada gunanya lagi ia berlari tapi setidaknya ia merasa senang karena sudah berusaha sekuat mungkin walaupun akhirnya ia tertangkap juga. Mungkin ini memang sudah takdir hidupnya yang tidak bisa lepas dari Dean.
“Hah... hah... hah...” napas keduanya sama-sama terengah-engah, merasakan lelah yang amat luar biasa.
Dean ikut menjatuhkan tubuhnya ke atas rerumputan di samping Akira, merentangkah tubuhnya menghadap ke atas langit sama seperti Akira.
“Hah... hah... apa aku bilang... hah... kamu... hah... pasti tertangkap... hah..” ucap Dean tanpa menoleh.
“Hah.. aku... sudah... hah... tidak punya... hah... hah... tenaga..hah.. meladeni ocehan...mu, Dean.” balas Akira sambil ngos-ngosan.
Dean terkekeh pelan, entah sudah berapa lama ia tidak merasakan sebahagia dan sesemangat ini. walaupun sangat lelah dan kakinya mati rasa tapi ia bahagia bisa menangkap Akira kembali.
Dean menarik tangan Akira dan memegangnya erat-erat agar wanita itu tidak kembali melarikan diri. Bisa saja wanita itu kembali melarikan diri setelah istirahat beberapa saat. Jalan pikiran wanita itu sama sekali tidak bisa ditebak, Jadi kali ini Dean tidak memberikan celah untuk Akira, sedangkan Akira hanya pasrah, ia sudah tidak punya tenaga sama sekali untuk melawan.
Keduanya sama-sama terdiam sambil menunggu napasnya kembali normal. Tempat pemberhentian mereka tepat sekali berada di tengah taman pinggir danau. Angin sore berhembus melewati tubuh keduanya, memberikan sedikit kesejukan pada tubuh panas dan penuh keringat itu.
“Kenapa kamu begitu gegabah, Akira? tadi kamu hampir saja tertabrak mobil tapi tetap saja berlari,” ucap Dean memulai setelah nafasnya kembali normal.
“itu karena aku ingin sekali kabur darimu, Dean. bahkan jika ada hal membahayakan nyawaku, aku tidak akan takut asalkan aku terlepas dari pria gila seperti kamu!”
Dean terkekeh lalu memiringkan wajahnya menghadap wajah Akira yang memerah karena kelelahan. “Kenapa kamu ingin sekali kabur dariku, Akira? Kamu lebih takut pada diriku daripada kematian, hem?”
“Kematian lebih baik daripada dikurung terus menerus olehmu, Dean.” jawab Akira ketus.
“Aku jamin 100 persen, kamu akan menyesal telah mengucapkan kata-kata itu, Akira!” balas Dean sambil tersenyum menatap wajah Akira.
Akira mendengus sambil tersenyum miring, “justru aku merasa sangat yakin telah mengucapkan kata-kata itu,”
Dean hanya tersenyum membalas ucapan Akira. dan selama beberapa saat mereka kembali terdiam.
__ADS_1
“Kenapa kamu masih belum membebaskanku, Dean? Aku sudah menjelaskan alasan aku kerja di perusahaan kamu dan aku juga sudah menjelaskan alasan aku menyembunyikan identitasku. Tapi kenapa kamu masih menahanku, sebenarnya apa lagi yang kamu inginkan, Dean?” ucap Akira setelah beberapa saat terdiam.
Dean menarik wajahnya kembali menghadap ke langit. “Aku masih belum percaya dengan alasan kamu yang konyol itu,” jawab Dean datar.
Akira menghela napas panjang lalu menoleh pada Dean. “Aku harus berbuat apa agar kamu percaya,? Aku berani bersumpah kalau aku sama sekali tidak berbohong! Aku bekerja di perusahaan kamu hanya sekedar penasaran. Aku hanya penasaran bagaimana rasanya kerja kantoran dan saat itu pas sekali kantor kamu membuka lowongan pekerjaan sebagai sekretaris. Aku sama sekali tidak punya niat jahat apalagi menghancurkan hidup kamu, Dean!” Jelas Akira dengan penuh penegasan.
“Kamu belum menjelaskan tentang uang yang kamu dapatkan untuk membangun semua bisnis kamu itu... Yang aku tahu kamu hanya seorang anak pemulung, sekolah di sekolahan biasa dan kamu juga tidak punya kerabat yang kaya raya. Terus dari mana kamu dapat modal sebanyak itu jika bukan bayaran dari orang yang ingin menghancurkan hidupku,?”
Akira menghela nafas panjang sambil kembali menghadap ke atas langit. “Aku bersumpah, Dean, aku sama sekali tidak punya niat jahat terhadap kamu!” ucap Akira serius.
Dean terkekeh mengejek, “Lihat kan, kamu sama sekali gak berani memberitahu aku tentang sumber uang yang kamu miliki itu. dan itu membuat aku tidak percaya dengan sumpah yang kamu ucapkan, Akira!”
Akira terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa lagi untuk meyakinkan Dean jika ia benar-benar tidak punya niat untuk berbuat jahat. Jika aku menceritakan tentang hasil uang yang aku dapatkan, itu sama saja dengan membuka luka lama kembali. Sungguh, aku tidak ingin merasakan rasa sakit itu lagi.
Dean menoleh pada Akira yang masih terdiam membisu, “kenapa diam? Lagi berpikir untuk mengarang cerita, hem?”
“Aku sedang berpikir- bagaimana cara terbaik untuk membunuh kamu, Dean!”
Dean terkekeh sambil bangun dari rebahannya, “Kamu butuh tempat yang sunyi untuk memikirkan hal itu, Akira. Jadi, ayo kita pulang!”
“Aku udah gak kuat jalan.”
Dean berdecak lalu membelakangi tubuh Akira, “ayo naik, aku gendong.”
Akira menghela napas berat, masih diam di tempat sambil menatap punggung Dean yang lebar
“Ayo naik cepetan, katanya udah gak kuat jalan!” ucap Dean sambil menoleh ke belakang.
Akira berdecak kesal lalu naik ke punggung Dean, “mendingan kamu lepasin aku, Dean, daripada kamu cape-cape gendong aku!”
Dean hanya mendengus kasar mendengar ucapan Akira, lalu mulai melangkahkan kakinya meninggalkan tempat tersebut.
“Aku baru sadar kalau danau ini indah banget, dan orang-orang disini juga kelihatan pada bahagia. Enak banget ya hidup mereka.” Ucap Akira yang melihat orang-orang di sekitar danau. Sedangkan Dean hanya diam sambil tetap berjalan.
__ADS_1
“Aku juga ingin punya kehidupan bahagia seperti mereka,” lanjut Akira sambil menempelkan kepalanya ke pundak Dean dengan nyaman.