Aku Milikmu

Aku Milikmu
Roma 1


__ADS_3

Ethan berdiri tidak jauh dari posisi Dean yang sedang mengancingkan kemeja dengan wajah lesu tidak bersemangat. Kini sudah dua bulan misi pencarian Akira, namun sampai detik ini belum juga ditemukan.


Sekarang Dean tidak lagi bertingkah marah-marah tapi berubah menjadi orang pendiam, bahkan lebih pendiam dari pada orang pendiam sesungguhnya. Dalam satu hari bisa dihitung berapa kali Dean mengeluarkan suaranya, dan itu sukses membuat Ethan sangat kesusahan. Bagaimana tidak, saat Ethan menjelaskan atau meminta keputusan dari Dean soal pekerjaan pria itu justru hanya menjawab perkataan Ethan hanya dengan lirikan mata.


Sungguh, Ethan lebih senang berbicara dengan orang yang berbicara memakai bahasa isyarat dari pada hanya dengan lirikan mata. Orang yang bisa berbicara dengan banyak bahasa pun tidak akan mengerti jika hanya diberikan lirikan mata.


Kini suara Dean bagaikan sebuah mutiara di dasar lautan. Sekalinya suara Dean keluar maka itu akan sangat berharga, bahkan lebih berharga daripada suara penyanyi terkenal papan atas tingkat Dunia.


“Tuan Dean ini ada undangan pernikahan dari Talia dan kata Tuan Zeno Tuan Dean harus datang kesana.” Ucap Ethan setelah Dean selesai berpakain.


Dean melirik malas pada undangan yang diserahkan Ethan lalu menghembuskan napas panjang. Ya, Talia adalah sepupunya yang sudah lama tinggal di Roma dan sanak saudara Dean pun sebagian besar tinggal di luar negeri. Hanya ada beberapa kerabat saja yang tinggal di tanah air.


“Acara pernikahannya dua hari lagi tapi Tuan Zeno menyuruh Tuan Dean untuk berangkat sore nanti,” lanjut Ethan. “Dan saya juga sudah mengatur ulang pekerjaan Tuan Dean selama tiga hari kedepan.”


Dean mengerti kenapa sang ayah menyuruhnya berangkat lebih awal, pasti karena untuk berkumpul dengan keluarga disana terlebih dahulu. Andai saja Dean bisa memilih, ia lebih memilih untuk tidak datang ke acara pernikahan sepupunya itu. Dean selalu merasa terkucilkan jika berada di tengah-tengah keluarga besarnya itu dan selalu teringat kembali ejekan-ejekan yang terlontar dari mulut-mulut pedas kerabatnya.


Setiap kali ada pertemuan keluarga Dean selalu dipandang rendah oleh keluarga yang lain, alasannya karena ia terlahir dari rahim wanita yang mempunyai latar belakang tidak jelas, di tambah lagi sang ibu hamil di luar nikah, membuat Dean selalu mendapatkan ejekan anak haram.


Mereka menganggap sang ibu tidak lebih dari seorang wanita jal*ng yang sengaja menggoda Zeno agar bisa hidup kaya raya bergelimang harta. Padahal kenyataannya Zeno lah yang mengejar-ngejar sang ibu dan sengaja membuat pujaan hatinya hamil agar mau menikah dengan dirinya.


Dan di saat ibunya meninggal, Dean bisa melihat di wajah keluarganya yang sama sekali tidak menunjukan rasa sedih atau sedikit rasa simpati pun. Dan yang lebih parahnya lagi, belum genap satu bulan ibunya meninggal, keluarganya yang lain sudah mencarikan wanita pengganti untuk ayahnya.


Entah dimana letak hati nurani mereka. Bagaimana bisa mereka tidak malu melakukan hal itu. Namun untungnya sang ayah dengan tegas menolak tawaran keluarganya dan meminta mereka tidak mengurusi urusan pribadinya. Dan sampai saat ini posisi sang ibu sama sekali tidak tergantikan di hati Zeno. Walaupun Dean tidak suka dengan sikap Zeno yang kejam dan suka mengatur hidupnya tapi Dean sangat bersyukur ayahnya tidak menikah lagi setelah ibunya meninggal.

__ADS_1


“Bilang pada ayah, aku tidak ingin datang ke pesta pernikahan itu dan aku tidak akan takut dengan ancamannya,” ucap Dean datar sambil melangkah keluar kamar.


Wow, ini kalimat terpanjang yang Tuan Dean ucapkan selama dua bulan ini. ucap Ethan dalam hati, takjub mendengar suara Dean.


“Tapi jika Tuan datang kesana, Tuan Zeno akan memberitahu  rahasia tentang Akira dan akan membantu Tuan Dean menemukan Akira.” sahut Ethan.


Dean sontak menghentikan langkahnya mendengar nama Akira disebut dan setelah beberapa saat ia menoleh pada Ethan yang berada di belakang punggungnya.


“Tuan Zeno mengetahui semua rahasia tentang Akira dan akan memberitahu Tuan Dean setelah Tuan Dean pulang dari Roma.” Ucap Ethan memperjelas.


“Kenapa ayah bisa tahu tentang Akira?” gumam Dean yang masih bisa terdengar di telinga Ethan.


“Karena ayah Tuan Dean sangat hebat, hingga mengetahui semua tentang Akira.”


Dean menatap Ethan dengan tatapan kesal lalu ia mendengus sambil membalikan tubuh menghadap ke depan. “Sial, pria tuan itu selalu saja bisa mengendalikan diriku semaunya.”


“Jika Tuan Dean kesana untuk menanyakan Akira maka Tuan Dean tidak akan mendapatkan informasi apapun! Tuan Zeno akan memberikan informasinya setelah Tuan Dean pulang dari Roma.”


Dean mengepalkan tanganya kuat-kuat sambil berdecak kesal. Ia sudah tidak sabar ingin mengetahui keberadaan Akira kemudian memberi perhitungan kepada wanita itu. Dan sekarang ia harus menunggu tiga hari untuk mendapatkan informasi yang katanya rahasia. Sungguh rasanya tiga hari itu terasa sangat lama.


***


Kini Dean sudah berada di Roma tepatnya di bangunan Colosseum, tempat wisata yang paling terkenal di Roma. Ia meminta pada supir yang menjemputnya untuk mampir terlebih dahulu ke Colosseum.

__ADS_1


Setelah berjalan beberapa saat Dean menghentikan langkahnya lalu duduk di atas kursi yang menghadap ke bangunan Colosseum. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan perlahan.


Dean kembali teringat ketika ia liburan ke Roma bersama kedua orang tuanya, satu tahun sebelum ibunya meninggal. Ingatan itu masih terkenang di kepala Dean walaupun ada beberapa yang sudah tidak Dean ingat.


Dulu ibunya pernah berkata, “Dean tahu gak? kalau Roma dibalik jadi Amor, dan Amore itu artinya cinta.”


“Makanya orang-orang menyebut Roma sebagai kota cinta.” Lanjut ibu Dean.


“Dean aneh deh sama orang-orang, kenapa mereka selalu membahas tentang cinta, seakan-akan cinta itu hal yang luar biasa dan baru saja ibu juga ngomongin tentang cinta,” ucap Dean polos sambil memasukan makanan ke dalam mulutnya.


Sang ibu terkekeh pelan sambil mencubit gemas pipi Dean, “aduh... kayanya ibu salah ngomong deh, seharusnya ibu gak ngomong tentang cinta sama anak kecil, nanti yang ada anak ibu ini keburu cepet dewasa,” ucap sang ibu gemas.


“Aku udah tujuh tahun, bu. Jangan bilang aku anak kecil lagi!” jawab Dean sambil mengerucutkan bibirnya.


Sang ibu tertawa pelan, merasa gemas dengan ekspresi Dean yang kesal di sebut anak kecil. “Dean memang masih kecil. Dean aja belum mengerti tentang cinta, iya kan?”


“Memangnya kalau orang belum mengerti tentang cinta, itu artinya dia masih kecil?” tanya Dean serius.


Sang ibu mencium kedua pipi Dean yang menggembung karena terlalu banyak diisi makanan lalu mengelus kepala Dean dengan lembut. “Iya. Orang yang belum mengerti tentang cinta berarti dia masih kecil, makannya Dean jangan dulu mengerti tentang cinta ya, soalnya ibu belum siap kehilangan anak ibu yang ngegemesin ini.”


Dean tersenyum kecil mengingat kenangan itu sambil berkata dalam hati. Andai ibu tahu, Sampai detik ini aku belum juga mengerti tentang cinta. Saat aku mengira aku telah mengerti tentang cinta, justru aku tersakiti dengan cinta itu, ibu. Andai ibu masih ada mungkin aku kan bertanya, apa sebenarnya yang dimaksud dengan cinta.? Kenapa cinta tak seindah yang diceritakan orang-orang? Atau mungkin aku tidak pantas untuk mendapatkan cinta? Sungguh, aku tidak mengerti tentang cinta, ibu.


Dean kembali menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan sambil melihat ke atas langit. Saat kembali melihat kedepan ia tiba-tiba seperti melihat sosok yang amat ia kenal, yang sejak dua bulan ini ia cari-cari.

__ADS_1


“Akira?” ucap Dean tidak percaya dengan mata membelalak. Ia langsung beranjak dari atas kursi dan berlari menuju Akira yang tidak jauh dari tempatnya.


Dean tersenyum sinis seraya berkata. “Akhirnya aku menemukanmu, Akira. lihat saja apa yang aku lakukan pada wanita yang berani-beraninya mempermainkan perasaanku!”


__ADS_2