
Setelah cukup lama Akira menangis ia jatuh tertidur dan selama Akira tidur tidak sekali pun Dean beranjak dari atas kasur. Ia terus menatap wajah Akira yang tidur menggunakan tangannya, mengelus lembut kepala Akira seperti seorang ibu yang sedang menidurkan anaknya.
Kini pikiran Dean dipenuhi dengan banyak pertanyaan, terutama tentang kejelasan hubungan ia dan Akira. Entah bagaimana kelanjutan hubungan mereka, apalagi Akira pagi ini akan kembali melanjutkan perjalanannya.
Tubuh Dean sedikit terperanjat ketika ada sebuah tangan yang mengelus wajahnya. “Kamu melamunkan apa, Dean?” tanya Akira parau dengan mata yang masih terpejam, namun tangannya tetap mengelus pipi Dean.
Akira sudah terbangun beberapa menit yang lalu tapi sepertinya pria yang sedang memeluk tubuhnya ini sama sekali tidak menyadari hal itu.
Dean tersenyum lembut lalu mencium telapak tangan Akira yang dipakai untuk mengelus pipinya. “Apa tidurnya nyenyak?” tanya Dean sambil mendaratkan bibirnya di kening Akira.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku, apa yang sedang kamu pikirkan, sampai tidak menyadari bahwa aku sudah bangun dari tadi?” kali ini Akira membuka matanya dan seketika mata mereka saling bertemu, memandang satu sama lain.
“Hanya soal pekerjaan di kantor,” jawab Dean berbohong lalu mendekap tubuh Akira lebih erat.
“Pagi ini kamu akan langsung pergi?” lanjut tanya Dean yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Akira.
Dean menghela napas panjang lalu sedikit memundurkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Akira dengan jelas. “Kenapa?” Akira bertanya karena Dean terus menatap wajahnya tanpa berbicara apa pun.
Dean menempelkan keningnya di kening Akira dan mengelus wajah Akira seraya berkata, “Hubungan macam apa yang kita miliki sekarang, Akira?”
“Kalau kamu nganggepnya gimana?” tanya Akira balik.
__ADS_1
“Hubungan yang tidak jelas, yang tidak mempunyai arah tujuan!”
“Tidak jelas bagaimana? Bukankah kejadian tadi malam memperjelas hubungan kita. Ya, walaupun... Aku masih sangat ragu dengan cintamu, Dean.” balas Akira sambil memainkan jarinya di dada Dean yang telanjang.
Kali ini Dean sama sekali tidak tersinggung dengan keraguan yang Akira miliki, wajar jika Akira masih sangat ragu pada cintanya, karena trauma yang Akira miliki tidaklah mudah.
“Bagaimana aku meyakinkan hatimu, Akira? jika kamu saja akan pergi meninggalkan aku tanpa batas waktu yang jelas!”
Akira melepaskan diri dari pelukan Dean lalu mendudukkan tubuhnya menghadap Dean. “Justru itu yang membuat aku yakin dengan cintamu, Dean.” jawab Akira serius.
Dean membalas tatapan Akira lalu ikut duduk menyandarkan punggung pada tembok. “caranya?”
“Menunggu,” jawab Akira sambil tersenyum merekah dan hal itu membuat Dean mengerutkan alisnya.
“Tapi sampai kapan aku harus menunggu?”
“Aku juga tidak tahu, entah sampai kapan perjalananku berakhir... Waktu akan membuktikan kesungguhan cintamu, Dean.” Akira menghela napas panjang lalu menggenggam erat satu tangan Dean dengan kedua tangan Akira. “Jika ketika aku kembali kamu masih setia menunggu, masih dengan perasaan yang sama seperti saat ini, maka yakinlah, tidak ada sedikit pun keraguan dalam hatiku untuk cintamu, Dean.” Akira mengecup telapak tangan Dean cukup lama lalu menaruh tangan Dean di pipi Akira.
“Tapi jika saat aku kembali kamu justru berpaling, maka ungkapan cinta dalam hatiku tidak akan pernah terucap sekali pun. Dan kamu sudah tahu, bahwa itu artinya kita tidak ditakdirkan bersama.”
Dean menghela napas panjang lalu menundukkan kepala tanpa mengucapkan apa pun. Ia ingin membantah ucapan Akira, bahwa dirinya bisa membuktikan kesungguhan cintanya tanpa harus Akira meninggalkan dirinya. Dean berani bersumpah demi langit dan bumi bahwa dirinya benar-benar mencintai Akira, bahwa cintanya bukan hanya sekedar cinta sesaat, yang tidak akan tergerus oleh zaman. Tapi Dean merasa percuma membantah perkataan Akira karena ia bisa melihat keputusan yang teguh di mata Akira, yang siapapun tidak akan bisa menyurutkan niat wanita itu.
__ADS_1
“Dan satu hal yang harus kamu tahu, Dean. ini bukan perjalanan biasa yang hanya sekedar membuktikan kesungguhan cintamu, itu bukan tujuan utamaku. Banyak cara yang bisa aku lakukan untuk membuktikan kesungguhan cintamu, Dean, tapi menurutku menunggu adalah cara yang paling terpercaya," Akira menghela napas sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Selain itu juga, Aku sedang mencari jawaban yang tak pernah kunjung membuat diriku puas, tentang apa sebenarnya arti hidup ini!? Jika Tuhan Maha baik, kenapa Dia seperti tidak pernah memberikan kehidupan bahagia untukku dan aku ingin mendapatkan jawaban dari semua pertanyaanku!?”
Akira seperti bisa membaca apa yang ada di hati dan pikiran Dean, tentang bantahan perjalanannya ini.
Dean mengangkat wajahnya dan menatap langsung pada bola mata Akira. “Kalau begitu, izinkan aku untuk ikut bersamamu, Akira. Aku memiliki pertanyaan yang sama sepertimu, jadi aku juga ingin mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu.”
Akira menggeleng pelan sambil tersenyum kecil. “Cara kita mendapatkan jawaban itu berbeda, Dean. Kembalilah ke Indonesia, temui ayahmu dan cobalah kembali bersosialisasi dengan sahabat-sahabatmu... Mereka sudah sangat lama menunggu kedatanganmu... ayahmu, sahabat-sahabatmu sudah sangat merindukanmu, Dean.” Akira mengusap air mata yang jatuh dari mata Dean. Pria itu tidak sadar mengeluarkan air matanya.
Akira menarik tubuh Dean ke dalam pelukannya lalu mengusap punggung Dean penuh kasih sayang.
“Sepertinya mataku kelilipan,” Dean mengelak dirinya yang menangis.
“Tak perlu malu mengeluarkan air matamu, Dean. Air mata tak selalu diartikan dengan kelemahan, justru air mata menandakan bukti kekuatan.”
“Tapi para pria tidak pernah ingin memperlihatkan air matanya pada siapapun.” Balas Dean dengan suara parau
“Memangnya sekarang aku bisa melihatmu menangis, aku hanya bisa melihat punggungmu, Dean.” sahut Akira dengan air mata yang sudah mulai meluncur dari matanya dan setelah itu Dean tidak menahan-nahan lagi air matanya keluar.
Keduanya menangis bersama sambil terus memeluk satu sama lain. Mereka tahu bahwa mereka sudah terlalu lama menanggung kehidupan yang sangat berat ini seorang diri dan tidak tahu harus membaginya pada siapa. Tapi sekarang, di dalam pelukan yang hangat ini dan dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipi. Hati mereka merasa lega karena saat ini mereka sudah menemukan tempat yang paling nyaman untuk berbagi segala kesenangan dan duka dalam hidup ini.
Sekarang mereka tidak akan takut lagi pada cobaan hidup yang akan datang di depan nanti, mereka akan melewati cobaan itu berdua, tidak sendirian lagi. Mereka akan terus berpegangan tangan dengan erat dan saling menguatkan pundak satu sama lain. Masalah yang akan datang terasa kecil di penglihatan mereka selagi mereka tetap percaya satu sama lain.
__ADS_1
“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku, Akira.” Dean sadar bahwa dirinya sudah terlalu lama meninggalkan ayah dan sahabat-sahabatnya. Selama ini ia selalu terikat dengan masa lalu yang membuat hidupnya tidak jelas, tidak mempunyai arah tujuan. Tapi kali ini Dean kembali menemukan jalan hidupnya, jalan yang sudah lama ia tinggalkan.