
“Lain kali suruh tukang aja yang benerin kalau ada atap yang bocor, jangan pak Adi yang benerin. Saya nggak mau pak Adi kenapa-napa,” ucap Akira lembut pada pria yang yang sudah menginjak umur 60 tahun.
“Apalagi pak Adi benerinnya pas lagi hujan, gimana coba kalau pak Adi jatuh? Pak Adi temenin ibu aja, kalau ada apapun yang bermasalah dengan kosan langsung panggil tukang,” ucap Akira lagi, ia benar-benar khawatir saat mengetahui pria yang berumur 60 tahun itu nekat naik ke atas genteng untuk membenarkan atap yang bocor di salah satu kamar kosan.
Pria yang bernama Adi itu hanya tersenyum ramah sambil mengangguk mengiyakan, “kalau panggil tukang kelamaan, Mbak Ira, nanti malah keburu banjir kamarnya. Dan selagi saya masih mampu, saya pasti yang langsung ngerjain,” jawab Pak Adi dengan takzim.
“Pokoknya lain kali nggak boleh kaya gitu, lagi pula saya nggak akan bangkrut cuma buat bayar tukang ngebenerin atap,” sambar Akira tegas.
Pak Adi tersenyum hanya menjawabnya dengan anggukan.
“Mbak Ira gak ada niatan untuk tinggal disini lagi? Saya dan ibu merasa kesepian setelah mbak Ira pindah dari sini.” Ucap Pak Adi mengalihkan topik pembicaraan.
Akira menghela napas pelan, menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia melihat ke sekeliling penjuru ruangan. Tempat ini sudah ia tempati lebih dari tiga tahun, namun satu tahun yang lalu ia memutuskan pindah ke rumah yang sekarang ia tempati.
“Saya sudah nyaman sama tempat yang sekarang saya tempati, Pak.” Jawab Akira.
“Padahal menurut saya, kosan ini lebih nyaman dan mewah daripada rumah yang sekarang Mbak Ira tempati.”
Akira terkekeh, “tapi menurut saya, rumah saya yang sekarang lebih nyaman daripada kosan mewah ini, pak Adi.”
Pak Adi hanya bisa menghela napas panjang sambil menggeleng kecil. “Saya sampai sekarang masih bingung sama Mbak Ira, punya kosan mewah tapi lebih memilih tinggal di rumah kecil.”
Akira tertawa pelan lalu berdiri dari duduknya. “Saya juga bingung sama diri saya sendiri, Pak Adi.” Balas Akira.
“Saya pamit pulang ya, pak, masih banyak yang harus saya cek,” lanjut Akira pamit untuk pulang.
“Sering-sering main ke sini ya, mbak Ira, kesian ibu sering khawatir sama keadaan, Mbak Ira,” ucap Pak Adi.
Akira tersenyum lembut sambil mengangguk, “saya usahakan, pak,” Akira berjalan lebih dekat pada Pak Adi, saat ingin bersalaman Akira menyelipkan uang di tangan Pak Adi.
__ADS_1
Pak Adi menggelengkan kepala sambil mencoba mengembalikan uang pemberian Akira, “uang bulanan yang mbak Ira kasih sudah lebih dari cukup. Saya gak bisa menerima ini, Mbak.”
Akira tersenyum lembut, “anggap aja uang tambahan buat beli obat ibu,” ucap Akira. “Saya akan marah loh kalau Pak ngembaliin lagi sama saya,” lanjut Akira menolak uang yang ingin di kembalikan pak Adi.
Pak Adi menghela napas panjang, tidak lagi mencoba mengembalikan uang itu kepada Akira. “Terima kasih banyak, Mbak Ira. Entah bagaimana saya membalas semua kebaikan yang telah mbak Ira berikan pada saya dan istri saya.”
Akira hanya tersenyum lembut sambil mengelus bahu pak Adi lalu melangkah pergi meninggalkan kosan mewah tersebut.
Hari ini Akira menyibukan diri dengan mengecek usaha-usaha miliknya yang sudah ia rintis sejak di bangku SMA. Tidak banyak yang tahu tentang diri Akira yang sebenarnya, orang-orang di luar sana hanya menganggap diri Akira sebagai anak angkat dari wanita pemulung, dan saat di sekolah pun orang-orang mengenalnya sebagai anak yang pendiam, tidak banyak tingkah tapi pintar.
Akira juga termasuk orang yang low profile, tidak suka memamerkan semua pencapaiannya pada khalayak umum dan tidak juga memakai barang-barang yang mewah. Ia benar-benar sangat berpenampilan sederhana walaupun hartanya cukup untuk membeli barang-barang yang mewah sekaligus mahal.
Dan hal itulah yang membuat Akira tidak terlalu memperdulikan pertanggungjawaban Dean pada bayi yang dikandung Akira. Karena tanpa Dean pun Akira bisa menghidupi anaknya dengan berkecukupan. Dan jika Akira ingin menghindari hinaan orang lain karena hamil di luar nikah, Akira bisa pergi ke luar negeri dan membesarkan anaknya disana, di tempat dimana orang lain tidak akan mempertanyakan status anaknya, walaupun Akira tidak bisa menampik bahwa seorang anak pasti akan bertanya tentang ayahnya.
Akira sengaja menyibukan diri dua hari ini hanya untuk mengalihkan pikiran nya dari Dean yang sudah dua hari tidak datang kerumahnya. Jujur saja Akira merasa bersalah dengan kejadian dua malam kemarin tapi ia tidak menyesali keputusannya itu. Ia hanya merasa bersalah, Itu saja!
“Ibu lagi pengen makan Rawon, kita makan siang Rawon aja ya,” jawab Akira sendiri. Lalu ia menghidupkan mesin mobil dan menjalankan ke tempat langganan ia makan rawon.
Sebenarnya Akira tidak terlalu suka bepergian memakai mobil tapi karena saat ini ia sedang hamil ia memutuskan untuk mengambil mobilnya yang berada di tempat kos miliknya yang berbeda tempat.
Akira hanya punya satu mobil, itu pun bukan mobil mahal. Lagi pula ia lebih suka naik motor metiknya karena lebih menghemat waktu di jalan. Ia hanya menggunakan mobil jika bepergian jauh.
Setelah makan siang Akira kembali melanjutkan mengecek usaha-usahanya yang lain hingga tak terasa matahari sudah mulai bersembunyi di sarangnya. Akira kembali meninggalkan mobilnya di tempat kos yang berbeda dari sebelumnya lalu ia pulang ke rumah dengan menggunakan taxi.
Akira melakukan hal tersebut bukan untuk menyembunyikan status dirinya dari siapapun, ia hanya lebih suka hidup seperti sekarang ini, hidup dengan tidak terlalu mencolok atau menjadi pusat perhatian orang lain.
Saat keluar dari taxi, Akira tersenyum melihat mobil Dean yang terparkir di depan rumahnya. Itu artinya Dean ada di dalam rumah Akira.
Dengan langkah cepat Akira masuk ke dalam rumah dan benar saja saat membuka pintu ia melihat Dean sedang duduk di ruang tamu sambil pokus pada layar laptopnya.
__ADS_1
Dean yang mendengar pintu terbuka pun menoleh dan beberapa saat mereka saling bertatapan satu sama lain
“Hay,” ucap Akira dengan canggung sambil berjalan mendekat, tidak lupa ia kembali menutup pintu rumah.
“Habis dari mana jam segini baru pulang?” tanya Dean.
“Tadi ada sedikit urusan di luar.”
“Aku dari tadi siang disini, bawain kamu makan siang tapi saat aku masuk rumah ternyata tidak ada penghuninya.”
Akira tersenyum canggung, “maaf aku gak tahu, Tuan Dean juga gak ngabarin kalau mau kesini.”
“Memang biasanya aku nggak pernah ngabarin kalau mau datang, iya kan?”
Akira kembali tersenyum canggung sambil menundukan kepala. “Tuan Dean udah nggak marah lagi?” Akira memberanikan diri membahas kejadian dua malam kemarin. Jika Dean masih marah, Akira akan meminta maaf dengan tulus.
Dean menghela napas lalu menggelengkan kepala, “jangan bahas itu lagi ya, yang berlalu biarkanlah berlalu.” Ucap Dean dengan santai.
Akira berjalan mendekat lalu mendaratkan pantatnya di samping Dean. “Maaf ya, aku beneran gak ada maksud buat ngerjain, Tuan Dean.”
“Aku juga minta maaf, seharusnya aku gak marah berlebihan kaya kemarin.”
Akira tersenyum sambil menatap bola mata Dean, “berarti kita baikan ya?” ucap Akira sambil menjulurkan jari kelingking ke hadapan Dean.
Dean terkekeh pelan lalu menautkan jari kelingkingnya pada jari kelingking Akira. Dan keduanya pun tersenyum lebar secara bersamaan. “Sepertinya kita harus segera membahas tentang pernikahan kita agar kejadian dua hari kemarin gak terulang lagi.” Ucap Dean.
Akira hanya mengangguk sebagai jawaban, ia tidak punya alasan lagi untuk menolak menikah dengan Dean. Seperti janji Akira, jika Dean berhasil menjalan masa percobaannya maka Akira akan menikah dengan pria itu. Dan Dean sudah berhasil menjalankan masa percobaan tersebut.
“Tapi sebelum membahas pernikahan kita, ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Termasuk tentang keluargamu, Akira, yang sampai saat ini aku sama sekali tidak tahu tentang kedua orang tuamu. Tapi sebelum bertanya tentang itu, aku ingin menanyakan tentang pria yang kita temui saat di Angkringan. Siapa Nando?” tanya Dean.
__ADS_1