
Akira beberapa kali melihat penampilannya di depan cermin sebelum Dean datang menjemput. Ya, hari ini Akira dan Dean akan bertemu dengan Zeno, ayahnya Dean, untuk meminta restu atas pernikahan yang akan mereka laksanakan tiga minggu lagi.
Dean dan Akira sudah saling menceritakan kondisi keluarga masing-masing. Namun Akira tidak menceritakan secara rinci tentang keluarganya, ia hanya memberitahu bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal dan ia tidak punya sanak saudara di kota yang sekarang ia tempati. Padahal sebenarnya Akira masih punya nenek kakek dari pihak ibu yang tinggal di Surabaya dan sejujurnya juga Ayah Akira masih hidup belum meninggal, namun bagi Akira ayahnya sudah meninggal sejak ia berumur 8 tahun. Lagi pula jika Akira memberitahu sang ayah, pria itu tidak akan sudi untuk menjadi wali di pernikahannya nanti.
Dan untuk nenek kakeknya yang berada di Surabaya, Akira tidak ingin membuat mereka malu atas pernikahannya akibat hamil di luar nikah. Terakhir ia bertemu dengan mereka ketika umur 10 tahun dan selebihnya hanya berkabar lewat surat. Bukankah lucu, setelah sekian lama tidak bertemu lalu Akira tiba-tiba datang menemui mereka dan memberitahu jika ia akan menikah karena hamil duluan? Mungkin Akira akan memberitahu tentang pernikahannya lewat surat kepada nenek kakeknya itu, walaupun sekarang dunia digital sudah canggih, Akira dan nenek kakeknya itu selalu mengirim kabar lewat surat.
“Hey udah siap belum?” tanya Dean yang secara tiba-tiba masuk ke kamar Akira, membuat Akira tersentak kaget luar biasa.
Akira menoleh pada Dean, menatap pria itu dengan kesal sambil menyentuh dadanya yang masih kaget. “Bisa gak sih datangnya gak kayak Jelangkung kaya gini? Bikin kaget tau gak? Gak baik loh bikin ibu hamil kaget, nanti kalau bayinya kenapa-kenapa, gimana coba?” Akira meluapkan kekesalannya.
Dean hanya terkekeh sambil berjalan mendekat pada Akira lalu berjongkok setengah badan dihadapan perut Akira. “Anak ayah di dalam nggak kenapa-napa, kan?” Tanya Dean sambil mengelus perut Akira lalu menempelkan telinganya di perut Akira, seakan-akan sang bayi sedang membisikan sesuatu di telinga Dean.
“Katanya nggak apa-apa, dia baik-baik saja di dalam sana,” ucap Dean sambil menengadahkan kepala menatap Akira.
Akira hanya mendengus sambil tersenyum kecil lalu sedikit menjauh dari Dean. Walaupun yang dilakukan Dean terlihat biasa saja tetapi membuat hati Akira menghangat. Sedikit demi sedikit Akira percaya jika Dean bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya kelak.
__ADS_1
“Udah makan siang belum?” tanya Dean. Ia sengaja hanya kerja setengah hari untuk pergi ke Bogor menemui sang ayah. Sebenarnya Dean menemui sang ayah bukan untuk meminta restu tapi hanya untuk sekedar memberitahu bahwa ia akan menikah. Jika nanti sang ayah merestui ataupun tidak, Dean tidak peduli karena ia akan tetap menikahi Akira.
Dean tidak ingin jika nanti anaknya tidak mendapatkan kasih sayang dari sosok ayah atau mendapatkan kasih sayang dari pria lain. Ia ingin memberikan kasih sayang yang melimpah untuk anaknya kelak, Dean tidak ingin anaknya seperti ia di masa kecil yang sangat kurang kasih sayang dari sang ayah. Dean sangat tahu sekali bagaimana rasanya kekurangan kasih sayang dari sang ayah, dan itu sangat menyakitkan.
Ditambah Dean sudah ditinggalkan pergi oleh sosok ibu ketika ia masih kecil dan itu membuatnya semakin tidak merasakan kasih sayang orang tua. Dean tidak ingin anaknya merasakan hal tersebut, ia yakin Akira dan dirinya bisa memberikan kasih sayang yang melimpah ruah untuk anaknya nanti.
“Udah,” jawab Akira sambil mengangguk.
“Berarti kita langsung jalan ya!”
Ketika Dean ingin melangkah keluar kamar, Akira menahan tangan Dean hingga pria itu menoleh sambil mengangkat kedua alisnya. “Kenapa?” tanya Dean melihat Akira yang ragu-ragu ingin bicara.
Dean terkekeh renyah mendengar ucapan Akira. Sebenarnya Dean tidak terlalu mengerti dengan penampilan sopan yang dimaksud Akira, karena setiap orang mempunyai kriteria penampilan sopan versinya masing-masing, tetapi jika yang di maksud Akira penampilan sopan tidak memakai baju pendek, memperlihatkan lekuk tubuh atau seksi maka setiap hari pun Akira selalu berpenampilan sopan.
“Seharusnya kamu bertanya ‘penampilan aku udah cantik atau belum’ bukan malah bertanya ‘penampilan aku udah sopan atau belum?’ jarang loh ada cewek yang tanya begitu,” ucap Dean.
__ADS_1
Akira berdecak. “Aku serius bertanya, Dean. Gimana kalau ayah kamu nggak suka sama aku?”
Saat membahas pernikahan, Dean menyuruh Akira untuk tidak memanggil dirinya dengan embel ‘tuan’ karena mereka sebentar lagi akan menikah dan rasanya tidak nyaman jika ia masih di panggil menggunakan ‘tuan’. Dan Akira pun menyetujui hal tersebut, mulai membiasakan memanggil Dean dengan nama panggilan.
Tadinya Akira ingin memanggil dengan sebutan ‘mas’ karena merasa tidak enak hanya memanggil nama tetapi Dean melarangnya, pria itu merasa geli di panggil ‘mas’ dan tetap menyuruh Akira memanggil namanya saja.
Dean melangkah lebih dekat pada Akira hingga tubuh mereka saling berhadapan, lalu menatap Akira dengan tatapan mendalam.
Wajah Dean semakin mendekat pada wajah Akira, hingga membuat Akira menutup kelopak matanya dan Dean hanya tersenyum kecil melihat hal itu. “Kamu nggak perlu khawatir tentang penilaian ayahku padamu, Akira. Karena apapun penilaian ayahku, aku akan tetap menikahi kamu.” Bisik Dean di telinga Akira dan hal tersebut sontak membuat Akira membuka matanya.
Akira mengira Dean akan menciumnya karena wajah pria itu yang semakin mendekat ke arahnya, tapi ternyata pria itu hanya membisikan kata-kata tersebut di telinganya. Wajah Akira memerah menahan malu, ia seperti mengharapkan ciuman dari Dean.
Ya ampun, Akira. Kenapa kamu malah berpikiran Dean akan mencium bibir kamu? Sepertinya kewarasan otakku sudah sedikit berkurang jika berlamaan dekat dengan pria penggoda itu. Lagi pula kenapa Dean harus berbisik di telingaku, dia kan bisa berbicara biasa saja hanya untuk mengatakan hal tersebut? pria itu memang ingin mempermainkan aku.
Akira menjauhkan dirinya dari Dean sambil membuah wajah ke arah lain, ia jadi malu sendiri karena menganggap Dean akan menciumnya, pasti pria itu berpikir macam-macam tentang dirinya. Sedangkan Dean hanya menahan senyum melihat pipi Akira yang kemerahan.
__ADS_1
Dean tahu jika tadi Akira menganggap ia akan mencium bibir wanita itu. Dean bukannya tidak ingin mencium bibir Akira, Dean hanya tidak ingin kehilangan kontrol dirinya. Dean yakin jika ia sudah mencium bibir Akira maka ia akan susah melepaskannya apalagi ia berada di dalam kamar dengan segala kondisi yang mendukung. Dean sudah belajar dari kejadian beberapa hari kemarin dan ia tidak ingin mengulangnya kembali, karena ujung-ujungnya ia sendiri yang akan merasa tersiksa.
“Yuk kita berangkat,” ajak Dean sambil melangkah keluar kamar dan Akira hanya mengangguk mengikuti dari belakang.