
Dean membalikan kursinya menghadap ke arah jendela yang menunjukan pemandangan gedung-gedung pencakar langit. Ia tersenyum sambil menghela napas panjang, entah kenapa hari ini terasa menyenangkan padahal tidak ada sesuatu yang spesial.
Dean menatap langit yang sudah berwarna kemerahan dan matahari yang sudah berada di ufuk barat, lalu ia melihat ke arah jalanan yang padat dengan kendaraan baik kendaraan roda empat atau roda dua, semuanya seakan berlomba-lomba untuk lebih cepat datang ke rumah masing-masing.
Setiap hari rutinitas semua manusia hampir sama, bangun pagi-pagi, berangkat bekerja lalu pulang di sore hari atau jika lembur harus pulang di malam hari. Rutinas tersebut dilakukan bertahun-tahun oleh orang-orang pekerja, dan ada satu pertanyaan di benak Dean. Apakah mereka tidak bosan melakukan rutinitas itu-itu saja? Apa yang menyebabkan mereka bertahan melakukan rutinitas tersebut berulang-ulang.? Dulu Dean tahu akan jawaban dari pertanyaannya itu tapi ia sempat lupa, dan kembali diingatkan ketika ia berhubungan dengan Akira.
Selama satu bulan bersama Akira Dean kembali merasakan hari-hari yang menyenangkan yang sudah lama tidak ia rasakan. Ia sempat merasa bosan dengan hidupnya yang setiap hari hanya mengurusi perusahaan warisan ayahnya ini, tapi sekarang ia kembali merasa bersemangat menjalani hidup ini.
“Tuan Dean.”
Dean tersadar dari lamunannya lalu memutarkan kursi ke arah depan. Ia melihat Ethan berdiri di depan meja sambil menyerahkan sebuah berkas pada Dean.
“Ini daftar orang-orang yang lolos interview untuk menjadi sekretaris menggantikan Akira,” ucap Ethan.
Dean menatap map yang berwarna merah itu, tidak langsung membukanya. “Kenapa tidak langsung kaupilih? Kenapa menyerahkannya padaku? Ini bukan urusanku kan?”
“Aku rasaTuan Dean perlu memeriksanya dan lebih baik mendiskusikannya dengan Akira.”
Dean mengernyit tidak terlalu paham maksud Ethan, “apa hubungannya dengan Akira?”
Ethan mengangkat kedua alisnya seraya berkata, “aku takut Akira akan cemburu Tuan Dean memiliki sekretaris wanita yang lebih cantik dari Akira. Tuan Dean dan Akira akan menikah jadi lebih baik di rundingkan bersama dari pada suatu hari nanti terjadi kesalahpahaman.”
Dean terkekeh pelan, “tidak mungkin Akira cemburu dengan hal remeh seperti ini, Ethan. Dan sepertinya Akira bukan tipe wanita pencemburu, lagi pula kami menikah bukan karena saling mencintai tapi karena anak dalam kandungan Akira.”
__ADS_1
“Tapi aku merasakan sesuatu yang berbeda pada diri Tuan Dean setelah bersama Akira.” Timbal Ethan sambil mendekatkan pantatnya di kursi.
“Tidak ada yang berbeda dariku, Ethan, aku masih sama seperti hari biasanya.”
“Tuan Dean yang biasanya susah datang ke kantor, sekarang menjadi rajin walaupun tidak ada rapat penting, yang biasanya harus aku paksa dulu untuk memakai dasi, sekarang seharian pun dasi itu masih bertahan di leher Tuan Dean, yang biasanya langsung marah ketika ada karyawan melakukan sedikit kesalahan, sekarang tiba-tiba menjelma seperti orang penyabar. Dan masih banyak lagi yang tidak bisa aku sebutkan, jadi apakah itu bukan namanya perubahan?” cerocos Ethan memojokan Dean agar tidak bisa mengelak lagi.
Dean terkekeh pelan, sebenarnya ia juga menyadari akan perubahan dirinya dan entah apa yang mendorongnya menjadi seperti sekarang ini. Hanya ada satu hal yang Dean tahu alasannya, kenapa ia sekarang menjadi betah memakai dasi, yaitu karena setelah kejadian seminggu lalu di rumah Akira disaat Akira mengambilkan dasi di jemuran.
Karena Dean yang pagi itu sudah terburu-buru untuk pergi ke kantor, Akira membantunya memakaikan dasi, lalu setelah itu setiap pagi selalu Akira yang memakaikan dasi untuknya. Dean hanya ingin menghargai kerja keras Akira yang sudah memakaikan dasi untuknya, jadi ia tidak pernah membuka dasi sampai kembali pulang ke rumah Akira.
“Anggap saja itu kebaikan yang dibawa oleh anak dalam kandungan Akira,” balas Dean.
Kali ini Ethan yang terkekeh. “Aku kira Tuan Dean berbeda dengan pria lain.”
“Setiap pria selalu ingin berubah menjadi lebih baik ketika akan menjadi seorang ayah, ternyata Tuan Dean juga seperti itu.”
Dean tersenyum, ia tidak menyangka beberapa bulan lagi ia akan menjadi seorang ayah dan hari ini juga adalah hari terakhir Dean menjalani masa percobaan yang diberikan Akira.
“Bagaimana rasanya menjadi ayah, Ethan?” tanya Dean sambil menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang pasti sangat membahagiakan.” Jawab Ethan sambil tersenyum.
“Aku takut tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak, Ethan, aku takut bersikap seperti sikap ayahku dulu padaku, aku takut anakku kelak menyesal mempunyai ayah seperti aku.”
__ADS_1
Ethan menghela napas pelan, ia tahu betul bagaimana sikap keras ayahnya Dean terhadap Dean. “Aku yakin tuan Dean tidak akan seperti itu.”
“Bagaimana kalau aku seperti itu? kita tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi di masa depan kan? Kadang apa yang kita katakan hari ini bisa berubah di masa depan!”
“Aku jamin itu tidak akan terjadi karena ada Akira di samping Tuan Dean, yang tidak akan membiarkan anak yang dia lahirkan mendapatkan nasib buruk seperti yang pernah Tuan Dean rasakan!” ucap Ethan, tersenyum lembut pada Dean.
Dean tersenyum kecil. Ya, seharusnya ia tidak perlu khawatir karena ada Akira di sampingnya, wanita itu pasti akan menjadi ibu yang baik untuk anaknya. “Menurutmu apakah pernikahanku dengan Akira akan bertahan lama? Kami menikah bukan karena saling mencintai, jadi besar sekali kemungkinan pernikahan kami juga tidak akan bertahan lama. Apalagi jika Akira menemukan pria yang dicintainya.”
Setelah mengatakan hal itu, Dean teringat kejadian satu minggu yang lalu saat ada pria yang mengaku pacarnya Akira. Dean tidak lagi mengungkit kejadian malam itu pada Akira karena tidak ingin membuat Akira kembali sedih, hingga ia lupa sampai saat ini tidak mempertanyakan kejelasan hubungan Akira dengan pria yang bernama Nando. seharusnya Dean mendapatkan penjelasan itu apalagi ia dan Akira akan menikah.
Setelah sampai di rumah Akira aku harus mempertanyakan hubungan Akira dengan pria yang bernama Nando itu, aku tidak ingin hubungan Akira dan Nando akan merusakan pertumbuhan anakku nanti. Batin Dean.
“Jika masalah itu aku tidak bisa memberikan komentar apapun karena pernikahan yang berlandasan saling mencintai pun belum tentu pernikahannya akan bertahan lama. Tapi satu hal yang aku sarankan jika Tuan Dean sudah berumah tangga dengan Akira, kalian harus saling menghargai, walaupun kalian tidak saling mencintai tapi setidaknya kalian harus saling menghargai, jika ada masalah maka bicarakanlah dengan kepala dingin, jangan mengambil keputusan yang gegabah. Ya intinya bersikap dewasalah, karena banyak orang yang umurnya sudah dewasa tapi pikirannya tidak dewasa.”
Dean terkekeh, “Kau sudah seperti motivator pra nikah, Ethan, aku sarankan kau mengambil kerja sambilan sebagai motivator pra nikah, kau sangat cocok sekali,” ucap Dean sambil berdiri dari duduknya, bersiap-siap untuk pulang.
Ethan hanya terkekeh pelan sambil ikut berdiri, “mana bisa aku bekerja sambilan sedangkan pekerjaanku di kantor ini tidak pernah ada habisnya.”
Keduanya hanya terkekeh sambil keluar dari ruangan Dean.
Aku berharap semoga Akira bisa mengembalikan kecerian Tuan Dean seperti dulu lagi, sekarang saja setelah Tuan Dean mengenal dekat dengan Akira menjadi lebih sering tersenyum apalagi jika mereka sudah menikah. Aku sungguh berharap Tuan bisa seperti dulu lagi, seperti sebelum kejadian pahit tiga tahun lalu. Batin Ethan merasa senang melihat senyuman Dean yang seperti tanpa beban.
-----------------
__ADS_1
Yey aku up lagi, hehehe... jangan Lupa Like, komen dan votenya gaes. Komen yang buat aku semangat nulis dong gaes wkwkk :)