
Sudah dua hari Akira tidak masuk kantor tanpa keterangan apapun. Ia masih scok dengan keadaan dirinya yang sekarang sedang berbadan dua, namun hari ini Akira kembali masuk ke kantor dan hari ini juga akan menjadi hari terakhirnya bekerja di perusahaan Dean. Akira sudah memutuskan untuk mengundurkan diri dari perusahaan tersebut dan Akira juga sudah memutuskan untuk memberitahu Dean tentang dirinya yang hamil.
Selama dua hari kemarin Akira terus memikirkan untuk memberitahu Dean atau tidak tentang kehamilannya, karena Akira yakin seribu persen anak dalam kandungannya adalah anak Dean karena Akira hanya tidur dengan pria itu.
“Hey Akira, are you oke?” tanya Julian dengan rawut wajah khawatir saat melihat Akira datang. Dua hari kemarin Julian beberapa kali menelpon Akira tapi wanita itu selalu mengabaikan telponnya, tidak sekali pun telpon dari Julian di jawab oleh Akira.
Akira hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Julian, ia duduk di kursinya dan mulai menyalakan komputernya.
“Akira, kamu sakit?” saat ini Julian sudah berdiri di dekat Akira, menatap wanita itu penuh perhatian. “Wajah kamu pucat,” tambah Julian.
“Aku baik-baik aja, Mas Jul.” Jawab Akira tanpa menoleh pada Julian.
“Terus kenapa dua hari kemarin gak masuk tanpa kabar? Pak Ethan terus nanyain kamu,”
Akira hanya tersenyum masam tidak menanggapi pertanyaan Julian.
“Akira,” panggil Julian sedikit keras.
Akira menoleh “Kalau kamu sakit, ya bilang aja gak usah maksa kerja dulu.” Ucap Julian khawatir karena wajah Akira benar-benar pucat.
Akira tersenyum kecil “Aku mau nyelesain beberapa pekerjaan aku dulu setelah itu aku pulang,” ucap Akira datar. Ia memang datang kesini untuk menyelesaikan beberpa pekerjaan yang sudah sangat di butuhkan Ethan. Ia ingin keluar dari perusahaan ini tanpa meninggalkan beban untuk yang lain apalagi untuk Julian, karena katika ia keluar maka semua pekerjaannya akan di tanggung oleh Julian sebelum ada sekretaris baru lagi.
Julian mengangguk mengerti, lalu kembali ke mejanya.
Akira melihat jadwal Dean hari ini, pria itu tidak akan datang ke kantor karena tidak ada rapat yang meharuskan dia datang. Berarti hari ini Akira harus langsung datang kerumah pria itu sekaligus mengajukan surat pengunduran dirinya.
**
__ADS_1
Saat ini Akira sudah sampai di rumah Dean, karena banyak pekerjaan yang harus Akira selesaikan, ia baru bisa pulang di jam 8 malam. Tadinya Akira ingin besok saja menemui Dean tapi ia berpikir lebih cepat lebih baik, lagipula ini belum terlalu malam.
“Selamat malam, pak Yudi.” Sapa Akira pada satpam yang berjaga malam. Karena pernah beberapa hari bekerja disini Akira jadi sedikit tahu nama orang-orang yang bekerja di rumah Dean.
“Malam nona Akira,” Yudi menyapa balik dengan ramah.
“Saya ingin bertemu Tuan Dean, pak. Bisa gak?” Ucap Akira di luar pagar belum di perbolehkan masuk.
“Udah ada janji sama Tuan Dean?”
Akira menggeleng. Ia tahu tidak akan mudah untuk bertemu pria itu jika belum membuat janji bertemu.
“Maaf non, Tuan Dean lagi gak bisa di ganggu,” jawab satpam itu ramah.
“Ini penting pak, ada sesuatu yang harus saya bicarakan dengan Tuan Dean.”
Akira tidak langsung menjawab, ia yakin jika bukan urusan pekerjaan pasti tidak di izinkan masuk. “Iya pak urusan pekerjaan, penting banget,”
“Hubungin Pak Ethan aja non kalau masalah pekerjaan. Tuan Dean lagi gak bisa di ganggu,”
“Tadi saya udah telpon Pak Ethan pak, tapi kata pak Ethan langsung bicarain aja sama Tuan Dean karena ini masalah penting banget,” bohong Akira dengan wajah yang sangat meyakinkan.
“Aduh... gimana ya non? Tuan Dean sama sekali gak ngasih tahu kalau mau bertemu non Akira, jadi saya gak berani ngenganggu tuan yang lagi sama wanita sewaannya.” Satpam itu tidak sungkan-sungkan memberitahu tentang Dean yang sedang bersama wanita sewaanya karena menurut Yudi, Akira pasti sudah tahu akan kebiasaannya sang tuan dan ketika tuannya sedang melakukan hal itu maka tidak ada yang boleh mengganggunya.
Deg. Hati Akira tiba-tiba merasa sakit sekaligus sedih mendengar hal itu, ia lupa bahwa pria yang telah membuatnya hamil sering meniduri banyak wanita sewaan. Dirinya ini bukan wanita satu-satunya yang di tiduri oleh Dean, mungkin saat Dean menidurinya pria itu hanya menganggap ia sebagai wanita sewaannya.
Ya Tuhan, kenapa aku harus terlibat dengan pria seperti itu?
__ADS_1
“Tapi pak ini penting banget, saya sudah gak bisa nunda lagi,” mohon Akira, tidak tahu kenapa ia ingin sekali ingin berbicara malam ini juga.
Apakah ini keinginan bayinya?
Yudi menghela napas berat lalu membuka pintu gerbang, “Non sebelum ketemu Tuan Dean lebih baik telpon dulu aja. Dari pada nanti non Akira kesana malah di usir,” Yudi sedikit kesian melihat wajah Akira yang memelas.
“Makasih pak Yudi,” Akira memasukan motornya dan berhenti di ruang satpam.
“Pakai telpon ini aja non,” ucap Yudi sambil menunjuk telpon kabel yang ada di ruang satpam.
Akira mengangguk dan masuk ke ruang satpam tersebut. Tangan Akira bergetar ketika menerima gagang telpon yang disodorkan Yudi. Tiba-tiba keraguan datang menghinggapi hatinya. Apakah ini keputusan yang benar memberitahu Dean tentang anak dalam rahimnya? Lagipula apa yang diharapkan Akira setelah memberitahu tentang kehamilannya? Apa yang bisa diharapkan dari pria yang suka tidur dengan banyak wanita? Apakah ia rela hidup bersanding dengan pria itu? apakah pria itu mau bertanggung jawab? Pria itu mempunyai dunia yang bebas, apa dia mau terikat satu hubungan yang sakral dengan satu wanita? Akira semakin bingung memikirkan segala pertanyaan yang membeludak di otaknya.
Akira menempelkan gagang telpon ke telinganya, menunggu telpon itu tersembung. Dua kali panggilan telah di abaikan Dean, pria itu tidak mengangkat telponnya.
“Tuh kan non, saya bilang apa? kalau tuan Dean lagi sama wanita-wanitanya gak bakalan mau di ganggu,” ucap Yudi.
“Sekali lagi ya pak, kalau yang ini gak di angkat saya akan langsung pulang.” Akira memohon.
Yudi menghembuskan napas pasrah lalu mengangguk.
“Sialan kau, berani-beraninya mengganggu malamku,” Akira menelan salivanya ketika telponnya sudah tersambung dengan Dean, dan pertama yang ia dengar adalah umpatan pria itu yang memekik telinga. Sepertinya Dean benar-benar marah karena kebersamaan dengan wanita sewaannya telah terganggu.
Akira melihat wajah Yudi dengan ekspresi kesihan kearahnya, pria setengah baya itu sudah bisa menebak betapa murkanya sang tuan pada orang yang telah menganggunya.
“Maaf Tuan Dean telah menganggu malam anda, ini saya Akira.” Lirih Akira lalu menggigit bibir bawahnya.
“Hah, Akira?” ucap Dean heran.
__ADS_1