Aku Milikmu

Aku Milikmu
Perdebatan Dengan Diri Sendiri I


__ADS_3

Dean termenung di dalam kamarnya. Sudah sekitar setengah jam Ia berdiri menghadap ke luar jendela, memandang kosong atap bangunan yang mengelilingi apartemen. Ia tidak merasakan pegal atau kesemutan karena terlalu lama berdiri, ia tenggelam dalam ruang waktu yang hanya ada dirinya dan pemikirannya sendiri.


Dean menyesal karena telah membuat Akira menceritakan tentang asal usul uang yang wanita itu dapatkan untuk membangun bisnis miliknya. Sekarang Dean paham kenapa Akira tidak langsung menjawab pertanyaannya ketika ia menanyakan asal usul uang tersebut.


Sungguh, Dean sangat menyesal, bukan hanya membuka luka lama wanita itu tetapi ia juga telah kehilangan alasan untuk mencegah Akira pergi meninggalkannya.


Setelah mengetahui semua cerita hidup wanita itu Dean tidak punya lagi keberanian untuk memaksa Akira untuk tetap ada di sampingnya. Hidup wanita itu sudah sangat menderita dan Dean tidak ingin menambah penderitaan wanita itu lagi dengan memaksa Akira tetap ada di sisinya. Tetapi di satu sisi lain Dean tidak ingin Akira pergi meninggalkannya. Lalu apa yang harus Dean lakukan agar Akira tetap di sisinya tanpa ada unsur paksaan dan wanita itu merasa bahagia berada di sisinya.?


Dean seperti menemukan jalan buntu, tidak tahu apa yang harus ia lakukan agar Akira tetap berada di dekatnya.


Tubuh Dean sedikit tersentak kaget ketika pintu kamarnya di ketuk dari luar. Dean membalikkan badan ke arah pintu. Ia menatap pintu itu beberapa waktu sebelum berjalan membuka pintu.


Kaki Dean terasa sangat berat untuk melangkah menuju pintu, kakinya seperti di rantai ke tiang besi yang kokoh yang sangat sulit untuk digerakkan. Dean yakin orang yang mengetuk pintu itu adalah Akira karena hanya ada mereka berdua di dalam apartemen ini dan itu membuat hati Dean di lingkupi oleh rasa takut yang tidak berujung.


Suara ketukan pintu kembali berdengung di telinga Dean, seperti suara dentuman yang semakin membuat hatinya takut.


Dean menghela napas panjang dan sedikit demi sedikit mulai melangkahkan kakinya menuju pintu. semua yang akan terjadi di depan sana tidak bisa lagi Dean hindarkan, karena sejauh apapun Dean menghindar pasti sesuatu yang ia takutkan akan terjadi.


Dean menahan tangannya di kenop pintu, tidak langsung membuka. Ia mendagahkan wajahnya sambil menarik napas dalam-dalam agar ketakutan dalam hatinya tidak membuat dirinya kehilangan kendali.

__ADS_1


Setelah pintu kamar terbuka Akira dan Dean saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat. Masih ada genangan air mata di pelupuk mata Akira yang sepertinya wanita itu baru saja menangis. Ingin sekali Dean memeluk wanita itu untuk memberi ketenangan karena ia tahu bahwa wanita itu sedang terluka walaupun di luarnya masih terlihat baik-baik saja.


Seharusnya aku tidak menanyakan asal uang yang dia miliki. Gumam Dean dalam hati yang merasa sangat menyesal.


“Aku merasa kesalahpahaman antara kita sudah terselesaikan, jadi sore ini juga aku akan pergi dari apartemen ini.” ucap Akira mengawali pembicaraan, suaranya masih serak-serak sehabis orang menangis walaupun wanita itu sudah berusaha agar suaranya tetap terdengar tegas.


“Aku hanya ingin pamit pergi, walaupun hubungan kita tidak bisa dikatakan baik tetapi aku berharap setelah ini tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita dan berpisah dengan cara baik juga.” lanjut Akira diakhiri dengan tersenyum yang terlihat di paksa kan.


Dean menelan ludah, rahangnya mengeras dan kedua pipinya bergetar mendengar kata pergi. Apa yang di takutkannya benar-benar terjadi sangat cepat.


Akira menahan napas menunggu jawaban dari Dean, tetepi setelah beberapa saat pria itu tetap diam. Akira memberanikan diri untuk menatap pria itu dan seketika tatapannya langsung bertemu dengan mata Dean.


“Sepertinya tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, kalau begitu aku pamit pergi.” Akira menatap Dean yang masih diam, merasa Dean tidak akan mengatakan apapun ia berbalik badan dan perlahan menggeret koper dan menggendong satu ranselnya.


Apakah aku harus mengatakan terima kasih karena Dean sudah mengambil semua barangku di rumah bibi Emil? Tapi sepertinya pria itu tidak butuh kata terimakasih itu.


Akira menghentikan langkahnya di ujung pintu, ia ingin berbalik badan untuk terakhir kali melihat Dean karena kemungkinan setelah ini ia tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi. Tetapi ia urungkan keinginanya itu dan menggeser pintu, melangkahkan kaki keluar dari apartemen itu.


klik... setelah mendengar suara pintu tertutup tiba-tiba bahu Akira bergetar dan air mata meluncur begitu saja membasahi pipinya. Akira tidak tahu apa yang membuat air matanya keluar dan perasaan yang begitu aneh, dan mengganggu hatinya.

__ADS_1


Akira menoleh pada pintu yang sudah tertutup rapat dan air matanya keluar bertambah banyak. Seharusnya aku merasa sangat bahagia karena sudah bebas dari Dean tapi kenapa hatiku tidak merasakan kebahagiaan itu. Bukankah ini yang aku inginkan, terlepas dari pria itu?


Akira menyeka air matanya, menarik napas dalam-dalam dan menegakkan bahunya. Ia kembali berbalik badan lalu berjalan pelan menggeret kopernya dengan air mata yang entah kenapa tidak mau berhenti keluar.


Sedangkan pria yang masih berdiri di daun pintu belum juga bergerak sedikit pun dari tempat awal ia berdiri. Hatinya terlalu sakit hingga tidak bisa mengeluarkan sepetah kata pun, ia sadar Akira sudah berjalan menjauh darinya tetapi ia tidak bisa melakukan apapun untuk mencegah wanita itu pergi. Ingin sekali Dean menahan wanita itu pergi, meminta wanita itu tetap disisinya tetapi ia tidak tahu caranya.


Ya, seharusnya aku tidak memaksa dia pulang ke Indonesia bersamaku, dan mungkin dia tidak akan menceritakan kisah pahit hidupnya.


Dean menoleh pada pintu yang sudah tertutup rapat dan hatinya diselimuti kegelisahan yang amat tak terbendung.


Sial, kenapa aku kembali merasakan ketakutan ini lagi setelah sekian lama... hujat Dean dalam hatinya.


Saat ini ia merasa sangat ketakutan yang rasa takutnya sama seperti detik-detik kecelakaan yang menewaskan sang ibu, bahkan rasa takut ini lebih besar ketimbang saat Sarah melukai seluruh wajahnya. Ia takut kehilangan Akira dan takut tidak bisa bertemu dengan wanita itu.


Dean mengepalkan jari-jari tangan dengan kuat sambil terus menatap pintu keluar. Ia masih terdiam dengan rasa takut yang semakin besar lalu ia berteriak dengan kencang mencoba mengeluarkan rasa takutnya itu.


Dean mengusap wajah dengan kedua tangan lalu menjambak rambut dengan penuh frustrasi. Ia benar-benar kebingungan dengan apa yang harus ia lakukan.


Oh Tuhan, apa yang harus aku lakukan agar Akira tidak pergi dari hidupku.? Dean berjalan mondar mandir di depan kamarnya dengan rasa gelisah memikirkan cara tersebut.

__ADS_1


__ADS_2