
Akira bersender pada kepala kasur, menekuk lutut dan memeluknya. Wajahnya masih saja memerah walaupun kejadian di kolam tadi sudah dua jam berlalu. Bayangan-bayangan erotis dirinya dan Dean masih terbayang-bayang dipikiran Akira seakan bayangan itu enggan sekali meninggalkan pikirannya.
Jika saja tadi ponsel Dean tidak berdering, sudah dipastikan sekarang Akira sudah berada di alam yang berbeda. Pesona Dean benar-benar tidak bisa anggap sepele, pesona pria itu sungguh berbahaya. Wanita manapun yang berada di dekatnya pasti akan terpeleset jatuh ke dalam pesonanya.
Sentuhan-sentuhan Dean masih sangat terasa di seluruh tubuh Akira, seperti jejak diatas sebuah batu yang susah sekali dihilangkan bahkan bisa jadi tidak bisa dihilangkan. Ketika telapak tangan Dean yang besar masuk kedalam tanktop Akira, menyelinap masuk memaikan buah dadanya dengan lembut, menarik puncak dadanya dan mengapit diantara jari-jarinya dan jangan lupa ketika satu tangannya lagi mengusap inti tubuh Akira diluar celana. Akira bisa merasakan tonjolan keras milik Dean yang menggelitik perutnya, pria itu benar-benar sudah di puncak gairanya.
Akira memegang kepalanya dengan kedua tanganya, menggeleng-geleng berharap bayangan itu segera menghilang. “Hey setan penggoda hilanglah dari pikiranku yang suci ini. kenapa kalian terus memutar kaset erotis itu dipikiranku?” teriak Akira prustasi. “Aku baru sadar bahwa aku sangat lemah dengan sentuhan Tuan Dean. Bagaimana bisa aku dengan mudahnya terlena dengan sentuhan pria itu.? Aku sudah seperti wanita murahan sekarang.” Lirih Akira tidak menyangka dirinya ternyata selemah itu.
“Kamu memang dari awal sudah murahan, Akira! Kalau kamu tidak murahan mana bisa kamu hamil sekarang? Ya kamu memang murahan, Akira.” Monolog Akira lesu. Namun ada sesuatu yang aneh pada dirinya membuat Akira tak habis pikir dengan dirinya sendiri.
Setelah kejadian di kolam ia sama sekali tidak merasa menyesal atau rasa bersalah didalam hatinya. Ia malah merasa kehilangan saat apa yang dilakukan Dean berhenti ditubuhnya. Hati Akira mengumpat ketika dering telpon Dean berbunyi dan dengan rasa canggung ia dan Dean menghentikan aksi mereka.
Akal sehat Akira tidak percaya dengan apa yang terjadi pada diri Akira. Sungguh, benar-benar tidak mengerti!
Tubuh Akira tersentak kaget ketika ada orang yang mengetuk pintu kamar dan memanggil namanya. Ia sekarang masih di rumah Dean berada dikamar yang berbeda dengan pria itu. Akira beranjak dari kasur dan membuka pintu kamar.
“Non Akira sudah ditunggu makan siang di meja makan sama Tuan Dean,” ucap pelayan wanita yang mengetuk pintu kamar dengan ramah.
Akira menghela napas panjang, ia bingung harus bersikap seperti apa berhadapan dengan Dean setelah kejadian di kolam renang tadi. Akira benar-benar malu sekarang.
“Boleh gak saya minta tolong, kalau makanannya dibawa ke kamar saja. Saya agak sedikit lelah habis renang tadi.” ucap Akira mencari alasan agar bisa mengulur waktu bertemu dengan Dean. Ia tidak bisa bertemu dengan Dean secepat ini, ia harus memikirkan terlebih dahulu, harus bersikap apa bertemu dengan Dean.
Pelayan itu berusaha memasang wajahnya senormal mungkin, ia ingin sekali menggoda Akira. Sebagian pelayan sempat melihat adegan panas Dean dan Akira dikolam tadi tetapi mereka mana berani melihat hal itu terlalu lama lagi pula mereka tidak sengaja melihat adegan tersebut. “Baik nanti saya sampaikan pada Tuan Dean, dan membawa makan siang Nona Akira kemari,” jawab pelayan itu lalu menunduk tanda hormat meninggalkan Akira.
Akira menghembuskan napas lega, setidaknya ia punya sedikit waktu untuk menghindari Dean. Tak selang berapa lama kamar Akira diketuk kembali. Akira menyahut mempersilahkan sembari memainkan ponselnya.
“Makas—“ ucapan Akira tertahan ketika ia meletakan ponselnya sembari melihat pelayan yang mengantar makanan, ternyata ada Dean juga yang ikut masuk ke kamar Akira diikuti dengan pelayan dibelakang pria itu.
__ADS_1
“Makanannya letakan saja disitu,” Dean menyuruh pelayan meletakan makanannya di atas meja yang berada di luar balkon lalu menatap Akira yang terbengong duduk dipinggiran kasur.
“Kelelahan, huh?” tanya Dean sembari tersenyum penuh arti menatap Akira.
Wajah Akira bersemu merah, memalingkan wajah dari tatapan Dean. Gagal sudah ia menghindar dari pria itu. Apa lagi sekarang ia malah terjebak di dalam kamar berdua dengan pria itu. Seharusnya tadi ia makan saja dimeja makan tanpa harus berbohong kelelahan. Akira merutuki dirinya, kenapa tiba-tiba pikirannya jadi dangkal begini, kemana larinya otaknya yang cerdas?
Dean duduk di samping Akira. Ia mengangguk ketika para pelayan pamit untuk keluar lalu ia kembali menatap Akira, “Beneran kelelahan?” tanya Dean lagi.
Akira hanya menjawab dengan ber-hmm saja tanpa menghadap pada Dean.
“Masa baru gitu aja udah lelah, itu baru pemanasan loh belum masuk keintinya.” Ucap Dean yang terdengar ambigu ditelinga Akira. Dean menahan senyumnya melihat Akira yang malu-malu.
Sedangkan Akira menggigit bibir bawahnya sambil memjamkan mata dalam, tangannya terkepal erat menahan malu yang luar biasa. “Aku gak ngerti yang dimaksud Tuan Dean,” ucap Akira dengan nada bicara senormal mungkin, padahal dalam hatinya ingin berlari kabur dari hadapan pria itu.
Dean terkekeh pelan, “Nanti juga kamu ngerti sendiri kok, sekarang kita makan biar kamu gak kelelahan lagi terus kita lanjutin yang sempat tertunda,” Dean menarik tangan Akira agar ikut berdiri tetapi Akira langsung menarik tangannya kembali menatap Dean dengan cemas.
Selama seminggu ini Akira hanya melihat Dean tersenyum kecil dan kekehan ringan, hal tersebut saja masih sangat begitu asing untuk Akira walaupun ia tidak bisa menampik ada rasa senang ketika Dean hanya tersenyum kecil. Apa lagi sekrang untuk pertama kalinya ia melihat dan mendengar suara tawa Dean yang menggema di kamar ini. walaupun ia bingung apa yang membuat Dean tertawa lepas seperti itu, Akira tetap ikut tersenyum menatap tawa Dean yang mempesona.
Hey Cicak, Semut, Nyamuk atau apapun makhluk yang berada dikamar ini semoga kalian tidak menjadi gila gara-gara melihat tawanya pria itu. Bukankah dia terlihat sangat tampan berkali-kaki lipat tertawa seperti itu?
“Kamu gak perlu cemas gitu, Akira. Aku gak akan berbuat apapun tanpa sepertujuan kamu,” ucap Dean disela tawanya membuat Akira lagi-lagi pengerutkan dahi tetapi tetap tersenyum, berpura-pura mengerti apa yang diucapkan Dean.
“Ayo kita makan,” Dean kembali menarik tangan Akira dan untuk kali ini tidak ada penolakan dari Akira. Ia ikut berdiri dan berjalan ke arah balkon yang sudah tersedia sofa kecil muat untuk sekitar tiga orang.
“Aku baru lihat Tuan Dean tertawa lepas seperti barusan, Tuan Dean terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dari pada Tuan Dean berteriak marah-marah.”
Dean menoleh pada Akira, ia baru sadar bahwa ia baru saja tertawa dengan keras di depan wanita itu dan kapan terakhir ia tertawa seperti itu? tiga tahun yang lalu? Atau ketika papahnya memaksa ia mengambil alir perusahaan? Atau ketika di pertemuan terakhir bersama sahabatnya? Entahlah Dean lupa sejak kapan ia tertawa lepas tanpa beban seperti tadi, tapi tadi ia sangat merasa lucu melihat wajah Akira yang takut sambil menarik tangannya.
__ADS_1
“Kamu sedang memuji atau meledek, Akira?” tanya Dean yang saat ini sudah mulai menyantap makanannya.
“Keduanya,” jawan Akira tanpa menoleh.
“Kamu sudah benar-benar berani ya, Akira?”
Akira terkekeh pelan, “Aku dari dulu sudah berani, Tuan Dean. Tapi dulu kan Tuan Dean masih jadi bos aku jadi gak boleh asal ngomong,”
“Jadi sekarang mentang-mentang aku bukan bos kamu lagi jadi seenaknya, huh? Sampai berani narik aku kedalam kolam,” Dean menoleh pada Akira sambil mengunyah makanannnya.
Wajah Akira bersemu merah mengingat kembali kejadian dikolam. Kenapa Tuan Dean mengingatkan kembali kejadian di kolam. Tidak bisakah kita lupakan saja? anggap itu tidak pernah terjadi. Aku sungguh malu mengingat kejadian itu.
Akira menoleh pada Dean, “Aku bahkan bisa lebih berani dari pada narik Tuan Dean ke kolam,”
Dean menarik satu halisnya keatas, penasaran lebih seberani apa Akira pada dirinya. “Contohnya?” tantang Dean.
Akira tersenyum miring, “Nantang, hem?” tatapan mereka saling mengunci satu sama lain.
Dean ikut tersenyum miring sembari mengidikkan bahu. Ia kembali menghadap ke depan pada makananya, ketika ia ingin menyuapkan kembali makanan kedalam mulutnya tiba-tiba wajahnya ditarik pelan oleh Akira untuk menoleh pada wanita itu, dan tak selang beberapa detik Akira mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Dean sekilas, “Itu salah satu contohnya!” ucap Akira santai.
Akira kembali melanjutkan makanannya, sedangkan Dean masih terbengong menatap wajah Akira, tidak percaya apa yang baru saja wanita itu lakukan. Tadi saat Dean masuk kamar Akira, ia bisa melihat wajah Akira yang malu-malu melihat dirinya tapi sekarang ia baru saja dicium oleh Akira. Sungguh, jalan pikiran wanita itu tidak bisa ditebak olehnya.
Dean terkekeh renyah kembali pokus pada makanannya, “Cukup berani,” ucapnya mengaprasiasi apa yang dilakukan Akira barusan.
...----------------...
...💞💞💞...
__ADS_1
Yuk likenya