Aku Milikmu

Aku Milikmu
Roma III


__ADS_3

Akira perlahan-lahan membuka mata. Ia merasa tidak nyaman dengan tidurnya dan tubuhnya susah sekali untuk digerakkan.


“Aww...” Akira merintih kesakitan ketika ia ingin menggerakan tangannya. Ia mengerjapkan mata berkali-kali dan merasa heran dengan langit-langit kamar yang terasa asing baginya.


Eh... kenapa tangan ku diikat begini.? Akira terkejut ketika melihat tangannya diikat ke kepala ranjang.


“Ini bukan kamar di rumah Neal,” gumam Akira sambil melihat ke sekeliling.


“Aku dimana dan kenapa aku di ikat begini?” Akira mencoba melepaskan ikatan di tangannya tapi ikatan itu sangat kuat, hingga membuat pergelangan tangannya memerah, terasa perih.


Akira menghentikan usahanya untuk membuka ikatan itu, dan mencoba mengingat-ngingat kembali kejadian hari kemarin.


Kemarin Akira pergi ke kota bersama Neal untuk mengantarkan pesanan anggur, sebelum pulang ia dan Neal jalan-jalan sebentar di sekitar Colosseum, kemudian di saat perjalanan pulang mereka melihat ada orang yang seperti butuh bantuan.


Neal pun menghentikan mobilnya, berniat untuk menolong orang tersebut. Tapi siapa sangka setelah Akira melihat orang yang membutuhkan bantuan itu ternyata mantan calon suaminya.


Akira yang tidak percaya pria di hadapannya adalah Dean dengan polosnya bertanya. “Ini Dean kan?”


Akira tahu Dean sama terkejutnya dengan dirinya. Pria itu terdiam cukup lama sambil terus menatap Akira. Ya, siapa sangka mereka akan bertemu di Roma yang jauh sekali dengan tempat tinggal masing-masing.


Akira tak habis pikir. Dari sekian banyaknya manusia di muka bumi ini kenapa harus Dean yang membutuhkan bantuan. Kenapa harus mobil Dean yang mogok disini? Kenapa tidak orang lain? dan kenapa pula ia dan Neal yang menolongnya? Ah, sungguh, Akira benar-benar tidak mengharapkan pertemuan ini.


“Kau kenal dengan pria ini, Akira?” tanya Neal pada Akira.


“Eh... Mmm...” Akira yang ditanya tiba-tiba merasa kikuk menjawab pertanyaan dari Neal. Ia melihat pada Dean yang sudah kembali tersadar dari keterkejutannya.


“Ya, kami saling kenal, dia mantan calon istri saya,” jawab Dean datar tanpa sedikitpun mengalihkan pandangannya dari Akira.


Akira dan Neal terkejut bersamaan. Mulut keduanya menganga, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


Akira mengira Dean akan menjawab jika ia mantan pegawainya, bukan malah mantan calon istri.


Neal menoleh pada Akira dengan tatapan penuh tanda tanya. “Akira... Itu beneran? Dia mantan calon suami kamu?”


Akira tersenyum masam. Ia merasa ini semuanya terlalu tiba-tiba, keterkejutan akan kehadiran Dean saja belum hilang sepenuhnya lalu ditambah dengan jawaban Dean yang tidak disangka-sangka. Sungguh, itu membuat otak Akila bleng.


“Kami dulu sempat dekat,” jawab Akira setengah ragu-ragu. “Oh iya, kita harus cepat pulang, Neal. Pasti bibi Emil sudah menunggu kita untuk makan malam,” lanjut Akira cepat agar ia bisa segera pergi dari hadapan Dean.

__ADS_1


Neal tidak langsung menjawab ucapan Akira, ia menatap silih berganti pada Akira dan Dean. “Tapi sepertinya teman mu ini butuh bantuan.” Ucap Neal sambil melirik pada Dean.


Setelah saling memperkenalkan diri masing-masing dan pembicaraan alot di antara mereka bertiga akhirnya Dean ikut pergi bersama Akira ke rumah Neal untuk istirahat sementara sampai menunggu mobilnya bisa jalan kembali.


Karena Neal membawa mobil pick up, maka mau tidak mau Dean harus duduk berdempetan dengan Akira di samping kursi pengemudi dan hal itu membuat jantung keduanya berdetak tidak karuan. Setelah dua bulan lebih tidak bertemu akhirnya Dean bisa kembali mencium aroma tubuh wanita itu bahkan kulit lengannya menempel erat pada kulit Akira yang lembut.


Andai saja situasinya tidak seperti ini, mungkin aku sudah membawa Akira pergi. Ah, aku tidak sabar ingin segera memberi pelajaran pada wanita itu. Lihat saja Akira, kali ini kamu tidak akan bisa lari dariku. Dan bersiaplah untuk menerima pembalasan dariku atas apa yang telah kamu lakukan padaku! Ucap Dean dalam hati.


Kenapa rumah Neal terasa sangat jauh? padahal tinggal 10 menit lagi sampai tapi kenapa terasa satu jam.? Aku benar-benar tidak nyaman duduk berdempetan dengan Dean. Seharusnya tadi pagi aku menuruti perkataan bibi Emil untuk tidak ikut mengantarkan pesanan, jika aku tidak ikut mungkin aku tidak akan bertemu dengan Dean dan duduk berdempetan seperti ini.


Setelah sampai di rumah Neal, semua keluarga Neal sudah menunggu di halaman depan untuk makan malam bersama. Keluarga Neal memang lebih suka makan di halaman dari pada di dalam rumah jika cuacanya mendukung. Dan seperti kebiasaan orang-orang Roma yang suka mengadakan Barbeque, keluarga Neal pun sering mengadakan Barbeque di halaman rumah sambil bersenda gurau.


Itulah yang Akira suka dari keluarga Neal, mereka semua sangat ramah dan hubungan antar keluarganya juga terasa hangat, hingga Akira merasa mempunyai keluarga baru.


Setelah menghabiskan dua bulan lebih mengunjungi banyak tempat dan bertemu banyak orang, keluarga Neal lah tempat yang paling nyaman Akira tempati dan Akira sangat bersyukur berada di tengah-tengah keluarga hangat itu.


Akira sudah satu minggu tinggal di rumah Neal. Awalnya Ia bertemu dengan bibi Emil di halte bus dan bibi Emil menawari Akira untuk menginap di rumahnya karena saat itu sudah tidak akan ada lagi bus yang lewat untuk mengantar Akira ke tempat tujuannya.


Karena sudah larut malam dan tidak ada hotel di daerah sana, maka Akira menerima tawaran bibi Emil untuk menginap satu malam di rumahnya, tapi siapa sangka ternyata tinggal di rumah bibi Emil sangat menyenangkan. Banyak anggota keluarga yang tinggal di rumah bibi Emil, membuat suasana rumah terasa ramai.


Ketika Akira sarapan pagi sebelum pulang, bibi Emil menanyakan tujuan Akira setelah pergi dari sini. Akira yang belum punya tujuan yang jelas hanya menjawab ‘tidak tahu’ karena tempat-tempat yang ingin ia kunjungi sudah terpenuhi dan Akira belum kembali merencanakan tujuan selanjutnya.


Ini adalah pengalaman pertama Akira ikut bekerja di perkebunan anggur dan itu sangat menyenangkan bagi Akira, ditambah semua anggota keluarga sangat menyenangkan membuat Akira semakin nyaman tinggal disini.


Akira yang berada di rumah bibi Emil seperti merasa kembali ke masa kecil, dimana keluarganya masih lengkap dan bahagia. Dan sekarang ia kembali merasakan kebahagiaan itu bersama keluarga bibi Emil. Akira ingin merasakan kebagian ini lebih lama lagi dan semoga Tuhan mengabulkannya.


Setelah makan malam bersama dan bercengkrama beberapa saat, semua anggota keluarga masuk ke kamarnya masing-masing untuk istirahat begitupun dengan Akira. Namun Akira sama sekali tidak bisa istirahat walaupun tubuhnya sangat lelah bekerja seharian penuh, ditambah letak kamar Dean persis di sebelah kamar Akira, membuat mata Akira susah sekali untuk dipejamkan.


Kehadiran Dean disambut hangat oleh keluarga Neal, semuanya merasa senang dengan kedatangan tamu baru, tetapi Akira sama sekali tidak senang. Entah kenapa hati Akira merasa tidak enak dengan kehadiran Dean, apalagi saat ia saling bertatapan dengan Dean. Seolah-olah sebuah hal buruk akan terjadi pada dirinya.


Dan ternyata hal buruk itu pun benar-benar terjadi. Disaat tengah malam tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu kamar Akira. Akira yang belum bisa tidur beranjak dari kasurnya. “Siapa?” tanya Akira sebelum membuka pintu kamar.


“Ini aku Dean.”


Akira mengerutkan dahinya, merasa aneh pada Dean yang malam-malam datang ke kamarnya. “Mau apa? kalau tidak ada pembicaraan yang penting lebih baik bicarakan besok saja. aku mau istirahat!”


“Aku hanya mau pamit, aku tidak akan menginap disini dan supirku sudah menunggu di depan.”

__ADS_1


Dia cowok gila kali ya, si supir juga kan manusia, butuh istirahat. Dia malah nyuruh untuk menyetir. Kalau supirnya ngantuk di saat bawa mobil bisa aja nanti terjadi kecelakaan.


Akira membuka pintu kamarnya dan ia sedikit tersentak kaget melihat kehadiran Dean, walaupun sudah tahu Dean ada di depan kamarnya tapi tetap saja membuat Akira kaget.


Keduanya terdiam beberapa saat sambil menatap satu sama lain. Dean kelihatan sangat kelelahan tapi kenapa tetap mau pergi? Kenapa tidak istirahat saja sampai besok pagi. Dia kan bukan robot, tubuhnya butuh istirahat. Batin Akira yang merasa kasihan pada Dean yang terlihat sangat kelelahan.


“Aku kira kamu sudah tidur,” ucap Dean memulai sambil terus menatap Akira.


Akira yang merasa tidak enak ditatap terus menerus membuang wajahnya ke arah lain. “Aku memang sudah tidur tapi kebangun lagi gara-gara ada yang mengetuk pintu.” jawab Akira acuh tak acuh.


Dean tersenyum kecil. “Maaf, udah ganggu tidur kamu.”


Akira menoleh pada Dean, termangu mendengar kata maaf dari mulut pria itu. “Ya, tidak apa-apa,” jawab Akira kikuk sambil mengusap belakang lehernya.


“Tolong sampaikan pada Keluarga Neal, terimakasih sudah mengizinkan aku istirahat beberapa jam disini dan maaf tidak bisa pamit langsung pada mereka.”


Akira menundukan kepalanya, “iya, nanti aku sampaikan.”


Dean menganggukan kepalanya pelan seraya berkata. “Ya sudah, kamu boleh masuk kamar kamu lagi. Sekali lagi maaf sudah ganggu tidur kamu, Akira.”


“Memangnya kamu gak bisa pergi besok pagi? bukan apa-apa sih, tapi sekarang udah dini hari dan kemungkinan aja supir kamu itu kelelahan... Untuk menghindari kecelakaan lebih baik kamu biarkan supir kamu itu istirahat.” Ucap Akira setelah beberapa saat terdiam.


Dean tersenyum miring. “Akan aku sampaikan pada supir ku, kalau ada seorang wanita muda yang mengkhawatirkan dirinya.”


Akira hanya menghembuskan napas berat sambil memalingkan wajahnya sebagai jawaban, dan hal itu membuat Dean terkekeh pelan. Ah, rasanya sudah lama sekali ia tidak merasa senang seperti ini.


“Seharusnya kamu juga berpamitan pada keluarga Neal, Akira.” lanjut Dean.


Akira mengerutkan dahinya, tidak terlalu mengerti yang diucapkan Dean.


“Maksud kamu?”


“Aku tak akan pergi tanpa membawa kamu, Akira.” jawab Dean sambil tersenyum sinis dan belum sempat Akira membalas ucapan Dean, tiba-tiba tangan Dean yang semenjak tadi berada dalam sakunya mengeluarkan sebuah kain dan langsung membekap mulut dan hidung Akira.


Akira membelalak sambil memberontak mencoba melepaskan bekapan Dean, namun perlahan kesadarannya menghilang dan setelah itu semuanya terasa gelap. Akira tak sadarkan diri, jatuh ke dalam dekapan Dean.


----------

__ADS_1


jangan lupa like, komen dan votenya ya :)


__ADS_2