Aku Milikmu

Aku Milikmu
Tidak Membiarkan


__ADS_3

Dean melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 2 dini hari, ini sudah yang ke empat kali Dean terbangun dari tidurnya gara-gara Akira yang terus bolak balik ke kamar mandi untuk buang air kecil. Begitulah salah satu ujian ibu hamil, yaitu sering buang air kecil.


Malam ini Dean kembali menginap di rumah Akira karena Akira mengidam banyak hal ketika Dean akan pulang, jadi Dean putuskan untuk menginap untuk yang kedua kalinya, dan Akira pun sama sekali tidak melarang.


“Besok malam nginep di rumah aku aja ya, biar kamu gak cape bolak balik keluar kamar untuk ke kamar mandi,” ucap Dean ketika Akira keluar dari kamar mandi. Ia sedari tadi duduk di kursi meja makan menunggu Akira yang sedang buang air kecil. Walaupun Akira tidak minta di temani tapi Dean dengan kemauannya sendiri menemani Akira.


Akira melirik sekilas pada Dean lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar yang diikuti Dean dari belakang. Ia sudah melarang Dean yang ikut terbangun dan lebih baik melanjutkan tidur tapi pria itu tetap ikut bangun dan menemaninya ke kamar mandi yang jaraknya tidak seberapa dari kamar tidur. “Jarak dari kamar ke kamar mandi gak buat aku cape kok, cuma gak enaknya lagi tidur nyenyak-nyenyak terus kebangun ingin buang air kecil,” jawab Akira sambil kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dean melingkarkan tangannya di tubuh Akira dari belakang lalu mengelus perut Akira dengan lembut, “maafin aku ya,” ucap Dean lirih.


Akira mengernyit heran, “minta maaf untuk apa?” tanya Akira sambil menengok ke belakang, ke arah Dean.


“Maaf, udah buat kamu kesusahan begini gara-gara aku buat kamu hamil.”


Akira terkekeh pelan, tidak mengira Dean akan mengucapkan hal tersebut. “Ini bukan kesalahan Tuan Dean seorang, kita melakukan kesalahan ini bersama-sama tanpa ada unsur paksaan, kecuali untuk kejadian pertama. Jadi jangan terlalu menyalahkan diri sendiri,” balas Akira.


“Yang pertama juga kita melakukannya sama-sama mau dan tidak ada unsur paksaan,” Dean mendebat.


“Yang pertama kan aku dalam pengaruh obat, kalau gak dalam pengaruh obat aku mana mau begituan sama Tuan Dean,” sambar Akira.


“Tapi yang kedua kamu nggak dalam pengaruh obat tapi tetap mau tidur sama aku kan?”


Akira sontak terdiam, ia menelan salivanya tidak tahu ingin membalas apa. Sedangkan Dean hanya terkekeh melihat Akira yang kebingungan membalas ucapannya.

__ADS_1


“Pesona diriku memang tidak bisa ditolak wanita manapun, Akira, termasuk kamu. Jadi mau dalam pengaruh obat atau tidak kamu tetap akan menyerahkan tubuh kamu sama aku, iya kan?” lanjut Dean.


Akira kembali terdiam, tidak tahu ingin menjawab apa, karena yang diucapkan Dean ada benarnya juga. Pesona pria itu memang sulit sekali di biarkan begitu saja, wanita manapun pasti akan terjatuh kedalam pesona Dean termasuk dirinya juga.


“Menurut Tuan Dean apakah aku termasuk wanita murahan? Yang dengan gampangnya tidur dengan Tuan Dean.” tanya Akira.


Dean terdiam sebentar sebelum menjawab, ia membalikan tubuh Akira menghadap ke arahnya lalu menatap Akira dengan dalam. “Aku rasa kamu tidak termasuk kategori wanita murahan, karena aku pria pertama kali menjamah tubuhmu, iyakan?”


“Tuan Dean tahu dari mana kalau Tuan Dean pria yang pertama menjamah tubuhku? Tuan Dean nggak tahu kan apa yang aku lakukan sebelum dekat dengan Tuan Dean?”


Dean tersenyum miring penuh arti, lalu ia mendekatkan bibirnya ke bibir Akira. Memagut bibir Akira dengan lembut. Dan hal tersebut sontak membuat tubuh Akira menjadi kaku, ia terbelalak mendapatkan ciuman yang tiba-tiba dari Dean.


Lidah Dean berusaha membuka mulut Akira, ingin menerobos masuk kedalam mulut Akira dan satu tangannya menangkup wajah Akira agar wajah wanita itu tidak menjauh. Karena Akira yang tidak kunjung membuka mulutnya, Dean menggigit pelan bibir bawah Akira hingga bibir wanita itu terbuka dan itu dijadikan kesempatan untuk Dean agar lidahnya bisa mengeksplor rongga mulut wanita itu.


Napas Akira terengah-engah setelah Dean melepaskan tautan bibir mereka, ia belum mahir dalam hal berciuman jadi baru sebentar saja berciuman ia sudah kehabisan napas, tidak seperti Dean yang terlihat tidak terengah-engah.


Keduanya saling memandang satu sama lain, Dean menatap Akira dengan mata yang sudah mulai sayu, menandakan dirinya sudah tersulut gairah. Hanya dengan satu kali ciuman saja sudah sukses membakar gairah Dean yang luar biasa. Mungkin karena sudah satu bulan lebih Dean tidak mengeluarkan cairan gairahnya, jadi di senggol sedikit saja gairah Dean langsung terpancing.


Setelah merasa cukup memberikan Akira mengambil napas, Dean kembali menautkan bibirnya dengan bibir Akira, perlahan ia meletangkan tubuh Akira lalu memposisikan tubuhnya di atas tubuh Akira dengan satu tangan menyangga tubuhnya agar tidak menindih perut Akira yang tengah mengandung sang buah hati.


Akira mulai menikmati ciuman yang Dean berikan, ia juga membalas ciuman Dean dengan kemampuan seadanya dan hal tersebut membuat Dean menggeram, menahan gairah yang cepat sekali membungbung tinggi.


Satu tangan Dean mulai merayap dari bahu sampai ke permukaan perut, masuk kedalam baju Akira lalu mengusap perut Akira dengan lembut dan hal itu mengantarkan sengatan listrik pada tubuh Akira yang membuat otak Akira menjadi bleng. Akira tidak memikirkan apapun lagi selain menikmati sentuhan tangan Dean yang perlahan semakin naik ke atas dadanya.

__ADS_1


“ughh..” Akira melenguh sambil melekungkan tubuhnya saat tangan Dean sampai di atas permukaan dadanya yang tanpa penghalang lalu memainkannya dengan sensual.


Ciuman Dean turun ke leher Akira, meninggalkan jejak-jejak basah sekaligus menghisapnya hingga meninggalkan jejak kemerahan dan tanganya yang tidak berhenti bermain dengan dada Akira.


“Ini yang membuat aku yakin jika aku adalah pria yang pertama menjamah tubuhmu, Akira. Karena aku bisa membedakan respon tubuh yang sudah pernah disentuh atau belum,” bisik Dean di telinga Akira dengan sensual lalu menggigit, menjilat, menghisap di area telinga Akira.


Ya, kamu bisa mengetahuinya dengan mudah karena kamu sudah sangat berpengalaman dalam menjamah tubuh wanita, entah sudah berapa banyak tubuh wanita yang telah kamu sentuh, tuan Dean. Balas Akira dalam hatinya. Dan hal tersebut tiba-tiba membuat Akira merasa marah mengingat jika Dean adalah pria yang sering memanggil wanita bayaran.


Akira dihinggapi rasa cemburu sekaligus marah dengan kenyataan ia bukan wanita satu-satunya yang diperlakukan seperti saat sekarang ini. Bagi Dean menjamah tubuh wanita sudah biasa dan mungkin tubuh Akira tidak ada bedanya dengan wanita yang telah di tiduri Dean, hanya memuaskan hasrat birahi pria itu.


Mengingat hal tersebut sontak membuat alarm di otak Akira kembali hidup, walaupun tubuhnya sangat mendambakan sentuhan Dean dan gairahnya sudah terpancing keluar, ia menahan tangan Dean yang hendak masuk ke dalam celana piyamanya.


Dean melepaskan mulutnya yang tengah berada di puncak dada Akira lalu menatap Akira dengan penuh tanda tanya atas cegahan tangan Akira yang menahan tangannya masuk kedalam celana wanita itu.


Akira tidak sadar entah sejak kapan kancing-kancing piyamanya terlepas hingga sekarang dadanya itu terpangpang jelas di hadapan Dean. Sedari tadi otaknya tidak bisa memikirkan apapun kecuali menikmati sentuhan Dean.


“Kita boleh melakukannya kan? Dokter kandungan pun tidak melarang asalkan kita tidak melakukannya dengan kasar,” lirih Dean dengan mata yang sudah sayu berkabut gairah tak tertahankan. Ia mengira Akira menahannya karena takut membahayakan kondisi sang cabang bayi.


Akira menggelengkan kepala, belum sempat ia mengatakan sesuatu Dean sudah kembali mencium bibirnya.


-------------


Kira-kira gimana kelanjutannya guys? wkwk jangan lupa Like, Komen, dan Vote ya :) Makasih yang sudah setiap baca cerita ini :)

__ADS_1


__ADS_2