Aku Milikmu

Aku Milikmu
Langsung Jadi


__ADS_3

Akira tak habis pikir kenapa pria yang sedang berbaring di atas tempat tidurnya bisa ada di depan pintu rumahnya di jam 5 pagi. Saat tadi Akira bangun ia sengaja membuka kain penutup jendela dan melihat-melihat keluar lewat jendela untuk memastikan bahwa keadaan di luar baik-baik saja, mengingat bagaimana tadi malam ada yang mengetuk pintu rumahnya terus menerus. Dan betapa kagetnya Akira saat melihat tubuh seorang pria sedang bersimpuh di atas lantai depan rumah.


Saat Akira membuka pintu Tubuh Dean terjungkal kebelakang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Jangan tanyakan Akira kaget atau tidak! Ia sangat kaget sampai mematung di tempat beberapa saat.


Akira menempelkan telapak tangannya pada kening Dean, memastikan suhu tubuh pria itu sudah normal karena saat tadi pagi tubuh pria itu sangat dingin, mungkin karena kelamaan di luar.


“Udah mendingan,” gumam Akira lalu menaikan selimut sampai bahu Dean.


Akira berjalan ke luar kamar, kembali melanjutkan aktivitasnya membersihkan rumah. Hari ini Akira dengan santai membersihkan rumah karena sekarang ia tidak perlu pergi ke kantor, sudah lama sekali Akira tidak merasakan nikmat sesantai seperti saat kini.


Biasanya ia harus mengerjakan semuanya dengan serba cepat, seakan-akan ia akan kehabisan waktu karena jika ia lambat mengerjakan pekerjaan rumah maka itu akan membuat ia terlambat datang ke kantor.


Akira bisa saja mengurusi pekerjaan rumah setelah pulang kantor tetapi Akira tidak mau, ia ingin setelah pulang kantor ia gunakan waktunya untuk istirahat dan pulang dalam keadaan rumah rapih dan bersih. Jadi, Akira selalu membiasakan ketika akan pergi, rumahnya harus dalam keadaan rapih dan bersih.


Menjadi wanita itu bukan sekedar bisa merawat dan mempercantik diri tapi juga harus bisa menjaga tempat tinggalnya agar tetap nyaman dan bersih.


“Huh.. Akhirnya selesai juga,” Akira tersenyum melihat jemuran pakaiannya berderet rapih di gantungan jemuran. Ia mengusap keringat di pelipisnya sambil satu tangannya mengelus perut.


“Sehat-sehat ya kamu disini, sayang.” Akira menunduk melihat ke arah perutnya yang masih rata sambil mengelusnya lembut dan senyum merekah di bibirnya.


Setiap orang pasti pernah merasakan kecewa, sedih, ditipu, dikhianati dan mendapatkan masalah hidup, tidak ada manusia yang tidak merasakan hal tersebut, tetapi seberat apapun masalah yang dihadapi bukan berarti kita lupa untuk untuk bersyukur. Tuhan sudah begitu banyak memberikan kebaikan untuk hidup setiap orangnya. Jadi, jangan hanya karena sedang di hadapi dengan masalah sampai lupa untuk bersyukur . Begitupun dengan Akira, beberapa hari kemarin ia merasa dunianya terasa sangat hancur karena kehamilannya ini dan seakan-akan menyalahkan Tuhan yang tidak adil, padahal jika dipikir-pikir ini semua salahnya sendiri yang terbuai dengan kenikmatan sesaat.


Akira sadar dengan segala kesalahannya, dan ia tidak punya pilihan lain selain menjalani semua ini dengan penuh rasa syukur. Akira berharap semoga dengan rasa syukurnya ini bisa merubah hidupnya menjadi lebih baik.


Sayangi rasa sakit yang kita terima. Peluk dengan erat. Maka semoga rasa sakitnya berkurang. Batin Akira sambil menatap langit dengan senyum merekah di bibirnya lalu menghembuskan napas lega.

__ADS_1


Akira mengambil ember bekas cucian pakaiannya lalu berbalik badan untuk masuk kedalam rumah, namun saat akan melangkahkan kaki ia melihat Dean sedang berdiri di pintu masuk belakang rumah, menyenderkan tubuhnya di sisi pintu, melipatkan kedua tangannya di depan dada dan menatap Akira dengan tatapan yang sulit di artikan. Beberapa saat mereka berdiam diri di tempat masing-masing sambil menatap satu sama lain.


“Sudah bangun?” Akira mencoba berbasa-basi, mencairkan suasana yang mencekam di antara keduanya sambil memasang wajah datar dan berjalan mendekat pada pria itu.


“Kenapa aku gak dibangunin?” tanya Dean tanpa merubah posisi tubuhnya walaupun Akira sudah di hadapannya.


“Kenapa Tuan Dean ada di depan pintu rumah saya di jam lima pagi?” tanya Akira balik


Dean berdecak kesal “Aku ada di depan rumah kamu semenjak tadi malam.”


Akira mengerutkan dahi, “Hah dari tadi malam? Oh, atau jangan-jangan—“ Akira menutup mulut sambil membelalakan matanya, ia teringat pada ketukan pintu rumahnya sambil ada yang memanggil namanya tadi malam. Berarti tadi malam bukan makhluk halus melainkan... Oh God, kenapa tadi malam aku tidak berpikir secara realistis?


Dean menghembuskan napas berat lalu berbalik badan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Akira yang masih dalam keterkejutannya.


“Tuan Dean ngapain jam satu malam ke rumah saya? Saya kira tadi malam yang mengetuk pintu rumah saya hantu.” Tanya Akira yang saat kini sudah menyusul Dean.


Dean bertingkah seakan menganggap rumah ini seperti rumahnya. Bahkan Dean membuka tudung saji di meja makan seraya berkata, “Kamu bisa masak?” tanya Dean sambil menatap beberapa masakan yang ada di meja makan.


Akira berdecak kesal lalu merebut tudung saji dalam pegangan Dean dan menaruh kembali pada tempatnya. “Saya tanya, Tuan Dean ngapain kerumah saya tadi malam sampai ketiduran di teras?”


Dean mendaratkan pantatnya di kursi makan lalu menatap Akira “Bisa gak ngomongnya gak usah formal kaya gitu, ini bukan di kantor!”


“Saya tanya, Tuan Dean nga—“ Akira terdiam saat telunjuk Dean menyentuh bibirnya, menyuruh dirinya diam.


“Aku cuma ingin mendapatkan penjelasan yang jelas atas kehamilan kamu itu,” Dean menarik telunjuknya, masih menatap Akira. “Aku gak bisa tenang setelah kamu memberitahu kalau kamu sedang mengandung anakku tetapi tidak mencoba membuat aku percaya,” lanjutnya.

__ADS_1


“Bukankah udah jelas kalau saya sedang hamil anak anda, Tuan Dean.” Akira menarik kursi di sebelah Dean dan mendaratkan pantatnya disana. “Dimananya yang belum jelas, hem.?”


“Kamu yakin itu anak aku?” tanya Dean.


Akira berdecak kesal, “Tuan Dean kira saya wanita apaan sih? Saya Cuma tidur sama Tuan Dean doang dan Tuan juga tahu saya masih perawaan saat itu,” jawab Akira ketus menatap sengit pada Dean. Entah harus berapa kali Akira mengatakan kalau dirinya hanya tidur dengan pria itu? dan kenapa Dean susah sekali untuk percaya?


“Aku bilang jangan bicara formal Akira, kita bukan sedang rapat,” Dean merasa kesal Akira yang terus berbicara memakai ‘Saya Anda’ “Aku hanya ingin memastikan kalau anak dalam rahim kamu benar-benar anak aku, karena sudah banyak sekali wanita yang mengaku hamil anak aku, bukan berarti aku nanya begitu menganggap kamu bukan wanita baik-baik.” Jelas Dean.


“Mungkin wanita yang mengaku hamil anak anda benar-benar anak anda, Tuan Dean. Andanya saja yang tidak percaya,” ucap Akira sambil menatap ke arah lain, “Anda kan sering menyebar benih di mana-mana,” lanjutnya.


Dean mendengus kesal “Aku tidak sebodoh itu, Akira. Aku akui, aku memang sering tidur dengan banyak wanita tetapi wanita yang aku tiduri adalah wanita sewaan yang memang kerjanya di bidang seperti itu dan aku juga tidak pernah melupakan pengaman, lagipula wanita yang bekerja di bidang seperti itu sudah pasti berjaga-jaga agar tidak hamil.” ucap Dean ketus.


“Bisa saja anda lupa pakai pengaman seperti saat tidur bersa—“


Dean memotong ucapan Akira dengan cepat, “Sudah aku bilang, Akira. Aku gak pernah lupa pakai pengaman dengan wanita manapun...” Dean menggantung ucapannya “Kecuali dengan kamu, aku rasa saat itu aku lupa,” lirih Dean.


Akira tersenyum miring sambil menatap Dean “Terus kenapa masih belum percaya kalau anak dalam rahim saya anak anda?”


Dean menghembuskan napas lelah, “Aku hanya memastikan, Akira. Aku gak nyangka aja kita baru hubungan intim dua kali tapi udah langsung jadi anak. Orang-orang di luar sana sudah beberapa kali berhubungan intim tapi susah punya anak,”


“Itu berarti benih anda tokcer, Tuan Dean.” Balas Akira jengah.


Dean terkekeh kecil, “Aku gak nyangka seganas itu benih aku,”


...----------------...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya gaess..


__ADS_2