
Setelah keluar dari rumah Dean, pikiran Akira menjadi blank. Tidak tahu harus melakukan apa. Jujur saja ia shock mengetahui Dean memanggil wanita komersial lagi, apalagi sudah 4 kali, itu benar-benar membuat Akira sangat kecewa.
Akira mengira Dean sudah benar-benar menghentikan kebiasaan buruknya itu, tapi ternyata... Memang sulit sekali mempercayai pria yang punya kebiasaan tidur dengan banyak wanita kemudian menyuruhnya untuk tidak tidur dengan wanita lain lagi. Itu sudah menjadi kebiasaan Dean selama tiga tahun, dan tidak mungkin dalam waktu sebulan Dean langsung bisa menghentikan kebiasaan buruknya itu..
Aku memang benar-benar bodoh, aku langsung berbangga diri karena bisa menghentikan Dean dari kebiasaan buruknya. Ya, aku terlalu naif. Padahal mana ada pria yang akan langsung berhenti total dari kebiasaan buruknya dalam waktu sebulan.
Oh, Tuhan. Aku sekarang harus bagaimana? Pernikahan kami tinggal 10 hari lagi, semuanya telah siap, kami hanya tinggal membagikan surat undangan...
Akira terus meracau dalam hati dengan tatapan kosong menatap gundukan tanah kuburan ibu angkatnya. Ya, setelah dari rumah Dean, Akira pergi menuju makam tempat ibu angkatnya di kubur, sedangkan makam ibu kandungnya berada di Surabaya.
Akira tidak punya tempat untuk mencurahkan segala kegundahan hatinya, kecuali makam ibu angkatnya ini. Ia punya teman tapi hanya sekedar teman bukan sahabat, dan Akira tidak mungkin menceritakan masalahnya pada orang yang tidak dekat dengannya.
“Ibu aku harus bagaimana? Aku tidak mungkin menikah dengan pria yang doyan sekali tidur dengan banyak wanita. Mungkin aku tidak apa-apa dengan kebiasaan buruk pria itu, tapi bagaimana dengan anakku kelak? Anak-ku pasti akan merasa kecewa dilahirkan dari keluarga yang berantakan, dia pasti akan mempertanyakan kenapa dia mempunyai ibu seperti aku dan kenapa harus mempunyai ayah seperti pria itu.”
Kini pikiran Akira penuh dengan persoalan pernikahannya dengan Dean. Ia tidak ingin melanjutkan pernikahan ini tapi masalahnya semuanya sudah siap, dan bagaimana dengan nasib anaknya yang lahir tanpa seorang ayah. Ya, Semuanya serba membingungkan, lahir tanpa ayah akan malu, dan lahir dengan mempunyai ayah seperti Dean pun sama juga akan malu. Anak mana yang tidak malu mempunyai ayah yang sering tidur dengan wanita lain?
“Ibu, kenapa masalah berat selalu datang pada hidupku,? Aku hampir saja mengharapkan mempunyai keluarga yang lengkap dan hangat. Aku mengira pria itu bisa memberikan sebuah keluarga pada hidupku. Aku sudah sangat senang karena nanti aku tidak akan kesepian lagi, aku tidak akan menangis sendirian lagi, aku bisa berbagi masalah di pundakku dengan pria itu... tapi ternyata... dia sama saja seperti papah, sama-sama pria brengsek yang otaknya dipenuhi dengan selakang*n wanita!” rancau Akira dengan pilu.
__ADS_1
Tak terasa air mata keluar dari sudut mata, membasahi pipi Akira. Akira mulai menangis dalam diam, bahunya bergetar menahan suara tangis agar tidak keluar. “Ini pertama kalinya aku menangis di hadapan makam ibu setelah ibu dimakamkan... Aku mohon, ibu jangan bersedih karena melihat aku menangis. Aku akan kembali bangkit menjadi Akira yang kuat sesuai perintah ibu, tapi aku mohon untuk kali ini saja, biarkan aku menangis. Hidup ini terlalu berat aku jalani sendirian.”
Akira menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia tidak memperdulikan terik matahari yang panas membakar tubuhnya. Kini ia hanya ingin menangis tanpa memperdulikan hal disekitar, begitupun dengan sengatan matahari.
“Ibu, aku sudah mulai nyaman dengan pria itu, aku sudah terlena dengan segala perhatian yang dia berikan. Aku merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan dengan orang lain saat dekat dengan pria itu... dan merindukan dia saat tidak ada di dekatku... Hatiku sakit, bu, mengetahui dia bermain dengan wanita panggilan lagi.”
Akira terus mengeluarkan segala kegundahan hatinya dengan suara lirih dan sesekali kembali mengeluarkan air mata, hingga tidak terasa hari sudah sangat sore.
Cuaca yang tadinya panas perlahan menjadi adem, dan sengatan matahari pun perlahan menjadi hangat. Warna oranye di atas langit sudah nampak begitu indah, mempesona bagi siapapun yang menikmati senja.
Akira bangkit dari duduknya dari atas tanah tanpa alas. Seketika rasa pegal langsung Akira rasakan di beberapa bagian tubuhnya. Ah, ia sampai tidak terasa sudah terlalu lama duduk.
Setelah cukup lama, ia kembali menghadap ke makam sang ibu lalu tersenyum kecil seraya berkata, “ibu tenang saja, aku akan kembali bangkit, aku akan menjadi Akira seperti biasanya. Sudah banyak sekali masalah yang aku hadapi, dan masalah yang ini pun aku yakin bisa melewatinya. Tapi sepertinya yang ini akan sedikit berbeda, aku perlu waktu lebih banyak untuk menata kembali hati ini. Ibu jangan khawatir disana ya, aku akan baik-baik saja,” ucap Akira. Lalu ia melangkah meninggalkan makam sang ibu dengan hati yang sudah lumayan tenang.
Akira keluar dari area makam dan langsung memesan ojek online untuk mengantarkannya pulang. Akira melihat jam di layar ponsel yang sudah menunjukan pukul 6 sore. “Ya ampun, aku sudah terlalu lama disini, sampai lupa tidak makan siang.”
Akira menunduk melihat ke arah perutnya yang sudah terlihat buncit, lalu mengelusnya lembut seraya berkata. “Maafkan ibu ya, kamu pasti sudah lapar. Nanti setelah pulang kita makan sepuasnya, oke.” Monolog Akira, tersenyum kecil pada perutnya.
__ADS_1
Ketika masih menunggu ojek online yang belum datang, tiba-tiba ada sebuah mobil SUV yang berhenti pas di depan Akira. Akira mengira orang dalam mobil itu akan berkunjung ke makam tapi setelah melihat orangnya keluar dari dalam mobil, ia membelalak tidak percaya melihat orang itu.
Tiba-tiba rasa takut menghantam diri Akira, apalagi saat orang itu tersenyum jahat ke arahnya.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Riana... Oh aku lupa.. itu hanya nama samaran, iyakan Akira?” ucap pria itu sambil berjalan mendekat pada Akira.
Akira menelan salivanya susah payah, jantungnya mulai berdetak tak karuan. Bukan berdetak tak karuan karena jatuh cinta pada ketampanan pria itu, melainkan berdetak tak karuan karena rasa takut.
“Brian,” ucap Akira dengan suara sedikit bergetar. Jika ia sedang tidak mengandung, mungkin Akira tidak akan setakut ini bertemu dengan pria yang menjadi awal mula ia berada di kondisi seperti sekarang ini. Ia mungkin bisa melawan mengeluarkan jurus karate yang telah ia pelajari sama seperti malam itu. tapi kali ini berbeda, ia sedang mengandung. Akan sangat berbahaya jika ia melawan.
Aku hanya bisa melarikan diri dari pria itu, aku tidak bisa melawan jika dia berbuat buruk padaku.
Pria itu tertawa sinis, “aku tidak menyangka kamu masih mengingat namaku dengan baik, Akira.”
Ya, Brian adalah pria yang aslinya bernama Theo. (ada di eps 6) pria yang menjadi sasaran Akira untuk menjalankan tugas dari Dean, dimana ia mengambil segala informasi dari perusahaan tempat pria itu bekerja.
Dan berakhir dengan Akira tidur bersama Dean untuk yang pertama kalinya. Di situlah awal hubungan Akira dan Dean dan sepertinya pria itu juga yang akan menjadi alasan berakhirnya hubungan Dean dan Akira.
__ADS_1
“Kita tidak punya urusan apapun, jadi jangan bersikap seolah kita saling mengenal,” sambar Akira dengan sinis.
Lagi-lagi Brian tertawa sinis. “Mana bisa aku tidak mengenal pada wanita yang telah membuat aku dalam masalah besar... Jangan kira aku tidak tahu, bahwa kamu adalah orang yang telah mencuri informasi perusahaan tempatku bekerja.” Brian melangkah lebih dekat dan mengapit kedua pipi Akira dengan kasar, hingga membuat Akira merasa kesakitan.