
Dean duduk di atas kasur, bersandar pada kepala kasur sambil terus menatap wajah Akira dan mengelus pergelangan tangan Akira yang memerah bekas borgol, sesekali ia mencium pergelangan tangan wanita itu dengan lembut, sedangkan pemilik tangan itu tertidur pulas tidak merasa terganggu sedikit pun.
Dean ingin ikut memejamkan mata seperti Akira namun rasa takutnya mengalahkan rasa kantuk yang mendera. Ya, Dean takut jika ia tidur Akira akan melarikan diri darinya, takut jika saat membuka mata sudah tidak ada Akira di sampingnya apalagi borgol yang mengikat tangan Akira sengaja Dean lepas karena merasa tidak tega melihat Akira tidur dalam keadaan tidak nyaman akibat borgol yang tidak dilepaskan.
Dean sudah mengunci semua pintu dan jendela, walaupun tidak mungkin Akira kabur lewat jendela tapi Dean tetap menguncinya dengan sangat aman, bahkan kunci pintu kamar tidur pun Dean sembunyikan ditempat yang tidak mungkin Akira ketahui. Dean terlalu takut Akira pergi darinya, kejadian tadi sore benar-benar membuat Dean lebih waspada mengawasi Akira agar tidak lagi kabur darinya.
Saat giliran Dean mandi pun, ia menyuruh Akira ikut masuk ke kamar mandi agar ia tetap bisa mengawasi Akira dan yang pasti Akira menolak hal tersebut. Sempat terjadi perdebatan sengit di antara keduanya dan siapapun sudah pasti tahu siapa yang akan kalah di perdebatan itu kalau bukan Akira.
Karena desakan Dean yang sangat memaksa dan Akira sudah sangat lelah meladeni kegilaan pria itu, akhirnya Akira menuruti perintah Dean ikut menemani pria itu mandi, walaupun sepanjang Dean mandi Akira sama sekali tidak menoleh pada Dean. Ia duduk tegak di atas kloset sambil menghadap tembok membelakangi Dean, sedangkan Dean yang berada di bilik kaca tidak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari pungguh Akira. Ia terlalu takut jika Akira tiba-tiba menghilang.
Dean menghembuskan napas pelan lalu mendongakkan kepalanya menghadap langit-langit kamar. Ia kembali teringat dengan permintaan Ethan yang menyuruhnya segera pulang ke Indonesia karena sudah banyak pekerjaan yang menunggu. Dean pun berencana untuk segera pulang tetapi bagaimana dengan Akira? Jika Akira ingin ikut pulang bersamanya Dean pasti akan merasa sangat senang, tapi bagaimana jika Akira menolak ikut pulang, apa yang harus dilakukan Dean? Dean sadar bahwa dirinya sudah banyak memaksa Akira dan Dean juga sadar bahwa Akira merasa tersiksa bersama dengan dirinya saat ini. Namun apa yang bisa Dean lakukan selain memaksa Akira berada di sampingnya dan ia tidak mungkin terus memaksa Akira dalam jangka waktu yang panjang. Dean khawatir Akira akan tertekan dan mengakibatkan gangguan mental pada wanita itu.
Dean kembali menghembuskan napas lalu menatap wajah Akira. Ia perlahan membaringkan tubuh di samping Akira dan menarik pelan tubuh Akira kedalam pelukannya. Didekapnya tubuh Akira dengan erat hingga wanita itu merasa terusik dan sedikit mengerang, tapi setelah itu ia kembali damai dalam tidurnya, bahkan mencari posisi nyaman dalam pelukan Dean.
Sudut bibir Dean sedikit terangkat melihat wajah Akira dalam jarak sangat dekat, bahkan ujung hidung keduanya saling menempel. Dean semakin mendekatkan wajahnya hingga bibirnya menyentuh bibir Akira yang lembut.
“Ini balasan untuk kamu karena sudah mendorongku saat tadi di kamar mandi.” Bisik Dean tepat di hadapan wajah Akira setelah menjauhkan bibirnya dari bibir Akira. Lalu Dean kembali mencium Akira beberapa kali.
Saat tadi di kamar mandi Dean hampir mencium bibir Akira. Ternyata sekuat apapun dirinya menahan diri ia tetap kalah dengan gairahnya, apalagi saat melihat Akira menutup matanya seakan-akan menambah keyakinan Dean untuk mencium bibir yang sudah berbulan-bulan tidak ia rasakan. Namun entah kenapa Akira tiba-tiba membuka mata dan langsung mendorong Dean dengan kencang hingga punggung Dean membentur tembok kamar mandi cukup keras.
__ADS_1
Keduanya terbengong secara bersamaan, saling menatap dengan tatapan tidak percaya. Akira tidak menyangka bisa mendorong Dean sekeras itu, entah dari mana ia mendapatkan kekuatan sekuat itu sampai membuat tubuh Dean terbentur tembok.
Setelah kejadian itu suasana menjadi hening dan canggung. Dean menegakkan tubuhnya sambil mencoba menormalkan kembali wajahnya dari rasa kaget dan perlahan berjalan keluar kamar mandi sambil terdiam seribu bahasa. Entah ia harus bersikap seperti apa, malu karena mencoba mencium Akira atau marah karena Akira sudah mendorong dirinya sangat keras, karena itu sama saja Akira telah melukai harga diri Dean.
Setelah Dean keluar Akira memukul-mukul pelan kepalanya sambil merutuki dirinya yang hampir saja terjatuh ke dalam pesona Dean. Entah apa yang mendorong dirinya untuk menutup mata ketika Dean mendekatkan wajahnya. Seharusnya ia mendorong Dean saat pria itu mendekatkan wajahnya bukan malah menutup mata dan baru mendorongnya saat bibir keduanya hampir saling menempel. Akira tahu ia sudah melukai harga diri Dean tapi tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini selain merutuki dirinya sendiri.
***
Akira menghembuskan napas berat sambil kembali berjalan ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya begitu saja di atas kasur dengan posisi telungkup. Akira berpikir sampai kapan ia akan dikurung oleh Dean, ia benar-benar tidak ingin waktunya dihabiskan terus menerus dikurung oleh Dean.
Semenjak bangun tidur ia belum bertemu dengan Dean entah kemana pria itu pergi. Pria itu hanya meninggalkan makanan untuk sarapan dan note yang berisi sebuah ancaman. ‘Makan sarapanmu dan jangan sekali-kali mencoba untuk kabur, atau kamu akan tahu akibatnya.!!’
Selama dikurung oleh Dean baru pertama kali ini ia bangun dalam keadaan tidak ada Dean di dekatnya. Biasanya ketika ia membuka mata yang pertama kali ia lihat pasti wajah Dean, tetapi itu bukan berarti ia dan Dean selalu tidur bersama dalam satu kasur. Setelah bertemu kembali dengan Dean ia belum pernah lagi tidur satu kasur dengan Dean. Ya, itu setahu Akira, padahal Akira tidak tahu apa yang dilakukan Dean ketika Akira sedang tidur.
Sudah sekitar tiga jam Akira mengelilingi kamar mencari celah untuk keluar, bahkan ia bisa membuka jendela yang terkunci dengan peralatan seadanya, mendadak ia menjelma seperti maling yang akan masuk ke rumah buruannya, namun tetap saja itu sia-sia. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain menatap ngeri ke bawah sana dari lantai puluhan tempatnya tinggal. Akira tidak mungkin melompat dari atas sini ke bawah sana, ia masih waras tidak ingin mati sia begitu saja.
Akira kembali menghembuskan napas berat sambil membalikan tubuh menjadi terlentang, tatapannya mengarah pada jendela yang sudah jebol hasil kerja kerasnya yang berujung kesia-siaan. “Bukan hidup seperti ini yang aku inginkan!!” gumam Akira pelan sambil perlahan menutup matanya dan jatuh tertidur.
Akira mengernyit, mengerutkan kedua alisnya dan perlahan membuka mata. “Aww...” Erang Akira pelan dan ia bisa dengan jelas melihat raut wajah Dean yang tertekuk masam menatap ke arahnya.
__ADS_1
Akira mengalihkan pandangannya ke sumber yang membuatnya mengerang kesakitan. Ia melihat Dean sedang memperban tangannya dengan kain kasa. “Jika ingin kabur lewat jendela kenapa tidak langsung pecahkan saja kaca jendelanya, dari di jebol sampai melukai tanganmu seperti ini.?” ucap Dean setelah menyadari Akira sudah bangun dari tidurnya dengan nada dingin dan menatap wanita itu dengan tatapan tajam.
“Kaca itu terlihat seperti kaca mahal, jika aku memecahkannya mungkin kamu akan dikenakan denda cukup besar.” Jawab Akira. Sebelum menjebol jendela Akira memang mempunyai pemikiran untuk langsung memecahkannya tapi entah kenapa ia justru lebih memilih menjebol jendela tersebut hingga meninggalkan banyak goresan luka di tangannya.
Dean mendengus sambil sedikit mengangkat sudut bibirnya dan tidak mengeluarkan suara kembali sampai ia selesai mengobati luka di tangan Akira.
Entah dari mana aku punya keberanian untuk meninggalkan Akira sendirian di apartemen, hampir saja dia melarikan diri. Seharusnya tadi aku membawa Akira pergi bersamaku, mungkin dia tidak akan mencoba melarikan diri dan terluka seperti ini. Bagaimana jadinya jika saat aku pulang tidak mendapati Akira berada di apartemen? Membayangkannya saja sudah membuatku ngeri apalagi jika menjadi kenyataan. Curhatan Dean dalam hati.
“Sore nanti kita akan pulang ke Indonesia,” celetuk Dean sambil membereskan peralatan P3K ke tempatnya kembali.
Akira dengan cepat menoleh pada Dean dengan tatapan tidak percaya. “Apa maksud kamu, Dean?” tanya Akira pelan.
Dean mengangkat wajahnya menatap Akira lalu beranjak dari kasur dan meletakan kotak P3K ke dalam laci nakas. “Apakah perkataanku barusan kurang jelas?” Dean balik bertanya sambil memasukan kedua tangannya ke saku celana dan berdiri di pinggir kasur, cukup jauh dari Tempat Akira berbaring.
Akira mendudukan tubuhnya, tatapannya sama sekali tidak lepas menatap Dean. “Aku tidak mengatakan aku ingin kembali ke Indonesia, lalu kenapa kamu tiba-tiba mengajakku pulang?”
“Aku tidak peduli kamu mau pulang ke Indonesia atau tidak, intinya nanti sore kita kembali ke Indonesia.!”
“Aku tidak ingin kembali ke Indonesia!!!” balas Akira cepat dengan suara penuh penegasan. Ia beranjak dari kasur dan berjalan mendekat pada Dean sambil menatap Dean dengan tajam. “Sekarang kasih tahu aku, apa yang harus aku lakukan agar terbebas dari kamu, Dean?”
__ADS_1
Dean menelan saliva melihat wajah Akira yang begitu serius, Ia membuang wajah sekilas lalu kembali menghadap pada Akira. “Aku sudah mengambil semua barang milik kamu termasuk paspor di rumah bibi Emil dan aku juga sudah membuat alasan yang sangat bagus agar kamu tidak pandang buruk oleh mereka, jadi kamu tidak perlu khawatir—“
Akira menyela ucapan Dean dengan nada cukup tinggi, “Aku bilang aku tidak mau kembali ke Indonesia, jika kamu mau pulang kamu saja sendiri yang pulang. Jangan memaksaku ikut pulang juga.” Akira menghela napas sejenak, “Kamu ingin tahu dari mana aku mendapatkan uang untuk membangun bisnis yang aku punya, iya kan? Baik aku akan menjelaskan semuanya dan setelah itu sesuai yang kamu ucapkan, kamu akan membebaskan aku!!”