
Akira menuruti permintaan Dean untuk menambah satu hari lagi menghabiskan waktu bersama dan nanti besok pagi baru ia akan kembali melanjutkan perjalanannya, begitu pun dengan Dean, dia akan kembali besok pagi ke Indonesia.
Keduanya telah berkomitmen untuk saling menunggu dan menjaga hati satu sama lain dan di saat itulah cinta mereka akan diuji oleh waktu. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka di depan nanti, yang perlu mereka lakukan adalah hanya menunggu dan tetap setia.
Selama mereka berpisah mereka tidak akan melakukan komunikasi sedikit pun. Awalnya Dean memprotes, walaupun mereka berjauhan mereka harus tetap berkomunikasi tetapi Akira tetap dengan pendiriannya. Tidak akan ada komunikasi selama mereka berpisah sementara dan Akira juga meminta Dean untuk tidak melacak keberadaan dirinya.
Mereka akan benar-benar berpisah tanpa mengetahui kabar satu sama lain, namun Akira mengatakan kepada Dean bahwa dirinya akan selalu mengawasi Dean, akan selalu tahu apa yang dilakukan Dean. Jadi, satu kali saja Dean melakukan kesalahan seperti tidur kembali dengan seorang wanita atau mempunyai hubungan dekat dengan seorang wanita maka Akira akan mengirimkan surat yang ditulis dengan tinta merah yang mengartikan Dean tidak perlu lagi menunggu dirinya kembali dan putuslah komitmen di antara mereka berdua.
Dean bertanya, “Kalau aku di jebak oleh seorang wanita seperti di film-film, yang tiba-tiba bangun di pagi hari dalam keadaan telanjang bersama seorang wanita, apakah itu juga termasuk pelanggaran? Apakah kita akan putus?”
Akira menjawab bahwa itu juga sama termasuk pelanggaran dan itu artinya komitmen diantara mereka telah selesai, walaupun kesalahan itu dilakukan dengan tidak sengaja.
Dean memprotes tidak setuju dengan hal itu, menurut dia itu tidak adil, kesalahan itu datang dari orang lain tapi kenapa komitmen mereka jadi putus. Dan Akira memberikan jawaban yang menohok hati Dean atas sanggahannya tersebut.
“Aku tidak ingin mempunyai suami bodoh, Dean, yang gampang tertipu oleh muslihat seorang wanita. Jika kejadian itu beneran terjadi, artinya kamu yang memberikan kesempatan pada wanita itu untuk menjebak kamu atau diri kamu sendiri yang sengaja ingin di jebak lalu setelah itu kamu akan berdalih bahwa diri kamu telah dijebak.”
Setelah mendapatkan jawaban itu Dean tidak lagi protes. Benar yang dikatakan Akira jika ia sampai di jebak oleh seorang wanita berarti ia yang terlebih dahulu membuka kesempatan itu, yang mungkin tidak dia sadari.
Selama satu hari itu mereka benar-benar menghabiskan waktu bersama, mereka tidak pernah berjauhan lebih dari satu meter kecuali jika ada hajat ke kamar mandi dan saat membersihkan kekacauan yang mereka buat.
Mereka menghabiskan waktu dengan masak (bersama), makan bersama, menonton tv, dan mengobrol tentang banyak hal. Dean pun bertanya pada Akira, apakah Akira masih sakit hati karena telah menceritakan asal usul uang yang dia dapatkan untuk membangun semua bisnis yang wanita itu miliki, yang secara tidak langsung Akira telah menceritakan kehidupannya dari saat dia masih umur 8 tahun.
Akira menjawab, justru dirinya merasa lebih lega setelah menceritakan hal itu, seperti setengah beban di pundaknya telah di bagi dua. Walaupun saat bercerita hatinya kembali merasakan kesakitan tapi setelah menangis dan menceritakan hal itu ia merasa lebih tenang dan sedikit demi sedikit hatinya tidak merasa kesakitan lagi.
Dean merasa tenang mendapatkan jawaban tersebut, ia khawatir Akira masih memendam rasa sakit karena telah menceritakan kisah hidupnya. Sekarang mereka sudah saling tahu kisah kehidupan masing-masing dan berharap mereka akan lebih menghargai dan memahami diri satu sama lain.
“Ngapain sih kita bersih-bersih kaya gini? Besok pagi juga kita akan pergi dari sini!” Dean berdecak pinggang sambil menyandarkan punggungnya di tembok sebelah pintu kamar Akira. Ia baru saja membersihkan kamar Akira sekaligus kamar mandi yang ada di dalamnya. Dan satu kamar lagi yang sedang menanti untuk dibersihkan.
Akira yang sedang membersihkan dapur menengok ke arah Dean. pria itu terlihat sangat kelelahan padahal pekerjaan yang dia kerjakan tidak terlalu berat, hanya merapikan kamar, menyapu, mengepel dan menyikat kamar mandi. Ukuran kamar pun tidak terlalu luas hanya berukuran 3x4 tapi Dean bertingkah seolah baru membersihkan seluruh ruangan di rumahnya di Indonesia.
“Dan aku juga sangat yakin, orang yang akan menempati tempat ini pasti akan membersihkannya sebelum ditempati, jadi buat apa kita harus cape-cape membersihkan tempat ini.” Dean mengoceh lagi. Ia sangat keberatan waktu yang singkat bersama Akira harus dihabiskan dengan membersihkan tempat ini.
Akira hanya menghela napas, mencoba tidak memperdulikan rengekan Dean yang terdengar seperti seorang anak minta uang. Sepanjang Dean membersihkan kamar dia tidak berhenti mengoceh mengomentari apa saja yang membuatnya kesal, bahkan cicak yang tidak sengaja lewat di dinding pun tidak luput dari komentar Dean.
“Kita sudahi saja bersih-bersihnya, Akira.” ucap Dean sambil melingkarkan tangan ke pinggang Akira dari arah belakang. “Besok pagi aku akan meminta pihak kebersihan untuk membersihkan apartemen ini, jadi kita tidak perlu—“
__ADS_1
“Apartemen ini tidak sebesar rumahmu, Dean. jadi apa salahnya kalau kita yang membersihkan kekacauan yang kita buat.” Akira memotong ucapan Dean dengan cepat.
Satu jam yang lalu tempat ini begitu sangat berantakan. Kekacauan yang diakibatkan perang panas kemarin malam saja belum sempat dirapikan lalu di tambah saat masak makan malam mereka berdua kembali membuat kekacauan, walaupun bukan kekacauan yang sama seperti kemarin malam.
Awalnya Dean yang terlebih dahulu memancing kekacauan tersebut, ia memasukan garam pada Tumis sosis cabe hijau buatan Akira, karena Akira sudah bosan makan makanan luar ia mencoba untuk memasak sendiri dengan bahan seadanya tapi sayangnya dikacaukan oleh Dean.
“Dean apa yang kamu masukan?” tanya Akira yang baru saja mengambil piring untuk wadah masakannya dan curiga melihat Dean meletakan toples bumbu.
“Aku hanya memasukan sedikit garam.” Jawab Dean santai.
Akira membelalakkan mata dan berjalan cepat ke arah masakannya. “Aku sudah memasukkan garam, kenapa kamu masukkan garam lagi?”
“Oh, aku kira belum. Niatnya mau inisiatif membantu.” Jawab Dean santai dengan wajah tanpa dosa.
Akira berdecak keras lalu mengambil sendok dan mencicipi masakannya. Jika Dean memasukkan garam hanya sedikit maka rasa asinnya masih bisa di toleransi atau nanti akan di masukkan sedikit gula agar rasa asinnya bisa setara tapi sepertinya Dean memasukkan garam lebih dari satu sendok karena saat Akira mencicipi masakannya ia seperti memasukkan garam satu sendok penuh kedalam mulutnya, sangat asin.
“DEAN, INI ASIN BANGET!!” Akira berteriak sangat kesal lalu memukul dada Dean.
“Ya, aku mana tau. Aku kan cuma inisiatif membantu.” Jawab Dean dengan sedikit terkekeh dan itu membuat Akira makin kesal.
“Ya seharusnya kamu tanya aku dulu dong, gak asal masukin garam.”
Dean maunya terus menempel pada Akira, dipeluk, disayang-sayang dan bermanja-manja tapi Akira merusak momen romantis mereka dengan ingin memasak yang membuat Dean harus sedikit berjauhan dari Akira. Awalnya Dean terus memeluk Akira saat Akira masak tapi setelah itu Akira meminta Dean untuk duduk saja karena ia sangat kesusahan memasak sambil terus di peluk dari belakang.
Tadinya Dean tidak memperdulikan ucapan Akira tapi setelah Akira melemparkan tatapan tajam kepadanya, nyali Dean pun sedikit menciut dan dengan terpaksa melepaskan pelukannya.
“Sekarang masakannya jadi gak bisa dimakan gara-gara kamu, Dean.” Akira sedikit merengek dan menatap masakannya dengan tatapan sedih.
Dean menahan senyum melihat tingkah Akira seperti anak kecil. Mungkin ini pertama kalinya Dean melihat Akira merengek seperti sekarang ini, seperti anak kecil yang kehilangan es krimnya yang jatuh ke tanah. “Ya, udah jangan sedih kaya gitu. Kita kan masih bisa pesan makanan di luar,” ucap Dean mencoba menenangkan sambil memeluk Akira dari belakang lalu mencium pipi Akira dan menghirup aroma tubuh Akira lewat ceruk leher wanita itu.
Padahal habis masak tapi tubuh Akira masih sangat wangi.
Tubuh Dean tersentak kaget dan mundur beberapa langkah karena tiba-tiba saja Akira mendorong Dean dengan kencang. “Ini tuh semua gara-gara kamu, Dean. kalau saja kamu gak sok tahu sekarang aku bisa makan sosis itu.”
“Cuma sekedar sosis, Akira, bisa aku pesankan sebanyak yang kamu mau.”
__ADS_1
Akira memajukan bibirnya, menampilkan wajah cemberut lalu melemparkan irisan tomat pada Dean seraya berkata, “kamu nyebelin banget sih.” Lemparan Akira pas sekali mengenai wajah tampan Dean, membuat Dean kaget mendapatkan serangan mendadak.
Saat Akira berjalan melewati Dean tiba-tiba kerah baju belakang Akira ditarik oleh Dean, membuat Akira terseret berjalan mundur. “Aku orangnya sedikit pendendam, Akira.” Dean menyeringai sambil memasukan sisa irisan tomat ke dalam baju belakang Akira dan itu membuat mata Akira langsung terbuka lebar.
Dan begitulah awal mula kekacauan ini terjadi. Barang apa saja yang mereka temukan akan dilemparkan pada lawan, bahkan Akira tidak segan-segan melemparkan telur pada Dean, membuat Dean seketika semakin semangat untuk membalas. Dan perang itu baru selesai ketika secara bersamaan perut mereka berbunyi keras minta makan.
Mereka bertatapan satu sama lain dan diam beberapa saat lalu tertawa keras menyadari betapa kacaunya diri mereka sekarang dan menatap ngeri pada kekacauan yang mereka buat.
Dean berjalan ke arah Akira, “apa ada bagian tubuh yang sakit karena lemparan ku?” tanya Dean sambil merapikan rambut Akira.
Akira menahan senyum dan diam beberapa saat lalu tiba-tiba saja meluncur air dari atas kepala Dean, membuat wajah Dean jaget dan mundur beberapa langkah ke belakang “Kamu kira aku gak tahu, kalau kamu meperin telur ke rambut aku,” ucap Akira sambil melotot.
Dean tertawa keras sampai memegangi perutnya yang sakit karena tertawa. Ia kira Akira tidak menyadari bahwa ia mengoleskan bekas telur di rambut wanita itu.
Kesenangan dalam kekacauan, begitulah yang terjadi pada mereka satu jam yang lalu dan sekarang giliran mereka untuk mempertanggungjawabkan atas kekacauan tersebut, membersihkan seluruh ruangan apartemen dengan bersih, yang membuat Dean merengek kelelahan atau pura-pura kelelahan karena ingin segera bermanja-manja kembali dengan Akira.
“Ayo semangat tinggal satu kamar lagi.” Ucap Akira sambil mendorong Dean melepaskan pelukannya.
“Sepertinya kamar yang satunya lagi tidak kotor atau berantakan, karena aku jarang memakai kamar itu dan tidak tersentuh oleh kekacauan yang kita buat.” Sanggah Dean sambil mencoba memeluk Akira kembali.
Sebelum mereka membereskan kekacauan ini, mereka mandi terlebih dahulu dan makan malam bersama, yang pasti bukan makan sosis buatan Akira melainkan makanan yang dibeli dari luar.
“Kalau begitu bantu aku bereskan dapur ini.” ucap Akira sambil membalikan badan menghadap Dean.
Akira lebih memilih membereskan dapur sendirian dan menyuruh Dean membereskan tempat yang lain. ia khawatir jika membereskan dapur bersama Dean justru akan bertambah kacau. Tapi ternyata sangat melelahkan membereskan dapur seorang diri dan sekarang ia butuh bantuan Dean.
Dean tersenyum, “kalau begitu berikan aku satu ciuman bibir terlebih dahulu.”
Akira menghela napas sambil memutarkan bola matanya lalu ia pun mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Dean. Ketika satu ciuman singkat telah Akira berikan dan ingin menjauhkan wajahnya Dean justru menahan kepala Akira sekaligus memeluk tubuh Akira agar tidak bisa menghindar.
Dean tidak membuang-buang kesempatan bagus tersebut, langsung melahap bibir Akira dengan rakus.
Sudah dari tadi aku ingin mencium bibir ini.
_________________________
__ADS_1
Tinggal beberapa bab lagi novel ini tamat, huhuhu… Setelah berbagai rintangan di lalui akhirnya sampai juga di detik-detik novel ini akan tamat. Pokoknya makasih buat teman-teman yang selalu kasih semangat dan dukungannya. :) peluk dari jauh hangat dari jauh :)
Menurut kalian bakal sad ending, happy ending atau bad ending?