
Akira menatap Dean dengan kesal sambil menyuapkan makanan ke mulutnya. Sekarang mereka sedang duduk di kursi makan. Saat tadi Dean ikut masuk kedalam selimut, Akira tidak sengaja menendang wajah Dean membuat wajah itu memar di bagian bawah mata, sangat terlihat jelas warna merah bekas telapak kaki di kulit putih mulus wajah pria itu. Untung saja hidung Dean tidak berdarah atau ada yang lecet dari kulitnya.
Sebenarnya Akira tidak peduli jika ada yang lecet dari wajah Dean, tetapi karena Dean Phobia Darah Akira tidak mau repot-repot mengurus Dean kalau pria itu sampai pingsan. Akira jadi ingat kejadian saat dikamar Dean, saat ia memukul wajah itu dengan keras. Betapa paniknya Dean setelah bangun tidur melihat darah sampai pingsan di atas lantai.
“Katanya kamu belum makan dari sore tapi kenapa tendangan aku keras banget, Akira.” Ujar Dean sambil tangannya terus mengompres memar di wajahnya.
Akira hanya mengidikan bahu tidak menyahut. Salah pria itu sendiri suruh siapa ikut masuk ke dalam selimut dan membuat dirinya kaget setengah mati lalu dengan Refleks menendang Dean. Menurut Akira itu balasan yang setimpal.
Akira tertawa dalam hati melihat raut wajah Dean yang menahan sakit di wajahnya, terlihat lucu. Jarang-jarang sekali Akira melihat raut wajah seperti itu, ah, bahkan ini yang pertama kalinya bagi Akira melihat wajah yang selama setahun lebih hanya menunjukan wajah angkuh dan penuh penindasan itu berubah menjadi wajah meringgis menahan sakit, yang sangat perlu dikasihani. Seperti ikan yang terhempas kedaratan.
“Makasih udah bawain aku makanan,” ucap Akira setelah menyelesaikan makanannya.
Dean hanya menjawab dengan ber-hem saja tanpa melirik pada Akira.
Akira tidak menyangka dan sangat terkejut, Dean datang kerumahnya sambil membawakan masakan yang di masak oleh chef pribadi Dean, dan lebih mengejutkan lagi, Dean juga membawa pakaian satu koper untuk sengaja di simpan di rumah Akira. Pria itu beralasan jika Akira merasa mual lagi dengan parfum yang Dean pakai ia bisa dengan mudah untuk berganti baju dan tidak perlu repot-repot meminjam baju Akira.
Akira yang mendengar alasan Dean hanya menghembuskan napas lelah, ia ingin membantah dan menyuruh Dean untuk membawa kemballi bajunya tapi karena tadi perutnya sama sekali belum di isi makanan ia tidak punya tenaga untuk menolak kehadiran pakaian Dean di rumah ini. Mungkin setelah tenaga Akira kembali terisi, akan mengeluarkan baju Dean dari rumahnya. Akira benar-benar tidak terbiasa dengan kehadiran pria di rumahnya apalagi ada barang-barangnya.
Seperti biasa Akira langsung membawa piring kotor ke Wastafel dan langsung mencuci piring kotor tersebut, lalu sisa makanan yang tidak habis ia masukan ke dalam kulkas agar besok pagi bisa hangatkan kembali. Dean cukup banyak membawa makanan dan tidak semuanya bisa Akira habiskan. Jadi lebih baik ia tidak membuang sisa makanan tersebut, mengingat bahayanya sampah sisa makanan yang bisa meruksak bumi ini. Apalagi negara yang ia tempat menjadi urutan kedua yang menyumbangkan sampah sisa makanan terbanyak di Dunia dan yang bikin ironisnya, Tingkat kelaparan di negara ini masih masuk katagori serius. Sangat miris bukan?
__ADS_1
Selagi makanannya masih layak makan lebih baik jangan dibuang, begitulah prinsip Akira. Apalagi mengingat masa kecilnya yang begitu sulit, jangankan untuk makan tiga kali sehari makan sehari sekali saja sudah sangat bersyukur.
“Tuan Dean kapan mau pulang? Ini udah malam loh,” tanya Akira datar ketika kembali ke meja makan dan duduk di tempatnya semula.
Dean yang sedang menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kembali menegakan tubuhnya sambil terbelalak menatap tajam Akira, “Enak banget ya kamu, Akira. Setelah perut kenyang sekarang malah ngusir,”
“Aku bukan ngusir Tuan Dean tapi sekarang udah hampir jam 10 malam, bentar lagi akan ada orang keliling buat ronda. Takutnya nanti mereka bisa berpikir macem-mecem lihat mobil mewah terpakir di halaman rumah,”
Dean tersenyum miring tanpa melepaskan tatapannya pada Akira, “Ya gak apa-apa mereka berpikir macem-macem, kamunya juga udah hamil, kan?”
Akira hanya berdecak sambil memalingkan muka.
Akira hanya mengidikan bahu tidak peduli degan ucapan Dean barusan karena ia sudah punya rencana menyembunyikan kehamilannya tanpa mencemari nama baiknya jika ia tidak jadi menikah dengan Dean.
“Oiya Tuan Dean kok bisa masuk ke rumah aku? Perasaan aku udah kunci semua pintu,” ujar Akira lebih penasaran kenapa pria itu bisa masuk rumahnya.
Dean mengambil sesuatu di dalam saku celananya lalu menujukan Duplikat Kunci rumah Akira, “Saat tadi siang kamu tidur aku sengaja ngeduplikatin kunci rumah kamu biar aku gampang masuk rumah kamu kapan aja, buat jaga-jaga juga kalau kamu gak bukain pintu, kaya kemarin malam itu.”
Akira menghembuskan napas pasrah lalu tersenyum terpaksa sambil menahan kesalnya, “Tuan Dean cerdas banget sih? Tarbuat dari apasih itu otaknya? Jadi iri deh..” ucap Akira dengan mengatupkan gigi, berpura-pura gemas pada pria itu.
__ADS_1
“Yaiyalah Dean gitu loh, lebih cerdas dari pada Albert Einstein,” sombong Dean sambil beranjak dari kursi, meletakan bekas kompresan di meja makan begitu saja lalu berjalan meninggalkan Akira yang terbengong dengan respon yang Dean berikan.
“Oh Ya Tuhan, dari sebanyak pria dimuka bumi ini kenapa aku harus berurusan dengan manusia seperti itu? Tolong kuatkan aku,” lirih Akira melas sambil menatap punggung Dean yang hilang di balik pintu kamarnya.
Akira tersentak lalu mengerjapkan matanya berkali-kali, “Eh itu ngapain Tuan Dean masuk ke kamar aku? Wah bener-bener tu orang udah serasa rumahnya sendiri!” Akira bangkit dari duduknya lalu menyusul Dean masuk kamar.
“Tuan Dean ngapain buka-buka lemari aku?” tanya Akira setelah sampai di daun pintu, melihat Dean tengah membuka lemari pakaiannya.
“Tuan Dean gak sopan banget sih, asal masuk ke rumah orang, masuk kamar, terus sekarang buka-buka lemari aku!” sambung Akira penuh kesal sambil berjalan mendekati Dean. Hari ini begitu luar biasa bagi Akira, seharian di buat kesal oleh Dean.
“Apanya yang gak sopan, Akira? Aku masuk rumah tanpa ngetuk pintu atau semacam permisi, karena aku gak mau bikin kamu cape harus jalan ke pintu hanya untuk bukain pintu buat aku, terus aku ini buka lemari kamu karena mau nyimpen baju aku disini, aku gak mau buag kamu kelelahan gara-gara masukin baju aku kelemari. Wanita hamil itu gak boleh kelelahan, apalagi di awal kehamilan, nanti gak baik buat kandungannya.” Jelas Dean dengan santai.
“Terus aku masuk kamar karena lemarinya ada dalam kamar, gimana aku mau masukin baju aku kalau aku gak masuk kamar? Dimana coba letak ketidaksopanan aku, hem?”
Akira terdiam, sudah kehabisan kata-kata menghadapi pria dihadapannya ini.
Belum jadi istri aja udah dibuat pusing tujuh keliling, apalagi nanti kalau udah jadi istrinya. Oh, aku gak bisa membayangkan itu, membayangkannya aja udah berat apalagi nanti jalaninnya. Bisa-bisa aku dibuat mati berdiri.
...----------------...
__ADS_1
Jagan Lupa Like, komen, Vote dan Hadiahnya juga gaes. Menurut kalian Dean ngeselin gak?