
Jam tiga siang Akira bangun dari tidurnya, ia merenggangkan tubuh, mengucek mata pelan lalu turun dari atas kasur. Ia berjalan ke depan cermin yang berada dalam kamarnya. Inilah salah satu kebiasaan Akira setelah bangun tidur pasti ia menghampiri kaca untuk melihat pentulan dirinya yang habis bangun tidur. Akira merasa dirinya terlihat sangat imut ketika baru saja bangun tidur. Ungkapan itu hanya untuk membahagiakan dirinya sendiri.
Akira tersenyum kecil melihat pantulan dirinya dicermin, ia merapihkan rambut sepanjang punggungnya yang sedikit kusut dengan jari-jari tangannya.
Ya ampun, aku baru ingat tadi saat aku mau tidur bukannya ada Tuan Dean? Pria itu sudah pulang atau masih dirumah ku?
Akira teringat akan keberadaan Dean. dirumahnya, ia berjalan keluar kamar dan mendapati Dean sedang duduk di sofa ruang tamu, pokus pada layar laptopnya. Akira mengernyit melihat baju kaos berlengan pendek warna abu muda yang dipakai Dean. Pria itu sudah berganti pakaian tatepi Akira merasa tidak asing dengan kaos yang dipakai Dean.
Aku kira Tuan Dean sudah pulang, kenapa pria itu betah sekali berdiam diri di rumah sempit milikku ini?
“Sudah bangun?” Dean mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Akira yang sedang beridiri di pintu perbatasan ruang tamu.
Akira tidak menjawab, ia berbalik badan dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Dirumah Akira hanya ada satu kamar mandi yang terletak di antara dapur dan ruangan yang Akira jadikan tempat penyimpanan dokumen-dokumen penting miliknya atau bisa disebut ruang kerjanya.
Setelah menuntaskan keperluannya di kamar mandi Akira keluar dan menuangkan air ke dalam gelas untuk diminum lalu berjalan ke ruang tamu, dimana Dean berada.
“Kenapa Tuan Dean belum pulang?” tanya Akira sambil mendaratkan pantatnya di sofa tunggal, sedangkan Dean duduk di ujung sofa yang cukup berjarak dengan Akira.
“Kamu udah gak mual deket aku?” tanya Dean balik dan tidak mempedulikan pertanyaan Akira.
__ADS_1
Akira menghembuskan napas pelan, pria itu ditanya malah balik nanya. “Udah nggak, bau parfumnya juga udah gak kecium.” Jawab Akira.
Dean tersenyum miring, “Oh baguslah, tadi aku ikut numpang mandi sama minjem baju kamu ini. biar kamu nanti bangun tidur gak mual lagi deket aku,” ujar Dean santai.
Akira membelalak tidak percaya dengan apa yang ia dengar, pantas saja ia merasa tidak asing dengan baju yang dipakai Dean dan saat tadi ke kamar mandi ia melihat handuk yang tergeletak begitu saja di pojokan.
“Bajunya sedikit kekecilan terus bahan bajunya sedikit kasar. Kelihatan banget kalau ini kaos murahan tapi ya lumayan, masih layak pakai.” Tambah Dean. Pria itu memang mengucapkan kata-katanya dengan nada biasa, tidak ada intonasi menghina tetapi yang tertangkap di pendengaran Akira nada suara Dean seperti penuh penghinaan.
Tuan Dean punya sopan santun gak sih? Tadi maen nyolonong masuk rumah, ikut numpang makan terus sekarang main pakai baju aku tanpa izin, dihina pula bajunya. Benar-benar miskin akhlak! Akira menggerutu di dalam batinnya mendapati kelakuan Dean yang seenaknya saja. Jangan mentang-mentang aku ini mantan bawahannya, dia bisa bertingkah seenak udelnya dirumahku.
“Berarti Tuan Dean buka lemari pakaian aku dong?” tanya Akira sedikit teriak.
Akira berjalan mendekati Dean lalu memukuli bahu pria itu. “Tuan Dean gak punya sopan santun banget sih, di lemariku kan ada pakaian privasiku yang seharusnya tidak Tuan Dean lihat,” Akira merasa sangat kesal bisa-bisanya Dean membuka lemari pakaian wanita dengan santainya dan tentu saja di dalam lemari itu ada pakaian dalam yang tersusun rapih milik Akira. Selama ini tidak ada pria maupun wanita yang melihat barang-barang privasi miliknya, bahkan tidak ada pria yang pernah masuk ke dalam kamar Akira kecuali tukang AC yang membenarkan AC yang pernah sempat rusak.
Dan sekarang pria asing yang pernah menjadi bosnya itu pasti sudah melihat barang-barang privasi miliknya. Mungkin orang lain akan menganggap Akira lebai, cuma dilihat barang-barang privasinya langsung marah, tetapi tidak buat Akira, sudah sejak umur 10 tahun Akira hidup mandiri dan tentu semua keperluannya tidak pernah disentuh oleh orang lain ataupun dilihat. Bahkan Akira menjemur pakaian miliknya ditempat yang tidak bisa lihat orang-orang.
Dean menangkap kedua tangan Akira yang memukulinya, menahan di depan dada wanita itu, “Emangnya ada yang salah kalau aku lihat pakaian privasi kamu? Aku bahkan sudah melihat tubuh kamu tanpa pakaian. Kenapa harus bersikap berlebihan seperti ini?” ujar Dean, menatap bola mata wanita itu sambil mengernyit.
Ia juga ya, kenapa aku harus malu Tuan Dean melihat pakaian privasiku padahal kami sudah pernah bertelanjang bersama, perutku melendung sebagai buktinya, kan?
“Ya tetap saja Tuan Dean gak sopan asal ngambil baju tanpa seizin pemiliknya,” Akira mencari pembelaan dengan kikuk, ia menarik tangannya di pegangan Dean lalu membuang wajahnya ke arah lain. Ia merasa jadi malu sendiri.
__ADS_1
“Siapa bilang aku gak minta izin? Aku minta izin kok, gak asal ngambil aja,” balas Dean datar.
“Aku gak merasa Tuan Dean minta izin tuh,”
“Aku minta izin saat kamu tidur, karena gak ada jawaban dari kamu ya aku anggap itu sebagai persetujuan,”
Akira menoleh pada Dean dengan raut wajah tak percaya. ia tak menyanga tuannya itu bisa punya sikap seperti itu. tidak hanya menyebalkan dalam urusan pekerjaan, dalam bersosial juga pria itu sama menyebalkannya. Akira bisa menebak pria semenyebalkan Dean pasti tidak punya teman dekat ataupun sahabat.
“Aku hanya ingin segera menyelesaikan masalah antara kita, Akira. Kalau kamu terus merasa mual mencium parfumku maka kita tidak bisa bicara serius mencari jalan keluar dari masalah kehamilan kamu. Lebih baik kita segera mengambil keputusan tentang kehamilan kamu itu,” lanjut Dean menatap balik pada Akira.
Akira mengalihkan pandangannya lalu bergeser menjauh dari Dean, ia baru sadar bahwa jarak duduk mereka tadi sangat dekat bahkan Akira bisa mencium aroma tubuh pria itu. aroma tubuh Dean tidak membuat Akira mual, ia malah ingin mencium aroma tubuh itu lebih dekat. Tidak seperti beberapa jam lalu saat Dean masih memakai baju kemejanya yang membuat Akira merasa sangat mual karena parfum yang dipakai pria itu.
“Masalah apa yang Tuan Dean maksud,? Aku sudah bilang dari awal bahwa aku tidak minta pertanggung jawaban dari anda, Tuan Dean!” ucap Akira tanpa melihat ke arah Dean.
Dean berdecak kesal, “Akira, memangnya kamu tidak malu jika orang-orang diluar sana tahu kalau kamu hamil di luar nikah dan tanpa suami? Cepat atau lambat perut kamu pasti akan semakin membesar dan orang-orang pasti tahu kalau kamu sedang hamil, apalagi kamu tinggal di lingkungan permukiman warga.” Dean mengusap wajahnya kasar, merasa sangat heran dengan jalan pikiran Akira.
“Belum lagi kedua orang tua kamu, pasti mereka tidak mau putrinya melahirkan seorang bayi tanpa suami. Mereka pasti akan malu, Akira.” Lanjut Dean.
Akira tersenyum masam mendengar kata ‘orang tua’. Pria yang duduk disampingnya ini tidak tahu bagaimana kehidupan Akira. “Tuan Dean gak perlu khawatir, aku bisa mengurus itu semua.” Akira menoleh pada Dean sambil tersenyum kecil.
Aku sudah banyak melewati kesulitan dalam hidupku, dan untuk kali ini juga aku yakin bisa melewatinya.
__ADS_1