
Baju dan barang-barang kamu yang lainnya masih ada di rumahku, mau di ambil atau tidak? Kalau tidak mau di ambil aku akan kasih buat orang yang membutuhkan.
Dean mengerjapkan mata berkali-kali melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Berulang kali membaca pesan dari Akira. Walaupun pesan itu terkesan biasa-biasa saja tetapi sukses membuat jantung Dean berdetak tak karuan.
Dean tidak mengerti dengan dirinya, kenapa ia begitu bahagia mendapatkan pesan singkat tersebut. Sebenarnya Dean ingin sekali mengunjungi Akira saat di rumah sakit tapi karena ia terlalu gengsi sebab sudah tidak hubungan apapun dengan Akira, menjadikan ia tidak punya alasan apapun untuk menemui Akira.
Ia hanya bisa mengirimkan kebutuhan Akira secara sembunyi-sembunyi, karena setahu Dean, tidak ada orang yang menemani Akira selama wanita itu di rumah sakit. Jadi kemungkinan wanita itu akan kesusahan memenuhi kebutuhannya. Dean hanya menganggap apa yang dilakukannya hanya sekedar kasihan pada Akira yang sebatang kara, tidak lebih. Walaupun di hati Dean ada rasa ingin melindungi Akira, namun Dean langsung menyangkal perasaan itu.
Dean berdehem beberapa kali, memutuskan untuk menelpon Akira untuk membahas bajunya yang masih ada di rumah Akira.
Ah, padahal jika hanya membahas soal barangnya yang masih di rumah Akira bisa dibicarakan lewat pesan tapi Dean beralasan pada dirinya sendiri, bahwa lebih mudah membicarakannya lewat telepon daripada lewat pesan. Dean kembali menyangkal jika dirinya merindukan mantan calon istrinya itu.
Dan sebenarnya Dean tidak mempedulikan barang-barangnya yang tertinggal di rumah Akira, Dean dengan mudah bisa membeli barang-barang yang baru, jadi tidak akan rugi jika hanya kehilangan barang remehan tersebut.
Dean menegakan posisi duduknya di pinggir kasur menunggu teleponnya tersambung. Pada nada dering kedua telepon Dean diangkat oleh Akira.
Dean menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa detik lalu menghembuskannya perlahan, seraya berkata. “Hallo Akira,” sapa Dean memulai.
“Ada apa menelpon?” tanya Akira to the point.
“Aku hanya ingin memastikan barang-barangku masih dalam keadaan aman.” Ucap Dean dingin dengan nada suara yang biasa digunakan dengan karyawan di kantor.
“Oh itu... kamu tenang saja barang-barangmu masih pada tempatnya, belum aku sentuh sama sekali... Jadi bagaimana, mau di ambil atau aku kasih buat orang lain? Aku tidak bermaksud menyinggungmu, Dean, hanya saja barang-barang kamu begitu banyak memenuhi setengah lemariku, jadi aku sedikit kesulitan menaruh barang milik ku,” balas Akira.
“Ya aku mengerti, besok aku akan mengambil semua barang ku.”
“Oh oke. Kalau begitu aku tutup teleponnya ya. Selamat mal—“
“Tunggu dulu Akira, jangan dulu ditutup.” Potong Dean dengan cepat.
“Ada lagi yang mau dibicarakan?” tanya Akira.
“Mmm... itu..” Dean melihat ke sekeliling sambil beranjak dari duduknya. Ia masih ingin mendengar suara Akira tetapi tidak punya alasan apapun untuk melanjutkan obrolan. Ah, Dean jadi gusar sendiri.
“Kenapa?” tanya Akira lagi.
“Tidak jadi, kalau begitu selamat malam, Akira.” Dean langsung menutup sambungan telepon tanpa menunggu jawaban dari Akira lalu melemparkan ponselnya begitu saja ke atas kasur.
“Ah.. Sial. Kenapa aku jadi begini? Aku benar-benar tidak mengerti dengan diriku yang sekarang!” monolog Dean, merasa kesal dengan dirinya sendiri. Sungguh, Dean tidak mengerti dengan apa yang sedang ia rasakan saat ini.
Ada rasa ingin menemui Akira, ingin menanyakan kabarnya, ingin mendengar tawanya, melihat senyumannya dan ingin memeluk tubuh Akira dengan erat. “Aku tidak mungkin merindukan wanita itu kan? Dia bukan siapa-siapa! Dia hanya wanita yang tidak sengaja mengandung darah dagingku, tidak lebih! tapi kenapa rasanya kaki ini ingin sekali lari ke rumahnya menemui wanita itu.?”
“Aku harus segera menghilangkan Akira dari pikiranku, ini benar-benar tidak baik untuk diriku.” Dean mengambil ponselnya di atas kasur lalu mencari nomor yang biasa dihubungi untuk memenuhi hasratnya.
__ADS_1
“Kirimkan wanita ke rumahku malam ini.” ucap Dean arogan setelah teleponnya tersambung dan langsung memutuskannya kembali tanpa mendengar jawaban dari orang seberang sana.
**
Tidur Akira merasa terganggu dengan suara berisik di dekatnya, dan anehnya lampu dalam kamarnya menyala padahal tadi sebelum tidur ia mematikan lampu kamar, karena ia terbiasa tidur dengan hanya menyalakan lampu tidur.
Akira menggesek matanya pelan lalu mencoba memusatkan pandangan pada sumber suara yang membuat tidurnya terganggu. Sontak Akira bangun dari tidurnya ketika ia melihat punggung seorang pria yang dekat dengannya selama dua bulan lebih.
“Dean,” ucap Akira dengan terkejut.
Dean yang sedang memasukan barang-barangnya ke dalam koper menoleh ke arah Akira sekilas lalu kembali melanjutkan aktivitasnya memasukan barang.
Akira mengerutkan dahi, merasa bingung dengan situasi yang tidak jelas saat ini. Ia menoleh ke arah jam dinding dan ia membulatkan mata melihat jam menunjukan pukul dua dini hari.
Pantas saja ia sangat enggan membuka mata saat mendengar keberisikan di dekatnya karena memang saat ini masih malam. Ia kira tadi ia kesiangan karena melihat Dean sudah ada di rumahnya.
“Kamu sedang apa, Dean?” tanya Akira, ia masih merasa linglung dengan kehadiran Dean di jam dua dini hari di dalam kamarnya.
“Mengambil barang-barangku!” jawab Dean tanpa menoleh pada Akira.
“Tapi ini jam dua dini hari, memangnya tidak bisa besok pagi saja?”
“Aku besok sangat sibuk, tidak ada waktu untuk mengambil barang-barangku.”
“Jika kamu sibuk, aku bisa membereskannya sendiri dan nanti kamu tinggal mengambilnya. Atau kamu bisa menyuruh pelayan rumah untuk mengambilnya, bukan malah masuk ke rumah ku seperti seorang maling dan mengganggu waktu tidurku.” Ucap Akira sambil menyingkap selimut dan berjalan ke arah Dean.
“Aku tidak berniat mengganggu waktu tidurmu. Jika kamu masih mengantuk tinggal tidur lagi saja. anggap saja tidak ada orang lain dikamar ini selain diri kamu sendiri!”
Akira mengepalkan kedua tangannya, merasa kesal pada pria tidak tahu malu itu. Akira benar-benar terkejut saat melihat punggung seorang pria di dalam kamarnya, ia mengira itu maling atau orang yang ingin berbuat macam-macam pada dirinya. Bahkan sekarang jantungnya masih berdetak sangat cepat karena terlalu terkejut melihat orang lain tiba-tiba barada di dalam kamar.
Seharusnya pria itu minta maaf karena sudah lancang masuk tempat paling privasi bagi semua orang, walaupun Dean pernah tidur di kamar ini tapi setidaknya dia harus tahu diri jika tempat ini bukan ranah kekuasaan nya yang bisa dimasuki kapan saja.
“Aku mana bisa tidur kalau ada orang asing di dalam kamar ku!” ucap Akira tegas.
Dean memberhentikan aktivitasnya dan menoleh pada Akira. entah kenapa ia merasa kesal saat dirinya dianggap orang asing oleh Akira, walaupun kenyataannya memang benar jika ia memang orang asing bagi Akira.
Dean berjalan mendekat pada Akira dengan tatapan tajam menusuk pada bola mata Akira. “Kalau begitu jangan anggap aku orang asing, jadi kamu bisa melanjutkan tidurmu dengan nyaman.”
Akira menelan salivanya sambil mundur beberapa langkah. Tatapan tajam Dean sukses membuat hatinya berdetak tidak karuan. “Tidak mudah bagiku menganggap kamu bukan orang asing.” Jawab Akira kikuk.
Dean tersenyum miring dan saat ini tubuh keduanya sudah berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Dean sama sekali tidak mengalihkan pandangannya ke arah lain, terus menatap Akira dengan lekat. Ia meneliti wajah Akira, mencari alasan kenapa dirinya menjadi seperti sekarang ini.
Wajah Akira memang cantik tapi jika itu yang membuat Dean tertarik maka masih banyak wanita di luaran sana yang lebih cantik daripada Akira dan tubuh Akira juga tidak sebagus para model, ya walaupun bentuk dan ukuran dadanya bisa membuat pikiran para lelaki traveling kemana-mana.
__ADS_1
Lalu apa yang membuat Dean seperti sekarang ini? Datang di jam dua dini hanya dengan alasan mengambil pakaian miliknya di rumah wanita itu. padahal aslinya ia datang karena sudah tidak tahan ingin menemui Akira, ingin melihat wanita itu.
Dean sudah sudah menahan diri sejak Akira berada di rumah sakit untuk tidak menemui Akira, namun saat beberapa jam lalu mendengar suara wanita itu di telepon, membuat pertahan Dean hancur, ia tidak tahan ingin bertemu dengan Akira, bahkan wanita komersial yang ia panggil sama sekali tidak ia lirik sedikitpun.
Dean datang kemari untuk mencari penyebab kenapa dirinya jadi seperti ini, kenapa ia hanya guna-guna oleh Akira? pria sebaik apapun pasti akan terangsang jika melihat wanita yang sangat cantik bertubuh bak gitar spanyol telanjang di hadapannya, tapi Dean sama sekali tidak terangsang justru jijik melihatnya. Dean tidak tahan dengan kondisi dirinya seperti itu, dan sekarang ia sedang mencari penyebabnya, namun sampai saat ini ia belum juga menemukan apa penyebab dirinya seperti orang impoten terhadap wanita lain.
Bahkan saat ditinggalkan Sarah si wanita laknat itu ia masih tertarik pada wanita lain walaupun hanya tertarik sebatas fisik.
“Bukankah kita sudah melewati banyak hal selama dua bulan lebih, Akira? kenapa masih menganggapku orang asing? Ah, bahkan kita sudah pernah saling telanjang di hadapan satu sama lain dan melakukan hal yang–.” Ucapan Dean terpotong karena Akira langsung membekap mulut Dean, menghentikan ucapan yang membuatnya mengingat kejadian saat bersama Dean.
Mata keduanya saling menatap satu sama lain dan jarak di antara keduanya sangat dekat. Mereka mematung beberapa saat, terhanyut dalam pandangan masing-masing.
Dean bisa merasakan tangan lembut Akira yang membekap mulutnya dan Akira pun bisa merasakan bibir lembut Dean yang menyentuh telapak tangannya.
Sama sekali tidak ada bekas sayatan di wajah Dean atas kejadian tiga tahun lalu, padahal menurut cerita pak Zeno wajah Dean rusak parah karena ulah wanita yang bernama Sarah. Pasti waktu itu Dean sangat kesakitan. Mungkin rasa sakit di wajah sudah hilang bahkan bekasnya pun sudah tidak tidak terlihat sama sekali tapi bagaimana dengan rasa sakit di hati Dean, apakah sudah hilang juga.? batin Akira.
Melihat wajah Dean aku kembali teringat kejadian buruk tiga tahun lalu yang menimpa Dean. Aku sekarang mengerti apa penyebab Dean menjadi orang yang mudah marah, dingin, dan berhati keras. Karena semua yang sudah dilalui Dean begitu berat, tapi rasanya sayang sekali, Dean yang dulunya periang dan baik hati menjadi Dean seperti sekarang ini.
Apa aku bisa mengembalikan Dean seperti dulu? Ah, sadarlah Akira, kamu bukan siapa-siapanya Dean! Aku hanya mantan pegawai di perusahaan pria itu dan tidak sengaja mengandung benih dari pria itu. Dari awal aku memang bukan siapa-siapanya Dean. dan jangan so-soan mengurusi hidup orang, hidup kamu pun sama berantakannya, Akira.
Ingin sekali Akira menjulurkan tangannya mengelus wajah Dean sambil menanyakan apakah luka di wajahnya masih terasa sakit. Tapi Akira tidak punya keberanian melakukan hal itu. Ia hanya mampu menatap wajah Dean tanpa sekalipun mengedipkan mata.
Akira apa yang telah kamu perbuat pada diriku? Kenapa sekarang perasaanku merasa tidak karuan berada di dekat kamu? Apakah aku jatuh cinta? Tapi itu tidak mungkin! Aku sudah bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah lagi jatuh cinta pada wanita manapun sampai aku menghembuskan nafas terakhir.
Akira tersadar dari lamunannya dan segera menarik tangannya yang membekap mulut Dean. Ia mundur beberapa langkah sambil membuang wajah ke arah lain. “Karena kamu sudah terlanjur datang kemari, maka kemasilah barang-barang kamu dan jangan sampai ada yang tertinggal satupun.” Ucap Akira kikuk tanpa menoleh pada Dean. lalu ia berjalan dengan cepat keluar kamar meninggalkan Dean sendirian.
Dean menghembuskan napas berat sambil mendongak dan menyugar rambutnya kebelakang. Tiba-tiba ia merasa kehilangan kelembutan tangan Akira yang membekap mulutnya. Ia ingin lebih lama merasakan kelembutan telapak tangan Akira yang menempel pada bibirnya.
Aku tidak mungkin jatuh cinta pada Akira! tapi kenapa jantung ini masih tetap berdetak dengan kencang walaupun Akira sudah tidak ada di hadapanku? Dan kenapa aku ingin sekali memeluk tubuh Akira dengan erat sambil menanyakan tentang kabarnya, apa dia masih merasa sedih atas kepergian anak kami... Oh, sial. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini bertambah besar. Ini benar-benar membuat dadaku terasa sesak. Batin Dean.
Jika Dean memang benar sudah jatuh cinta pada Akira maka perasaan itu tidak boleh dibiarkan bertumbuh apalagi menjalar ke seluruh hatinya. Dean tidak ingin kembali dibuat menderita oleh yang namanya cinta. Ia sudah pernah tertipu satu kali dan ia tidak akan membiarkan dirinya tertipu untuk yang kedua kalinya.
Dean segera memasukan barang-barangnya ke dalam koper, ia harus segera meninggalkan tempat ini, lebih tepatnya lagi ia harus segera menghindar dari Akira.
Sekarang Dean mengerti kenapa dirinya menjadi seperti sekarang ini. Ya, karena dirinya sudah menaruh hati pada Akira. Dean yakin perasaan ini akan cepat menghilang. Ia hanya perlu menjauh dari Akira maka perasaan yang belum tumbuh besar ini akan mudah menghilang. Sungguh, Dean tidak ingin mendapatkan sakit hati lagi karena cinta.
Luka yang tiga tahun lalu saja belum benar-benar menghilang dari hatinya, dan ia tidak ingin luka itu bertambah dengan kegagalan percintaan yang kedua kali.
Sedangkan Akira yang berada di ruangan tempat kerjanya ikut merasakan perasaan yang aneh. Ia menangkup kedua wajahnya yang panas ditambah rona merah yang memancar dari kedua pipinya.
“Kenapa jantungku terus berdetak dengan kencang, padahal sudah tidak ada Dean di dekatku? Dan tidak biasanya berdetak sangat kencang seperti ini, aku khawatir jantungku bakal copot dari tempatnya... mungkin karena sudah hampir satu minggu tidak bertemu jadi berdebar tidak karuan begini!” monolog Akira.
-----------
__ADS_1
yey author up lagi. semoga kalian selalu setia menunggu :) happy Reading gaes. jangan lupa like, komen dan votenya :)