
Dean terus mengusap punggung Akira dengan lembut, memberi ketenangan pada wanita itu. Setelah datang ke rumah, Akira tidak mengatakan apapun. Ia hanya diam membisu di dalam pelukan Dean dan untungnya saat ini tubuh Akira tidak terlalu bergetar seperti saat berhadapan dengan Nando.
Makanan yang di beli di Angkringan pun sama sekali tidak disentuh oleh Akira, tergeletak begitu saja di atas meja ruang tamu.
Dean melirik pada jam di pelangan tangannya yang sudah menunjukan pukul 10 lewat, seharusnya sekarang sudah waktunya ia pulang tapi melihat keadaan Akira yang seperti saat ini membuatnya tidak tega meninggalkan Akira.
“Sekarang kamu istirahat ya, udah jam 10 lewat. Aku juga harus pulang,” ucap Dean lembut, memecah kesunyian di antara keduanya.
Akira menegakkan posisi duduknya, memberi jarak antara tubuhnya dan Dean dan menatap pria itu dengan mata sayu. “Tuan Dean mau ninggalin aku sendirian?” tanya Akira lirih.
“Memangnya aku boleh nginep disini?” tanya Dean balik.
Akira terdiam beberapa saat, disatu sisi ia tidak ingin ditinggal sendirian karena masih merasa takut jika tiba-tiba Nando datang ke rumahnya dan di satu sisi lain lagi ia tidak mungkin mengijinkan Dean menginap. Bukan karena takut omongan tetangga tapi ada yang lebih menakutkan daripada itu.
Akira takut jika ia kembali khilaf, kejadian di rumah Dean saat di kolam renang saja Akira tidak bisa mengendalikan dirinya apalagi jika di atas kasur bersama Dean. Apalagi akhir-akhir ini Akira punya kebiasaan yang aneh, suka menciumi baju bekas kerja Dean.
ketika pria itu numpang mandi di rumahnya dan meletakkan baju kotor di mesin cuci, Akira suka menghirup baju tersebut sebelum dicuci. Akira merasa senang dengan aroma baju bekas pakai Dean. Bau keringat, parfum dan aroma tubuh Dean tercampur di baju itu membuat Akira nyaman dengan aroma tersebut, entah Akira juga bingung kenapa ia menjadi begitu, dan lebih anehnya lagi rasa mualnya menjadi hilang setelah mencium baju bekas pakai Dean.
Akira kadang ingin memeluk tubuh Dean untuk bisa mencium aroma tubuh pria itu tapi Akira masih waras, ia tidak mungkin melakukan hal itu karena masih mempunyai urat malu. Rasa malu Akira masih lebih besar dari pada kemauannya. Maka dari itu Akira hanya bisa mencium baju bekas pakai Dean, itupun jika Dean menumpang mandi di rumahnya, jika tidak numpang mandi maka Dean tidak akan berganti baju dan tidak akan ada baju bekas pakai Dean di mesin cuci Akira.
“Sebentar lagi orang yang ronda mulai keliling, aku pulang ya.” Ucap Dean lagi ketika Akira masih terdiam.
Akira menundukan kepalanya, merasa bingung apa yang harus ia putuskan, membiarkan Dean tetap pulang atau mengizinkannya menginap.
Dean menghela napas panjang sambil menatap Akira yang terus diam tidak memberi jawaban. Dean berdiri dari duduknya, ia memutuskan untuk pulang saja karena ia mengerti sepertinya Akira tidak akan mengizinkannya menginap.
__ADS_1
“Aku pulang, kamu langsung istirahat ya,” Dean mengelus kepala Akira dengan lembut lalu berjalan menuju pintu keluar, tapi baru saja tiga langkah tangan Dean ditahan oleh Akira.
Dean menengok ke arah Akira sambil menaikan satu alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan Akira. Tapi setelah beberapa saat Akira tidak mengatakan apapun, mereka hanya saling menatap satu sama lain hingga akhirnya Dean mengerti apa yang ingin di inginkan wanita itu melihat dari tatapannya.
Tanpa Akira mengatakannya, Dean tahu wanita itu tidak ingin ditinggalkan sendirian.
“Aku nginep aja deh disini gak kuat juga bawa mobil, badan udah lelah banget.” Dean menunggu jawaban dari Akira, jika wanita itu menolak maka Dean akan langsung pulang tapi ternyata Akira tetap diam tidak merespon apapun maka Dean menganggap itu sebagai persetujuan.
“Aku mandi dulu ya, lengket banget tubuh aku,” entah pada siapa Dean berbicara karena dari tadi Akira hanya diam tidak mengeluarkan respon apapun.
Setelah Dean membersihkan tubuhnya kemudian giliran Akira yang membersihkan tubuhnya tapi ia hanya mencuci kaki yang kecipratan air hujan dan berganti baju lalu setelah itu ia masuk kedalam kamar.
Akira melihat Dean duduk di ujung kasur sambil memainkan ponselnya, pria itu terlihat lebih segar daripada saat tadi datang kerumah Akira. Dengan langkah pendek Akira mendekat ke arah kasur sambil memainkan ujung piyama polos warna Navy berlengan pendek dan celana panjang sampai tumit yang berwarna senada dengan baju.
Dean meletakan ponselnya ketika Akira sudah duduk di sampingnya. Sekilas pandangan mereka saling bertemu satu sama lain. Suasana di kamar itu tiba-tiba menjadi canggung, Akira menatap ke arah lain menyembunyikan wajahnya yang malu, entah malu karena apa, intinya saat ini Akira merasa malu berduaan di dalam kamar dengan Dean padahal ini bukan pertama kalinya mereka berduaan di dalam kamar.
Dean menyodorkan susu tersebut pada Akira tapi Akira tidak langsung menerimanya, “aku nggak mau minum susu,” akhirnya Akira mengeluarkan suaranya setelah sekian lama terus diam.
“Kenapa? Ga mau rasa susu yang ini?” tanya Dean, “mau aku buatkan yang baru?” tanya Dean lagi.
“Aku lagi gak mau minum susu, mau langsung tidur saja,” jawab Akira sambil merangkak naik ke atas kasur lalu merebahkan tubuhnya di pojokan tembok.
“Minum dulu dong, Akira. Aku udah buatin nih.”
Akira menggeleng sebagai jawaban lalu menarik selimut sampai dada.
__ADS_1
Dean menarik selimut yang menutupi tubuh Akira membuat wanita itu menoleh tidak suka pada Dean.
“Ayo minum dulu susunya, kesian dede bayinya butuh nutrisi apalagi kamu belum makan malam kan?” ucap Dean tegas.
“Dibilang gak mau ya gak mau, kamu aja yang minum.” Sambar Akira sambil kembali menarik selimut namun selimutnya ditahan oleh tangan Dean.
Dean menarik tangan Akira pelan agar wanita itu bangun dari rebahannya, “ayo minum dulu, jangan malas! Kasihan dedek bayinya.” Dean melingkarkan tangannya di bahu Akira agar wanita itu tidak kembali merebahkan tubuhnya lalu Dean menyodorkan susu tersebut ke mulut Akira.
“Minum!” ucap Dean mengintimidasi.
Akira dengan terpaksa membuka mulutnya menerima susu yang di sodorkan Dean hingga susu tersebut habis setengah gelas.
“Sedikit lagi,” Dean kembali menyodorkan susu tersebut hingga akhirnya gelas itu pun kosong tak tersisa.
Dean tersenyum sambil melepaskan rangkulannya di bahu Akira dan itu membuat Akira merasa kehilangan kenyamanan yang baru saja ia rasakan. “Minum susu aja harus dipaksa, dasar ibu hamil,” ucap Dean sambil menggelengkan kepala lalu kembali meletakan gelas di atas meja rias.
Sedangkan Akira langsung kembali merebahkan tubuhnya dan tidur dengan posisi membelakangi Dean. Entah kenapa Akira merasa kesal pada Dean, kenapa pria itu cepat sekali melepaskan rangkulan di bahunya padahal Akira ingin merasakannya lebih lama.
Aku yakin ini pasti hormon ibu hamil, dan sepertinya bayi dalam perutku sangat ingin berdekatan dengan ayahnya. Tapi aku tidak mungkin minta untuk di peluk, aku mana berani minta hal tersebut. Jadi tolonglah mengerti anakku, ibumu ini tidak akan berani minta ingin di peluk oleh ayahmu itu. Lagi pula ayahmu itu tidak peka sekali, seharusnya dia tahu aku ingin dipeluk tanpa harus mengatakannya. Ayahmu benar-benar tidak pengertian sekali, nak. Dumel Akira dalam hatinya.
“Aku matikan lampunya ya,” ucap Dean lalu ia merebahkan tubuhnya di atas kasur, tidur dengan posisi terlentang.
Sebelum menutup mata ia menoleh pada Akira yang membelakangi dirinya. Dean tersenyum kecil menatap punggung wanita itu lalu kembali memposisikan wajahnya ke langit-langit kamar dan mulai memejamkan mata.
----------------------
__ADS_1
Sorry gaes baru up, baru ada waktu untuk lanjutin cerita ini. Makasih yang masih setia membaca cerita ini. Happy Reading. Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya :)