Aku Milikmu

Aku Milikmu
Akira dan Dean


__ADS_3

Dean keluar dari rumah Akira tanpa berpamitan dan Akira pun tidak keluar dari ruang kerjanya sampai matahari terbit. Saat Akira masuk ke dalam kamarnya Dean sudah tidak ada beserta barang-barang milik pria itu.


Akira duduk termenung sambil menatap bagian lemari yang tadinya di isi barang-barang milik Dean, sekarang bagian itu sudah kosong tak menyisakan satu barang pun. Dan Akira yang melihat hal itu merasa ada sesuatu yang sudah hilang.


Setelah beberapa saat Akira beranjak dari kamar menuju halaman samping rumah sekaligus tempat menjemur pakaian. Akira duduk di atas kursi rotan lalu menghirup udara pagi hari sambil memejamkan mata.


Akira membuka matanya perlahan, menatap langit yang masih setengah gelap. Menikmati udara pagi yang masih terasa dingin menusuk pori-pori kulitnya. Angin berhembus pelan menerbangkan rambut yang lepas dari ikatan rambutnya.


Kini Akira kembali mempertanyakan apa tujuan ia hidup di dunia ini. kenapa Tuhan memberikan bertubi-tubi masalah dalam hidupnya? Dan apa tujuan Tuhan menitipkan janin ke dalam rahimnya yang hanya bertahan tiga bulan? Akira tidak dapat menemukan jawabannya.


Sekarang Akira kembali merasa hampa. Ia sudah beberapa kali merasakan kehilangan, keluarga, ibu kandung, ibu angkat, masa remaja yang ia habiskan untuk membangun usahanya dan sekarang ia kehilangan anak yang sangat diharapkan menjadi satu-satunya kebahagian di masa mendatang.


Lalu sekarang apa yang harus ia lakukan? Akira tidak tahu harus berbuat apa!


Dulu Akira berpikir bahwa uang bisa membuatnya bahagia, maka dari itu ia menghabiskan masa remajanya untuk belajar membuka peluang yang bisa menghasilkan banyak uang. Tapi setelah Akira mendapatkan uang yang begitu banyak ia tetap merasa hampa.


Akira memang bisa membeli apapun yang ia inginkan dengan uang itu tanpa harus melihat harga yang tertera, tapi bukan kebahagian itu yang ia cari. Itu hanya sebuah hal yang fana, hanya bahagia sesaat.


Akira menghembuskan nafas pelan sambil bersandar pada kepala kursi. Ia melipat kedua tangannya di depan dada lalu melihat keseliling. Akira tersenyum kecil melihat burung-burung berterbangan dari satu tempat ke tempat lainnya.


Matahari sudah mulai menunjukan sinarnya, membuat langit menunjukkan warna birunya yang cerah, dan Awan-awan beriringan mengikuti tiupan angin. Sesekali suara kokokan ayam terdengar bersama kicauan burung. Ah, pagi ini adalah pagi yang cerah, tapi tidak secerah hati Akira. Namun Tiba-tiba Akira tersenyum lebar sampai memperlihat deretan giginya yang rapi.


Baru saja terlintas sebuah rencana dalam pikiran Akira. Rencana itu tadinya akan direalisasikan setelah berhenti bekerja di perusahaan Dean. Tapi karena kejadian dimana ia tidur bersama Dean dan membuatnya hamil, membuat rencana itu jadi terlupakan.

__ADS_1


Ya, sekarang Akira tahu harus berbuat apa! tidak ada gunanya lagi meratapi masalah-masalah hidup yang tidak akan kunjung habisnya. Setiap manusia pasti akan diberikan masalah dalam hidupnya dan setiap manusia juga punya cara masing-masing menyelesaikan masalah tersebut.


Kini Akira ingin menikmati setiap masalah yang akan datang dalam hidupnya, bukan menghindar tapi justru menghadapinya dengan segenap rasa syukur.


Akira bangkit dari duduknya dengan senyuman yang belum juga sirna dari wajahnya. Ia menatap ke atas langit, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.


Hari ini banyak sekali yang harus ia kerjakan untuk menyiapkan rencana yang sempat tertunda dan hari ini juga akan menjadi lembaran baru dalam hidup Akira.


“SELAMAT PAGI DUNIA,” teriak Akira cukup kencang lalu bergegas masuk ke dalam rumah.


***


Ethan merasa heran pada Dean yang sudah satu minggu terus datang ke kantor. Biasanya pria itu datang ke kantor satu atau dua kali dalam seminggu. Sedangkan jika ada pertemuan penting biasanya lebih banyak dilakukan di luar kantor. Dan wajah Dean juga terlihat lebih murung jika dibandingkan hari-hari sebelumnya.


Walaupun wajah Dean terlihat datar tidak menunjukan ekspresi apapun dan tidak terlihat sedih. Namun bagi Ethan yang sudah bertahun-tahun bersama Dean tahu bahwa pria itu sedang bersedih hati.


Dean melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukan pukul tujuh malam. Padahal biasanya ia pulang kantor sebelum langit gelap dan sudah satu minggu ia pulang ketika langit sudah gelap.


“Kalau mau pulang duluan, pulang saja Ethan. Aku bisa pulang sendiri!” jawab Dean acuh tak acuh sambil kembali fokus pada pekerjaannya.


Ethan menghela nafas pelan. Ia mana bisa pulang kalau Dean masih di kantor, jika Dean lembur maka ia juga ikut lembur.


“Bagaimana hubungan Tuan Dean dengan Akira?” tanya Ethan memberanikan diri. Setelah Akira keguguran Ethan belum tahu kelanjutan hubungan mereka, walaupun ia sudah mengira-ngira bahwa hubungan keduanya telah usai tapi ia masih ragu-ragu dengan hal tersebut. Dan hari ini juga bertepatan dengan hari pernikahan mereka jika seandainya pernikahan itu jadi terlaksana.

__ADS_1


Dean tipe orang yang tidak akan bercerita jika tidak ditanya. Dan Ethan yang sudah mengetahui hal tersebut selalu berusaha memberanikan diri bertanya hal pribadi pada pria itu. walaupun tidak jarang dijawab dengan sebuah umpatan.


Ethan tidak hanya ditugaskan sebagai asisten pribadi, ia sekaligus ditugaskan menjaga Dean dan memposisikan dirinya sebagai kakak atas perintah Zeno.


Tidak mudah membuat Dean bisa membuka dirinya pada Ethan, dan butuh waktu cukup lama hingga membuat Dean percaya bercerita kepada Ethan. Jujur saja Ethan merasa kasihan pada Dean yang terus terbelenggu dalam kehidupan yang sama sekali tidak dia inginkan, di tambah kejadian tiga tahun lalu yang belum benar-benar hilang dari diri pria itu.


Ethan menghela nafas berat melihat Dean hanya terdiam tidak menjawab pertanyaannya darinya.


“Oh, iya. Hari ini istri saya masak banyak di rumah, dan dia mengundang Tuan Dean makan bersama di rumah saya.” Ucap Ethan lagi, mengganti topik pembicaraan.


“Aku masih punya banyak uang untuk membeli makan sendiri!” jawab Dean setengah ketus tanpa menoleh pada Ethan.


Ethan tersenyum pahit. Tanpa diucapkan pun Ethan tahu uang Dean tidak terhitung jumlahnya. Ethan hanya ingin mencoba menghibur pria itu. Ia lebih suka melihat Dean marah-marah daripada berubah menjadi orang kalem dan berperilaku seolah-olah pekerja keras, yang selalu bekerja lembur.


“Saya jamin, masakan istri saya sangat enak, tidak akan mengecewakan! dan mungkin bisa saja Tuan Dean jatuh cinta pada masakan istri saya.”


Dean menghentikan kerjaannya dan menoleh pada Ethan dengan tatapan malas.


“Saya izinkan Tuan Dean jatuh cinta pada masakan istri saya tapi jangan jatuh cinta pada istri saya,” lanjut Ethan sambil tersenyum kalem.


Dean mendengus sambil tersenyum miring. “Dasar Ethan sialan, pergi sana... dan Aku mana mungkin jatuh cinta pada istri mu yang cerewetnya melebihi wartawan!”


Ethan hanya tersenyum. Memang benar istrinya adalah wanita yang sangat cerewet jika mengobrol dengan istrinya maka pembahasan obrolan pun tidak akan ada habisnya.

__ADS_1


“Walaupun istri saya cerewet tapi goyangannya lebih mantap dari pada cewe-cewe panggilan tuan Dean.” sahut Ethan setengah meledek dan hal itu membuat mata Dean membelalak kesal lalu melempari Ethan dengan benda yang ada di atas mejanya.


“Dasar Ethan sialan, memangnya aku peduli!” umpat Dean dan Ethan hanya tertawa ringan menerima hal tersebut.


__ADS_2