
Sesekali ekor mata Akira melihat ke arah Dean yang duduk di sampingnya, begitu lahap memakan masakannya. Akira sempat khawatir saat menyadari bahwa ia terlalu banyak membuat masakan karena hanya dirinya yang makan, tetapi siapa sangka pria itu tiba-tiba datang ke rumah Akira dan ikut makan bersamanya.
Yang Akira tahu Dean termasuk orang yang sangat pemilih dalam makanan, hanya makanan-makanan tertentu yang bisa pria itu makan apalagi mengingat dia tidak terlalu suka dengan warna merah. Tapi anehnya sekarang Akira melihat Dean begitu mudah makan masakannya, bahkan memakan saus yang Akira buat.
Akira tadi sangat kaget ketika Dean ingin ikut makan bersamanya, ia khawatir pria itu akan menghina hasil masakannya, mengingat pria itu selalu makan masakan chef profesional. Namun sekarang Akira dibuat tercengang oleh pria itu, sudah dua kali Dean meminta nambah nasi di atas piringnya.
Pantesan tadi aku pengen masak banyak ternyata akan ada yang numpang makan toh, lahap banget lagi makannya. Kaya udah gak makan 2 hari. Batin Akira tekekeh geli melihat Dean yang sudah berkeringat di pelipisnya karena kepedesan saus yang Akira buat.
Siang ini Akira membuat Ebi furai dan sausnya juga kemudian ditemani dengan tumis sawi putih, masakannya sederhana tetapi sukses membuat Dean ketagihan. Apa mungkin terpengaruh oleh bayi dalam kandungan Akira yang membuat Dean begitu menikmati masakan Akira? Mungkin!
“Akira air,” ucap Dean disela-sela mengunyah makanannya.
Akira menoleh dan mengambil gelas Dean untuk menuangkan air kedalam gelas tersebut. Lalu Dean mengambil gelas yang sudah di isi Akira, meneguknya sampai setengah gelas.
“Ah kenyang benget,” rancau Dean sambil bersandar pada sandaran kursi.
Akira hanya melirik sekilas pada Dean lalu mengambil piring kotor bekas makan mereka, membawanya ke wastafel dan langsung mencucinya. Akira tidak terbiasa menumpuk piring kotor jadi ia sudah terbiasa ketika selesai makan maka piring-piring kotor tersebut langsung ia cuci saat itu juga.
Dengan cepat Akira menyelesaikan cucian piring yang tidak seberapa lalu kembali ke meja makan. sudah tidak ada Dean disana, entah kemana pria itu sekarang. Akira mengelap meja makan sebelum mencari keberadaan Dean untuk menanyakan tujuan pria itu datang ke rumahnya. Dean masuk ke rumahnya tanpa mengetuk pintu, atau berprilaku selayaknya orang bertamu, pria itu menyelonong masuk ke dalam rumah dan langsung ikut makan bersama, sungguh, pria itu tidak tahu malu.
“Akira buatkan aku kopi,” ucap Dean ketika melihat Akira berjalan ke arahnya.
Akira menghembuskan napas pelan, lalu berbalik badan untuk membuatkan kopi untuk Dean tetapi baru tiga langkah menuju dapur Akira kembali berbalik badan menatap lekat Dean yang sedang pokus di depan laptonya.
__ADS_1
Buat apa aku nurutin dia? Diakan bukan bos aku lagi! Aku udah resmi mengundurkan diri bekerja di perusahaannya lagi pula seharusnya pria itu sadar diri, dia main nyelonong masuk ke rumah dan ikut makan juga, terus sekarang dengan entengnya minta dibuatkan kopi. Dia kira rumah aku warung makan gratis, hah? Udah berasa rumahnya sendiri ya, kalau dibiarin nanti makin ngelunjak nih.
“Tuan Dean mau ngapain ke rumah saya?” tanya Akira sudah berdiri di samping Dean.
Dean yang sedang pokus pada laptopnya mengalihkan pandangan pada Akira, “Kopi aku mana?” bukannya menjawab pertanyaan Akira, Dean malah menanyakan kopinya, membuat Akira mendengus dengan pertanyaan pria itu.
“Ini bukan warung makan dan bukan juga rumah anda, Tuan Dean. Jadi tidak bisa seenak anda menyuruh saya, apalagi ini rumah saya” ucap Akira tenang sambil mengatupkan gigi agar tidak berbicara ketus pada pria itu.
“Ck, aku ini tamu loh Akira—“
“Mana ada tamu langsung nyolonong masuk terus ikut makan,” potong Akira cepat.
Dean terkekeh kecil menyadari ketidaksopanannya, “Jadi kamu tidak ikhlas tadi aku ikut makan?” Dean menatap Akira yang berdecak kesal. Entah kenapa Akira terlihat lucu di mata Dean saat ini. ia tidak pernah melihat bawahannya menunjukan wajah kesal secara terang-terangan pada dirinya seperti yang sedang Akira tunjukan pada Dean, bahwa wanita itu mulai kesal pada Dean dan tidak menutupi kekesalan tersebut.
“Tuan Dean mau—“ Akira yang baru saja mendaratkan pantatnya di sofa langsung berlari kecil menuju kamar mandi sambil membekap mulutnya kemudian memuntahkan makanan yang baru beberapa menit lalu ia makan.
Dean mengerutkan halisnya heran tapi kembali mendekat pada Akira, tidak tega melihat wanita itu terus muntah-muntah.
“Saya bilang jangan deket-deket, saya eneg cium bau tubuh anda, Tuan Dean.” Akira kembali muntah-muntah, ia benar-benar tidak bohong jika ia memang sangat mual ketika tadi mencium parfum pada tubuh Dean, dan ia kembali mual jika Dean mendekatkan dirinya.
Dean mundur beberapa langkah, menjauh dari Akira setelah mendnegar ucapan wanita itu. Dean mendekatkan hidungnya pada bagian ketiak, mengendus-ngendus disana.
Tubuh aku gak bau kok, malahan wanginya maskulin banget tapi kenapa Akira malah bilang bau? Pake mual-mual segala lagi. Akukan merasa terhina jadinya.
__ADS_1
Setelah merasa reda dengan mualnya, Akira berkumur-kumur lalu membasuh wajahnya. Akira menumpukkan kedua tanganya di pinggiran wastafel sambil menatap bayangan dirinya di dalam cermin. Sekarang ia merasa sangat lemas sekali, tidak bertenaga. Bahkan sekarang ia ingin menjatuhkan tubuhnya di atas lantai kamar mandi karena saking lemasnya.
Akira dengan lemas berbalik badan dan ada Dean yang sedang berdiri di ambang pintu masuk kamar mandi. Ketika pria itu ingin mendekat Akira mengangkat tangannya di depan dada, memeberikan isyarat agar tidak mendekat. Ia tidak mau kembali mual mencium parfum yang melekat pada tubuh pria itu.
Akira mengibas-ngibas tangannya agar Dean menyingkir dari hadapanya tetapi pria itu malah tetap berdiri sambil mengerutkan halisnya menatap Akira. “Aku Cuma mau nolongin kamu, kayanya kamu gak kuat untuk jalan,” ucap Dean lalu mencoba kembali mendekat.
Akira dengan cepat menggelengkan kepalanya sambil menggerakan tangannya di depan dada, “Jangan!” itu cowo gak ngerti apa? kalau aku mual ngecium aroma parfumnya, lagian parfum apaan sih yang dia pake? Orang kaya tapi pakai parfum murahan sampai bikin orang mual-mual.
“Aku bakal mual lagi kalau Tuan Dean mendekat,” sambung Akira dengan lemas tanpa embel-embel memanggil dengan sebutan ‘saya’
“Aku gak bau kok, Akira!”
Akira kembeli menggeleng, “Aku eneg cium parfum yang Tuan Dean pakai, jadi jangan deket-deket aku, badan aku udah lemes benget ini.”
Dean menghembuskan napas panjang lalu memberi jarak antara dirinya dan Akira agar wanita itu bisa segera keluar dari kamar mandi.
“Kita harus segera mengambil keputusan tentang kehamilan kamu, Akira. Tapi kita gak bisa ngobrol kalau kaya gini,” ucap Dean. Ia sudah sekitar sepuluh menit berdiri di pintu kamar Akira, sedangkan wanita itu berbaring di atas tempat tidurnya dengan nyaman.
“Tapi aku gak mau deket-deket sama Tuan Dean, nanti aku mual lagi,” jawab Akira.
“Terus aku harus gimana? Aku gak mungkin terus beridiri kaya gini,”
Akira terkekeh pelan, apakah yang di depannya ini benar-benar bosnya dulu? Kemana wajah angkuh penuh kesombongan itu?
__ADS_1
Akira tidak menyauti ucapan Dean, ia malah memejamkan matanya karena rasa ngantuk mulai menerpa dirinya. Dean yang melihat hal itu mendengus kesal, ia benar-benar ingin segera menyelesaikan masalah kehamilan Akira agar pikiran dan hatinya kembali tenang. ia tidak bisa terus berada dalam keadaan ketidakpastian tentang apa yang harus mereka lakukan pada bayi dalam perut Akira.
Kenapa malah aku yang merasa uring-uringan? Seharusnya Akira yang merasa begitu karena dia yang mengandung, tapi kenapa wanita itu terlihat tenang seperti kehamilan itu bukan suatu beban. Apa dia benar-benar tidak takut kalau aku tidak tanggung jawab? Ya Tuhan aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran Akira.