Aku Milikmu

Aku Milikmu
Rumah Dean


__ADS_3

Sudah seminggu berlalu Dean dan Akira bersama, setiap hari Dean selalu bangun pagi dan datang ke rumah Akira di jam 6 pagi dan tidak lupa membawa makanan untuk wanita itu.


Jika tidak ada pekerjaan yang mengharuskan ia pergi ke kantor maka Dean akan menyelesaikan pekerjaannya di rumah Akira, namun ketika ia harus ke kantor maka Dean akan kembali ke rumah Akira setelah pulang kerja kemudian baru pulang ke rumahnya jam 11 malam.


Begitulah rutinitas baru Dean selama seminggu ini, seperti pagi ini ia sudah ada di dapur Akira menyiapkan susu hamil untuk wanita itu yang masih tertidur di kamar.


“Morning,” sapa Dean tersenyum kecil melihat Akira yang baru saja bangun tidur berjalan ke arahnya.


Akira hanya ber-hem saja menjawab sapaan Dean lalu masuk ke dalam kamar mandi yang berada di sebelah dapur. Sebenarnya Akira bukan tipe wanita yang suka bangun siang tapi setelah masa kehamilan ia jadi malas bangun pagi hari kecuali jika perutnya sudah merasa mual.


Dean mendengar suara Akira yang muntah-muntah di dalam kamar mandi, ia sudah tidak kaget lagi mendapati hal tersebut karena memang seminggu ini itulah kebiasaan Akira. Setiap pagi harus merasakan mual yang luar biasa. Dean mengetuk pintu kamar mandi, memastikan Akira baik-baik saja “Kamu baik-baik saja, Akira?” tanya Dean dan dijawab lirih oleh Akira di dalam kamar mandi.


Dean menunggu Akira di depan pintu kamar mandi sampai wanita itu keluar, “Masih mual?” tanya Dean ketika Akira muncul dari balik pintu kamar mandi.


“Sedikit,” lirih Akira lalu berjalan mendahului Dean dan duduk di kursi meja makan.


Dean menyodorkan susu yang sudah ia buatkan ke hadapan Akira, “Aku bosan minum susu rasa coklat terus, aku ingin ganti rasa vanila,” ucap Akira menatap malas pada susu dihadapannya.


“Yasudah aku buatkan yang baru,” Dean menarik kembali susu dihadapan Akira tetapi Akira menahan tangan Dean seraya berkata “Terus susunya mau dikemanain,?” tanya Akira menatap wajah Dean.


“Dibuang,” jawab Dean.


Akira berdecak, “Jangan dibuang!”


“Katanya gak mau minum rasa coklat.”


“Ya tapi jangan dibuang sayang.”


Dean mengerutkan dahinya, “Terus?”

__ADS_1


“Minum sama Tuan Dean.”


Dean semakin mengerutkan dahinya sampai kedua halisnya yang tebal hampir menyatu, menatap Akira bingung. “Ini susu buat ibu hamil, gak mungkin aku minum.!” Tolak Dean sambil menggelengkan kepala.


“Kenapa gak mungkin? Memangnya setelah diminum Tuan Dean jadi ikut hamil? enggak kan?”


“Susu ibu hamil berbahaya untuk pria, Akira” jawab Dean asal membuat dahi Akira berkerut sama sekali tidak percaya dengan jawaban asal oleh pria itu.


Mata Akira melirik pada ponsel Dean yang tergeletak di meja sebrang. Ia berjalan memutari meja makan lalu mengambil ponsel Dean dan segera membuaka internet untuk mencari tahu apakah yang dikatakan Dean benar atau tidak.


“Mau ngapain?” tanya Dean melihat Akira dengan santai memainkan ponsel miliknya. “Bukan berarti aku bersikap baik kamu bisa seenaknya, Akira.” Tambah Dean sambil berjalan mendekat pada Akira.


Dean ingin merebut ponselnya tetapi Akira langsung menghindar. “Nah, kata siapa susu ibu hamil berbahaya untuk pria?” ucap Akira masih berusaha menghindar. “Tuan Dean diam dulu. Dengerin ni ya! Susu ibu hamil memliki berbagai vitamin dan mineral dan juga memberikan kalori tambahan bagi tubuh. Menurut kami, tidak ada efek samping tertentu bagi seorang pria untuk mengonsumsi susu ibu hamil,” jelas Akira membacakan artikel di internet.


Tanpa mereka sadari posisi tubuh mereka sangat berdempetan, tangan Dean mengekang tubuh Akira dari belakang seolah ia sedang memeluk Akira. “Tuhkan gak apa-apa diminum su—“ ucapan Akira terhenti ketika ia membalikan tubuh mengahadap Dean di belakang, sontak wajah mereka sangat berdekatan.


Mata mereka saling mengunci satu sama lain, menatap langsung pada bola mata masing-masing. Jantung Dean tiba-tiba berdetak tidak karuan, matanya seperti enggan untuk terlepas dari wajah Akira. Wajah Akira terlihat polos, sama sekali tidak ada make up yang diwajahnya ditambah Akira baru bangun tidur masih tersisa muka bantal yang terlihat imut dan menggemaskan di mata Dean.


Dean mengusap wajahnya dengan kedua tangan sambil menarik napas dalam-dalam. Sudah hampir seminggu lebih ia tidak menyalurkan hasratnya. Membuat ia bangun tidur dipagi hari dengan keadaan mood yang sedikit buruk, dan saat tadi ia melihat bibir Akira yang ranum tiba-tiba gairahnya muncul, seakan-akan ingin melahap bibir itu dengan rakus.


“Ayo Tuan Dean minum susunya,” ucap Akira mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung dengan Dean, ia menyodorkan susu ibu hamil tersebut ke hadapan Dean.


Dean menghela napas menatap susu tersebut. “Kamu mulai melunjak ya, Akira.” Dean meraih gelas tersebut dan langsung meminumnya sekali tegukan membuat Akira tersenyum dengan lebar.


“Puas?” Dean meletakan gelas yang sudah kosong ke atas meja makan sedikit keras namun tidak membuat senyuman Akira menghilang dari bibirnya.


Tak banyak bicara Dean kembali membuatkan susu yang baru sesuai keinginan Akira, sedangkan Akira hanya melihatnya duduk di meja makan. Seminggu ini sikap Dean benar-nemar manis terhadapnya. Akira sungguh tidak menyangka Dean punya sisi selembut itu memperlakukan seseorang ya walaupun Akira selalu mengingatkan dirinya, bahwa apa yang dilakukan Dean semata-mata untuk bayinya di dalam kandungan.


Pernah Akira menanyakan pada Dean untuk menceritakan masa SMA pria itu, Akira masih ingin mendengarkan kelanjutan cerita yang pernah Ranti ceritakan. Tetapi sayang, bukannya Akira mendapatkan cerita yang lucu ia malah dibentak oleh Dean. Pria itu marah pada Akira, dan mengatakan jangan pernah menanyakan apapun tentang Dean.

__ADS_1


Kejadian itu baru saja terjadi dua hari kemarin ketika mereka makan malam bersama di rumah Akira. Akira sadar ia telah keliru, sikap Dean yang lembut dan perhatian bukan berarti Akira bisa menanyakan banyak hal tentang pria itu atau bersikap layaknya Dean kekasihnya. Dean melakukan segala kebaikan semata-mata untuk bayinya bukan untuk diri Akira. Seperti saat ini, Dean yang setiap pagi membuatkan susu hamil untuk dirinya, sekaligus membawa makanan penuh gizi dari rumahnya hanya untuk memastikan anak dalam kandungan Akira tetap baik-baik saja.


“Hari ini kamu mau ngapain aja, Akira.?” Tanya Dean sembari menyerahkan susu yang baru pada Akira.


“Setelah sarapan aku ingin tidur kembali,” jawab Akira. Hari ini hari minggu dan ia tidak punya kegitan apapun setelah membersihkan rumahnya. Oh, Akira lupa bahwa rumahnya sudah ada yang membersihkan oleh pelayan Dean. Pria itu benar-benar menjaga dirinya agar sama sekali tidak kelelahan padahal Akira tidak akan kelelahan dengan membersihkan rumah sederhananya ini, hitung-itung sembari olehraga juga kan? Tapi begitulah Dean. Pria itu tetap menyuruh pelayannya yang akan datang jam 8 pagi untuk membersihkan rumah Akira.


“Tidak ingin keluar atau melakukan suatu kegiatan.?” Tanya Dean. ia sudah duduk di samping Akira sembari mendekatkan makanan yang sudah ia bawa kehadapan wanita itu.


Akira menggeleng sebagai jawaban, ia mulai memakan makanan yang tersaji di meja. Menu pagi ini cukup menggugah selera Akira untuk makan. “Kehamilan ini membuat aku lelah dan ingin selalu tidur di atas kasur.”


Dean tersenyum miring. “Kemarin sok-soan nolak ada pelayan membersihkan rumah kamu, bilangnya gak akan kelelahan tapi sekarang...?” Dean menyindir.


Akira menoleh pada Dean sambil mengunyah makanan dalam mulutnya, “Aku kelelahan karena tidak mengerjakan apapun dan itu membuat aku mengantuk, bingung mau mengerjakan apa.!”


Dean tersenyum kecil, ia tidak pokus pada apa yang Akira ucapkan. Matanya menatap bibir ranum Akira yang mengkilap, terlihat seksi dengan mulut penuh makanan sambil terus berbicara. Bibir itu seperti berteriak meminta tolong untuk di cium. Dean menelan salivanya susah payah, sesuatu dibalik celananya tiba-tiba bergerak bangun. Hanya dengan melihat bibir itu saja sudah membuat Dean bergairah apalagi bagian tubuh yang lainnya.


Dean mengumpat dalam hati merutuki dirinya yang lemah. Ia menduga akibat hasratnya yang tidak disalurkan membuat ia mudah tergoda hanya dengan bibir.


“Tuan Dean,” Akira mengibas-ngibaskan tangannya di hadapan wajah Dean membuat pria itu tersadar kembali dari pikiran kotornya.


“Tuan Dean gak apa-apa,?” tanya Akira melihat Dean memijit keningnya.


Dean menggeleng, “Kamu mau main kerumahku gak,? disana bisa membuat kamu melakukan banyak hal tanpa membuat kamu lelah,” usul Dean.


“Contohnya?” tanya Akira sembari sesekali menyuapkan makanan ke mulutnya.


“Renang, main Billiard, Memanah, Memetik Bunga, Menanam, atau main Piano, bukannya kamu bilang bisa main Piano, iya kan?”


Mendengar Piano membuat pikiran Akira melayang pada kejadian beberapa bulan lalu yang mengakibatkan ia berada dalam keadaan berbadan dua seperti ini. Wajahnya bersemu merah mengingatkan kejadian panas yang tiba-tiba terlintas diotaknya.

__ADS_1


“Dan masih banyak lagi yang bisa kamu mainkan disana,” tambah Dean.


__ADS_2