
8 minggu kemudian
Hari ini Akira merasa tidak semangat untuk bekerja, inginnya rebahan saja di kamar tapi itu tidak mungkin ia lakukan, seingin apapun Akira untuk bermalas-malasan pikirannya selalu dipenuhi dengan tumpukan pekerjaan.
Seperti hari ini ia harus kembali lembur seperti dua hari kemarin. Satu pekerjaan selesai maka tiga kerjaan baru datang. Sungguh melelahkan.
“Kir makan siang yuk,” ajak Julian.
“Mas Julian duluan aja, nanti aku nyusul” tolak Akira masih pokus dengan pekerjaannya.
“Ayo lah Kir, bareng aja. Jangan terlalu memforsir diri kamu untuk kerja.”
“Aku masih banyak kerjaan, Mas Jul. Aku nitip makanan aja ya.” Ucap Akira tanpa menoleh pada Julian.
“Ck, ayo matiin dulu komputernya. Kita makan bareng, kamu udah dua hari ini lembur terus kan? Sakit baru tahu rasa loh!” paksa Julian yang sudah menarik tangan Akira agar bangun dari duduknya.
Akira menghembuskan napas berat, masih mempertahankan posisi duduknya. “Aku nitip aja ya, Mas Jul. Aku lagi males ke kantin.” Akira memelas.
“Gak! Nanti aku gak ada yang nemenin makan kalau kamu gak ikut ke kantin,”
“Minta temenin sama mba Ayu aja, yang bagian keuangan itu,” goda Akira lalu terkekeh. “Aku denger-denger mbak Ayu habis putus sama pacarnya loh, Mas Jul.” Lanjut Akira sambil menyikut pinggang pria itu.
Akira suka memperhatikan Julian, yang suka curi-curi pandang pada Ayu yang bekerja dibagian keuangan saat makan siang, dan kadang rekan kerjanya ini suka salah ketika Ayu menyerahkan laporan keuangan ke bagian sekretaris sebelum diberikan ke Dean. Ketahuan sekali kalau pria itu suka dengan sesama karyawan disini.
“Makannya itu aku ingin kamu makan siang sama aku, biar nanti si Ayu bisa makan satu meja sama kita,” ucap Julian sambil menaik turunkan kedua halisnya.
Plak, Akira memukul bahu Julian sambil berdiri. “Oh gitu ya, aku kira Mas Julian perhatian sama aku sampai maksa buat makan siang bareng, ternyata mau manfaatin toh,” Akira pura-pura kesal.
Julian tertawa renyah, “Kalau aku yang langsung ngajakin Ayu makan bareng, bakal ketahuan banget kalau aku ngebet banget sama dia. Aku takut nanti dia ilfil sama aku, Kir-Kir.” Julian mencubit gemas sebelah pipi Akira. Tapi Akira langsung menepis tangan pria itu.
“Nanti pas dikantin kalau kamu lihat dia. Kamu langsung ajakin dia makan satu meja sama kita atau kalau dia lebih dulu ngambil makannya, kamu pura-pura minta gabung satu meja sama dia,” lanjut Julian.
“Dih, hebat banget udah nyusun skenarionya.” Akira mengeleng-gelengkan kepalanya sambil pura-pura berdecak kagum.
Julian tertawa tapi tawanya langsung berhenti ketika mendengar pintu ruangan Dean terbuka dan tak lama dari situ Dean dan Ethan berjalan melewati mereka.
__ADS_1
“Kalian belum makan siang?” tanya Ethan pada mereka berdua. Ethan memang sosok yang ramah, tidak pelit senyum, dan terkadang suka menyapa terlebih dahulu pada bawahannya.
Akira langsung menundukan wajahnya, sedangkan Julian tersenyum pada mereka. “Ini baru mau pergi pak,” jawab Julian.
“Mau makan bareng gak?” tawar Ethan dan saat itu juga Dean dan Akira langsung menoleh pada Ethan bersamaan. Pandangan mereka sempat bertemu tapi Akira langsung kembali menundukan pandangannya.
“Eh gak usah pak, kami makan dikantin saja. Kalau makan bareng pak Ethan dan Tuan Dean nanti isi dompet kami gak cukup buat bayar makanannya,” tolak Julian sambil tersenyum sungkan.
Huh bilang aja mau dibayarin. Batin Akira
Ethan terkekeh pelan, “Santai aja kalau soal itu mah, kan ada ini,” ucap Ethan sambil menepuk pelan bahu Dean.
“Inget rencana kita, katanya mau PDKT sama mbak Ayu,” bisik Akira sambil menyenggolkan kakinya pada kaki Julian.
“Maaf pak saya baru ingat kalau kita udah ada janji makan bareng sama yang lain,” balas Julian sopan, ia baru ingat kalau ia ingin mendekati sang pujaan hatinya.
“Wah, yasudah kalau gitu, sayang banget ya ngelewatin makan enak gratis,” sahut Ethan.
“Dikantin juga masakannya enak pak, gratis pula,” balas Julian.
“Kalau aku gak inget mau deketin si Ayu, udah aku terima ajakan makan siang bareng pak Ethan,” lirih Julian.
Akira menepuk bahu Julian lumayan keras “Lemah banget si, baru juga ditawarin makan gratis udah gak inget sama mbak Ayu,” Akira meledek sambil berlalu meninggalkan Julian.
Julian tertawa pelan, “Bukan gitu loh , Kir. Ya sayang aja ngelewatin makan enak bareng pak Ethan. Pasti mereka makannya di restoran mahal yang makanannya sekelas bintang lima,” ucap Julian sambil mengikuti Akira dari belakang.
Akira menoleh kebelakang sekilas, “Katanya makanan dikantin enak, gratis pula,” ledek Akira sambil menye-menye.
Lagi-lagi Julian tertawa, kali ini tertawa lebih keras dari sebelumnya, melihat ekspresi lucu Akira.
Setelah sampai kantin Julian mengedarkan pandangannya mencari wanita sang pujaan hati, “Kir kok aku gak lihat si Ayu ya,” bisik Julian yang saat ini berada dibelakang Akira sedang mengantri mengambil makan.
Akira ikut mengedarkan pandangannya pada seisi kantin, “Masih diruangannya kali, mas Jul.”
“Eh itu ada, baru masuk kantin,” ucap Julian sangat senang.
__ADS_1
“Biasa aja kali, Mas Jul. Bahagia banget.”
Julian terkekeh sambil mengambil lauk yang sudah dihidangkan, “Kamu udah pernah jatuh cinta belum sih, Kir? Kalau belum, kamu gak bakal ngerti gimana bahagianya aku ketemu sama pujaan hati.”
“Lebai.” Sambar Akira, lalu keluar dari barisan antirian, melihat keisi ruangan kantin mencari bangku yang masih kosong.
“Kir jangan lupa, ajakin Ayu satu meja sama kita.” Julian mengingatkan, sudah keluar dari barisan antrian juga.
Akira mengembuskan napas malas, pria itu benar-benar memanfaatkan dirinya. "Kita duduk disana aja yuk, biar nanti ngajakain mbak Ayunya gampang.” Akira menunjuk salah satu bangku yang tidak jauh dari posisi mereka berdiri.
Julian mengangguk setuju lalu mereka berjalan ke meja tersebut sambil membawa nampan makanan masing-masing.
“Tumben kamu makannya dikit banget, Kir.” Ucap Julian yang melihat porsi makan Akira yang tidak seperti biasanya.
“Gak tahu mas, tiba-tiba aku gak ***** makan.” jawab Akira
“Jangan-jangan kamu hamil lagi Kir, gak ***** makan gitu.” Celetuk Julian sambil terkekeh, ia mulai menyuapkan suap demi suap makanan ke mulutnya.
Sedangkan Akira yang mendengar celetukan Julian terdiam mematung, “Eh Kir, aku Cuma bercanda loh gak usah masukin ke hati.” Julian sedikit khawatir akan candaannya, bibirnya ini memang kadang suka kelewat bercanda.
Akira tersenyum masam lalu mulai menyendokkan makanannya “Iya santai aja kali, Mas Jul! Aku tahu kok kalau Mas Jul cuma bercanda.”
“Aku kira kamu baper, soalnya diem aja pas aku ngomong gitu. Biasanya kan suka ngeledek balik.”
“Lagi gak mood,” jawab Akira. Julian hanya mengangguk mengerti.
“Eh Kir, itu Ayu udah selesai ngantri ngambil makannya. Cepet panggil sebelum duduk sama yang lain.” Julian menyuruh penuh semangat sambil menepuk-nepuk bahu Akira.
“Et dah, Sabar Mas Jul.” Akira menelan makanan kunyahannya di mulut lalu mengangkat tangannya sambil memanggil Ayu.
Kayanya aku bakal jadi nyamuk nih diantara mereka. Batin Akira ketika Ayu menyetujui makan satu meja bersama mereka.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1