Aku Milikmu

Aku Milikmu
PERTAMA BEKERJA


__ADS_3

Di hari pertamanya bekerja, CEO Rudi menyuruh Shely untuk datang pukul 10.00 WIB. Sesampainya di Firma Hukum tersebut, Shely masuk ke ruangan pengacara Leo dan memperkenalkan dirinya sebagai sekretaris barunya.


“Selamat pagi Pak. Perkenalkan saya Shely sekretaris baru Anda. Mohon bantuannya ya pak.” Kata Shely memperkenalkan diri.


“Iya. Selamat bekerja. Dan ingat kamu harus mematuhi semua peraturan peraturan saya.” Kata Leo dengan tegas.


“Iya pak. Pasti.” Jawab Shely


“Pertama, saya paling tidak suka dengan orang yang datang terlambat. Dihari pertama bekerja saja sudah terlambat, jangan diulangi lagi.” Kata Leo memberutahu syarat syarat bekerja dengannya.


“Tapi pak..” Kata Shely belum selesai berbicara sudah dipenggal oleh Leo.


"Saya tidak menerima alasan apapun. Kedua, Saya tidak suka dengan orang yang pulang terlambat. Jam kerja pulang jam 6 ya sudah pulang tepat jam 6. Harus tepat waktu. Jangan mengulur ngulur waktu. Dan yang terakhir, saya paling tidak suka orang yang tidak serius dalam pekerjaannya, apalagi menganggap remeh pekerjaan.” Kata Leo masih memberitahu syarat syarat bekerjanya.


“Baik pak.” Jawab Shely


“Ya sudah kamu kembali bekerja. Tugas pertama kamu, kalau ada seseorang yang telepon mencari saya tugas kamu menyambungkan telepon ke saya sebagai sekretaris saya. Kamu tahu kan cara menyambungkan telepon ke saya?” Jelas Leo


“Baik Pak.” Jawab Shely, lalu berbalik pergi untuk melanjutkan bekerja di mejanya.


Dengan sifatnya yang ceria, Shely terlihat sangat semangat melakukan pekerjaannya. Tanpa henti dia merapikan meja kerjanya yang sebenarnya sudah rapi dari awal dia duduk. Setelah beberapa saat, dia dikagetkan dengan nada telepon yang tiba tiba saja berdering.


(mengangkat telepon)


“Hallo, selamat siang. Disini kantor pengacara Leo Irawan. Ada yang bisa dibantu?” Sapa Shely kepada seseorang dalam telepon.


“Oh iya sebentar.” Jawab Shely lagi.


Dia kebingungan bagaimana cara menyambungkan telepon kepada atasannya tersebut. Karena dia seumur umur belum pernah bekerja sebagai sekretaris. Dia memutuskan untuk memanggilnya. Dia berjalan membuka pintu, dan masih tetap memegang  gagang telepon. Shely hanya melambai lambaikan tangannya berharap Leo peka dan melihatnya. Setelah Leo melihatnya dia hanya memberi isyarat bahwa ada telepon untuknya. Leo menatap Shely dengan tatapan marah.


“Pak ada telepon. Kabelnya gak nyampe kalau harus dibawa kesitu.” Kata Shely pelan takut si penelepon mendengarnya.


Leo berjalan menghampiri Shely dan meminta gagang telepon tersebut. Dan berbicara dengan kliennya. Setelah selesai berbicara melalui telepon, Leo meletakkan gagang telepon dengan perasaan kesal kepada Shely.


“Kamu gak bisa menyambungkan telepon kekantor saya?” Tanya Leo kesal.


Shely hanya diam tak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya.


"Lain kali tida usah menjawab telepon kekantor saya. Biar saya yang menjawab telepon saya sendiri. Sekarang kamu copykan ini, masing masing menjadi 6 lembar.” Suruh Leo.


Shely masih terlihat bingung. Dia kelihatan juga tidak bisa mengcopy.


“Kamu juga tidak bisa mengcopy?” Tanya Leo


Shely hanya menggelengkan kepalanya.


“Lalu apa yang kamu bisa?” Tanya Leo


“Tapi saya bisa belajar kok Pak.” Jawab Shely, dia sanggup


belajar.


“sudah gak usah. Kamu duduk santai saja dimejamu. Terserah mau ngapain.” Kata Leo terlihat sangat kesal.

__ADS_1


Shelypun terlihat kesal mendengar kata  kata Leo yang kasar. Ingin rasanya Shely mencacinya. Shely mencoba menenangkan pikirannya. Dia ingin mencari kesibukan agar rasa kesalnya hilang, tapi dia juga bingung apa yang akan dia lakukan. Dia hanya berharap segera jam 6 agar dia bisa langsung pulang.


Tepat jam 6, waktunya untuk pulang. Karena dia teringat bahwa atasannya  tak suka seseorang yang pulang telat. Jadi, Shely dengan segera mengemasi barang barangnya dan pulang. Dia dijemput oleh managernya.


“Bagaimana rasanya bekerja di Firma Hukum dihari pertama?” Tanya Vito, si manager


“Aku kesel banget tau gak sama si pengacara sombong itu. Sifatnya dingin dan sama sekali gak bisa senyum. Dia marah marah hanya karena aku gak bisa nyambungin telepon ke dia dan gak bisa mengcopy berkas berkas.” Kata Shely dengan nada kesal.


“Kalau kamu gak tahan kamu bisa berhenti sekarang.” Kata Vito


“Enggak, bagaimanapun caranya aku pingin bintangi drama itu.” Kata Shely yakin.


“Keras kepala banget.” Gumam Vito.


Shely mendengar gumaman Vito, dan menatapnya tajam. Vito hanya tersenyum melihat tatapan tajam Shely.


“Haaaaaa... aku capek banget hari ini. Aku pengen segera tidur.” Kata Shely menghela nafas


Sesampainya didepan pintu gerbang, Shely keluar dari mobil dan masuk kedalam rumah lalu istirahat.


Keesokan harinya, Shely berangkat pagi pagi sekali agar tidak terlambat. Dia juga ingin belajar menyambungkan telepon dan mengcopy berkas berkas. Setelah sampai di kantor Dia membereskan mejanya dan meuja pengacara Leo. Setelah membereskan meja kerja, Shely meminta bantuan Vena untuk membantunya belajar mengcopy berkas. Setelah tahu bagaimana cara mengcopy, selanjutnya Shely belajar menyambungkan telepon. Shely


searching “Bagaimana cara menyambungkan telepon.” Setelah ketemu diapun mempraktekkannya. Dan akhirnya bisa.


Tak lama kemudian Leo datang dan sedikit terkejut karena mejanya terlihat rapi dan berkas berkas yang tadinya berantakan menjadi satu tumpukan.


“Nona Shely.” Teriak Leo memanggil Shely dengan nada kesal.


“Ada yang bisa saya bantu Pak? Bapak tidak perlu berterimakasih kepada saya, karena ini menjadi sebagian tugas saya.” Kata Shely dengan percaya dirinya.


“Siapa yang suruh kamu beresin meja saya? Ambil semua yang kamu taruh disini. Ingat ya peraturan saya keempat, sata tidak suka ada orang yang menyentuh barang barang saya tanpa seijin saya.” Kata Leo dengan nada marah.


“Tapi pak saya hanya mencoba merapikannya saja. Karena saya lihat tadi berantakan.” Shely mencoba  menjelaskan.


“Saya tidak suka. Kamu bersantai saja selama 3 bulan dimeja yang sudah disiapkan buat kamu.” Kata Leo dengan nada marah.


Shely tak menjawab, hanya berbalik berniat ingin pergi ke mejanya.


“Hei.. Bawa barang barang kamu.” Kata Leo mengingatkan Shely membawa barang barang yang dia taruh diruangan pengacara Leo.


Shely membereskan barang barang yang tadi ditatanya. Sedangkan Leo berdiri disamping meja, merasa ada berkas yang hilang. Dia ingat berkas kasus yang sedang ditanganinya kemarin diletakkannya dimeja. Tapi


sekarang tidak ada. Leo melihat semua tumpukan berkas dengan wajah terkejut. Perasaan Shely mulai tak enak melihat ekspresi Leo.


“Kamu taruh dimana berkas penting yang ada disini?” Tanya Leo.


Shelypun terkejut dan melihat tumpukan berkas berkas yang sudah terlanjur dia tumpuk menjadi satu.


“Keluar kamu. Jangan pernah sentuh barang barang saya lagi.” Teriak Leo marah


Shely keluar dengan perasaan kesal.


“Berkas apa sih yang dia maksud? Bukannya terimakasih, malah marah marah gak jelas, dasar orang aneh.” Kata Shely menggerutu karena sikap bosnya yang tak bisa dia mengerti.

__ADS_1


Tak lama kemudian, CEO Rudi masuk keruangan Leo berniat untuk mengembalikan berkas yang dicari Leo.


“Leo, saya mau mengembalikan berkas yang saya pinjam tadi.” Kata CEO Rudi


“Kenapa bisa ada di Anda?” Tanya Leo dengan nada dingin seperti biasanya.


“Tadi saya pinjam tapi lupa mau bilang sama kamu.” Jelas CEO Rudi.


Setelah itu CEO Rudi keluar dan kembali keruangannya. Leo juga akan keluar untuk bertemu dengan kliennya. Dia merasa tak enak melihat Shely yang terlihat kesal karena salah pahamnya.


“Saya mau keluar untuk bertemu klien.” Kata Leo mengawali pembicaraan dengan Shely.


“Ya. Silahkan.” Jawab Shely masih merasa kesal dengan Leo dan memalingkan wajahnya.


"Nanti saya langsung pulang, tidak usah menunggu saya." Lanjut Leo.


"Ya." Jawab Shely.


(Siapa juga yang mau menunggu dia kembali.. huhh.) Katanya dalam hati.


Leo membuka pintu keluar dan menutupnya lagi, lalu berbalik kearah Shely.


“Maafkan saya.” Kata Leo meminta maaf kepada Shely


(“Apa? Dia minta maaf? Pasti sebentar lagi dia akan berterimakasih kepadaku”) Katanya dalam hati.


“Maaf aja?” Tanya Shely


“Maksudnya?” Tanya Leo balik, tak mengerti apa yang dimaksud Shely.


“Tidak terimakasih juga?” Kata Shely masih agak kesal


“Apa maksud kamu? Saya hanya minta maaf karena saya sudah salah paham dengan kamu tentang berkas tadi. Ternyata dibawa oleh CEO Rudi.” Kata Leo dingin. Kemudian dia keluar dari ruangan,


“Apa? Cuma minta maaf karena salah paham. Waaaaa... Memang sakit jiwa tuh orang.” Shely menggerutu tak karuan.


Waktu telah berlalu, pukul 6. Waktunya pulang, seperti biasa dia dijemput oleh Vito. Vito melihat wajah Shely sangat marah.


“Kamu kenapa lagi? Masih tentang Pengacara itu?” Tanya Vito


“Iya. Dia seharian marah marah gak jelas bukannya berterimakasih karena ruangannya sudah aku rapikan. Dan apa? Dia hanya minta maaf karena sudah salah paham tentang berkas yang ternyata dipinjam oleh CEO


Rudi. Lihat aja akan aku buat dia menyesal. Aku akan bekerja dengan sungguh sungguh dan membuat dia menyesal. Haaaaaaaa aku sangat kesal saat ini.” Kata Shely marah marah.


“Siapa suruh seenaknya saja bersihin ruangan tanpa izin.” Ceplos Vito lirih


“Apa?” Tanya Shely sedikit mendengar gumaman Vito.


“Iya, kamu harus balas dendam ke dia. Tapi kalau kamu gak tahan kamu bisa berhenti sekarang juga.” Kata Vito.


“Enggak pokoknya aku ingin buktiin ke dia kalau aku bisa. Aku pasti akan buat dia menyesal. Lihat saja. Dia kira, dia itub siapa. Dasar spikopat.” Kata Shely yakin dengan dirinya sendiri.


Vito hanya terima mendengar semua amarah Shely. Dia heran tak biasanya Shely sampai sekesal ini karena seseorang yang baru saja dikenalnya.

__ADS_1


__ADS_2