Aku Milikmu

Aku Milikmu
Menangis


__ADS_3

Akira merenggangkan tubuhnya, mengeliat, menguap lalu mengucek matanya pelan. Tidurnya tadi malam cukup nyenyak. Akira bangun, menurunkan kakinya dari atas kasur saat ingin beranjak menuju cermin tiba-tiba perutnya merasa mual. Ia buru-buru jalan keluar kamar menuju kamar mandi tapi saat melewati dapur ia tercengang melihat sudah ada Dean sedang mengeluarkan makanan dari Paper Bag di meja makan.


“Pagi,” sapa Dean dengan senyuman kecil di bibirnya.


Akira tidak menghirukan ataupun membalas sapaan itu karena rasa mual di perutnya semakin menjadi, ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.


Tubuh Akira menegang ketika merasakan elusan lembut di punggungnya, ia melirik ke samping dan mendapati Dean sudah ada di sampingnya sambil satu tangannya menahan rambut Akira yang terurai agar tidak terkena muntahan wanita itu lalu satu tangannya mengusap lembut punggung Akira.


Akira tidak protes ataupun menyingkirkan tangan Dean dari tubuhnya, tubuhnya terlalu lemas hanya sekedar untuk protes. Dan perlahan tubuhnya kembali rileks walaupun tangan Dean masih setia mengelus punggungnya.


“Setiap pagi kaya gini,?” tanya Dean setelah Akira selesai dengan muntahnya.


Akira hanya mengangguk lemas sebagai jawaban. Ketika Dean ingin menuntun keluar kamar mandi Akira menyingirkan tangan Dean yang melingkar di bahunya.


“Tuan Dean keluar dulu aku mau buang air kecil,” ujar Akira.


Dean mengangguk mengerti lalu keluar kamar mandi sambil menutup pintu tersebut.


Tak selang berapa lama Akira keluar dari kamar mandi lalu duduk di kursi meja makan. di atas meja makan sudah ada beberapa makanan yang tersedia, dari mulai Roti Bakar, Pancake, Nasi Goreng dengan Telur Mata Sapi dan beberapa manu sarapan yang lain.


“Nih minum dulu,” Akira menoleh ke samping melihat Dean menyodorkan air putih. Akira menerimanya dan langsung meneguk habis air putih tersebut.


“Eneg ya?” tanya Dean melihat wajah Akira mengernyit ketika meminum air putih yang di berikannya.


Lagi-lagi Akira hanya mengangguk sebagai jawaban.


“Walaupun Enag tapi tetep harus dipaksa, nanti kalau di biarin kamu bisa kekurangan cairan,” ucap Dean sambil duduk di kursi sebelah Akira.

__ADS_1


Akira kembali mengangguk mengerti, lalu ia melirik jam di dinding yang menunjukan pukul Enam pagi lewat lima belas menit. Ternyata masih sangat pagi, Akira mengira sekarang sudah sekitar jam sembilan lewat karena mendapati Dean sudah ada dirumahnya.


Tadi malam setelah Dean memasukan bajunya ke dalam lemari pria itu langsung pulang, sebenarnya ia sedikit khawatir meninggalkan Akira sendirin tapi karena melihat wajah Akira yang menunjukan ketidaknyamanan akan kehadiran dirinya, maka Dean pun terpaksa pulang dan sebelum tidur ia sengaja memasang alarm agar bisa bangun sebelum Jam Enam lalu kembali ke rumah Akira sambil membawakan banyak menu sarapan untuk wanita itu. Bahkan chef pribadi Dean terpaksa harus ikut bangun pagi untuk membuat sarapan atas perintah pria itu.


Seluruh pelayan rumah di buat tercengan karena ini pertama kalinya Dean bangun pagi selama tiga tahun ini. Mereka kira Sang Tuan kembali menjadi Dean tiga tahun yang lalu tapi ternyata masih Dean sama, pria itu hanya bangun pagi dengan sikap yang masih sama sepeti tiga tahun ini. Mereka pun hanya menghela napas kecewa.


“Kamu mau sarapan apa? Aku sengaja bawa bermacam-macam menu sarapan biar nanti kalau kamu mual dengan salah satunya kamu bisa makan makanan yang lain,” ujar Dean.


Akira menoleh pada Dean dan menatap pria itu penuh arti, “Kenapa Tuan Dean jadi baik gini?”


Dean mengerutkan dahi, balik menatap Akira.


“Pagi-pagi datang kesini bawa banyak sarapan, padahal aku tahu Tuan Dean buka tipe orang yang suka bangun pagi di tambah tadi malam Tuan Dean pulang malam pasti kurang tidur, lalu datang kerumah aku sepagi ini dan bersikap lembut seperti ini. Aku benar-benar gak nyaman, Tuan Dean,” lanjut Akira


Dean terkekeh sinis sambil memanglingkan muka, diam beberapa saat lalu kembali menatap Akira, “Aku tahu apa yang kamu pikirkan tentang aku, Akira.” Dean menjeda ucapannya beberapa saat, tatapan lembut yang sempat ia berikan kembali menjadi tatapan tajam.


“Aku masih punya hati nurani, Akira! Aku mana tega melantarkan anakku begitu saja, membiarkan kamu melewati masa sulit ini sendirian, apalagi disini aku yang paling salah! membuat kamu harus berada dikondisi seperti ini gara-gara kecerobohan aku. Disini kamu yang paling menderita, harus nahan mual setiap waktu, tidak selera makan ini itu, belum lagi caci maki orang-orang diluar sana dan penderitaan yang lainnya juga,” kini suara Dean lebih tenang dari sebelumnya.


“Aku gak mau kamu lewatin masa sulit ini sendirian, Akira. Dan rasa tidak nyaman kamu atas sikap aku yang sekarang. Itu bukan karena kamu gak nyaman tapi karena belum terbiasa saja. Aku tahu selama ini kamu hanya mengenal aku pria yang galak, sombong, gak kenal belas kasih atau sikap buruk yang lainnya. Aku gak nyalahin kamu yang berpikir seperti itu karena kamu hanya mengenal aku sebagai bos di tempat kamu kerja. Dan tolong, jangan menambah kesalahan aku dengan tidak mempedulikan kondisi kamu!” lirih Dean lembut panjang lebar.


Sedangkan Akira sekarang sudah menundukan kepalanya, mengakui kesalahan akan pikirannya yang sempit selama ini. Akira terlalu memandang rata setiap pria akan sama seperti ayahnya, Akira mengagap Dean akan sama seperti ayahnya dulu tapi ia tak menyangka pria itu ternyata benar-benar peduli pada anak yang tidak diharapkan kehadirannya ini.


Dan perkataan Dean berhasil menusuk hati Akira yang selama ini belum pernah ia rasakan setelah sekian lama ‘Aku gak mau kamu lewatin masa sulit ini sendirian.’ Kata-kata itu sukses membuat hati Akira terenyuh dan tak terasa air matanya mengalir begitu saja. Akira ingin mencegah air mata itu keluar tapi sayangnya, air mata itu sama sekali tidak bisa ditahan. Dean telah sukses merobohkan tambok yang selama ini Akira bangun, tembok yang tidak akan pernah membiarkan orang lain melihat air matanya.


Dean yang melihat bahu Akira bergetar, mendekatkan kursi lebih dekat lalu merengkuh tubuh Akira masuk kedalam pelukannya, mengelus lembut punggung wanita itu.


Tangisan Akira semakin menjadi-jadi di dalam pelukan Dean. Sebelum ia memutuskan tidak akan pernah menangis lagi, tidak ada yang pernah memeluk tubuhnya ketika menangis, tidak ada yang merengkuh tubuhnya ketika hatinya berdenyut sakit. Ia selalu menghadapinya sendirian dengan hatinya yang rapuh. Dan sekarang tiba-tiba ada yang memeluknya saat ia menangis. Sungguh, ini membuat hati Akira berguncang hebat.

__ADS_1


Akira memang selalu ingin menyembunyikan tangisannya dari orang-orang tapi di dalam hatinya ia selalu berharap akan ada orang yang datang padanya lalu menawarkan palukan damai seperti saat ini. Dan sekarang harapan itu sedang ia rasakan.


Akira membalas pelukan Dean, melingkarkan tangannya ditubuh pria itu dan membenamkan wajahnya di dada bidang Dean. Akira merasa seperti punya tempat berlindung, merasa aman dari segala kesulitan. Sedangkan Dean terus mengelus lembut punggung Akira, mengatarkan rasa tenang pada wanita itu dan mengeratkan pelukannya ketika bahu Akira semakin berguncang kencang.


Ini yang kedua kalinya Dean melihat Akira menangis setelah tadi malam melihat Akira menangis di atas kasur. Walaupun Akira tidak mengatakan apapun Dean bisa merasakan kesakitan yang di alami Akira saat melihat bola matanya. Dean merasa tambah bersalah karena telah membuat wanita itu berada dalam keadaan sulit seperti saat ini. Andaikan malam itu ia tidak lupa memakai pengaman mungkin Akira tidak akan seperti ini, wanita itu pasti masih seperti hari biasanya, kerja di perusahaannya dan menyapa dirinya dengan senyuman lebar penuh keceriaan saat Dean datang ke kantor. Tetapi sekarang nasi telah menjadi bubur, ia hanya bisa berusaha memperbaiki kesalahan yang telah dibuatnya.


Setelah setengah jam lebih Akira menangis di pelukan Dean, akhirnya tangisan itu mulai reda dan melepaskan pelukan Dean, “Baju Tuan Dean jadi basah gara-gara aku,” lirih Akira sambil cecegukan.


“Tenang aja, dilemari kamu udah ada banyak baju aku,” jawab Dean sambil sekuat tenaga menahan tawanya. Ia ingin sekali tertawa keras melihat wajah Akira yang sangat lucu. Bicara sambil cecegukan, mata bengkak, hidung merah dan bekas air mata di pipi mulusnya. Benar-benar sangat lucu dan menggemaskan. Tapi karena takut menyinggung wanita itu, Dean lebih baik menahan tawanya walaupun sudah lama sekali ia tidak pernah merasakan ingin tertawa sekuat ini.


“Udah nangisnya?” tanya Dean lembut sambil mengusap bekas air mata di pipi Akira.


Akira mengangguk “Udah,” jawab Akira sendu.


Dean tersenyum kecil lalu mengusap kepala Akira lembut. Dan Akira kembali merengut dengan mata berkaca-kaca lalu detik itu kembali menangis.


“Eh kok nangis lagi,?” tanya Dean heran.


“Hormon ibu hamil,” balas Akira disela tangisannya.


Dean terkekeh pelan lalu kembali menarik tubuh Akira kedalam pelukannya. Bagi orang lain elusan dikepala sudah menjadi biasa tetapi tidak buat Akira yang sekian lama tidak merasakannya.


Walaupun Dean tidak tahu alasan wanita itu menangis tapi ia tetap memberikan pelukan nyaman pada Akira sampai wanita itu puas menumpahkan air matanya.


...----------------...


...🎈🎈🎈...

__ADS_1


__ADS_2