
Setelah memakai baju dan sedikit merias diri, Akira melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 10 pagi. Biasanya di jam segitu Dean sudah berada di rumah Akira, apalagi di hari libur, sebelum matahari terbit pria itu sudah mempersiapkan sarapan untuknya. Tapi kali ini Dean belum juga datang dan saat Akira menelpon, nomer pria itu tidak aktif.
Akira melihat cetakan undangan yang hanya sebanyak dua ratus di atas meja ruang tamu. Kemarin sore dari pihak cetakan undangan mengirimkan undangan yang sudah jadi ke rumah Akira, karena memakai alamat rumah Akira untuk pengiriman jadi cetakan undangan itu dikirimkan ke rumah Akira bukan ke rumah Dean.
Dean dan Akira tidak banyak mengundang orang. Masing-masing hanya mengundang 100 orang, karena Akira dan Dean ingin pernikahan mereka bersifat privasi, jadi hanya orang yang benar-benar dekat saja yang diundang. Dan mereka juga mengadakan pesta pernikahan yang sederhana, yang menggunakan tema outdoor di halaman samping rumah Dean.
Tinggal sepuluh hari lagi ia dan Dean akan menikah. Ini semua benar-benar seperti mimpi untuk Akira, tidak menyangka akan menikah dengan pria yang dulunya adalah bos tempat ia bekerja. Sungguh, Akira tidak pernah membayangkan akan menikah dengan Dean, jangankan menikah, membayangkan punya hubungan yang baik pun tidak pernah terbayang di pikiran Akira. Apalagi saat itu sikap Dean benar-benar sangat arogan, pemarah, dingin, tukang tidur dengan wanita panggilan dan sikap buruk lainnya, yang membuat Akira semakin tidak ingin mempunyai suami seperti Dean.
Tapi ternyata takdir berkata lain. Ia mengandung anak dari pria itu dan akan segera menikah. Takdir yang tak disangka-sangka.
“Aku anterin surat undangannya ke rumah Dean aja deh, sekalian main juga kesana. Mungkin pria itu sedang sibuk.” Monolog Akira.
Akira pun bergegas siap-siap untuk ke rumah Dean, tidak lupa membawa surat undangan bagian Dean.
Akira mengucapkan terima kasih sambil menyerahkan ongkos pada supir taxi yang ia tumbangi lalu keluar dari mobil.
“Selamat siang, pak Yudi,” sapa Akira di luar pagar pada satpam penjaga rumah Dean.
Pak Yudi yang sedang duduk santai di luar pos menoleh pada sumber suara, ketika melihat siapa yang datang ia langsung berdiri sambil tersenyum berjalan ke arah pagar. “Siang juga, Non Akira,” sapa pak Yudi balik sambil membuka pintu pagar.
“Pak Yudi tumben jaga siang biasanya jaga malam, iya kan?” tanya Akira sambil masuk ke dalam gerbang.
“Iya non, lagi pergantian shift soalnya satpam yang jaga siang lagi ke sekolahan anaknya ngambil rapot.” Jawab pak Yudi.
Akira hanya tersenyum kecil sambil mengangguk-ngangguk. Lalu menyerahkan barang bawaannya untuk diperiksa. Walaupun semua orang rumah sudah tahu bahwa Akira akan menjadi istri dari tuan pemilik rumah itu, ia tetap selalu diperiksa ketika akan masuk rumah Dean.
“Tuan Deannya ada di rumah kan, pak Yudi? Saya sudah telepon beberapa kali tapi ponselnya gak aktif,” ujar Akira sambil menerima barang bawaan yang sudah diperiksa.
Pak Yudi tersenyum kikuk sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
__ADS_1
“Kenapa, pak?” tanya Akira heran yang melihat gelagat pak Yudi yang ragu-ragu ingin mengatakan sesuatu.
“Tuan Deannya ada, tapi lagi gak bisa diganggu, non,” jawab Yudi sambil menundukan kepala.
Akira mengerutkan dahi heran. Otaknya langsung mencerna jika ada sesuatu yang tidak beres.
“Oh, lagi sibuk sama pekerjaannya ya? Tapi sepertinya saya nggak akan ganggu deh pak, soalnya cuma mau ngasih surat undangan milik tuan Dean aja.”
“Surat undangannya titipkan ke saya aja, non, nanti pasti saya kasih sama Tuan Dean,” sahut pak Yudi.
“Eh, gak usah pak, saya sekalian juga mau ketemu Tuan Dean.”
Pak Yudi kembali menundukan kepala sambil menggaruk belakang lehernya. Dan tatapan Akira sama sekali tidak lepas dari wajah pak Yudi yang seperti mengkhawatirkan sesuatu.
Akira menghela nafas panjang, ia mencoba tidak memperdulikan gelagat tubuh pak Yudi yang mencurigakan. Ia berjalan menuju rumah utama tapi tangan Akira langsung ditahan oleh pak Yudi.
“Saya kan udah bilang, pak, kalau saya cuma ngasih surat undangan milik Tuan Dean, gak akan sampai ganggu pekerjaan tuan Dean kok!” ucap Akira lembut sambil tersenyum kecil.
“Tapi Tuan Dean benar-benar gak bisa diganggu, non Akira.”
Akira menghela napas panjang, “memang Tuan Dean lagi sesibuk apa? kok sampai saya mau ngasih surat undangan pun dilarang-larang? Saya beneran cuma ngasih surat undangan doang, nggak akan ganggu, serius!” ujar Akira dengan sabar. Ia sudah mulai pegal lama berdiri.
Pak Yudi hanya terdiam sambil menundukan kepala, tidak berani menatap wajah Akira.
“Pak Yudi mau saya laporin ke Tuan Dean, kalau pak Yudi memperlakukan saya dengan tidak baik. Saya calon istrinya tuan Dean loh, pak, saya bisa dengan mudah minta tuan Dean memecat pak Yudi,” ujar Akira karena sudah mulai tak sabar dengan pak Yudi yang terus terdiam tidak memberi penjelasan.
Yang diucapkan Akira tidak benar-benar serius, ia hanya menggertak pak Yudi agar berbicara terus terang.
Pak Yudi langsung mengangkat kepalanya dengan wajah yang amat khawatir sekaligus bingung, “Itu... Non Akira...”
__ADS_1
“Bicara yang jelas, pak Yudi,” ucap Akira tegas.
“Tuan Dean lagi sama wanita panggilan, non... Non Akira kan tahu, kalau Tuan Dean lagi sama wanita panggilannya maka tidak ada yang boleh mengganggu... Maaf non, saya bukan bermaksud memperlakukan non Akira dengan tidak baik,” ucap Yudi sedikit gelagapan. Ia benar-benar bingung harus memilih yang mana, di setiap sisi kena. Jika membiarkan Akira masuk dan mengganggu Dean maka dia yang kena marah, mungkin bisa dipecat juga.
Dan jika ia menahan Akira dan meminta wanita itu pulang, ia juga bisa dilaporkan dengan alih-alih memperlakukan calon istri Dean dengan tidak baik. Pak Yudi benar-benar bingung harus memutuskan yang mana.
Akira terdiam beberapa saat, mencoba mencerna yang diucapkan pak Yudi. Dan Pak Yudi yang melihat Akira diam mematung merasa bersalah. Ah, ia benar-benar berada di situasi yang tidak baik.
“Udah ada berapa kali wanita panggilan datang kesini selama sebulan, pak?” tanya Akira setelah beberapa saat terdiam.
“Mmm... yang saya tahu cuma empat kali sama yang sekarang, non,” jawab Yudi sambil menunduk. Ia tahu karena tiga wanita panggilan kemarin ia sendiri yang memeriksanya sebelum masuk kedalam. Setiap orang yang datang akan ditanyai identitasnya dan maksud tujuan datang kerumah ini. Jujur saja pak Yudi merasa kaget, setelah sebulan lebih tuannya tidak memanggil wanita sewaan, tiba-tiba datang seorang wanita yang berpakain seksi di dini hari.
Pak Yudi mengira tuannya sudah tobat karena sudah akan menikah dengan wanita yang amat baik, tapi ternyata setelah malam itu masih ada dua malam lagi kedatangan wanita panggilan.
Akira mengangguk-ngangguk kecil sambil tersenyum. Ia menahan napas lalu menghembuskan perlahan. “Seharusnya pak Yudi bilang dari tadi, kalau Tuan Dean lagi sama wanita panggilan, jadi saya gak perlu lama-lama berdiri disini.” Ucap Akira santai.
“Yaudah, saya titipkan surat undangannya sama pak Yudi aja ya,” lanjut Akira sambil menyerahkan paper bag yang berisi surat undangan pada pak Yudi.
“Non Akira,” panggil pak Yudi saat Akira hampir keluar dari pintu gerbang.
Akira menoleh pada Yudi, menunggu pak Yudi melanjutkan ucapannya.
“Semoga non Akira mendapatkan pendamping hidup yang baik hatinya dan baik juga kelakuannya,” ucap pak Yudi dengan tulus.
Akira tersenyum cukup lebar dan menganggukan kepala sambil mengucapkan kata amin dalam hati.
Sungguh, pak Yudi sangat kasihan dengan Akira. Walaupun ia tidak terlalu dekat dengan wanita itu tapi ia sudah bisa merasakan jika wanita itu adalah wanita baik. Ia berharap jika Tuhan salah mengirimkan jodoh untuk tuannya itu, bagaimana bisa wanita sebaik itu bersanding dengan pria seperti tuannya yang doyan main perempuan. Bukankah wanita baik akan mendapatkan lelaki yang baik juga?
Bunda, aku sudah benar-benar lelah dengan hidup ini. ujar Akira dalam hati.
__ADS_1