Aku Milikmu

Aku Milikmu
Tidak Membiarkan II


__ADS_3

“Kita boleh melakukannya, kan? Dokter kandungan pun tidak melarang asalkan kita tidak melakukannya dengan kasar,” lirih Dean dengan mata yang sudah sayu berkabut gairah tak tertahankan. Ia mengira Akira menahannya karena takut membahayakan kondisi sang cabang bayi.


Akira menggelengkan kepala, belum sempat ia mengatakan sesuatu Dean sudah kembali mencium bibirnya.


Aku harus segera menghentikan ini sebelum aku kembali terbuai dengan sentuhan Tuan Dean, aku tidak ingin seperti wanita-wanita yang sudah ditiduri Tuan Dean, aku berbeda dengan mereka, aku bukan wanita yang hanya jadi pelampiasan birahi Tuan Dean. Setidaknya aku harus punya ikatan yang suci terlebih dahulu untuk melakukan hubungan intim dengan Tuan Dean, agar aku berbeda dengan wanita-wanita sebelumnya. Aku tidak ingin kesalahan ini terjadi untuk yang ketiga kalinya.


Mulut dan pikiran Akira bertentangan satu sama lain, pikirannya berkata untuk segera menghentikan kegilaan mereka ini tapi mulutnya terus mengeluarkan erangan-erangan nikmat atas perbuatan Dean.


Ketika tangan Dean kembali mencoba masuk ke dalam celana Akira, Akira kembali menahan tangan Dean. Akira jamin jika tangan Dean sudah bermain di area inti tubuhnya maka tidak ada lagi kesempatan Akira untuk menolak. Jadi ia segera menahan tangan Dean sebelum ia kembali menyesali kesalahannya untuk yang ketiga kali.


Anggap saja yang pertama dan yang kedua karena kebodohan Akira tapi untuk yang sekarang Akira tidak ingin menjadi wanita bodoh, yang kembali melakukan kesalahan yang sama.


“Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan, Akira. Aku janji, aku tidak akan sampai melukai anak kita,” ucap Dean. Ia menatap Akira yang terkulai lemah dengan tanda-tanda kemerahan di sekitar leher dan dada, sungguh itu pemandangan yang sangat indah untuk Dean, yang membuatnya tidak sabar ingin kembali merasakan lubang hangat dan sempit milik Akira.


“Aku tidak bisa,” lirih Akira. Sebenarnya ia tidak tega menolak Dean yang sudah terlihat di ujung gairahnya tapi Akira juga tidak bisa melanjutkan hal ini.


Dean mengernyit, menatap heran pada Akira. “Tidak bisa kenapa?”


Akira menggeleng, “aku tidak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk yang ketiga kalinya.”


Dean terkekeh sinis. “Kita sebentar lagi menikah, Akira. Aku sudah melewati masa percobaan yang kamu ajukan dan lagi pula kesalahan ini sudah terlanjur kan, jadi apa bedanya kita melakukan hubungan intim setelah menikah dan sebelum menikah?”


Akira merasa tertohok dengan ucapan Dean, yang seakan-akan hubungan intim ini tidak berarti apa-apa untuknya, yang hanya sekedar melampiaskan hasrat pria itu.


Apa aku bilang, Akira? Kamu tidak ada bedanya dengan wanita-wanita yang pernah ditiduri Tuan Dean, pria itu hanya menganggap kamu sebagai pelampiasan hasratnya yang sudah satu bulan lebih tidak dikeluarkan. Mungkin jika kamu mengijinkannya tidur dengan wanita lain pasti pria itu dengan senang hati melakukannya dengan wanita lain. Batin Akira

__ADS_1


Akira mendorong tubuh Dean yang berada di atas tubuhnya lalu ia bangun dari tidurnya dan kembali mengancingkan baju piyama dengan cepat. “Tidak ada sek* sebelum menikah,” ucap Akira tegas.


Dean membelalak, tidak percaya dengan apa yang diucapkan Akira. Bukankah keadaan mereka sudah kepalang tanggung? Lagi pula bukannya tadi Akira sangat menikmati apa yang mereka perbuat, kenapa tiba-tiba ingin menghentikannya?


“Ayolah Akira, jangan bercanda Ini sudah kepalang tanggung!” ucap Dean dengan sedikit meninggikan suaranya. Ia benar-benar sudah tersiksa dengan gairah yang tak tertahankan.


Akira menggeleng tegas, ia sudah yakin jika ini keputusan yang sangat tepat. Walaupun setelah menikah nanti ia tetap akan jadi pelampiasan hasrat Dean tetapi setidaknya ia sudah punya status yang resmi dengan Dean tidak seperti sekarang yang tidak ada bedanya dengan wanita bayaran.


“Sorry, aku tetap tidak bisa melanjutkan!” ucap Akira sambil menunduk, ia sungguh tidak tega melihat Dean yang sudah tersiksa.


Dean berdecak kasar, menghembuskan napas berat. Andai saja Akira tidak sedang hamil, ia pasti sudah memaksa wanita itu. Tidak peduli Akira menolak atau tidak.


Dean turun dari kasur menjauh dari Akira sambil menahan emosi. “Seharusnya kamu menolakku dari awal jika kamu tidak ingin melakukannya, Akira. Seharusnya kamu menolakku saat aku menciummu, bukan saat aku sudah dikuasai gairah seperti sekarang ini!” ucap Dean dengan sinis sebelum keluar kamar, ia menutup pintu kamar dengan kasar hingga membuat tubuh Akira terlonjak kaget.


Bukan kamu saja yang tersiksa, aku juga tersiksa. Tapi aku juga tidak ingin melakukannya sebelum kita menikah. Bagi kamu memang ini sudah biasa tapi tidak untuk aku.! Kita memang pernah melakukannya dua kali dan sudah terlanjur kepalang dengan kehamilanku ini tapi bukan berarti aku akan memberikan tubuhku begitu saja padamu tanpa ada ikatan resmi diantara kita. Aku sungguh tidak ingin disamakan dengan wanita sewaan, Tuan Dean. batin Akira.


Akira menengok ke arah jam dinding yang sudah menunjukan hampir jam tiga dini hari, ia menghela napas panjang, memutuskan untuk menyusul Dean keluar kamar, namun baru saja kakinya menyentuh lantai pintu kamar kembali terbuka memperlihatkan Dean dengan keadaan wajah yang basah. Sepertinya pria itu baru saja dari kamar mandi.


Apa jangan-jangan Tuan Dean main solo di kamar mandi? Tapi sepertinya tidak mungkin karena Tuan Dean hanya sekitar 10 menit berada di luar kamar. batin Akira bertanya-tanya.


“Tuan Dean mau kemana?” tanya Akira saat melihat Dean mengambil kunci mobil di atas meja rias.


“Pulang,” jawab Dean singkat padat jelas dengan wajah yang sangat tidak enak dipandang.


Akira menelan salivanya melihat wajah arogan, dingin, dan sinis Dean yang satu bulan lebih tidak ia lihat. Pria itu kembali memasang wajah seperti yang Akira kenal saat masih bekerja di perusahaan Dean.

__ADS_1


“Ini sudah jam tiga dini hari, lebih baik Tuan Dean istirahat.”


Dean terkekeh sinis, menatap Akira dengan mencemooh. “Seperti yang kamu bilang, tidak ada sek* sebelum menikah dan seharusnya tidak ada juga tidur satu ranjang sebelum menikah, bukankah begitu nona Akira yang terhormat?”


Kini Dean benar-benar sudah tersulut emosi, ia tidak terlalu memperdulikan perkataan yang keluar dari mulutnya. Bayangkan saja, pria mana yang tidak emosi saat gairanya sudah di ujung tanduk lalu dihempaskan begitu saja. sungguh, itu benar-benar menyiksa diri para lelaki.


Akira hanya menundukan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa lagi. Ia mengerti saat ini Dean sedang emosi jadi lebih baik ia biarkan saja pria itu pergi meninggalkan rumahnya, walaupun sebagian hati Akira tidak merelakan Dean pulang.


Dean melangkah keluar setelah tidak ada lagi yang harus dibahas, kali ini ia tidak menutup pintu secara kasar, ia membiarkan pintu kamar Akira terbuka lalu pergi meninggalkan rumah Akira.


Setelah di dalam mobil, Dean tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menjambak rambutnya dengan frustasi dan mengerang marah dengan kejadian yang baru saja terjadi.


Dean sadar seharusnya ia tidak perlu marah berlebihan seperti sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi ia benar-benar emosi dengan penolakan Akira. Setidaknya seminggu sekali Dean selalu memuaskan birahinya dengan memanggil wanita bayaran tapi sekarang sudah sebulan lebih ia tidak melakukan hal tersebut, dan bagi Dean itu sudah pencapaian yang luar biasa puasa selama sebulan lebih.


Saat di kamar mandi tadinya ia berniat menuntaskan hasratnya dengan bermain solo tapi Dean merasa terhina harus memuaskan dirinya dengan tangannya sendiri hanya karena penolakan Akira. Sungguh, Dean tidak pernah bermain solo hanya sekedar memuaskan birahinya, Ia punya banyak uang dengan mudah bisa menyewa seorang wanita panggilan.


Dean mencari kontak seseorang yang sudah satu bulan tidak ia hubungi, setelah menemukan kontak orang tersebut dean langsung menekan ikon panggilan pada nomor tersebut.


Tak perlu menunggu lama, pada nada dering kedua panggilan Dean sudah di angkat oleh orang di seberang sana.


Tanpa basa basi Dean langsung mengutarakan tujuannya, “lima belas menit dari sekarang aku ingin sudah ada wanita berada di rumahku,” ucap Dean tegas. Dan tanpa menunggu jawaban, Dean langsung memutuskan panggilan tersebut.


Dean menatap beberapa saat ke rumah Akira lalu menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobil meninggalkan rumah Akira.


-----------------

__ADS_1


Gimana menurut kalian, apakah yang dilakukan Akira sudah benar? Jangan lupa Like komen dan Votenya ya :)


__ADS_2