
Dengan langkah lebar dan tergesa Dean keluar dari apartemennya. Kini ia sadar apa yang harus ia lakukan agar wanita yang dicintainya tetap bersama di sampingnya. Ia hanya perlu jujur pada Akira tentang perasaan yang ia punya untuk wanita itu, mengungkapkan bahwa ia jatuh cinta pada Akira. hanya sesimpel itu tapi kenapa ia baru sadar bahwa hanya perlu mengungkapkan perasaannya.
Jika sejak awal ia jujur pada Akira tentang perasaannya mungkin tidak akan ada kejadian seperti sekarang ini. Ia tidak perlu memaksa Akira menceritakan asal uang yang dia peroleh, membuka luka lama wanita itu dan ia juga tidak perlu mengurung Akira berhari-hari seperti beberapa hari yang lalu.
Seharusnya saat ia kembali bertemu Akira, ia langsung menyatakan perasaannya tapi justru yang ia buat adalah hal bodoh dengan menculik Akira, mengurung hingga wanita itu jatuh sakit dan mencurigai Akira bahwa dia berniat menghancurkan hidupnya.
Sekarang Dean menyadari semua perbuatan bodohnya itu dan ia benci pada dirinya ini, kenapa ia baru sadar setelah membuat Akira kembali merasakan luka lamanya itu. sungguh, Dean benci dengan kebodohannya ini.
Dengan rasa tidak sabar Dean terus menekan-nekan tombol lift berharap jika ia terus menekan tombol itu pintu lift segera terbuka dan membawa dirinya ke lantai dasar. Andai disana ada orang lain mungkin Dean akan dimarahi karena kelakuannya yang seperti itu bisa merusak tombol lift tetapi untungnya saat ini ia hanya sendiri- dengan segala kecemasan yang ada pada dirinya.
Setelah pintu lift terbuka Dean langsung masuk dan dengan cepat menekan tombol yang membawanya ke lantai bawah. Ia mengumpat pada lift yang terasa sangat lambat, bahkan ia langsung menekan tombol tutup pintu saat ada orang lain yang ingin masuk di setiap lantainya. Ia tidak peduli dengan wajah-wajah yang terlihat kesal saat mereka ingin masuk justru pintu malah tertutup.
Di dalam hatinya ia merasa takut- takut jika Akira sudah berjalan jauh meninggalkan kawasan apartemen. Seandainya kejadian ini terjadi di Indonesia mungkin ia tidak akan takut kehilangan jejak Akira karena ia punya banyak koneksi yang berada di bawah kendalinya, tetapi saat ini ia sedang berada di Roma, ia tidak punya kendali apapun, segala gerak geriknya sangat terbatas dan itu juga pasti akan memakan waktu lebih banyak untuk menemukan keberadaan Akira jika ia benar-benar kehilangan jejak wanita itu. Jadi sebisa mungkin ia harus segera bisa menyusul Akira sebelum wanita itu pergi lebih jauh.
__ADS_1
Setelah sampai di lantai tujuan Dean dengan cepat keluar dari lift, ia tidak memperdulikan orang-orang yang berada di depan lift yang tersenggol oleh tubuhnya. Bahkan Dean sama sekali tidak membalikan badan atau mengucapkan maaf pada orang yang berteriak memarahi dirinya atas perlakuannya yang sangat tidak sopan.
“Sial aku harus kearah mana? Disini terlalu banyak arah pintu keluar,” Dean sangat panik melirik kekanan dan ke kiri, mencari arah yang bisa membawanya pada Akira.
Akhirnya Dean memilih arah pintu dimana di depan sana terdapat halte bus. Dean yakin Akira pasti akan menggunakan kendaraan umum untuk pergi dari sini. Namun ternyata setelah Dean berlari dengan cepat ke arah sana ia sama sekali tidak menemukan wanita yang ia cari. Ia bertanya kepada beberapa orang yang berlalu lalang, apakan mereka melihat sosok wanita yang ia sebutkan ciri-cirinya. Namun mereka yang ditanya hanya menggelengkan kepala, tidak tahu.
Dean menjatuhkan tubuhnya di kursi pinggir jalan. menopang kepalanya dengan kedua tangan, menunduk menatap jalanan yang seperti sedang menertawakan kebodohan dirinya.
Dean mengangkat wajahnya melirik ke sekeliling untuk terakhir kalinya lalu dengan berat hati ia beranjak dari kursi untuk kembali ke apartemennya. Sepertinya kisah ia dan Akira benar-benar sudah berakhir, ia tidak tahu kemana perginya Akira dan ia juga tidak tahu apakan orang-orang suruhannya nanti bisa menemukan Akira. Mengingat kejadian yang lalu dimana orang-orang suruhannya tidak bisa menemukan Akira, membuat Dean pesimis, apakah kali ini orang-orang suruhannya bisa menemukan Akira atau sama seperti dulu hingga alam semesta sendiri yang mempertemukan mereka berdua.
Dengan hati yang dipenuhi rasa takut dan pikiran yang hanya diisi oleh Akira, Dean melangkah lunglai masuk kembali ke kawasan apartemennya sambil terus menunduk. Seakan-akan jalanan lebih menarik dipandang dari pada pemandangan di sekitar.
Dean menghentikan langkahnya ketika ia melihat kaki seorang wanita sedang berjalan melewati dirinya sambil menarik koper, Dean mengangkat kepalanya dan berbalik badan melihat pada wanita itu. Rambut wanita itu panjang sebahu berwarna pirang dan memakai dres polos di atas lutut.
__ADS_1
Dean menghela napas panjang lalu kembali berbalik badan melanjutkan langkahnya. Tanpa melihat wajah wanita itu pun Dean sudah yakin bahwa itu bukan Akira. Akira tidak mungkin memakai baju sependek itu, apalagi warna rambutnya yang berwarna pirang, tidak mungkin dalam sekejap mata Akira mengubah warna rambutnya.
Apa yang harus aku lakukan sekarang? Sepertinya aku sudah kehilangan semangat hidup, aku tidak punya alasan apapun lagi untuk tetap bernapas, bahkan untuk menarik napas pun rasanya sangat enggan.
Di Tengah ketakutan hatinya dan harapan yang semakin menipis tiba-tiba Dean dikejutkan oleh seorang wanita yang berdiri di depan pintu apartemennya. Dean mengucek-ngucek matanya, takut jika ini hanya halusinasi semata, bahkan ia menampar pipinya cukup keras untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah lihat.
Dean mengangkat sedikit ujur bibirnya sambil mendengus, sungguh ini sangat aneh. Ia berlari-lari keluar sana untuk mencari Akira, ketakutan setengah mati- takut tidak bisa bertemu dengan Akira, dan merasa frustasi atas kebodohannya, tapi ternyata wanita yang sedang diperjuangkannya itu sedang berdiri bersandar di depan pintu apartemennya sambil melipat kedua tangan di depan dada.
Dean berlari ke arah Akira dengan perasaan yang sama sekali tidak bisa diutarakan lewat kata-kata, ia sangat bahagia seakan-akan ia tidak butuh apapun lagi di dunia ini selain memiliki Akira. Sedangkan Akira yang sedang melamun dikagetkan dengan suara seseorang yang berlari, sebelum ia sempurna membalikan tubuh pada sumber suara tiba-tiba saja ia di peluk dengan erat.
“Tuhan mendengarkan Doaku,” bisik Dean dengan perasaan lega.
“Dean—“ sebelum Akira menyelesaikan kalimatnya, ia dikagetkan dengan kalimat yang membuat jantungnya seperti berhenti berdetak. “Aku mencintaimu, Akira.” Ucap Dean lembut sepenuh hati sambil semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Akira dan jangan lupa juga dengan senyumannya yang mengambang begitu lebar menghiasi wajahnya.
__ADS_1