Aku Milikmu

Aku Milikmu
Ikut Masuk Dalam Selimut


__ADS_3

Sejak Dean pulang sampai jam sembilan malam Akira terus terbaring di tempat tidur, tubuhnya sangat lemas, sudah beberapa kali bolak balik kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Padahal tidak ada sedikit pun yang keluar dari perutnya tapi Akira terus merasakan mual, seakan-akan ingin selalu muntah.


Sekarang Akira tidak punya tenaga hanya untuk sekedar untuk mengambil air minum di dapur.


“Aku lapar tapi setiap makanan yang masuk pasti langsung di muntahin lagi. Pantesan aja surga ada ditelapak kaki ibu, ya karena perjuangan seorang ibu seberat ini,” lirih Akira lemas sambil mengusap perutnya lembut.


“Untung aja dulu waktu aku kecil gak bandel-bendel banget jadi gak terlalu nyusahin bunda.” Akira menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan sendu, ia jadi terbayang akan masa kecilnya dulu. Masa kecilnya yang indah sebelum bundanya meninggal. Kemudian kenangannya dengan ibu paruh baya yang bernama Ibu Ani.


“Akira kangen bunda, kangen ibu Ani juga. Kalian pasti disana udah seneng-seneng ya? Akira pengen cepet-cepet nyusul kalian kesana, Akira udah cape hidup sendirian terus kaya gini, Akira cape nanggung semua masalah ini sendirian...” tak terasa air mata Akira mengalir dari ujung pelupuk matanya. Sekarang ia tidak peduli dengan janjinya yang tidak akan pernah menangis lagi. Hidupnya sudah terlalu berat.


Orang-orang dilur sana mengenal Akira wanita yang kuat, tak pantang menyerah dan penuh semangat. Tapi nyatanya sekuat apapun Akira ia tetap manusia biasa apalagi ia seorang wanita yang punya hati gampang rapuh.


Akira menyampingkan tubunya, menekuk lutut didepan dada dan satu tangannya memeluk lututnya, kini posisi Akira persis seperti bayi dalam kandungan, meringkuk. Ia menangis tanpa suara, menangis karena nasib hidupnya yang begitu jelek dari sejak kecil. Seakan-akan kebahagian enggan menjumpai dirinya.


Aku takut... Takut anakku menyesal karena lahir dari rahim wanita seperti aku. Aku takut dia mengelami apa yang pernah aku alami, aku takut dia tidak bahagia dengan hidupnya gara-gara mempunyai ibu seperti aku. Ya Tuhan kenapa Engkau titipkan bayi ini padaku? Kenapa tidak Kau kasih saja pada wanita-wanita yang mengharapkan kehadiran anak dalam hidupnya? Aku takut tidak bisa menjadi ibu yang baik, takut tidak bisa memberikan keluarga seperti keluarga impin diluar sana pada anakku kelak.


Akira terus menangis beberapa saat dalam diam, tangis yang sama sekali tidak mengeluarkan suara. Sampai tak terasa ada seseorang yang masuk ke dalam rumahnya. Dan sekarang sedang memperhatikan Akira yang terlihat sangat kesakitan. Ia tahu tangis dalam diam itu malah lebih menyakitkan dari pada nangis memakai suara. Ia pernah merasakan tangis itu.


“Akira,”


Samar-samar Akira mendengar seseorang memanggil namanya, dengan pelan ia menggerakan kepalanya menghadap pintu, dan disana sudah ada Dean berdiri dengan gagah.

__ADS_1


Akira membelalak tidak percaya, dan dengan cepat Akira menarik selimut di bawah kakinya, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut itu.


Kenapa Tuan Dean bisa masuk ke rumahku? Bukankah aku sudah mengunci seluruh pintu atau aku lupa mengunci pintu? Tapi aku sangat yakin, tadi jam enam sore aku sudah mengunci pintu rumahku. Akira mengumpat dalam hatinya, merutuki kehadiran Dean diwaktu yang sangat tidak tepat.


Ya Tuhan, apa tadi Tuan Dean lihat aku menangis? Sejak kapan dia ada di depan pintu kamarku? Aaa... sial sial sial! Aku sangat malu sekarang, pasti sekarang mataku kelihatan banget bekas menangisnya. Akira dengan kesal menendang-nendang kakinya kebawah di dalam selimut. Ia sekarang benar-benar malu. Sudah lebih dari 20 tahun tidak ada orang yang pernah melihatnya menangis dan sekarang pria yang sudah mengacaukan hidupnya malah melihatnya menangis.


Ingin sekali Akira bisa menghilang sekarang agar tidak berhadapan dengan pria itu.


Akira tetap menyembunyikan tubuhnya di dalam selimut ketika merasakan Dean duduk di pinggir kasur dekat dirinya.


“Akira,” panggil Dean lagi tapi tidak ada jawaban dari Akira.


“Tuan mau apa malam-malam datang kesini? Baru aja tadi sore pulang sekarang datang lagi kesini? Tuan Dean betah ya tinggal di rumah aku,?” ujar Akira sedikit teriak dengan kesal, masih dengan erat menutup dirinya.


“Tadi aku baca artikel, katanya kalau ibu hamil itu jangan ditinggalin sendirian apalagi awal kehamilan,” jawab Dean santai “Apalagi malam-malam. Ya jadi aku putusin untuk datang kesini lagi,” lanjutnya.


Emangnya benar, kalau ibu hamil gak boleh diinggalin sendirian? Aku baru tahu! batin Akira.


“Kamu kenapa sembunyi di dalam selimut sih, Kir? Kamu lagi sakit? Kedinginan? Atau gak enak badan?” tanya Dean lagi, mendapati Akira terus bersembunyi di dalam selimut.


“Aku juga tadi baca, katanya awal kehamilan bisa menyebabkan si wanitanya sakit, mual-mual, gak selera makan, bahkan ada yang sampai dirawat dirumah sakit karena sama sekali gak bisa bangun,” ucap Dean lagi. Ia tadi memang banyak mencari tahu tentang ibu hamil, walaupun bayi dalam kandungan Akira tidak diharapkan kehadiarannya tapi mau bagaimanapun itu tetap darah dagingnya.

__ADS_1


Dean mengakui dirinya memang pria brengsek suka main dengan para ****** tapi bukan berarti ia tega tidak mempedulikan darah dagingnya.


“Tadi siang kamu mual-mual itu wajar, Akira. Karena memang ibu hamil itu penciumannya sensitif. Kamu sekarang mual-mual lagi gak? Atau merasakan apa gitu..?”


Akira mengernyit heran dibalik selimut. Ini beneran Tuan Dean, kan? Kok aku merasa ini bukan Tuan Dean! mana ada Tuan Dean banyak bicara kaya gitu, terus terkesan perhatian juga. kemana Tuan Dean yang sombong penuh keangkuhan itu? Yang gak kenal belas kasih dan sama sekali gak menoleransi sedikit kesalahan. Kok aku ragu ya kalau ini Tuan Dean beneran, bisa aja genderewo pura-pura jadi Tuan Dean, bersikap baik buat ngambil bayi dalam perut aku.


Akira semakin meringkuk dan mengeratkan genggaman tangannya di selimut. Ini salah satu kelemahan Akira, ia wanita penakut pada hal-hal horor. Sedikit saja ia merasakan keanehan disekelilingnya, otoknya akan dengan cepat langsung mengaitkan hal itu dengan hal horor.


“Akira kamu baik-baik aja, kan? Kok diem terus dari tadi.” ujar Dean sedikit khawatir. Dean mulai menarik selimut sedikit kesusahan karena Akira memegangnya dengan kencang.


“Hey Akira,”


Tetap tidak ada jawaban dari Akira.


Dean menghembuskan napas kesal sambil melepaskan tarikan selimutnya. Dean benar-benar bingung ada apa sebenarnya dengan Akira? Dan Dean pun membaringkan dirinya disamping Akira lalu menyelinap masuk ke dalam selimut lewat bawah kaki wanita itu.


Dari pada aku cape-cape narik-narik, meningan ikut masuk ke dalam.


...----------------...


Gimana gaes, sampai sini udah mulai seru belum ceitanya?🙂 Kalau ada yang mau ngasih kritik atau saran, boleh banget.👍 Author terbuka sama saran dan kritik kalian. Makasih ya yang udah nyempetin baca cerita recehan ini😄💞

__ADS_1


__ADS_2