
Dean dengan cepat turun dari motor ketika melihat Akira berlari seperti orang kesetanan. Dean beberapa kali berteriak memanggil nama Akira namun wanita itu masih tetap berlari, hingga akhirnya Dean dapat menyusul Akira dan dengan cepat menarik tangan Akira.
Dean menyerngit heran melihat kondisi Akira sama seperti saat bertemu Nando bahkan lebih mengenaskan dari pada kala itu, wajah Akira pucat pasi, tubuhnya dingin sedingin es batu namun berkeringat cukup banyak dan tubuhnya bergetar hebat, seperti sangat ketakutan.
Dean melihat ke sekeliling, mungkin bisa menemukan sesuatu yang membuat Akira seperti ini, tapi tidak ada apapun di sekitar yang mencurigakan.
“Hey, Akira,” ucap Dean khawatir sambil mengangkat wajah Akira. Wanita itu terus bergumam tidak jelas sambil matanya terus terpejam.
“Akira,” panggil Dean lembut, ia menyingkirkan rambut yang menutupi wajah Akira dan mengelap keringat Akira dengan tangannya.
Akira perlahan membuka kelopak matanya, mengerjapkan mata dan diam beberapa saat memandangi wajah Dean. “Dean,” ucap Akira lirih.
“Iya, ini aku Dean,” jawab Dean, menatap Akira dengan pancaran khawatir.
“Dean,” ulang Akira dan Dean hanya mengangguk, tersenyum kecil sambil terus menangkup wajah Akira.
Wajah Akira merengut seperti orang yang ingin menangis, lalu memeluk Dean dengan erat. “Kenapa perginya lama sekali?” tanya Akira sendu.
Dean membalas pelukan Akira tak kalah erat, mencium puncak kepala wanita itu berkali-kali. Sebenarnya Dean juga merasa khawatir ketika meninggalkan Akira sendirian, apalagi saat ia tidak menemukan satu orang pun manusia di sekitar sini. Tapi untungnya setelah terus berjalan kedepan ia melihat keramaian di jalan besar.
Saat perjalanan kembali ke mobil, Dean baru sadar jika ia sudah terlalu lama meninggalkan Akira. Jujur saja Dean sangat khawatir apalagi mendengar cerita yang diceritakan tukang ojek yang ditumpangi, bahwa jalanan yang ia lewati memang jarang dipakai para pengendara, karena di daerah sini banyak sekali begal.
Dean yang biasanya tidak berdoa, kali ini ini terus memanjatkan doa sepanjang perjalanan, meminta keselamatan Akira, dan meminta tukang ojek itu mempercepat laju motornya.
Dean merasa asing dengan rasa yang sudah lama tidak ia rasakan yaitu rasa mengkhawatirkan seseorang. Setelah kejadian tiga tahun lalu Dean tidak pernah lagi mengkhawatirkan apapun termasuk khawatir dengan dirinya sendiri, dan saat ini hatinya kembali merasakan kekhawatiran itu.
Secara tidak langsung, kehadiran Akira telah membawa rasa-rasa yang pernah hilang di hidup Dean, rasa khawatir, senang, hangat, bahagia, sedih, dan segala rasa yang lainnya perlahan-lahan kembali menghampiri hidup Dean. Membuat hidup Dean yang awalnya monokrom mulai kembali sedikit berwarna.
__ADS_1
Dean menoleh pada kedua tukang ojek yang mengantarnya, seraya berkata. “Sepertinya istri saya ketakutan sedari tadi di tinggal sendirian... kalau boleh, saya minta tolong kepada bapak-bapak. Saya ingin menenangkan istri saya dulu sebentar, jadi bolehkan bapak tunggu sebentar sampai istri saya sedikit tenang lalu baru kita pergi dari sini,” ucap Dean dengan ramah pada kedua tukang ojek itu.
Dean tidak mungkin langsung membawa Akira pergi dengan keadaan tubuh Akira bergetar seperti sekarang ini.
“Lebih baik kita langsung pergi aja pak, tidak baik terlalu lama disini. Dan Istri bapak bisa ditenangkan di tempat yang lebih nyaman daripada disini,” ucap salah satu tukang ojek memberi usulan.
Kedua tukang ojek itu sedari tadi hanya terdiam melihat drama mengharukan dua insan itu. Akira dan Dean seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak bertemu, sekalinya bertemu langsung berpelukan dengan erat, tidak memperdulikan orang di sekitar.
Dean terdiam beberapa saat, apa yang diucapkan pria itu ada benarnya juga, tapi bagaimana ia membawa Akira dalam kondisi seperti ini. Akira bahkan sama sekali tidak mengendurkan pelukannya di tubuh Dean.
“Akira, kamu tunggu sebentar disini aku mau pergi ke mobil dulu, ambil barang-barang kita lalu kita pergi dari sini,” ucap Dean.
Akira mendongak menatap Dean dengan sedih, “kamu mau ninggalin aku lagi?” tanya Akira dengan mata yang berkaca-kaca.
Dean menggeleng cepat, “Aku hanya pergi ke mobil kita sebentar, ambil barang-barang yang ada di mobil. Aku nggak akan lama kok!”
“Kamu tunggu disini, oke?” ucap Dean lagi. Lebih baik Akira menunggu disini dari pada ikut Dean ke mobil karena jaraknya yang cukup jauh.
Akira pun melepaskan pelukannya di tubuh Dean, membiarkan Dean pergi ke mobil sendirian. Sebelum Dean pergi ia mencium puncak kepala Akira lalu mengendarai motor tukang ojek untuk menuju ke mobilnya.
Setelah mengambil barang yang perlu dibawa, Akira dan Dean langsung meninggalkan tempat tersebut dan sekarang ia sudah sampai di sebuah Villa berkat bantuan kedua tukang ojek itu.
Dean memutuskan untuk menginap dari pada pulang ke kota dengan keadaan yang tidak memungkinkan ini. Dean memberikan kunci motor yang ia pakai membonceng Akira pada tukang ojek tersebut dan memberikan ongkos yang cukup besar pada kedua orang itu.
“Gimana, badannya masih dingin kaya tadi?” tanya Dean sambil membawa minuman susu jahe yang ia pesan pada pengurus villa sebelum orang itu pergi.
Akira bangun dari tidurnya sambil terus membekap selimut, “udah mendingan,” jawab Akira.
__ADS_1
Dean menyerahkan susu jahe tersebut dan Akira langsung menerimanya, “tadi kan aku udah bilang, kamu diam aja di dalam mobil, kenapa harus keluar sampai berjalan jauh kaya gitu?”
Akira hanya menjawab dengan mengidikan bahu sambil minum susu jahe.
“Terus kenapa tadi kamu lari-lari? Kaya orang lagi dikejar penjahat, untung aja bayinya gak kenapa-kenapa.” lanjut Dean sambil menatap Akira penuh selidik.
Akira meletakan gelas susu jahe ke atas nakas sebelah kasur, lalu kembali membaringkan tubuhnya, tidak menjawab pertanyaan Dean.
Dean hanya mengkhawatirkan kondisi anak dalam kandungan ku, tidak dengan diriku. Lalu kenapa aku harus kesal dengan hal tersebut? Dean memang hanya peduli dengan anak ini!
“Akira,” panggil Dean sambil lebih mendekat pada Akira.
“Kamu baik-baik aja, kan? “ lanjut tanya Dean.
Akira menoleh pada Dean sambil tersenyum kecil, “aku baik-baik saja,”
Dean mengangkat tangannya dan mengelus wajah Akira. Akira membelalak merasakan tangan Dean yang sangat dingin. Ia baru sadar bahwa sedari tadi Dean belum menghangatkan tubuhnya..
“Tangan Dean dingin banget,” ucap Akira sambil bangun dari tidurnya lalu menangkup wajah Dean yang memang benar-benar dingin.
“Mau ngapain?” tanya Dean saat Akira membelitkan selimut ke tubuhnya.
“Tubuh kamu dingin banget, pakai selimutnya biar hangat.”
Dean terkekeh kecil, ia naik ke atas kasur sambil membuka belitan selimut, merentangkan tubuh lalu menarik Akira masuk kedalam pelukannya. “Lebih hangat kalau pakai selimut ini,” ucap Dean sambil mengeratkan pelukannya.
Akira terkekeh kecil, ia menarik selimut menutupi tubuhnya dan tubuh Dean lalu membalas pelukan pria itu.
__ADS_1
“Dean,” panggil Akira dan dijawab dengan ber-hem saja oleh Dean.
“Apa yang sebenarnya terjadi dengan tiga tahun lalu, kenapa tahun itu seperti tahun yang buruk bagi kamu?” tanya Akira.