
Dean pulang dari rumah Akira jam setengah delapan pagi karena harus pergi ke kantor. Percakapan mereka belum membahas tentang kehamilan Akira, tetapi pagi ini Dean yakin bahwa anak yang di kandung Akira adalah anak darah dagingnya. Dan Akira juga masih sama seperti tadi malam tidak menuntut Dean untuk tanggung jawab, ia hanya menjelaskan bahwa anak itu benar-benar anaknya.
Dean menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sambil memijit dahinya, saat ini ia sedang berada di kantor karena ada rapat yang harus ia hadiri. Ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukan waktu jam makan siang. Dean menghembuskan napas lelah lalu memejamkan matanya, ia sama sekali tidak berselera untuk makan siang walaupun perutnya sudah merasa lapar.
Dari tadi pagi ia susah sekali bekerja dengan pokus, ia terus memikirkan Akira dan anak dalam kandungannya. Ini sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran Dean untuk punya hubungan serius dengan seorang wanita apalagi mempunya anak.
“Tuan Dean sudah waktunya makan siang,” ucap Ethan yang sudah berada dihadapan meja Dean. Entah kapan sekretaris sekaligus asistennya itu datang keruangannya, Dean sama sekali tidak menyadari.
“Apa masih ada pertemuan penting setelah makan siang?” tanya Dean dengan mata masih terpejam.
“Tidak ada Tuan,” jawab Ethan, pandangannya lurus menatap Dean dengan penuh tanda tanya. Ethan ingin menanyakan kenapa pria itu tidak ada di rumahnya tadi pagi saat ia ingin membangunkannya seperti biasa dan saat bertanya pada pelayan rumah ternyata Dean pergi sejak tadi tadi malam sampai pagi itu belum pulang. Dan ia ingat kembali bahwa tadi malam Dean meminta alamat rumah Akira. Apakah Tuannya itu menginap di rumah Akira? Tetapi Ethan ragu dengan kesimpulan yang ia dapatkan sendiri. tidak mungkin tuannya itu menginap dirumah Akira, ya walaupun mereka pernah tidur bersama.
Ethan yang sudah bertahun-tahun bersama Dean, sudah hafal dengan kegiatannya. Sejak kejadian mengerikan tiga tahun lalu Dean membatasi dirinya bersosialisasi dengan orang-orang diluar sana, pria itu lebih suka berdiam diri di rumah bahkan hanya keluar rumah jika ada urusan yang benar-benar sangat penting atau mendesak.
“Kalau begitu aku akan langsung pulang, sisa pekerjaan bawa saja ke rumah,” ucap Dean sambil beranjak dari kursi kebesarannya.
Ethan yang sudah mengerti hanya mengangguk, Tuannya itu memang tidak pernah mau berlama-lama berada di kantor. “Tuan, hari ini Akira tidak masuk kerja lagi. Hanya kemarin dia masuk kerja setelah beberapa hari tidak bekerja dan hari ini tidak bekerja lagi. Apakah kita harus memberikan surat peringatan?”
Ethan sebenarnya ragu ingin memberitahukan hal tersebut, tetapi mengingat bahwa Akira pernah tidur dengan Dean ia memutuskan untuk memberitahu Dean. Padahal jika Ethan ingin memberikan surat peringatan ia tidak perlu memberitahu Dean, karena Dean tidak mengurusi hal tersebut.
__ADS_1
Dean menghentikan langkahnya dan menatap Ethan sekilas lalu menghembuskan napas panjang, “Dia mengundurkan diri,” jawab Dean lalu kembali melanjutkan langkahnya.
“Kenapa saya gak tahu?” tanya Ethan cepat dengan penuh rasa penasaran, seharusnya dirinya yang terlebih dahulu tahu karena Dean memang tidak mengurusi orang-orang yang keluar masuk ke perusahaan.
“Tadi malam dia kerumah. Dan memberikan surat pengunduran dirinya,”
Kenapa Akira langsung memberikan surat pengunduran dirinya pada Dean? Diakan tahu kalau Dean tidak mengurusi hal tersebut.
“Apakah ada hal lain yang Akira sampaikan selain surat pengunduran dirinya?” tanya Ethan, ia yakin, Akira tidak mungkin repot-repot datang ke rumah Dean hanya untuk menyerahkan surat pengunduran diri. Jika hanya menyerahkan surat pengunduran diri, itu bisa lewat Ethan. Dan pasti ada sesuatu diantara Dean dan Akira sampai wanita itu langsung menemui Dean.
“Dia hamil anakku,” jawab Dean datar. Ia tidak perlu menutupi kehamilan Akira dari Ethan karena lambat laun orang terdekatnya itu pasti akan tahu hal tersebut.
Ethan yang akan membuka pintu mobil untuk Dean langsung menoleh, menatap pria itu sambil membelalak. Apakah ia benar-benar tidak salah dengar? Akira hamil anak pria di hadapannya ini? jika itu benar maka itu akan buruk sekali untuk Akira, karena mereka sama-sama tahu kelakuan Dean.
Ethan mengerjapkan matanya berkali-kali sambil berdehem mencoba mengambil kesadarannya kembali, “Apakah saya tidak salah dengar, Tuan?” tanya Ethan sambil membuka pintu mobil untuk Dean.
Dean mendaratkan pantatnya dikursi belakang dan tetap diam, tidak menjawab pertanyaan Ethan.
“Aku tidak jadi pulang kerumah, kita kerumah Akira saja,” ucap Dean ketika Ethan menghidupkan mesin mobil.
__ADS_1
“Tuan percaya kalau anak dalam kandungan Akira anak darah daging anda, Tuan Dean?” Ethan melihat Dean lewat kaca spion, pria itu mulai membuka tablet memeriksa pekerjaannya.
Dean tidak menjawab bahkan sama sekali tidak mempedulikan pertayaan Ethan, sedangkan Ethan yang tidak mendapatkan jawaban hanya menghembuskan napas pelan, tahu kalau tuannya sedang tidak ingin di ajak bicara. Pria itu sudah mulai tenggelam pada pekerjaannya sampai datang di depan rumah Akira.
“Kita sudah sampai Tuan,” ucap Ethan memberitahu, mereka hanya perlu menghabiskan setengah jam untuk sampai di rumah Akira.
Dean yang tidak sadar sudah sampai di rumah Akira, melihat ke luar jendela dan menutup tabletnya. “Kamu bisa langsung pergi,” ucap Dean saat Ethan membuka pintu mobil untuknya.
“Baik Tuan,” jawab Ethan, ia tahu kalau Dean butuh waktu berdua dengan Akira, ia berharap semoga mereka mendapatkan keputusan yang bijak untuk kehamilan Akira.
Dean berjalan ke pintu rumah Akira, rumah di depannya ini sangat sederhana tidak ada pagar yang membatasi rumah itu. tetapi rumah itu terlihat sangat terurus bahkan ada beberapa tanaman hias di teras. Dean heran, kapan wanita itu punya waktu untuk mengurusi tanaman tersebut karena pekerjaan di perusahaannya sangat menyita waktu, bahkan di hari minggu pun perusahaan Dean tetap ramai oleh para pegawai yang mengurusi pekerjaan yang belum beres. Ah, pekerjaan di perusahaan Dean memang tidak pernah ada beres-beresnya. Satu pekerjaan selesai maka tiga pekerjaan menunggu.
Apakah gaji yang Akira dapatkan sangat kecil? Dia bisa beli rumah yang lebih bagus dan besar dari gaji yang dia dapatkan apalagi dia menduduki posisi sebgai seketaris. Batin Dean bertanya-tanya. Gaji yang Akira dapatkan dari perusahaannya bukan gaji main-main, bahkan karyawan yang hanya staf biasa saja bisa menyewa Apartemen yang bagus.
Entahlah sejauh ini Dean belum bisa menebak jalan pikiran wanita itu, dan yang anehnya lagi wanita itu tidak mengemis-ngemis minta pertanggung jawaban atas kehamilannya, itu yang membuat Dean sangat merasa heran.
Dimana-mana wanita hamil pasti minta pertanggung jawaban, tetapi Akira?..
Dean masuk kerumah Akira tanpa mengetuk pintu, ia sadar ini sangat tidak sopan tapi ia sedang malas mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu dan mengeluarkan suara memanggil Akira. Ketika ia masuk, ia langsung di sambut oleh aroma masakan yang sangat memanjakan indra penciumannya. Dean baru ingat kalau ia belum makan siang, perutnya tiba-tiba berbunyi menandakan ia butuh segera diisi.
__ADS_1
“Kamu masak apa?” tanya Dean mengagetkan Akira yang sedang membolak-balikan masakannya.
Akira melonjat kaget, tiba-tiba mendengar suara lelaki. Ia menoleh ke arah samping, "Tuan Dean."