
“Tapi sebelum membahas pernikahan kita, ada beberapa pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Termasuk tentang keluargamu, Akira, yang sampai saat ini aku sama sekali tidak tahu tentang kedua orang tuamu. Tapi sebelum bertanya tentang itu, aku ingin menanyakan tentang pria yang kita temui saat di Angkringan. Siapa Nando?” tanya Dean.
Akira tidak langsung menjawab pertanyaan Dean. Ia pamit untuk pergi mandi terlebih dahulu karena badannya yang seharian berada di luar terasa sangat lengket. Akira bukan menghindar dari pertanyaan Dean, ia akan menjawab semua pertanyaan yang Dean ajukan tapi setelah ia merasa nyaman dengan kondisi tubuhnya.
Dan Dean pun tidak memaksa, ia membiarkan Akira untuk mandi, sedangkan dirinya kembali fokus pada layar laptopnya.
Setelah Akira mandi mereka makan malam bersama. Tidak ada obrolan penting ketika mereka makan hanya menanyakan kabar masing-masing selama dua hari kemarin.
“Tuan Dean nggak mandi dulu?” tanya Akira setelah membereskan bekas makan mereka berdua. Biasanya sebelum makan malam Dean akan mandi terlebih dahulu tapi sekarang sudah makan malam pun Dean belum juga membersihkan tubuhnya.
Dean menggelengkan kepala, “aku mandi di rumah saja.” Jawabnya sambil kembali duduk di ruang tamu.
Akira hanya mengangguk kecil lalu ikut duduk di sofa yang berbeda dengan Dean.
“Kenapa?” tanya Dean yang melihat Akira memukul-mukul pelan paha dan betisnya.
“Kenapa apa?” tanya balik Akira, tidak mengerti arah bicara Dean.
“Kenapa mukul-mukul paha dan betis kaya gitu? Pegel?”
Akira tersenyum kecil sambil mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
Dean menghela napas pelan. “Sini,” ucap Dean sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.
Akira menurut, pindah duduk ke samping Dean. Lau dengan pelan Dean menyerongkan tubuh Akira dan mengangkat kedua kaki Akira ke atas pahanya.
“Tuan Dean mau ngapain?” tanya Akira kaget sambil mencoba menurunkan kakinya kembali namun ditahan oleh tangan kekar Dean.
“Katanya pegel, aku pijitin.” Jawab Dean sambil mulai memijit sebelah kaki Akira, namun dengan cepat Akira menahan tangan Dean.
Dean menghela napas panjang lalu menatap Akira dengan mengintimidasi, yang membuat Akira menelan salivanya lalu menyingkirkan tangannya yang menahan tangan Dean. Dan Dean kembali memijat kaki Akira.
“Tuan Dean gak perlu berbuat kaya gini, aku udah nggak pegel lagi kok!” Akira tidak enak di perlakukan seperti sekarang ini walaupun ada sedikit kebahagian dihati Akira mendapat perlakuan seperti itu, di tambah pijatan Dean yang enak.
Selama beberapa saat mereka hanya diam, tidak ada yang memulai obrolan. Namun di dalam otak dan hati Dean tidak diam seperti mulutnya yang tertutup rapat. Ada sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya saat tangannya memijat di bagian paha Akira.
Saat ini Akira memakai celana panjang sampai mata kaki, selama Dean bersama dengan Akira ia tidak pernah lihat Akira memakai celana pendek semacam hot pants atau celana pendek di atas lutut kecuali pernah dua kali saat Akira bangun tidur dan keluar dari kamar mandi, itu pun karena ia yang muncul tiba-tiba di rumah Akira. Lebih dari itu Dean tidak pernah lagi melihat Akira memakai celana di atas lutut.
Walaupun seperti itu tidak membuat pikiran kotor Dean berkurang. Entah kenapa, ia selalu berhasrat ingin menyentuh Akira saat melihat wanita itu, apalagi sekarang tubuh Akira bertambah berisi di bagian-bagian tertentu membuat tangan Dean merasa gatal ingin menjamah tubuh Akira.
Akira yang selalu berpakaian tertutup saja bisa membangkitkan pikiran liar Dean apalagi jika Akira memakai pakaian seperti kebanyakan perempuan diluar sana, yang ketat memperlihatkan lekukan tubuh mereka. Mungkin bisa membuat Dean sesak napas melihatnya.
Tapi hasrat seperti itu hanya ketika melihat Akira. Setiap hari Dean melihat wanita di luar sana memakai pakaian seksi, namun tidak membangkitkan hasrat Dean seperti melihat Akira. Apalagi saat di kantor, banyak wanita bertebaran di kantor memakai rok di atas lutut dan baju ngepas yang menjadi pemandangan mata Dean hampir setiap harinya, namun tetap saja tidak sedikitpun terbesit di hati Dean untuk menyentuh mereka.
__ADS_1
Seperti malam dua hari kemarin, saat Dean memutuskan memanggil wanita sewaan karena dirinya yang tersiksa oleh hasrat yang sudah menggebu-gebu ingin mendapat kepuasaan. Tapi saat wanita sewaan itu membuka baju, bertelanjang di hadapan Dean, tiba-tiba hasrat yang sudah di ujung tanduk itu menghilang tak berbekas dan meninggalkan rasa jijik terhadap wanita panggilan itu.
Bahkan inti tubuh Dean langsung layu di dalam celana, tidak lagi meronta-ronta ingin di puaskan. Dean kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi pada tubuhnya. Karena hasratnya yang sudah hilang entah kemana, Dean tidak jadi melakukan hubungan badan dengan wanita itu, tetapi tetap bersikap profesional dengan membayar wanita panggilan itu sesuai tarif yang sudah ditentukan.
Pada malam berikutnya Dean kembali memanggil wanita sewaan karena ia masih penasaran dengan dirinya yang tidak biasa seperti itu. Walaupun awalnya Dean tidak terlalu bergairah pada wanita sewaan tapi ketika wanita sewaan itu sudah dalam keadaan telanjang biasanya gairah Dean selalu terpancing. Tapi lagi-lagi Dean tidak tertarik. Bahkan ketika Dean meminta wanita panggilan itu menari sensual yang bisa membangkitkan hasrat lelaki, ia tetap tidak bergairah sedikitpun, justru Dean merasa jijik luar biasa hingga ia mual lalu muntah.
Ya, karena sudah terlalu jijik hingga di luar batas Dean muntah- muntah ketika wanita itu sedang menari. Wanita sewaan itu terheran-heran dengan Dean yang tiba-tiba lari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Ketika wanita sewaan itu ingin menyentuh Dean, pria itu langsung menepis kasar tangan si wanita dan menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan rumahnya ini.
Dean kembali dilanda rasa bingung terhadap dirinya. Kenapa dirinya menjadi seperti pria impoten yang sama sekali tidak bereaksi terhadap wanita, sekalipun wanita itu dalam keadaan telanjang. Dan lebih parahnya lagi Dean seperti pria yang sama sekali tidak menyukai lawan jenis. Bukankah pria yang tidak suka dengan lawan jenis akan merasa jijik jika berdekatan wanita?
Malam selanjutnya Dean kembali memanggil wanita sewaan, namun kali ini ia meminta wanita yang sama sekali belum pernah disentuh oleh pria manapun, semacam wanita yang masih perawan dan tubuhnya belum terjamah oleh pria.
Walaupun sang bos tempat penyedia wanita panggilan mengeluh dengan permintaan Dean yang cukup sulit tapi dia bisa mengabulkan permintaan Dean, karena Dean menawarkan uang yang sangat besar jika sang bos bisa menuruti kemauannya.
Dean pikir ia merasa jijik dengan dua wanita kemarin karena dua wanita itu sudah terlalu sering tidur dengan banyak pria jadi kemungkinan itu yang membuat dirinya merasa jijik. Dan ia ingin mengetes kembali dirinya. Apakah dengan wanita yang belum disentuh oleh pria manapun ia akan tetap merasa jijik.
Dan ternyata Dean tetap merasa jijik, hasratnya sama sekali tidak muncul walaupun wanita itu sudah telanjang bulat di hadapannya dengan sikap malu-malu. Dean yang tidak ingin kembali muntah seperti kemarin malam langsung menyuruh wanita itu pergi dan memberikan uang sesuai kesepakatan awal.
Wanita sewaan itu sangat terkejut dengan sikap Dean, dia kira malam itu ia akan kehilangan kesuciannya tapi justru ia mendapatkan uang yang sangat banyak. Dan Dean bisa melihat kebahagiaan di mata wanita sewaan itu ketika ia mengatakan bahwa ia tidak jadi meniduri wanita itu. Sepertinya wanita panggilan itu adalah wanita baik-baik yang terpaksa bekerja komersial. Setelah Dean menyuruhnya pergi wanita itu dengan cepat kembali memakai bajunya dan meninggalkan rumah mewah Dean dengan perasaan yang sangat bahagia.
Dean semakin merasa bingung terhadap dirinya, ia tidak menemukan titik terang kenapa dirinya menjadi seperti itu. ia tiba-tiba menjelma seperti pria yang tidak menyukai lawan jenis. Namun yang lebih anehnya lagi ketika ia memikirkan Akira, hasratnya kembali bangkit. Bukankah itu sangat aneh?
__ADS_1