Aku Milikmu

Aku Milikmu
Ungkapan Cinta IV


__ADS_3

Dean melepaskan lingkaran tangannya di pinggang Akira mendengar jawaban wanita itu. ia sadar bahwa perbuatannya memang tidak pantas untuk dimaafkan. Namun Akira tidak beranjak dari pangkuan Dean dan meneruskan ucapannya. “Apalagi ketika beberapa lagi kita menikah, kamu malah kembali tidur dengan para wanita komersial. Mungkin hal itu lebih menyakitkan daripada kamu menuduh aku ingin menghancurkan hidupmu dan mengurungku beberapa hari di apartemen ini.” Akira menjeda ucapannya dan menghela napas, kejadiaan itu meninggalkan rasa sakit hati yang masih membekas di hati Akira. “Di tambah lagi saat itu aku juga kehilangan bayiku, rasa sakitnya benar-benar luar biasa.”


“Aku tahu maaf saja tidak cukup untuk semua rasa sakit yang aku berikan padamu, Akira, tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku benar-benar tidak tidur dengan wanita komersial itu setelah aku menjalin hubungan dengan kamu. Aku memang memanggil mereka tapi aku tidak melakukan apapun, bahkan menyentuh kulit mereka saja tidak!”


Akira menarik napas dalam-dalam lalu bangkit dari pangkuan Dean. “Rasanya tidak mungkin kamu tidak menyentuh mereka tapi sampai memanggil mereka tiga kali. Atau kalau aku gak tahu, kamu pasti akan memanggil mereka lagi.” Ucap Akira sambil berjalan ke dapur dan menuangkan segelas air. “Kamu mencari pelampiasan karena aku selalu menolak ketika kamu meminta hal itu.” lanjut Akira setelah satu gelas air putih masuk ke dalam mulutnya.


Dean sadar di antara dirinya dan Akira banyak sekali kesalahpahaman terjadi dan sekarang adalah waktunya untuk meluruskan semua.


Dean ikut bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Akira yang sedang bersandar di kitchen island. Ia berdiri tegak di hadapan Akira seraya berkata. “Lihat mataku, Akira... cari dimana letak kebohonganku  dalam ucapan ini. ‘Aku BERSUMPAH, Aku sama sekali tidak menyentuh tubuh wanita-wanita itu apalagi melakukan hubungan badan. Aku hanya melihat tubuh telanjang mereka tanpa berbuat apapun.” Ucap Dean tegas sangat serius dan Akira mendapati Dean sama sekali tidak berbohong, namun masih ada sesuatu yang masih mengganjal.


“Lalu untuk apa kamu memanggil mereka jika hanya untuk melihat tubuh telanjang?”


“Seharusnya kamu menanyakan pertanyaan itu ketika kamu di rumah sakit, jadi kesalahpahaman ini tidak akan berlarut sampai hari ini.” jawab Dean.


Akira mengerutkan kedua alisnya, tidak terima dengan ucapan Dean. “Dan seharusnya kamu juga menjelaskan hal itu dengan rinci, memberikan alasan kenapa kamu memanggil mereka!! bukan hanya bercerita memanggil mereka dan tidak menyentuh mereka sedikitpun. Wanita manapun tidak akan percaya dengan penjelasan tersebut, apalagi dengan bukti kalau kamu sudah memanggil mereka tiga kali!!” balas Akira sengit, mulai terbawa emosi.


“Kenapa kamu tertawa, Dean?” tanya Akira melihat Dean tertawa renyah sambil berjalan kembali ke ruang tengah dan duduk di atas sofa. Lalu Akira menyusul Dean, duduk berjauhan dari pria itu.


“Aku belum pernah melihat kamu berbicara seemosi itu, Akira. biasanya kamu akan berbicara dengan tenang tanpa menunjukan emosi apapun, tapi aku suka melihat kamu berbicara seperti itu, menandakan bahwa tidak ada lagi batas di antara kita.” Dean tersenyum lebar menoleh pada Akira.


“Beberapa hari yang lalu juga aku berbicara penuh emosi seperti ini, bahkan lebih-lebih dari ini!” jawab Akira mengingat pertama kali hari ia diculik oleh Dean.

__ADS_1


Dean terkekeh pelan sambil menggelengkan kepala. “Itu beda, kalau ini seperti emosi yang dilatarbelakangi oleh rasa cemburu. Seperti wanita yang sedang cemburu mengetahui pasangannya bertemu dengan wanita lain.”


“Kamu salah menilai, aku sama sekali tidak cemburu, aku hanya sedang minta penjelasan!”


Dean tersenyum lebar sambil menarik pelan tubuh Akira yang duduk berjauhan dengan dirinya, ia memeluk tubuh Akira dan menghujani wajah Akira dengan ciuman, sedangkan Akira hanya diam sampai pria itu berhenti mencium seluruh wajahnya. Tingkah Akira yang seperti itu sudah seperti wanita yang sedang merajuk. “Aku rasa sudah tidak perlu lagi penjelasan tersebut, lagi pula hubungan kita sudah seperti ini.” maksud Dean ‘seperti ini’ adalah mereka sudah melakukan hubungan intim yang tidak perlu lagi mempersoalkan kejadian masa lalu yang sudah tidak ada kesalahpahaman.


Akira menoleh pada Dean, “kamu belum menjelaskan alasan kenapa kamu memanggil mereka?” tanya Akira menuntut.


“Aku takut kamu kecewa dengan jawaban ini, Akira.” jawab Dean dengan wajah yang dipaksa menjadi lesu tidak semangat.


“Ceritakan!! Atau aku akan menganggap kamu benar-benar tidur dengan wanita-wanita itu!” balas Akira dengan tegas.


Dean menghela napas, sebenarnya ia tidak ingin memberitahu hal tersebut pada Akira. Ia tidak ingin terlalu menunjukan bahwa dirinya sudah terlalu mencintai wanita itu. Dean takut Akira menjadi semena-mena karena dirinya yang terlalu mencintai. Apalagi mengingat belum ada ungkapan cinta dari mulut Akira.


“Ayo ceritakan!!” ulang Akira karena Dean masih terdiam belum menjawab.


Dean kembali menghela napas, melepaskan tangannya yang melingkar di tubuh Akira dan menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, “Aku hanya ingin memastikan bahwa aku masih pria normal, tapi ternyata aku sudah tidak normal, Akira.” jawab Dean sambil menatap langit-langit rumah.


Akira mengerutkan dahi, tidak mengerti maksud pria itu. “Apanya yang tidak normal?”


Dean menoleh pada Akira, “Otongku tidak bisa berdiri melihat tubuh wanita lain selain melihat tubuh kamu, Akira!”

__ADS_1


Akira semakin mengerutkan dahi, masih belum mengerti. “Jelaskan dengan jelas, Dean, aku masih tidak mengerti maksud kamu?!”


Dean menegakkan punggungnya dan duduk menyerong ke arah Akira, “Ketika aku memanggil wanita-wanita panggilan itu,  benda dibawah celanaku ini sama sekali tidak bisa hidup atau berdiri, aku bahkan merasa jijik pada tubuh mereka sampai aku muntah-muntah. Awalnya mungkin karena aku menganggap tubuh mereka sudah dijamah banyak pria jadi aku tidak berminat.” Dean menjeda ucapannya, memperhatikan wajah Akira yang sangat serius mendengar penjelasannya dan hal itu terlihat menggemaskan dimata Dean. Tanpa permisi Dean mengecup bibir Akira, membuat wanita itu melotot dan melayangkan satu pukulan di lengan atas Dean.


“Lagi cerita juga, masih sempet-sempetnya kepikiran cium bibir aku. Orang lagi serius!” ucap Akira sedikit kesal dan kembali melayangkan satu pukulan di tempat yang sama.


Dean hanya tertawa ringan lalu melanjutkan penjelasannya. “Dan yang ketiga kalinya aku meminta wanita yang sama sekali belum disentuh para pria, alias wanita perawan, tapi tetap saja aku tidak berminat walaupun tubuh wanita itu sangat menggiurkan mata.  Aku benar-benar seperti pria impoten ketika bersama wanita lain tapi kalau dekat-dekat kamu aku seperti menjadi pria yang paling mesum di dunia ini.” Dean berhenti sesaat dan jari telunjuknya menunjuk benda di balik boxer yang sejak awal Dean melihat Akira berdiri  di depan jendela sudah berdiri tegak. “Kamu lihat sendiri, kan, buktinya. Dari tadi dia sama sekali tidak bisa di tidurkan.”


Sebenarnya dari tadi Dean menahan diri untuk tidak memakan wanita di hadapannya itu. Ia tahu Akira pasti merasa lelah karena mereka melakukannya lebih dari sekali dan suasana hening sekaligus damai seperti saat ini sangat sayang jika di pakai untuk berhubungan intim. Dean tidak ingin Akira berpikiran yang tidak-tidak tentang dirinya yang terus meminta berhubungan intim lagi. Jadi sekuat mungkin Dean menahan dirinya walaupun di bawah sana rasanya sangat tidak nyaman.


Akira mengikuti arah telunjuk Dean dan langsung membuang muka ke arah lain setelah melihat sesuatu yang begitu berdiri tegak. Sebenarnya ketika Dean memeluknya dari arah belakang, Akira sudah menyadari hal tersebut tapi ia mengabaikannya.


“Sekarang kamu percaya, kan, kalau aku sama sekali gak bohong?”


Akira hanya menjawab dengan menganggukkan kepala tanpa melihat ke arah Dean.


“Dan sekarang giliran kamu, Akira. Kamu belum menjawab pertanyaan aku kemarin sore. Apa jawaban kamu atas ungkapan perasaanku? Kamu belum menjawabnya sama sekali!” tanya Dean dengan serius, menatap lurus pada Akira.


Akira menundukan wajahnya, terdiam beberapa saat. Sampai sekarang ia belum juga menemukan kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Dean. “Aku tidak tahu, Dean.” jawab Akira membuat hati Dean ketar ketir tidak jelas, ada sesuatu yang Dean takutkan di dalam hatinya.


____________

__ADS_1


Apakah cinta Dean bertepuk sebelah tangan? wkwkwk... Makasih buat kalian yang masih setia baca cerita ini, semoga sehat selalu :)


__ADS_2