
Setelah beberapa menit tertidur Dean kembali membuka matanya, ia terbangun karena orang yang tidur di sampingnya terus membolak balikan tubuhnya membuat tubuh Dean tidak nyaman dengan pergerakan tersebut.
Dean menengok ke arah Akira dengan mata yang sangat mengantuk, “kamu belum tidur?” tanya Dean lirih.
“Gak bisa tidur,” jawab Akira sambil membelakangi Dean.
“Kenapa? Gak nyaman aku tidur di samping kamu? Kalau gak nyaman aku tidur di ruang tamu aja biar kamu bisa tidur dengan nyaman.” Dean menyingkapkan selimut dan beranjak untuk turun dari kasur tapi Akira langsung membalikan tubuhnya menghadap Dean dan menahan ujung baju kaos pria itu.
“Di ruang tamu banyak nyamuk,” ucap Akira.
“Gak apa-apa, yang penting kamu bisa tidur. Kasihan dedek bayinya butuh istirahat.”
Akira mengerucutkan bibirnya, ia merasa tidak senang Dean terus mengkhawatirkan bayi dalam kandungannya. Dari semenjak ia akan pergi ke angkringan yang dikhawatirkan Dean hanya bayinya saja tanpa mengkhawatirkan diri Akira dan itu seolah-olah Dean hanya memperdulikan sang bayi.
Apa yang kamu pikirkan Akira? Wajar saja kan kalau Tuan Dean hanya mengkhawatirkan anaknya sendiri, karena pria itu ada disini juga karena bayi dalam kandungan kamu bukan karena diri kamu. Kamu jangan terbuai dengan semua perhatian yang Tuan Dean berikan, karena perhatian itu hanya untuk darah dagingnya sendiri bukan untuk kamu. Jangan berharap apapun dari manusia, Akira. Kamu tahu betul bagaimana kecewanya menaruh harapan pada manusia. Batin Akira
“Aku gak bisa tidur bukan karena Tuan Dean di samping aku kok,” jawab Akira, “jadi Tuan Dean gak perlu pindah tempat tidur.”
Dean menatap Akira dengan mata sayu, “terus kenapa kamu gak bisa tidur?”
“Ya gak bisa tidur aja,” jawab Akira asal sambil bola matanya menatap ke arah lain. Ia juga tidak tahu apa penyebab dirinya dari tadi tidak bisa memejamkan mata.
Dean menghela napas lalu kembali merebahkan tubuhnya. “Aku pernah baca di salah satu artikel, katanya semakin perut ibu hamil membesar maka akan semakin sulit mencari posisi tidur yang nyaman. Mungkin kamu sekarang sedang mengalami hal tersebut walaupun perutnya masih kelihatan rata,” ucap Dean.
“Ya terus apa hubungannya hal itu sama peluk aku?” tanya Akira karena saat ini ia sudah berada di dalam pelukan Dean.
Dean tersenyum kecil, “karena solusi untuk membuat tidur ibu hamil nyaman yaitu dengan cara di peluk oleh sang suami sambil mengusap punggungnya atau mengusap perutnya, seperti harus di kelonin dulu baru bisa tidur. Jadi mungkin kamu juga harus dikelonin dulu biar bisa tidur.” Jawab Dean yang sudah memejamkan mata dan mengelus punggung Akira dengan lembut.
“Tapi kamu bukan suami aku,” elak Akira.
__ADS_1
“Bentar lagi juga aku jadi suami kamu, masa percobaan aku tinggal seminggu lagi dan aku nggak melanggar semua persyaratan kamu.”
“Memangnya Tuan Dean beneran mau nikah sama aku?”
“Di perut kamukan ada anak darah daging aku, Akira, ya masa aku gak nikahin kamu.”
Kenapa aku gak suka dengan jawaban itu, padahal jawabannya sangat benar? Tuan Dean gak mungkin mau menikah denganku jika aku tidak mengandung anaknya, dan jika saat ini bukan aku yang mengandung anak Tuan Dean, pasti Tuan Dean juga akan menikah dengan wanita itu.
Oh Akira, kenapa kamu jadi begini? Kenapa kamu mengharapkan jawaban lain dari pertanyaan kamu tadi.? Aku yakin ini mungkin bawaan ibu hamil, wanita hamil kan perasaannya lebih sensitif jadi mungkin aku hanya terbawa perasaan saja atas semua yang telah dilakukan Tuan Dean padaku. Setelah kehamilan pasti perasaanku akan seperti biasa lagi. Ya, aku yakin itu.
Akira sedikit menggerakan tubuhnya mencari posisi lebih nyaman di pelukan Dean seraya berkata. “Berarti kalau saat ini wanita lain berada di posisiku mengandung anak Tuan Dean, Tuan Dean akan menikah dengannya?” tanya Akira, walaupun ia sudah menduga jawabannya tapi hatinya berharap Dean menjawab dengan jawaban yang akan membuat hati Akira bahagia.
“Ya kenapa tidak? Walaupun aku tidak pernah berharap menjadi ayah, aku tidak akan menelantarkan anak darah dagingku sendiri.” jawab Dean.
Tuh kan, apa aku bilang? Tuan Dean menikah denganku hanya karena anak dalam kandunganku ini! Ya ampun Akira, kenapa kamu jadi begini sih?
Akira tidak mengatakan apapun lagi. Daripada perasaannya menjadi kacau karena fakta yang sangat benar ia lebih memilih memejamkan mata mencoba tidur sekaligus menghirup aroma tubuh Dean yang begitu nyaman di indra penciumannya.
Sekarang tidur kedua manusia itu sama-sama merasakan kenyamanan, sama-sama terlelap dalam mimpinya yang indah.
**
“Akira,” Dean berteriak dari dalam dalam kamar.
“Iya kenapa?” jawab Akira dengan berteriak juga karena saat ini ia sedang berada di dapur menyiapkan sarapan bersama salah satu pelayan yang ditempatkan di rumah Akira oleh Dean.
“Dasiku dimana, kok gak ada satupun di dalam lemari.?” Teriak Dean lagi.
Akira mengernyitkan dahi, lalu menoleh pada Aya, sang pelayan. “Mbak Aya aku tinggal dulu ya,” ucap Akira sambil tersenyum dan Aya hanya mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
“Tuh, gak ada satupun dasiku di lemari,” ucap Dean ketika Akira masuk kedalam kamar sambil menunjuk ke dalam lemari. Saat ini Dean belum memakai baju, masih memakai handuk yang melilit rendah di pinggangnya dan Akira harus pura-pura bersikap biasa saja melihat pemandangan yang begitu menggiurkan mata.
Ini semua gara-gara hormon kehamilanku, biasanya aku tidak peduli dengan tubuh pria sebagus apapun tapi kenapa sekarang Tubuh Dean begitu menggoda untuk di raba? Rasanya tangan ini ingin menyentuh dan mengusap setiap jengkal tubuh pria itu. Oh Ya Tuhan, sepertinya otakku sudah sedikit bergeser gara-gara hormon kehamilan. batin Akira.
Akira menghela napas pelan dan berjalan lebih dekat pada Dean. “Kalau gak salah Tuan Dean nyimpen dasi di rumahku cuma tiga. Dua dasi masih di jemuran dan satunya lagi belum dicuci, masih di mesin cuci tuh.”
Dean menghela napas berat sambil berdecak pinggang, ia ingat jika ia memang hanya menyimpan dasi di rumah Akira cuma tiga biji. “Sekarang aku ada meeting penting sama klien, Ethan suka marah kalau aku gak berpenampilan Formal” rancau Dean.
“Coba aku cek dulu di jemuran mungkin sudah kering, Tuan Dean pakai baju dulu aja sambil nunggu dasinya,” ucap Akira. Ia tidak tega membiarkan Dean kebingungan dan pria itu juga tidak mungkin harus pulang ke rumahnya untuk mengambil dasi karena sekarang sudah hampir jam sembilan pagi. Ditambah pria itu ada meeting penting.
Ya, tadi Akira dan Dean sama-sama bangun kesiangan, karena terlalu tidur nyenyak mereka baru bangun jam setengah sembilan. Mereka bangun setelah mendengar beberapakali ketukan pintu di luar rumah sambil terus meneriaki nama Akira, ternyata itu adalah Aya, pelayan yang selalu datang ke rumahnya setiap jam 8 pagi.
“Gak usah deh, aku beli aja nanti yang baru,” tolak Dean, tidak ingin membiarkan Akira kerepotan.
“Memangnya jam segini udah ada toko yang buka?”
Dean terdiam beberapa saat, tidak yakin juga jam sembilan sudah ada toko yang buka.
“Biar aku cek dulu di jemuran, semoga aja dasinya sudah kering.” Akira berjalan keluar kamar meninggalkan Dean dengan perasaan yang tidak menentu.
Setelah Akira menutup pintu sebuah senyuman terbit di bibir Dean, entah ia merasa senang saja diperlakukan seperti barusan. Padahal jika di pikir-pikir tidak ada yang spesial, iya kan?
“Kalau nanti aku dan Akira sudah resmi jadi suami istri mungkin setiap harinya akan seperti ini. Tidur dengan nyaman sambil berpelukan, bangun tidur dengan suasana hati senang, setiap pagi Akira akan mengurus semua keperluanku dan ketika aku pulang kantor aku tidak akan kesepian karena nanti ada Akira dan anak kami di rumah.” Dean tersenyum membayangkan hal tersebut.
Dulu ia pernah membayangkan hal bahagia tersebut dengan seorang wanita yang telah menghancurkan kehidupannya, hingga membuat Dean tidak pernah ada niatan untuk menikah apalagi membina sebuah rumah tangga. Tapi setelah melewatkan hari-hari bersama Akira, tiba-tiba bayangan keluarga yang membahagiakan kembali terbayang di pikiran Dean.
Keinginan mempunyai keluarga bahagia kembali hadir di hati Dean walaupun keinginan itu belum terlalu kuat.
“Apakah aku akan mempunyai keluarga yang bahagia seperti yang aku bayangkan? Aku tidak ingin terlalu berharap karena biasanya sesuatu yang aku harapkan selalu berakhir mengecewakan. Seolah-olah Tuhan tidak ingin membiarkan aku hidup bahagia,” ucap Dean dengan nada sendu.
__ADS_1
Dari dulu apa yang diinginkan nya tidak pernah terwujud, semua yang ia perjuangkan selalu berujung menjadi kesia-sian, dan keinginan untuk punya keluarga yang bahagia Dean tidak terlalu mengharapkannya. Ia takut kembali mendapatkan kekecewaan.