
Akira menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi sambil menyentuh tanda-tanda merah sepanjang lehernya hingga dada. Setelah kejadian di Puncak dua minggu lalu, Dean menjadi lebih agresif dan ganas. Setiap bertemu pasti selalu terjadi ciuman panas yang hampir menghilangkan akal sehat. Ya, untung saja Akira punya daya kontrol diri yang kuat hingga tidak sampai kebablasan melakukan hubungan intim.
Seperti kemarin sore ketika ia dan Dean pergi ke butik baju pengantin. Akira beberapa kali mencoba baju pengantin untuk mencari yang cocok dengan dirinya, ah, lebih tepatnya yang cocok untuk Dean. Karena beberapa kali pria itu meminta Akira mencoba banyak gaun pengantun. Jujur saja Akira merasa malu ketika mencoba gaun jenis Strap wedding Dress, dengan bagian bahu dan atas dada terbuka., dimana dibagian tersebut banyak sekali tanda merah yang dibuat Dean.
Walaupun saat itu hanya ada dua pegawai wanita dan satu manajer butik yang menemani tapi Akira merasa seperti di tonton ribuan orang, apalagi ketika ketika ketiga orang itu terlihat kaget melihat tanda merah yang bisa dibilang cukup banyak. Mungkin mereka mengira ia dan Dean telah melakukan hubungan intim yang begitu dahsyat hingga meninggalkan tanda yang begitu banyak, padahal yang sebenarnya tidak seperti itu.
Sungguh Akira merasa sangat malu, bukan malu karena memakai gaun tersebut tapi karena tanda merah di sekitar bahu dan dadanya yang sudah seperti kulit macan tutul. Ditambah ketika Dean meminta ketiga orang itu pergi meninggalkannya lalu menyeret diri Akira masuk kedalam ruang ganti.
Akira menghela napas pasrah, apalagi yang di mau Dean menyeretnya ke dalam ruang ganti jika bukan melakukan adegan ciuman panas sambil tangannya bergerilya di sekujur tubuh Akira. Tapi untungnya sampai saat ini Akira dan Dean belum sampai ke hubungan intim, begitupun saat dua minggu lalu di puncak.
Padahal waktu di puncak Akira hampir benar-benar menyerahkan dirinya pada Dean, bahkan tubuhnya dan tubuh Dean sudah telanjang bulat, tinggal satu langkah lagi ia dan Dean akan berhubungan intim, namun ternyata keberuntungan belum memihak pada Dean. Ketika sedang panas-panasnya suasana di dalam kamar tiba-tiba ada telepon yang masuk ke ponsel Dean.
__ADS_1
Awalnya Dean dan Akira tidak mempedulikan dering telepon tersebut karena sudah terlalu terperosok jauh ke dalam kenikmatan, hingga tidak mempedulikan hal apapun yang ada di sekitar. Tetapi karena telepon itu terus berdering, membuat kesadaran Akira kembali muncul ke permukaan dan Akira pun meminta Dean untuk mengangkat telepon tersebut.
Awalnya Dean tidak mempedulikan perintah tersebut tapi karena Akira yang terus menghindar dari sentuhannya, membuat Dean terpaksa mengangkat telepon tersebut.
Dean bersumpah dalam hatinya, ia akan membuat orang yang menelpon itu menyesal seribu kali lipat karena telah mengganggu kenikmatan yang didapatkan dengan susah payah. Sekalipun itu Ethan yang menelpon, Dean tidak akan segan-segan membuat perhitungan yang amat menyengsarakan.
Dan ternyata yang menelpon adalah dari pihak bengkel, yang menanyakan posisi mobil Dean yang akan diperbaiki. Sebelum Dean dan Akira makan malam, ia meminta tolong pada penjaga villa untuk mencari bengkel yang bisa memperbaiki ban mobilnya yang kempes lalu memberikan kartu namanya untuk informasi lebih lanjut.
Sungguh, Andai saja tidak ada Akira di sampingnya, Dean sudah mengumpat tukang bengkel itu habis-habisan. Dean menjawab semua pertanyaan tukang bengkel itu sambil menggeram menahan kesal yang amat tak terbendung. Sungguh, ia ingin sekali mematahkan leher tukang bengkel itu jika ada di hadapannya.
Dan ternyata yang ditakutkan Dean benar-benar terjadi, Akira kembali menjadi wanita waras ketika Dean selesai berteleponan dengan tukang bengkel sialan itu.
__ADS_1
Ingin sekali ia berteriak frustasi saat itu juga, namun ia tahan dan hanya terbaring lemas di samping Akira, tidak memohon melanjutkan aksi panas mereka atau menggoda kembali wanita itu, karena ia sudah yakin Akira akan menolaknya untuk berhubungan intim.
Tetapi siapa sangka, setelah beberapa saat mereka saling terdiam, Akira memeluk tubuh Dean, dimana keadaan tubuh mereka masih dalam keadaan tanpa busana. Lalu Akira membisikan sesuatu yang Dean tak yakin jika itu Akira yang berbicara. “Aku bantu puasin pakai tangan aku ya.” Itulah yang dibisikkan Akira dengan lembut di telinga Dean.
Akira tidak tega melihat wajah Dean yang murung seperti anak kecil yang kehilangan balonnya akibat meletus. Apalagi saat melihat inti tubuh pria itu yang masih tegang sempurna. Jadi Akira putuskan untuk membantu Dean, setidaknya mengurangi ketegangan di inti tubuh Dean.
Dan akhirnya malam itu mereka saling memuaskan dengan tangan satu sama lain. Akira membantu dengan mengocok milik Dean, sedangkan Dean memasukan dua jari ke inti tubuh Akira. Walaupun hanya di puaskan oleh tangan tapi mereka mendapatkan puncak kepuasan yang amat nikmat. Dan terbangun di pagi hari dengan perasaan puas serta malu-malu kucing dengan rona merah di pipi masing-masing.
Setelah kejadian itu Dean menjadi lebih berani, tidak sungkan-sungkan mencium Akira dengan panas setiap kali bertemu, namun Akira semakin mengetatkan alarm keamanan pada dirinya, tidak membiarkan dirinya terlena dengan segala godaan yang Dean berikan. Walaupun Akira merasa tersiksa tapi otak warasnya masih berjalan dengan lancar, hingga ia tidak pernah membiarkan Dean bermain sampai ke area inti tubuhnya, cukup saat di puncak tangan Dean bermain di inti tubuhnya.
Untuk sejauh ini Dean hanya bermain di bagian atas tubuh Akira, itupun jika otak waras Akira sedikit berkurang. Jika Akira dalam keadaan sadar penuh, ia hanya melakukan ciuman panas dengan Dean. Dan satu hal yang membuat Akira sangat bersyukur yaitu, Dean tidak pernah memaksa jika ia sudah menolak. Ya, Akira sangat bersyukur dengan hal itu karena tidak perlu ada adegan marah-marah seperti waktu pertama.
__ADS_1
Akira menghela napas sambil menggelengkan kepala, lalu mengambil handuk yang menggantung dan melilitkannya di tubuh. Sudah cukup ia memperhatikan tanda merah di sekitar dada dan lehernya karena selama apapun ia memperhatikan tanda merah itu tidak akan tiba-tiba hilang di kulitnya.
Setelah memakai baju dan sedikit merias diri, Akira melihat ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 11 siang. Biasanya di jam segitu Dean sudah berada di rumah Akira, apalagi di hari libur, sebelum matahari terbit pria itu sudah mempersiapkan sarapan untuknya. Tapi kali ini Dean belum juga datang dan saat Akira menelpon, nomer pria itu tidak aktif.