Aku Milikmu

Aku Milikmu
Ck, Kita berdua bukan hanya kamu sendiri


__ADS_3

Akira tersenyum masam mendengar kata ‘orang tua’. Pria yang duduk disampingnya ini tidak tahu bagaimana kehidupan Akira. “Tuan Dean gak perlu khawatir, aku bisa mengurus itu semua.” Akira menoleh pada Dean sambil tersenyum kecil.


“Mungkin kamu bisa menanggung itu semua tapi bagaimana dengan bayi di dalam kandungan kamu ketika dia sudah lahir, ketika dia sudah besar? Dia butuh seorang ayah, Apa kamu mau dia di ejek anak haram karena tidak mempunyai seorang ayah?”


Akira terkekeh kecil dan itu membuat Dean mengernyit heran, menurutnya tidak ada hal lucu dari perkataannya barusan.


“Tuan Dean kaya ngebet banget pengen tanggung jawab, Tuan Dean suka sama aku?” tanya Akira sambil tersenyum menatap Dean.


Dean berdecak kesal, “Aku hanya menghkawatirkan nasib anakku, dia adalah calon penurus keluarga Maulik. Walaupun kehamilan kamu tidak di harapkan tapi tetap saja itu anak darah dagingku.”


Akira mengangguk-angguk kepalanya sambil mengelum senyum. “Jadi Tuan Dean maunya gimana?”


Seharusnya aku gak sih yang nanya kaya gitu? Ini kaya aku yang pengen banget sama dia. Batin Dean


“Kalau kamu maunya gimana?” tanya Dean balik.


“Ya kalau aku seperti awal yang aku bilang, aku gak minta Tuan Dean tanggung jawab. Jadi, mmm... walaupun Tuan Dean gak menikahi aku tapi tetap ingin mengakui anak ini, ya silahkan saja.” jawab Riana serius.


“Kamu gak malu nanti melahirkan dengan status lajang?” tanya Dean yang merasa sangat penasaran. Apakah wanita itu sama sekali tidak memikirkan apa kata orang-orang tentang dirinya?


Akira menghembuskan napas panjang lalu menyenderkan tubuhnya pada sandaran Sofa, matanya menatap langit-langit ruang tamu, jauh menerawang tentang kehidupannya. “Sudah aku bilang, aku bisa mengurusi itu semua. Tuan Dean gak perlu memikirkan apapun tentang keadaan aku nanti.” Akira melirik pada Dean “Lagi pula kalau kita nikah, emang Tuan Dean cinta sama aku? Dan walaupun Tuan Dean cinta sama aku, aku tetap gak mau nikah sama Tuan Dean. mana ada wanita yang mau dinikahi pria yang suka tidur dengan banyak wanita kecuali wanita-wanita yang mengincar harta.” Lanjut Akira diakhiri senyuman miring di bibirnya.


Dean mendengus kasar. Wanita di sampingnya ini benar-benar punya mulut pemberani. Ingin sekali Dean menampar bibir itu tapi apa yang dikatakan Akira memang benar, mana ada wanita yang ingin menikah dengan pria yang suka tidur dengan banyak wanita kecuali mengincar hartanya. Ah, lagi pula Dean memang tidak pernah ingin menikah dengan wanita manapun. Hidupnya pasti akan sangat merepotkan jika mempunyai seorang istri.

__ADS_1


“Entah teori dari mana kamu menganggap aku cinta sama kamu, Akira, aku hanya memikirkan nasib anakku saja.! Aku gak mau dia mempunyai ibu yang tidak mempunyai suami tapi bisa melahirkan seorang anak. Bagaimana kalau kita menikah tapi setelah anak itu lahir kita bercerai,?” ujar Dean.


Akira menggeleng dengan cepat, “Gak mau,” jawab Akira tegas.


“Wanita-wanita diluar sana berlomba-lomba ingin dinikahi olehku, Akira. Tapi kenapa kamu malah sangat menolak, apalagi kamu mengandung anakku.? Walaupun kamu gak cinta sama aku tapi kamu bisa mendapatkan banyak keuntungan. Kamu bisa tinggal di tempat mewah tidak seperti rumah sempit kamu ini dan pasti masih banyak keuntungan yang kamu dapatkan,”


Dean mengatakan hal itu hanya ingin anaknya tidak diejek oleh teman-temannya nanti kalau dia lahir di rahim ibu yang tidak mempunyai suami. Bagaimana pun Akira menutupi, Dean yakin berita itu pasti lambat laun akan di dengar oleh anaknya jika sudah besar. Dean sangat tahu rasanya diejek sebagai anak haram.


Akira tertawa mengejek, “Tapi sayangnya, aku bukan termasuk wanita-wanita diluar sana yang Tuan Dean maksud,”


“Akira, anak kita nanti butuh akte kelahiran, butuh kartu keluarga, butuh status yang jelas ketika dia sudah bisa menilah hal-hal disekelilingnya. Jadi mau tidak mau kita memang harus menikah. Dan kalau kita ingin bercerai, kita bisa bercerai dengan baik-baik setelah anak itu lahir,”


Akira terdiam beberapa saat sebelum menyahuti ucapan Dean, “Baiklah aku setuju untuk menikah dengan Tuan Dean demi anak ini tapi setelah kita melalui masa percobaan,” ujar Akira serius, ia sudah kembali duduk tegak di samping Dean dengan sorot mata penuh keseriusan menatap Dean.


“Kita coba saling mendekatkan diri terlebih dahulu selama sebulan untuk mengetahui tentang diri masing-masing. Ya walaupun pernikahan kita gak menjamin akan lama tapi tetap saja aku ingin waktuku selama bersama Tuan Dean tidak banyak makan hati,”


“Kalau percobaan itu gagal?” tanya Dean.


“Jangan paksa aku lagi untuk nikah sama Tuan Dean.!” jawab Akira penuh keyakinan “Untuk Masalah yang akan menimpa anak kita nanti, aku yakin kita bisa mencari jalan keluarnya dan itu bisa diatasi dengan tidak menikah,” lanjut Akira tanpa memutuskan tatapannya dari Dean.


Dean mengangguk setuju, “Okelah kalau gitu,”


Akira mengajukan masa percobaan sebenarnya hanya untuk mengulur waktu untuk dirinya. Masa kecil Akira dipenuhi dengan hal-hal yang menyakitkan tentang keluarga. Bisa dibilang ia trauma dengan sebuah pernikahan yang akan menghasilkan sebuah keluarga. Akira sudah banyak memikirkan kemungkinan-kemungkinan jika ia menikah dengan Dean sebelum Dean mengajukan sebuah pernikahan.

__ADS_1


Akira tidak ingin anaknya kecewa jika mempunya seorang ayah yang suka main perempuan, dan ia takut anaknya akan mengikuti prilaku tersebut dan yang lebih Akira takutkan adalah jika dirinya dan Dean berearai kemudian Dean menikah lagi dengan wanita lain dan mempunyai anak. Ia takut Dean tidak lagi menganggap dan tidak mempedulikan anak yang dilahirkan Akira. Dan itu pasti akan menyakiti hati anaknya.


Akira sudah pernah merasakan tidak dipedulikan oleh seorang ayah, dan itu rasanya sakit sekali lalu sekarang rasa sakit itu sudah menjadi benci yang tidak berkesudahan. Akira tidak ingin anaknya nanti merasakan hal tersebut.


Lebih baik anaknya sama sekali tidak mengenal Dean, dan jika ia menanyakan tentang ayahnya bisa saja Akira memberikan banyak alasan yang masuk akal untuk diberitahu pada anaknya. Contohnya seperti ayahnya sudah meninggal saat dirinya mengandung.


Dari pada Akira harus membiarkan rasa sakit hati pada anaknya yang akan selalu ada dalam waktu cukup lama lebih baik ia berbohong, iya kan? Katanya berbohong demi kebaikan tidak apa-apa, kan?


Jika masalah akte kelahiran, kartu keluarga atau apapun itu, bisa Akira manipulasi dengan mudah. Akira hanya tidak ingin anaknya merasakan seperti dulu yang ia rasakan, dicampakkan oleh seorang ayah.


Setelah mendapatkan keputusan diantara mereka, Dean pamit untuk pulang. Ia tadi bertahan dirumah ini hanya untuk menunggu kepastian dari permasalahan yang melingkupi mereka berdua. Dan syarat yang diajukan Akira selama masa percobaan untuk dirinya adalah, tidak tidur dengan wanita manapun selama masa percobaan berlangsung.


Dean sedikit khawatir akan hal itu, karena ia sangat tahu dirinya yang selalu gagal menahan hasratnya untuk bercinta. Dan waktu sebulan itu bukan waktu sebentar bagi Dean. ia berharap semoga selama sebulan itu ia bisa benar-benar menahan gairahnya.


“Kalau terjadi apa-apa, kamu gak perlu sungkan ngabarin aku dan oiya lebih baik kita segera periksa kandungan kamu ke dokter untuk mengetahui kondisnya,” ucap Dean sebelum keluar dari rumah Akira.


Akira mengangguk mengiyakan. “Iya nanti aku bakal ke rumah sakit untuk meriksa kandungan aku,”


“Ck, Kita berdua bukan hanya kamu sendiri,” ujar Dean, bagaimana pun ia ingin mendengar langsung kondisi anaknya.


“Ya silahkan saja kalau Tuan Dean gak sibuk,” sahut Akira sambil mengakat bahunya.


“Tenang aja aku bakal luangin waktu,” setelah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi Dean pun keluar dari rumah Akira, meninggalkan Akira sendiri dengan segala pemikiran rumit wanita itu.

__ADS_1


__ADS_2