
“Saya benar-benar penasaran Akira, bagaimana kamu bisa menjalankan rencana itu dengan mulus,? Ucap Ethan setelah mengunyah makanan di mulutnya.
Saat kini Ethan, Akira dan Dean sedang makan malam bersama di ruang makan di rumah Dean. Makan malam ini sebagai perayaan akan keberhasilan Akira yang telah berhasil menjalankan rencananya seminggu yang lalu.
Ternyata Akira disuruh datang kesini hanya untuk merayakan keberhasilan atas usahanya, dan hasil usahanya pula ia mendapatkan bayaran yang cukup pantastis.
Akira ingin sekali protes dengan bayarannya itu, bayarannya memang sangat banyak, lebih dari kata banyak. tapi jika dibandingkan dengan pengorbanan yang ia lakukan sampai kehilangan keperawanannya, bayaran itu sangat kurang. Memang itu hanya kecelakaan bukan unsur kesengajaan tapi tetap saja itu semua gara-gara ia menjalankan rencana gila itu.
Tetapi jika Akira meminta bayaran yang lebih banyak karena telah kehilangan keperawanannya maka itu sama saja ia seperti wanita sewaan yang sering di tiduri sang tuan. Ya, Akira tahu bahwa wanita yang suka keluar dari kamar Dean adalah wanita-wanita bayaran.
Setelah beberapa hari bekerja menggantikan Ethan, kurang lebihnya Akira tahu akan kebiasaan Dean. Dan Akira tidak mau di anggap seperti wanita sewaan, jadi ia anggap uang bayaran itu sebagai upah menjalankan misi bukan bayaran karena ia telah kehilangan keperawanannya.
“Berkat kamu, perusahaan kita bisa memantau pergerakan perusahaan lawan. Ini sungguh luar biasa Akira. Kamu tahu, perusahaan mereka itu sangat ketat sekali keamanannya, susah sekali di tembus oleh oleh hack-hack propesional,” lanjut Ethan dengan bangga.
“Apakah perusahaan kita akan berlaku curang karena sudah mengetahui semua informasi perusahaan lawan, pak Ethan?” tanya Akira hati-hati. Ia dari awal sudah sangat penasaran, kenapa tuannya ingin sekali menghack dan mengetahui semua data informasi perusahaan tersebut.
Ethan terkekeh mendapatkan pertanyaan seperti itu, sedangkan Dean tersenyum miring tapi tidak mengatakan apapun, ia lebih banyak mendengarkan obrolan dua orang dihadapannya dari pada ikut berbicara.
“Curang di dalam bisnis itu biasa, Akira. Semuanya berlomba-lomba saling menjatuhkan satu sama lain. banyak di depannya terlihat baik tapi dibalakang mereka saling sikut menyikut tapi kamu tenang saja ,informasi yang kita dapatkan dari perusahaan lawan hanya untuk memantau pergerakaan mereka,” Ethan menjeda perkataannya untuk minum terlebih dahulu “Kamu tahu tiga bulan yang lalu, ada yang membocorkan informasi dalam bank kita dan proposal proyek kerja sama dengan perusahaan minyak xx juga bocor. Kita menduga itu semua ulah perusahaan lawan, jadi kita hanya ingin membalas apa yang telah mereka perbuat,” jelas Ethan.
Ya, Akira tahu akan hal itu, tiga bulan yang lalu perusahaan Dean gagal memenangkan tender proyek minyak perusahaan xx. Dan sempat ada kabar juga bahwa informasi perusahaan telah bocor. “Apakah ada seseorang pengkhianat juga diperusahaan kita, pak?” tanya Akira.
__ADS_1
Dean dan Ethan saling melirik sekilas, “Itu
percakapan yang cukup serius, Akira. Lebih baik kita tidak perlu membahas hal itu di makan malam perayaan keberhasilan kita.” Jawab Ethan.
Akira jadi tidak enak telah menanyakan hal itu, mungkin itu terlalu lancang bagi sekretaris ketiga seperti dirinya ini. mereka pun kembali melanjutkan obrolan membahas hal lain.
“Tuan Dean, Akira. Maafkan saya tidak bisa melanjutkan makan malam ini karena anak saya tiba-tiba demam dan harus segera dibawa ke rumah sakit.” Ucap Ethan dengan rawut khawatir setelah menerima telpon.
Akira menatap Ethan, ia kira Ethan masih single belum menikah. “Pak Ethan sudah punya anak? Berarti sudah punya istri juga dong?” tanya Akira, ia tahu itu pertanyaan bodoh yang begitu saja keluar dari mulutnya.
Ethan terkekeh kecil, “Gak kelihatan udah punya anak ya? Saya sudah punya dua anak, Akira.” Jawab Ethan, “Lain kali kamu main ke rumah saya, nanti saya kenalkan pada mereka. Kalau begitu saya pamit dulu ya. Kalian lanjutkan saja makan malamnya.” Lanjut Ethan lalu berjalan keluar meninggalkan Akira dan Ethan.
Akira mempercepat makannya agar bisa segera meninggalkan rumah ini dan kesunyiaan yang mencengkram diantara ia dan Dean. Tiba-tiba Akira menghentikan makannya ketika mendengar suara petir diluar sembari diiringi hujan yang langsung deras.
Oh Tuhan, kalau hujan bagaiman aku pulangnya? Batin Akira
“Kau kesini naik apa?” tanya Dean tanpa melihat ke arah Akira.
Akira menoleh pada Dean, “Naik motor, tuan.” Jawab Akira ragu-ragu.
“Kalau hujannya tidak berhenti-henti kamu bisa menginap disini,” ucap Dean.
__ADS_1
Wah penawaran yang sangat bagus tapi aku sama sekali tidak mau.
“Terimakasih atas tawarannya, Tuan Dean. Tapi sepertinya hujanya tidak akan lama,” balas Akira.
Dean hanya mengangkat bahunya, tidak menanggapi lagi.
Setelah dua jam menunggu, hujan tidak kunjung berhenti. Akira menghenbuskan napas lelah lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa diruang tamu, ingin sekali segera meninggalkan rumah ini dan rebahan di kasur kesayangannya.
“Hujan ayo dong berhenti, gak kesian apa sama aku? Aku gak mau berlama-lama dirumah yang sunyi ini,” gumam Akira lemas. Ia mengedarkan pandangannya, rumah ini sangat sepi sekali, gak ada satu orang pun yang menemani dirinya diruang tamu. Dan ia pun tidak melihat orang berlalu lalang disekitar ruangan ini.
Akira berpikir, apakah rumah sebesar ini hanya dihuni oleh tuannya sendiri, selain bersama pelayan-pelayannya? Selama Akira bekerja disni ia hanya melihat tuan Dean seorang, bahkan Akira tidak melihat kedua orang tuanya. Apakah tuannya itu tidak merasa kesepian setiap hari sendirian dirumah yang sangat besar? Ah, entahlah. Akira tidak ingin memikirkan hal itu. sekarang dipikirannya hanya ingin pulang.
Sayup-sayup ditengah suara hujan yang deras, Akira mendengar suara aluanan Piano. Ia menegakan posisi duduknya dan memasang telinganya dengan benar-benar untuk memastikan suara piano tersebut. Ya, Akira yakin ada yang memainkan Piano ditengah hujan deras saat kini dan suara alunan piano itu berasal tidak jauh dari posisinya.
“Siapa yang memainkan Piano dirumah ini?” gumam Akira, ia berdiri dari posisi duduknya dan mulai berjalan mencari sumber suara alunan piano tersebut.
Akira naik tangga menuju lantai dua, semakin mendekat ke lantai dua, suara alunan piano itu semakin jelas. Akira melewati beberapa ruangan yang entah ruangan apa dan sampai di ujung ia melihat sang Tuan sedang duduk manis sambil jari-jarinya menari dengan cantik di atas keyboard piano.
...----------------...
...----------------...
__ADS_1