Aku Milikmu

Aku Milikmu
Semoga Tidak Menyesal


__ADS_3

Akira naik tangga menuju lantai dua, semakin mendekat ke lantai dua, suara alunan piano itu semakin jelas. Akira melewati beberapa ruangan yang entah ruangan apa dan sampai di ujung ia melihat sang Tuan sedang duduk manis sambil jari-jarinya menari dengan cantik di atas keyboard piano.


Wajah Dean terlihat damai dan berseri-seri, matanya terpejam, tubuhnya bergoyang ke kiri dan kekanan secara lembut tapi jari-jarinya tetap menekan kayboard piano. Demi apapun, pria itu terlihat tampan dan mempesona berkali-kali lipat. Ditambah cayaha lampu yang hanya menyoroti posisi duduk pria itu, membuatnya seperti sedang pentas disebuah pertunjukan yang megah.


Akira tersenyum melihat itu, sepertinya hujan deras saat kini tidak terlalu buruk karena ia bisa melihat pertunjukan yang luar biasa, yang mungkin tidak bisa dilihat oleh orang-orang di luar sana.


Sekitar 10 menit Akira berdiri tidak jauh dari posisi Dean, memperhatikan Dean yang sangat menikmati permainannya dan ikut meresapi setiap nada yang keluar dari piano tersebut, alunan itu terasa sangat cocok dengan suana hujan deras diluar sana.


“Pieces Of Memories,” ucap Akira setelah Dean selesai memaikan pianonya. Akira memang sedikit tahu tentang Piano.


Dean menoleh dengan cepat pada sumber suara, dan melihat Akira sedang tersenyum manis sambil melipatkan kedua tangannya di depan dada, wanita itu berdiri tidak jauh dari posisinya.


Dean tersenyum kecil lalu kembali mengarahkan pandangannya kedepan, “Kamu bisa memainkan piano?” tanya Dean lembut.


Akira berjalan mendekat, “Bisa tapi tidak sehebat Tuan Dean,” jawab Akira. Dari jarak dekat Akira bisa melihat wajah Dean yang tidak biasa, tidak ada sorot mata tajam, tidak ada wajah sombong atau keangkuhan dan nada suaranya tadi saat bertanya, tidak ketus seperti yang akira dengar setiap hari.


“Ingin mendengarkan satu musik lagi?’ tawar Dean.


“Jika Tuan Dean tidak keberatan,” jawab Akira, ia akan sangat senang sekali jika tuannya itu ingin memainkan piano lagi.


Dean menggeser pantatnya, lalu menepuk kursi disebelahnya “Duduklah, akan lebih nyaman jika menikmati musiknya sambil duduk,” ucap Dean.

__ADS_1


Akira tidak langsung mengiyakan, karena jika ia duduk disana maka itu akan berdempetan sekali dengan Dean. “Tidak apa-apa duduklah disini,” ucap Dean lagi.


Akhirnya Akira mendekat dan duduk disebelah Dean, bahu mereka saling bersentuhan bahkan Akira bisa mencium aroma maskulin yang menguar dari tubuh Dean.


“Are You Not Happy After Leaving,” ucap Dean seakan memberitahu apa yang akan dimainkannya. Lalu pria itu mulai menggerakan jari-jarinya dengan cantik.


Akira memperhatikan wajah Dean, ia tidak menyangka jika tuannya itu punya sisi manis seperti saat kini, ia kira pria itu selalu dalam keadaan mood jelek, yang kerjaannya setiap hari marah-marah pada karyawannya, dan menyuruh semaunya. Tapi saat kini yang Akira lihat adalah sorot mata damai, wajah berseri tapi di sorot matanya yang damai itu terlihat kesepian yang tidak bisa disembunyikan oleh pria itu.


Ingin sekali Akira masuk kedalam sorot mata itu dan memberikan warna pelangi disana agar kesepian itu digantikan dengan kebahagian.


Sesekali Dean melihat ke arah Akira dan saling melemparkan senyum satu sama lain. siapapun yang melihat senyuman manis pria itu pasti akan meleleh ditempat. Sungguh senyuman pria itu sangat menawan apalagi Dean jarang sekali menunjukan senyuman tersebut. Ah, Akira merasa melayang dibuatnya.


Sosok Dean yang sombong, angkuh, dan tidak punya belas kasih tiba-tiba menghilang di pandangan Akira, digantikan dengan Dean bak seorang pangeran yang baik hati. Mungkin itu terdengar berlebihan tapi jika kalian melihatnya langsung kalian akan setuju dengan apa yang diungkapkan Akira.


“Tuan Dean hebat banget,” lirih Akira setelah permainan selesai. Ia menatap Dean sambil tersenyum manis.


Dean tersenyum menunjukan deretan giginya yang putih sambil menunduk lalu menoleh pada Akira. Tatapan mereka saling bertemu, mengunci satu sama lain. “Kamu yang lebih hebat, Akira.” Lirih Dean tanpa sadar.


“Hebat apanya tuan?” tanya Akira masih saling menatap.


“Hebat, karena telah membuat aku sangat menginginkan kamu,” lirih Dean setengah berbisik, tak lama kemudian ia mendekatkan bibirnya pada bibir Akira. Dan Akhirnya bibir keduanya pun saling menempel satu sama lain. Akira tidak menolak ciuman tersebut, ia malah memejamkan matanya dan menyambut ciuman itu.

__ADS_1


Dean yang merasa tidak ada penolakan, mulai menggerakan bibirnya, menikmati bibir yang akhir-akhir ini membuatnya frustasi karena ingin mencicipinya lagi setelah kejadian beberapa hari lalu.


Dean semakin memperdalam ciuamannya, sedangkan Akira hanya membalas seadanya karena ia sama sekali tidak punya pengalaman tentang hal ini. ciuman pria itu benar-benar telah membuat akal sehat Akira hilang entah kemana. Siapapun tolonglah sadarkan Akira, bahwa perbuatannya ini sangat salah.


Entah sejak kapan kini Akira sudah duduk di atas pangkuan Dean, menelusupkan jari-jari tanganya di rambut pria itu dan tangan Dean menahan tengkuknya agar ciuman mereka tidak terlepas. Sesekali mereka mengambil napas lalu melanjutkan kembali ciumannya, seakan-akan mereka sama sekali tidak ingin menghentikan ciuman yang memabukan itu.


“Ah, Akira aku sudah sangat tidak tahan,” gumam Dean, kini ciumannya mulai berpindah pada leher wanita itu. setelah beberapa saat ia melepaskan ciumannya dan menatap Akira yang matanya sudah sayu seperti matanya.


Mereka saling menatap sambil tangan Dean menyingkirkan rambut-rambut halus di wajah Akira. Keduanya sudah berada dalam puncak gairah, saling mengingikan satu sama lain dan selanjutnya Dean mengendong Akira ala koala sambil kembali melanjutkan ciumannya.


Dengan perlahan Dean membawa Akira ke dalam kamarnya, sedangkan Akira yang sudah kehilangan akal sehatnya tidak menolak akan hal itu, dikepalanya hanya ada kenikmatan atas sentuhan-sentuhan yang diberikan pria itu. biarlah malam ini ia menikmati keindahan dunia dan memikirkan penyesalannya di esok pagi. Sepertinya malam ini Akira sudah tersihir dengan musik piano yang dimainkan Dean, makannya ia tidak menolak.


Perlahan Dean memberingkan Akira di atas kasur tanpa melepas ciuman mereka, Dean seakan-akan tidak ingin bibir mereka menjauh walaupun bibir keduanya sudah lumayan bengkak. Dean menatap Akira yang berada dibawah tubuhnya sambil napas keduanya saling ngos-ngosan.


“Akira, you’re so beautiful,” lirih Dean menatap memuja pada Akira.


Akira hanya mengulum senyum mendapati pujian dari sang tuan.


Percintaan panas pun tidak bisa dihindarkan lagi oleh kedua insan tersebut, keduanya sama-sama menikmati malam yang panjang diiringi hujan yang belum juga reda. Suara deras hujan tidak kalah dengan suara erangan dari Akira dan Dean. Merenggut kenikmatan untuk yang kesekian kalinya.


...----------------...

__ADS_1


Yok di Vote, like dan komen😇😇


...----------------...


__ADS_2