Aku Milikmu

Aku Milikmu
Masih di Roma I


__ADS_3

“Dean aku mau mandi,” ucap Akira mengeluh. Setelah sampai di apartemen Dean langsung memborgol satu tangan Akira bersama satu tangan Dean. Entah dari mana pria itu mendapatkan borgol tersebut, dan saat ini ia dan Dean tidak pernah berjauhan lebih dari satu meter. Kemanapun Dean berada disitu ada Akira bersamanya.


Dean yang sedang fokus pada tabletnya menoleh pada Akira. “Kalau mau mandi, ya mandi aja,” jawab Dean acuh tak acuh lalu kembali fokus pada tabletnya.


Akira mendengus kasar sambil memutarkan bola matanya. “Gimana aku mau mandi kalau tangannya masih diborgol kaya gini,” ucapnya ketus sambil mengangkat tangannya yang diborgol bersama tangan Dean.ke hadapan wajah pria itu.


Akira mengerucutkan bibir menahan kesal pada Dean yang masih terdiam fokus pada tabletnya. “Dean,” ucap Akira setengah teriak sambil mendorong bahu Dean cukup kencang.


Dean menghembuskan napas panjang, ia menaruh tablet di samping tempat duduknya, lalu memiringkan tubuhnya menghadap Akira.


“Aku mau mandi, udah gak nyaman tubuhnya lengket banget!!”


Dean menahan senyumnya melihat raut wajah Akira yang menggemaskan, “yaudah ayo mandi.” Ucap Dean datar sambil bangkit dari sofa.


Mulut Akira setengah menganga mendengar ucapan Dean. Apa maksud ucapan Dean? itu seperti sebuah ajakan mandi bersama.


“Ayo, katanya mau mandi,” lanjut Dean yang melihat Akira masih belum bangun dari sofa dan menggoyangkan tangan Akira yang diborgol agar segera berdiri.


Akira ingin bertanya ‘apakah dirinya dan Dean akan mandi bersama?’ tetapi ia menahan pertanyaan itu, ia takut dianggap salah paham dengan ajakan Dean yang ambigu.


“Katanya tadi badannya udah lengket banget, gak nyaman. Tapi kenapa sekarang malah diam?”


“Kita... mmm... “ Akira menundukan kepala sambil menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal, seraya berkata. “Kita gak mandi bareng, kan?”


Dean merapatkan kedua bibirnya menahan tawa yang ingin keluar. Mendengar suara Akira yang ragu-ragu sekaligus malu-malu membuat Dean merasa sangat gemas pada Akira. Ingin sekali ia mencium pipi Akira untuk melampiaskan kegemasannya itu.


“Kenapa kamu bertanya begitu? Kamu ingin kita mandi bersama?” tanya Dean menggoda.


“Eh...” Kepala Akira mendongkak menghadap Dean, lalu bangkit dari sofa sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Bukan begitu—“


“Terus,” Dean menyela.


“Tadi kamu...mmm... ngomongnya kaya ngajak mandi bareng,” ucap Akira dengan suara yang terdengar terendam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Oh, Ya Tuhan. Kenapa wanita yang ada di hadapanku sangat menggemaskan? Bolehkah aku mencium wajahnya sampai puas.? Batin Dean yang merasa tersiksa dengan tingkah Akira.

__ADS_1


“Kalau kamu nganggepnya kaya gitu, yaudah.”


Akira kembali menoleh pada Dean dengan dahi yang berkerut. “Yaudah apa?”


“Ya, kita mandi bareng!” jawab Dean dengan wajah serius.


Mata Akira membelalak dan menunjukan wajah garang, tetapi secara bersamaan kedua pipinya bersemu merah. Membuat Dean yang melihat itu tidak tahan ingin mencium pipi Akira.


“Apaan sih, siapa juga yang mau mandi bareng kamu? Lebih baik aku gak mandi daripada harus mandi bareng!” ucap Akira serius.


Dean mendengus lembut. “Biasa aja kali, gak usah seserius itu. aku juga cuma bercanda!” ucap Dean sungguh-sungguh. Walaupun Akira mengiyakan ajakan untuk mandi bersama, Dean akan menolak karena jika ia mandi bersama Akira itu sama saja ia bunuh diri. Dean mana bisa tahan melihat tubuh Akira yang polos tanpa sehelai benang pun dan ia tidak bisa menyentuh tubuh wanita itu atau melakukan sesuatu hal yang mesum. Dean tidak akan kuat menahan godaan tersebut. Jadi lebih baik ia tidak memancing hal-hal yang tidak diinginkan, apalagi saat ini hubungannya dan Akira masih jauh dari kata baik.


Akira memalingkan wajahnya dengan raut wajah kesal sekaligus menahan malu, dan ia sangat tidak suka dengan candaan Dean yang sama sekali tidak lucu. Wajar saja kan jika ia menganggap candaan Dean dengan serius karena Dean sendiri adalah pria yang sudah kecanduan akan sek* bebas.


“Ayo jalan, kok malah bengong?” ucap Dean menyadarkan Akira yang sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Akira berjalan mendahului Dean dan Dean mengikuti di samping Akira menuju kamar yang ditempati Akira.


Apartemen yang disewa Dean hanya ada dua kamar, satu dapur minimalis yang menyatu dengan ruang makan, dan satu ruang tamu sekaligus ruang santai. Kamar utama di tempati oleh Akira yang di dalamnya tersedia kamar mandi dan ukurannya pun lebih besar dari pada kamar yang ditempati Dean. Sedangkan kamar mandi satunya lagi berada di luar kamar dekat dengan dapur dan itu kamar mandi yang selalu dipakai Dean.


“Lepasin dulu borgolnya,” ucap Akira setelah sampai di dalam kamar.


Akira mengernyit heran dengan tingkah Dean, “Kenapa kuncinya di masukin ke dalam celana lagi?”


Dean diam tidak menjawab. Ia berjalan ke dalam kamar mandi  dan tangan Akira otomatis ikut tertarik. Dengan malas Akira mengikuti langkah Dean.


Dean mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan kamar mandi seperti seseorang yang mencari barang yang hilang, Hingga Akira yang penasaran bertanya pada Dean. “Lagi nyari apa?”


“Aku sedang mencari celah yang memungkinkan kamu bisa kabur.”


Mulut Akira sedikit terbuka karena terkejut dengan ucapan Dean. Akira ikut mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan di dalam kamar mandi hanya ada ventilasi kecil berbentuk persegi panjang. Dan ventilasi itu hanya cukup untuk mengulurkan tangan.


“Sepertinya aku tidak bisa membuka borgol ini, kamu bisa saja kabur lewat ventilasi itu.” lanjut Dean.


Akira dengan cepat menoleh pada Dean, “Apa maksud kamu, Dean? aku mana bisa kabur lewat ventilasi sekecil itu? kamu kira tubuhku ini elastis kaya tikus, hah?” ucap Akira dengan nada cukup tinggi.

__ADS_1


“Ya bisa saja, mungkin kamu punya ilmu tersembunyi yang tidak aku ketahui.” Jawab Dean dengan santai, “Kamu kan orangnya penuh rahasia.”


Akira memutarkan bola matanya malas. “Kamu terlalu banyak menonton film fantasi.”


Dean hanya mengangkat bahu acuh tak acuh.


“Terus ini gimana caranya aku mandi?”


Dean berdehem sambil memalingkan wajah membuat Akira berpikiran negatif. “Ini tidak seperti yang aku pikirkan, iyakan, Dean?”


Dean menoleh, “Apa?” Dean tidak mengerti


“Kamu tidak akan menonton aku yang sedang mandi, kan hanya untuk memastikan aku tidak kabur!”


“Kamu pikir aku orang yang tidak punya pekerjaan, membuang-buang waktu untuk menonton kamu mandi!”


“Yaudah... kalau begitu buka borgolnya sekarang!”


Dean diam tidak berkutik membuat Akira jengah setengah mati. “Sebenarnya apa yang kamu takuti sih, Dean? aku tidak mungkin kabur lewat ventilasi sekecil itu dan aku juga tidak punya ilmu aneh yang bisa mengubah diriku menjadi hewan kecil!!” Akira menjeda ucapannya untuk menghela napas panjang, “dan apartemen ini juga letaknya di lantai 22. Aku tidak mungkin terjun bebas ke lantai dasar, aku masih ingin hidup!”


Dean tidak menjawab ucapan Akira, dengan malas ia mengambil kunci dan membuka borgol di tangan Akira. Dean melihat pergelangan Akira yang memerah, ia ingin mengelus tangan itu tapi ia segera mengurungkan keinginannya itu.


Akira mengelus pergelangan tangan yang memerah lalu membalikan badan ingin keluar kamar mandi, dan hal itu membuat Dean dengan sigap langsung memeluk setengah tubuh Akira, “Tuh kan, baru saja aku lepaskan kamu sudah mau mencoba kabur,” Dean mulai mengeratkan lingkaran tangannya di tubuh Akira membuat Akira tidak bisa bergerak.


Oh Tuhan ada apa dengan pria ini? kenapa seakan-akan dia takut sekali kehilangan diriku? Ini membuat aku berpikiran yang tidak-tidak. Gumam Akira dalam hati.


Akira menoleh pada Dean. “Siapa yang mau kabur? Aku mau mengambil handuk dan baju ganti. Aku tidak mungkin keluar kamar mandi dengan keadaan telanjang. walaupun aku sudah dikurung beberapa hari oleh kamu tapi aku masih waras!”


Keduanya tidak menyadari bahwa jarak wajah di antara keduanya sangat dekat dengan tubuh saling menempel erat, dan keadaan pun tiba-tiba menjadi canggung.


Akira mendorong tubuh Dean ketika menyadari tubuhnya tidak ada jarak dengan Dean, namun Dean menahan dorongan Akira dan justru menambah melingkarkan satu tangannya. Tatapan Dean sama sekali tidak berubah, terus menatap Akira dengan tatapan yang amat dalam.


“Dean,” Akira mencoba melepaskan diri tetapi itu justru membuat lingkaran tangan Dean semakin erat. Jantung Akira berdetak tidak karuan, ia mencoba menahan napas agar suara jantungnya yang kencang tidak sampai terdengar oleh telinga Dean, tetapi itu sia-sia karena Dean sudah bisa merasakan jantung Akira yang berdetak kencang. Dada Akira yang menempel pada Dean membuat posisi jantung keduanya saling merasakan detakan jantung satu sama lain, membuat irama yang menyatu begitu indah sekaligus mendebarkan.


Pandangan keduanya saling mengunci satu sama lain, sama-sama tidak bisa mengalihkan pandangan itu pada hal lain, hingga wajah Dean sedikit demi sedikit mendekat pada wajah Akira membuat Akira menutup matanya.

__ADS_1


___________


Author kembali.... hehehe... Happy Reading gaes


__ADS_2