
Tubuh Akira menegang seketika ketika kata-kata keramat itu keluar dari mulut Dean dengan sekali tarikan napas, dan setelah jantungnya seperti berhenti berdetak tiba-tiba saja berdetak begitu cepat membuat aliran darah dengan cepat naik ke wajah Akira, membuat wajah itu memerah seperti kepiting rebus.
Beberapa saat lalu ia masih merasa sedih dengan sesuatu yang tidak jelas lalu sekarang suasana hatinya seketika berubah drastis dan semua ini terlalu membingungkan bagi dirinya.
“Jangan pergi, Akira!!” ulang Dean membuat Akira kembali tersadar dari keterkejutannya.
Akira memukul-mukul punggung Dean dengan pelan seraya berkata, “Aku tidak bisa bernapas, Dean.” pelukan Dean yang terlalu erat membuat Akira sulit untuk bernapas ditambah pernyataan Dean yang begitu tiba-tiba membuat Dada Akira terasa sesak seperti dipenuhi oleh suatu rasa yang tidak bisa ia pahami dan itu membuatnya tambah sulit untuk mengambil napas.
Dean yang menyadari hal itu langsung melepaskan pelukannya tanpa memundurkan tubuhnya selangkah pun dan itu membuat tubuh keduanya masih saling menempel dengan jarak wajah yang sangat Dekat.
“Dean...” Akira merasa sangat gugup ketika mengeluarkan suaranya. Ini bukan yang pertama kalinya wajah ia dan Dean berjarak dekat seperti ini, tapi entah kenapa suasana kali ini terasa sangat berbeda dan ia pun tidak pernah segugup ini. belum lagi suara jantungnya yang begitu terasa sangat keras di telinga membuat Akira tambah gugup.
Akira sama sekali tidak membayangkan hal ini akan terjadi ketika ia memutuskan untuk datang kesini lagi, bahkan tidak sedikitpun terlintas di pikirannya Dean akan menyatakan perasaannya. Jika ia tahu akan seperti sekarang ini, mungkin ia akan mempersiapkan mentalnya agar tidak terlihat seperti orang bodoh yang hanya berdiri sambil terus menatap pria itu dengan raut wajah yang kebingungan.
Sungguh, Akira tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana cara menanggapi pernyataan cinta pria itu. ini bukan pertama kalinya Akira menerima pernyataan cinta dari seorang pria tetapi biasanya ia bisa menghadapinya dengan tenang sekaligus menolak dengan cara elegan, tetapi kali ini sungguh berbeda. Ia benar-benar seperti orang dungu yang tidak tahu harus berbuat apa.
“Terima kasih sudah kembali, Akira. Aku kira kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi.” Lanjut Dean sambil menempelkan keningnya pada kening Akira. ia benar-benar lega mendapati Akira ada di hadapannya, bahkan ia bisa mendengar detak jantung Akira yang sama berisiknya dengan jantung miliknya.
Wahai Otak berpikirlah- apa yang harus aku lakukan? Aku benar-benar bingung harus merespon seperti apa! aku datang kembali kesini bukan untuk mendapatkan ungkapan cinta Dean. aku kesini hanya untuk mengambil ponselku yang tidak sengaja tertinggal di kamar... Oh, sial, aku benar-benar tidak bisa berpikir saat ini.
__ADS_1
Akira datang kembali ke apartemen Dean hanya untuk mengambil ponselnya yang tidak sengaja tertinggal. Tadi ia sempat mengeluarkan ponsel dari tas untuk mengecek ponselnya yang selama satu minggu lebih tidak digunakan lalu ia lupa tidak di masukan kembali ke dalam tas.
Akira baru sadar ponselnya hilang ketika ia akan mengecek daftar tempat yang akan dikunjungi yang sudah di catat di ponsel tersebut. Akira yakin ponselnya tertinggal di apartemen Dean karena setelah keluar Akira belum mengeluarkan ponselnya sama sekali, tapi Sebelum Akira kembali ke apartemen Dean ia terlebih dahulu mencari makan karena ia belum sempat makan siang dan sekarang sudah sore hari. Ia membutuhkan banyak energi untuk menghadapi kondisi hati yang saat ini sangat sangat kacau, mungkin akan masih kacau untuk beberapa hari kedepan. Ia tidak tahu kapan hatinya membaik seperti semula. Akira tidak bisa memahami apa yang di rasa hatinya, hanya ada rasa kehilangan dan hampa, dan setelah mendengar ungkapan perasaan Dean, hati Akira tambah kacau, sama sekali tidak bisa memahami hati sendiri, namun ada satu yang disadari di dalam hatinya yaitu rasa hangat dan nyaman, seolah-olah rasa hampa sebelumnya perlahan-lahan menghilang.
Dean yang mendapati Akira masih diam memahami bahwa wanita itu pasti masih terkejut dengan ungkapan cintanya yang tiba-tiba. Ya, seharusnya ia membawa Akira masuk kedalam apartemen terlebih dahulu bukan malah menyatakan cinta begitu saja di depan pintu. Jika dipikir-pikir tidak ada sedikitpun suasana romantis ketika ia mengungkapkan perasaannya. Sedangkan ia tahu bahwa wanita sangat suka dengan hal yang berbau romantis sekalipun itu wanita tomboy.
Oh, sial, karena terlalu bahagia aku begitu saja menyatakan perasaanku, bahkan mulutku seperti bergerak sendiri mengatakan ungkapan cinta tanpa aku sadari. Seharusnya aku menyiapkan sesuatu yang romantis untuk mengungkapkan perasaan ku ini. mungkin aku harus mengulang pernyataan perasaanku ini dengan suasana yang lebih romantis.
“Ayo kita masuk ke dalam, aku tahu kamu pasti masih terkejut,” Tangan kiri Dean meraih koper milik Akira yang berada di samping pintu sedangkan satu tangannya lagi ia gunakan untuk menarik tangan Akira agar ikut masuk bersama. Sedangkan Akira masih kebingungan hanya bisa mengikuti langkah kaki Dean tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Waktu sudah berjalan beberapa menit namun kedua manusia itu masih belum mengeluarkan sepatah kata pun setelah masuk ke dalam apartemen. Keduanya saling duduk berdampingan di ruang tengah dengan jarak setengah meter. Sesekali mereka saling melirik satu sama lain hingga kontak mata mereka bertemu secara bersamaan kemudian membuang muka ke arah lain dengan rasa malu yang menempel di wajah keduanya.
“Akira...” Dean yang tidak sabar dengan suasana canggung ini memutuskan untuk memulai terlebih dahulu. “Jadi bagaimana jawaban kamu atas perasaanku ini?” tanya Dean to the point ingin segera mendapatkan jawaban dari Akira.
Akira menelan salivanya sambil melirik sekilas pada Dean. Jantung yang tadinya sudah sedikit membaik kini kembali berdetak tak karuan mendapatkan pertanyaan tersebut.
Kenapa dia cepat sekali bertanya seperti itu, aku saja masih terkejut dengan pernyataan perasaannya.
Akira mengepalkan kedua tangan yang diletakan di atas paha dan menjawab pertanyaan Dean dengan sedikit terbata-bata. “Mmm... itu... Aku gak tahu.”
__ADS_1
Dean menoleh pada Akira dan ia menahan senyum melihat Akira sangat gugup. Sepertinya ia tidak pernah melihat Akira segugup saat ini, biasanya wanita itu selalu terlihat tenang dan acuh tak acuh, bahkan saat Akira datang kerumahnya dan memberitahu bahwa dia hamil, wanita itu tetap terlihat tenang dan terkendali. Namun saat ini Dean seperti melihat hal baru pada Akira.
Kamu sangat menggemaskan ketika gugup seperti itu, Akira. Ah, tidak. Kamu memang menggemaskan di setiap saat, membuat aku tidak tahan ingin menggigit kamu, Akira.
“Apanya yang gak tahu, Akira.?” tanya Dean sambil mengangkat satu alisnya.
“Aku gak tahu harus jawab apa!!” jawab Akira sangat pelan tapi masih bisa didengar oleh Dean
“Kamu tinggal menanyakan itu pada hatimu, Akira, dan bukankah kamu datang kesini karena kamu ingin kembali padaku!”
“....”
Dean menghela napas pelan mendapati Akira kembali terdiam. Ia menggeser tubuhnya duduk lebih dekat pada Akira lalu menyentuh dagu Akira dan menariknya pelan agar menghadap pada Dean.
Mereka terdiam beberapa saat sambil terus memandangi satu sama lain. “Kalau kamu tidak bisa menjawab maka aku akan mencari jawabannya sendiri.” ucap Dean pelan lalu perlahan-lahan mendekatkan bibirnya pada bibir Akira. Rasanya masih sama seperti dulu, lembut dan manis.
Biasanya ia akan mencuri kecupan di bibir saat Akira tidur, dan itu tidak terasa sekali bagi Dean tapi saat ini ia kembali merasakan bibir yang begitu ia rindukan apalagi saat Akira mulai membuka mulutnya dan membalas ciuman Dean. Sungguh, hati yang sudah lama kering itu kini kembali ditumbuhi ribuan bunga, Dean merasa sangat bahagia.
Aku tahu kamu juga mencintaiku, Akira. Aku bisa merasakan cinta itu lewat ciuman ini.
__ADS_1