
Akira dan Dean saling menatap satu sama lain sambil menghela napas panjang bersamaan lalu kembali menatap ban mobil yang kempes.
“Gimana sih, kamu banyak duit tapi ban mobil bisa kempes kaya gini,” ucap Akira mengejek tanpa melihat ke arah Dean.
Dean membelalak sambil menengok ke arah Akira, tidak percaya dengan ucapan Akira barusan. Rupanya wanita itu sudah tidak sungkan bicara blak-blakan kepada dirinya. “Emang apa hubungannya ban kempes sama banyak duit? Emang orang banyak duit gak boleh ban mobilnya kempes?”
Akira berdecak lalu menoleh pada Dean, “kalau ban mobil kempes secara tiba-tiba itu artinya kamu jarang merawat mobilnya, bisa aja karena lubang angin ban mobil sudah berkarat atau debu dan pasir menempel pada ban tubeless yang menyebabkan ban kempes. Seharusnya kalau kamu punya banyak uang kamu akan rutin mengeceknya.” Cerocos Akira.
Dean melongo mendengar ucapan Akira, sepertinya wanita itu cukup mengerti tentang masalah mobil. “Aku mana tahu urusan seperti itu, lagi semua mobilku bukan aku yang mengurusnya tapi para pelayan di rumah. Seharusnya kamu mengomel pada pelayanku bukan sama aku!” sambar Dean tidak terima jika ia disalahkan.
Ah, sebenarnya diri Dean yang salah. Tadi pagi ia sudah diingatkan oleh pelayan yang mengurus semua mobilnya, bahwa mobil yang dipakainya ini belum di cek ada masalah atau tidak karena sudah lama tidak dipakai, tapi karena Dean yang tidak ingin menunggu langsung membawa mobil itu tanpa diperiksa terlebih dahulu dan hasilnya seperti sekarang ini.
Akira menghela napas panjang, karena pengaruh hormon kehamilan ia jadi mudah kesal hanya karena masalah sepele ini.
“Mau kemana?” tanya Dean saat melihat Akira melangkah menjauh dari mobil.
“Mau tanya sama orang-orang sekitar mungkin disini ada bengkel.”
Dean berjalan cepat meraih tangan Akira. “Biar aku saja, kamu diam aja di dalam mobil.”
Akira menurut tidak membantah, ia masuk ke dalam mobil, sedangkan Dean berjalan ke arah depan mencari seseorang yang bisa ditemui.
Saat ini posisi mobil Dean belum masuk ke jalan besar, masih berada di jalan kecil menuju kediaman Zeno, namun untuk kembali ke rumah Zeno pun sudah sangat jauh dan untuk sampai ke rumah Zeno harus melewati perkebunan teh, seperti sekarang ini mobil Dean berada di jalan yang kiri kanannya perkebunan teh yang sangat luas ditambah sedari tadi tidak ada kendaraan yang lewat, membuat ia dan Dean susah untuk meminta tolong.
__ADS_1
Rumah Zeno memang jauh dari pusat keramain, berada di lingkungan para penduduk, dan akses kesana juga cukup mudah karena jalanannya mulus tidak rusak, namun anehnya sedari tadi tidak ada kendaraan yang lewat, padahal sekarang baru jam setengah lima, jadi masih sangat sore jika orang-orang masih ingin diluar rumah. Ya, walaupun saat ini kabut sudah sebagian turun menutupi daratan, yang membuat keadaan seperti sudah jam enam lewat.
Akira menyilangkan kedua tangan lalu mengusap-ngusap kedua bahunya. ia mematikan ac mobil kemudian sedikit menurunkan jendela agar ia bisa menghirup udara segar.
Saat jendela mobil terbuka angin dingin langsung menerpa bagian atas kepala Akira lalu menghantarkan udara dingin ke seluruh ruangan mobil. Akira menyandarkan punggungnya dengan nyaman ke sandaran kursi sambil melihat ke sekeliling. Saat ini pemandangan di sekitar sudah tidak terlalu jelas karena sudah tertutupi kabut.
Akira mengingat-ngingat kembali kapan terakhir ia pergi ke daerah puncak. “Ya ampun, aku sudah lima tahun nggak pernah pergi ke puncak lagi, terakhir ke puncak saat gathering bareng anggota organisasi di kampus,” Akira terkekeh sendiri mengingat hal tersebut.
Akira memang bukan tipe orang yang terlalu suka jalan-jalan. Ia suka jalan-jalan tapi jika disuruh memilih ia lebih memilih berada di dalam ruangan bersama deretan angka yang ada di layar monitor, menganalisis peluang yang akan didapatkan. Lima tahun terakhir ini ia lebih memfokuskan dirinya pada tingkat kehidupan yang layak daripada keluar rumah pergi ke tempat pariwisata.
Dan semua yang dilakukannya selama lima tahun ternyata tidak sia-sia. Semua manusia tahu tentang hukum alam yang satu ini, bahwa proses tidak mengkhianati hasil.
Terkadang manusia hanya berfokus pada hasil padahal hasil merupakan akibat, sementara usaha merupakan sebab atau proses. Secara sederhana dapat dikatakan, jika kita melakukan sesuatu dengan serius atau berupaya dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mencapai hasil yang maksimal. Itulah yang dikatakan bahwa proses tidak mengkhianati hasil.
Akira melihat jam di layar ponselnya, sudah sekitar 12 menit Dean pergi dan belum kembali. Entah sejauh mana Dean pergi mencari orang untuk bertanya.
Akira menegakkan punggungnya dan melihat ke sekitar yang sudah mulai gelap. tidak lagi terlihat perkebunan teh sepanjang mata memandang, hanya ada kabut yang menjadi pemandangan. Ia mengusap belakang leher karena udara sudah semakin dingin. Ia kembali menaikan jendela mobil lalu menelpon nomor Dean untuk mengetahui keberadaan pria itu. namun ternyata Ponsel Dean berada di dalam mobil, pria itu tidak membawa ponselnya.
Akira menghela napas kecewa. Bisa-bisanya pria itu sampai lupa membawa ponsel, kalau begini Akira jadi mengkhawatirkan Dean sekaligus merasa takut berada di tempat sepi seperti ini sendirian.
Akira keluar dari mobil, mungkin jika ia berjalan sedikit ke arah depan ia akan bertemu Dean. Ya, Akira mengkhawatirkan Dean, takut terjadi hal buruk pada pria itu.
Seharusnya tadi aku ikut bersama Dean, tidak membiarkan pria itu sendirian ditempat asing seperti ini. rancau Akira dalam hati, merasa bersalah membiarkan Dean berjalan sendirian.
__ADS_1
Akira berjalan sambil mendekap tubuhnya sendiri, rasa dingin sudah menusuk di pori-pori kulit Akira hingga ke tulang-tulangnya, membuat ia sedikit menggigil. Bagi orang yang sudah terbiasa dengan udara panas di perkotaan maka sekalinya ke tempat dingin akan dengan mudah merasa kedinginan apalagi Akira yang tidak memakai jaket atau sweater, hanya mengandalkan lengan pakaiannya yang sampai siku.
Sudah sekitar lima menit Akira berjalan, namun tidak menemukan Dean ataupun orang yang lewat. Akira masih terheran-heran mengapa sedari tadi tidak ada kendaraan yang lewat. Tidak mungkin kan desa ini sama sekali tidak ada orang yang bepergian di sore hari.
“Dean pergi sejauh mana, kok gak ketemu-ketemu?” pikiran Akira mulai di hantam dengan pikiran-pikiran buruk. Ia menoleh ke kiri kanan dan hanya melihat samar-samar daun teh yang tertutup kabut. Cerita-cerita horor yang pernah ia baca mulai memenuhi isi kepalanya. Ia memang wanita penakut tapi suka mendengar dan menonton cerita-cerita horor. Entahlah, Akira juga merasa aneh dengan kebiasaanya itu, penakut tapi suka cerita horor.
Ah, sebenarnya Akira melihat film-film horor atau membaca cerita horor untuk melawan rasa takutnya. Ia sadar bahwa ia tidak punya tempat bergantung pada siapapun, jadi sebisa mungkin ia harus melawan semua rasa takutnya, bukankah cara mengobati rasa takut itu dengan menghadapi rasa takut itu sendiri?
Akira tersenyum bahagia ketika melihat lampu kendaraan dari arah depan. Akhirnya setelah sekian lama ada juga kendaraan yang lewat. Akira berpikir bisa meminta tolong pada orang yang lewat itu untuk mencari Dean tapi setelah sepersekian detik senyuman Akira berubah menjadi raut wajah khawatir.
Bagaimana jika orang yang lewat itu adalah orang jahat, apalagi aku perempuan seorang diri disini. Mereka mungkin awalnya tidak berniat jahat, tapi setelah melihat wanita sendirian di tempat sepi seperti ini, bisa memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbuat jahat. Bukankah orang berbuat jahat karena ada kesempatan? Oh, Ya Tuhan, seharusnya tadi aku tetap di dalam mobil, untuk apa aku keluar dari dalam mobil,? padahal aku yakin Dean pasti akan kembali, dia tidak akan tega meninggalkan aku dan calon anaknya ini.
Akira yang mempunyai masa kecil yang buruk di tambah hampir pernah di perkosa membuat ia mempunyai kecemasan di luar batas. Sedikit saja ia berada dalam kondisi yang menyerupai masa kecilnya atau saat akan di perkosa, ia akan langsung panik berlebihan.
Akira semakin merasa panik ketika kendaraan itu semakin dekat, dengan spontan Akira berbalik badan dan berlari dengan cepat menuju mobil yang tidak terlihat dari pandangan matanya.
Tolong siapapun selamatkan aku, aku mohon selamatkan aku. Jerit Akira dalam hatinya sambil terus berlari.
_________________________________
Bagi kalian yang penasaran kapan kedua manusia itu menikah, maka jawabannya bersabarlah, masih banyak kejutan dalam cerita ini dan semoga kalian menikmati alur ceritanya :) Author lagi belajar menulis konflik yang sedikit serius. Kalau mau baca yang konfliknya entang bacalah cerita Rahasia di balik pernikahanku, hehehehe :) Ya walaupun cerita itu masih sangat berantakan sekali :)
Makasih yang masih setia baca cerita ini, semoga kalian gak bosen. Kalau ada masukan tulis di komentar ya, Author sangat terbuka sekali dengan masukan kalian :) happy Reading gaes.
__ADS_1