
Tubuh Akira tersentak kaget ketika mendengar suara pintu rumahnya di ketuk berkali-kali, ia mengejapkan matanya lalu menekan Stop Kontak menyalakan lampu.
“Jam berapa ini?” monolog Akira sambil mengucek matanya perlahan. Lalu ia melihat ke arah Jam Dinding yang menunjukan pukul satu dini hari. Pantas saja Akira merasa baru sebentar tidur ternyata memang benar, ia baru tidur dua jam lalu dan sekarang terbangun karena ada yang mengetuk pintu rumahnya.
“Siapa yang mengetuk pintu rumahku disaat jam satu dini hari begini?” Akira mengerutkan halisnya merasa heran. Tidak mungkin jika ada orang yang bertamu di jam segini.
Akira mengusap tengkuknya yang tiba-tiba merasa hawa dingin, ia teringat akan cerita horor yang pernah ia dengar di salah satu chanel youtube, ceritanya, ada satu mahasiswa yang mengekos di dekat kampus tempatnya menimba ilmu. Mahasiswa tersebut sering sekali mendapat teror dari makhluk halus di kosan tempat tinggalnya. Salah satu teror yang di alami mahasiswa tersebut yaitu ada yang memainkan gagang pintu kamarnya di tengah malam hari. Dan bisa kemungkinan pintu rumah Akira yang terus di ketuk itu bukan ulah manusia melainkan makhluk halus.
Bulu kunduk Akira merinding, membayangkan jika ia membuka pintu rumahnya tetapi tidak ada orang saat pintu rumahnya dibuka.
“Aku yakin itu bukan manusia, mana ada manusia di jam segini bertamu,” gumam Akira pelan seakan takut ada yang mendengar apa yang di ucapkannya.
Akira kembali mendengar suara pintu rumahnya di ketuk kembali setelah beberapa saat hening. Semenjak tinggal di rumah ini Akira tidak pernah mendapatkan peristiwa horor, jika mendengar suara-suara aneh di malam hari, itu palingan suara kucing ribut atau suara tikus yang masuk ke rumahnya, hanya itu tidak lebih.
Aku pernah denger kalau orang hamil itu sering di incer sama makhluk-makhlus halus, karena mereka menginginkan bayi dalam rahimnya. Kadang sering ada suara burung hantu di sekitar rumahnya tau suara burung gagak. Apa mungkin makhluk-makhluk halus itu sudah tahu kalau aku sedang hamil makannya mereka mulai ngedeketin aku.? Batin Akira mencoba menyimpulkan sendiri.
Terus katanya kalau wanita hamil itu gak boleh dibiarkan sendirian di rumah. Ya ampun, bagaimana ini? Aku harus minta tolong sama siapa? Selama ini aku selalu sendirian di rumah. Batin Akira mulai panik di tambah ketuka pintunya belum juga berhenti.
Akira akui ia tidak takut bertemu macam-macam orang, mau itu mukanya seram atau terkenal galak. Akira tidak akan takut berhadapan dengan orang tersebut tapi jika harus dihadapkan dengan ha-hal horor Akira akan langsung melambaikan tangan, menyerah. Menurut Akira menghadapi manusia lebih gampang dari pada menghadapi makhluk-makhluk halus karena makhluk halus itu punya kekuatan yang tidak di punyai manusia, begitulah teori yang Akira anut.
Akira kembali membaringkan tubuhnya di kasur sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya lalu menutup telinganya dengan bantal agar ia tidak mendengar ketukan pintu rumahnya, apalagi sekarang Akira mendengar namanya dipanggil-panggil, membuat tubuh Akira merinding takut.
“Itu setan kok bisa tahu nama aku, padahalkan kita gak kenalan?” lirih Akira
__ADS_1
Sedangkan orang yang terus mengetuk pintu rumah Akira sudah sangat merasa kesal karena sudah sekitar satu jam ia beridiri di depan pintu. Dean tahu bahwa kelakuannya ini kurang sopan, eh ralat, sangat tidak sopan karena sudah menganggu pemilik rumah di jam satu dini hari tapi sungguh, Dean sudah tidak sabar ingin segera mendengar penjelasan Akira tentang kehamilannya walaupun harus menganggu istirahat wanita itu.
Jangan salahkan Dean karena sudah menganggu istirahat wanita itu tapi salahkan Akira karena wanita itu hanya mengatakan dirinya hamil tanpa menjelaskan apapun dan langsung pergi begitu saja.
Sebenarnya Dean ingin langsung ke rumah Akira setelah mendapatkan alamat rumahnya tapi ia urungkan karena memang sudah malam dan akan menemui Akira esok pagi tapi ternyata yang ada ia malah uring-uringan tidak jelas karena terus memikirkan kehamilan Akira, kemudian ia putuskan untuk ke rumah Akira walaupun sudah sangat larut malam.
“Akira,” panggi Dean untuk kesekian kalinya sambil mengetuk pintu rumah Akira.
Dean menghembuskan napas berat lalu membalikan badan, ia melihat supir yang mengantarnya sedang terkantuk-kantung sambil menyenderkan tubuhnya pada mobil. Ia jadi tidak tega melihatnya, seharusnya sang supir sedang tidur, istirahat di jam segini.
“Pak Andri,” Dean menepuk bahu supirnya yang bernama Andri.
Andri yang mendapatkan tepukan di bahunya langsung tersentak kaget dan menegakkan posisi tubuhnya, “Eh, Tuan Dean,” Andri menunjukan ekspresi tidak enak karena ketahuan mengantuk.
“Terus tuan gimana,? Non Akiranya udah ngebukain pintu?”
Dean menggeleng, “Belum, mungkin dia udah bener-bener tidur jadi sama sekali gak ngedenger ada yang mengetuk pintu rumahnya,”
“Kalau gitu kita pulang aja, Tuan Dean. Nanti pagi kita kesini lagi,”
Dean kembali menggeleng, “Pak Andri aja yang pulang, saya mau nunggu disini.”
Andri menatap Dean heran, ia penasaran apa yang membuat pria itu ingin bertemu Akira sampai selarut ini dan rela menunggu pintu rumah itu terbuka. Apakah ada urusan yang sangat darurat sampai tidak bisa menunggu esok pagi? Ah, Andri tidak mengerti jalan pikiran orang-orang kaya.
__ADS_1
“Kalau Tuan Dean tidak pulang, saya juga tidak akan pulang dan akan tetap disini nemenin, Tuan Dean.” Andri mana tega meninggalkan pria itu sendirian di tempat asing di luar rumah seperti saat kini. Walaupun Dean sering menyuruhnya seenak jidak seperti saat kini tapi Andri sangat sayang pada pria itu bahkan sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.
Dean berdecak kesal, “Pak Andri pulang saja, orang yang udah tuan kaya pak Andri gak baik malam-malam gini masih di luar rumah. Inget umur, pak.” Ucap Dean sedikit ketus sambil mendelik kesal.
Andri tersenyum masam mendengar penuturan pria di hadapannya, ingin sekali ia balas ucapan Dean tapi ia ingat akan posisinya. Walaupun ia sudah hampir 20 tahun bekerja di rumah Dean bukan berarti ia bisa membalas ucapan pedas pria itu, “Tuan gak usah khawatir, saya gak akan kenapa-napa kok jika jam segini masih di luar,”
Dean terkekeh pelan, “Pak Andri kegeeran banget! Aku gak bilang kalau aku khawatir sama Pak Andri. Aku Cuma gak mau nanti pekerjaan Pak Andri terbengkalai gara-gara jam segini masih di luar rumah,”
Andri hanya tersenyum masam sambil menundukan kepalanya, tiak merespon ucapan Dean. “Udah sana Pak Andri pulang, nanti aku telpon Pak Andri untuk jemput aku disini,”
“Tapi tuan—“
“Udah sana pulang,” Dean membalikan tubuh Andri menghadap pintu mobil, “Hati-hati dijalan, awas mobilnya lecet gara-gara pak Andri bawa mobilnya sambil ngantuk.”
“Tuan Dean gak apa-apa saya tinggal sendiran?” tanya Andri merasa khawatir. Satu tangannya sudah membuka pintu mobil.
“Udah sana pulang,” Dean mendorong tubuh Andi untuk masuk mobil lalu menutup mobil dengan cepat.
“Tuan gak apa-apa saya tinggal sendiri?” Andr menurnkan jendela kaca, menatap Dean memastikan.
“Aku itung sampai lima jika Pak Andir belum juga meninggalkan halaman rumah ini jangan harap gaji bulan ini turun,”
Andri menelan ludahnya ngeri mendapat ancaman tersebut, ia segera menyalakan mesih mobil lalu meninggalkan halaman rumah Akira.
__ADS_1
Dean menghembuskan napas pelan setelah mobil yang di bawa Andri sudah hilang dari penglihatannya lalu ia kembali menatap pintu rumah yang belum juga terbuka, “Apakah aku harus menunggu sampai pagi hari agar pintu rumah itu terbuka?” gumam Dean pelan lalu kembali mendekat pada pintu rumah Akira lalu kembali mengetuk pintu tersebut sambil memanggil nama Akira.