Aku Milikmu

Aku Milikmu
Tidak percaya


__ADS_3

Akira duduk termenung, menundukan kepala sambil mengepalkan jari-jari tangannya di atas paha. Hatinya terus mempertanyakan apakah yang dilakukannya ini sudah benar? Akira merasa takut. Bukan takut karena Dean tidak mempercayai anak dalam rahimnya, melainkan karena ia takut menyesal akan keputusan untuk memberitahu pria itu.


Setelah menelpon Dean akhirnya pria itu menginzinkannya untuk bertemu. Dan saat ini pria itu sedang menatapnya penuh pertanyaan.


“Jadi apa yang membuat kamu ingin bertemu denganku dan mengganggu malamku, hem.?” tanya Dean dingin. Pria itu duduk di kursi seberang Akira, mengangkat satu kaki ke pahanya sambil menyilangkan kedua tangan di depan Dada.


Akira tidak langsung menjawab. Ia membuka tasnya mengambil sesuatu yang akan ia tunjukan pada pria itu lalu diletakanlah 5 buah tesfek yang menunjukan dua garis merah di atas meja.


“Apa maksud semua ini?” tanya Dean tidak mengerti.


“Saya hamil anak anda, tuan. Dan tespek ini buktinya.” Jawab Akira tegas sambil menatap tajam pada Dean. Ia ingin lihat bagaimana ekspresi pria itu mengetahui ia hamil anaknya.


Dean mengangkat satu halisnya, menatap balik pada Akira. Posisi tubuhnya tidak berubah, seakan-akan tidak kaget dengan apa yang telah ia dengar. “Kamu yakin itu anak saya?” tanya Dean datar. “Tespek itu memang menunjukan kamu sedang hamil, tapi belum tentu anak yang kamu kandung adalah anak saya.” Lanjutnya.


Akira mendengus kasar dan semakin mengepalkan jari-jari tangannya yang berada di atas paha. Pria itu seakan-akan mengatakan bahwa ia sering tidur dengan banyak lelaki padahal lelaki yang menidurinya hanya dia seorang. “Saya memberitahu hal ini bukan untuk membuat anda percaya bahwa anak dalam kandungan saya adalah anak anda, saya hanya ingin memberitahu karena memang anda pantas tahu karena ini anak anda,” ucap Akira penuh percaya diri tanpa ada rasa takut “Anda percaya atau tidak itu terserah, saya tidak peduli. karena saya hanya ingin memberitahu tidak mengharapkan lebih apalagi meminta pertanggung jawaban.” Lanjutnya.

__ADS_1


Akira bangkit dari duduknya lalu mengeluarkan surat pengunduran diri dan meletakannya di atas meja dekat tespek. “Hanya itu yang ingin saya sampaikan dan ini surat mengunduran saya. Mulai besok saya resmi berhenti bekerja di perusahaan anda,” Akira tersenyum miring lalu melangkah pergi. Jangan harap kalian melihat Akira menangis tersendu-sendu meminta pertanggung jawaban, karena Akira sama sekali tidak mengharapkan anak dalam kandungannya ini mempunyai ayah yang tidak beradab. Lebih baik anaknya lahir tanpa ayah dari pada harus kecewa mempunyai ayah seperti itu.


“Apa yang sebenarnya kamu inginkan, hah? Tanya Dean penuh kekesalan, ia mencekam lengan Akira sembari menatapnya penuh dengan permusuhan.


Akira terkekeh kecil sambil membuang muka ke arah lain lalu kembali menatap pria itu tak kalah tajam, “Saya tidak menginginkan apa-apa. Dan sudah saya katakan, kalau saya hanya ingin memberitahu perihal anak anda tidak lebih,” Akira sedikit mendekatkan wajahnya pada telinga Dean seraya berkata “Saya tidak akan meminta pertanggung jawaban pada pria yang tidak bermoral seperti anda, Tuan Dean.” Lirih Akira dingin lalu dengan kasar menarik tangannya dari cengkapan Dean, berjalan menjauh dari pria itu.


Dean menggeram kesal, ia merasa dipermainkan. Untuk apa wanita itu memberitahu kehamilannya jika bukan untuk meminta pertanggung jawaban, tidak mungkin Akira hanya ingin memberitahunya tanpa ada rencana yang telah wanita itu siapkan.


Dean berjalan cepat menghampiri Akira yang terus berjalan menuju pintu keluar, lalu kembali menarik tangan Akira sampai tubuh wanita itu terbentur ke dadanya. “Kamu ingin memainkan saya, hah? Ingat baik-baik saya tidak akan terjebak dalam permainan kamu, Akira.” Ucap Dean penuh penekanan.


Akira mendengus, “Anda terlalu banyak nonton sinetron, Tuan Dean. Saya bukan anak kecil yang masih suka bermain.” Akira mengejek perihal permainan yang dipikirkan tuannya itu “Jika anda tidak percaya kalau ini anak darah daging anda, ya sudah tidak apa-apa. lagipula saya tidak meminta pertanggung jawaban, iyakan?” Akira menjeda ucapannya, “Coba tanyakan pada diri anda sendiri, apakah malam ketika kita berhubungan badan anda memakai pengaman, hem? Anda mengeluarkan benih anda di luar atau di dalam? Dan perlu anda ingat baik-baik Tuan Daen yang terhormat, saya bukan wanita yang mengobralkan dirinya dijamaah banyak pria.”


Akira sudah banyak melewati masa-masa sulit dalam hidupnya dan ia yakin ia juga bisa melewati masa sulit yang sedang menimpanya ini. Dan Akira juga tidak ingin hidupnya menjadi lebih hancur jika harus bersanding dengan pria seperti Dean, pria yang suka tidur dengan banyak wanita.


Lebih baik ia menerima gunjingan dari orang-orang karena memiliki anak tanpa suami dari pada sepanjang hidupnya harus menderita bersanding dengan Dean.

__ADS_1


Sedangkan Dean diam termenung memikirkan apa yang di ucapkan Akira, ia mengingat kembali kejadian 8 minggu yang lalu. Apakah ia benar-benar tidak memakai pengaman saat tidur dengan Akira? Tapi selama ia tidur dengan banyak wanita Dean selalu memakai pengaman, ia tidak pernah melupakan benda pelindungnya itu. ia adalah seorang player dan tidak mungkin kecolongan.


Atau malam itu ia benar-benar lupa karena terlalu tergoda dengan tubuh Akira sampai ia melupakan pengaman.?


Dean menjambak rambutnya, pusing memikirkan hal tersebut. apakah anak dalam rahim Akira benar-benar anaknya? Atau wanita itu hanya memanfaatkan dirinya karena pernah menidurinya dua kali?


“Aku memang yang mengambil keperawannya tapi bisa jadi setelah tidur denganku wanita itu tidur dengan pria lain dan hamil, tapi pria yang menghamilinya tidak mau tanggung jawab kemudian Akira datang kepadaku seolah-olah aku yang menghamilinya, dia sedang mencari keuntungan mentang-mentang dia pernah tidur denganku,” Dean menduga-duga menyimpulkan sendiri “Tapi wanita itu tidak minta pertanggung jawabanku, jadi seharusnya aku tidak perlu ambil pusing jika itu bukan anakku, toh dia gak menuntut apa-apa. tapi bagaimana kalau anak dalam kandungannya beneran anakku? Apakah aku tega dia lahir tanpa seorang ayah?” Dean semakin pusing dengan pertanyaannya sendiri, apa yang harus ia lakukan sekarang? Rasanya mustahil mempercayai itu semua.


Dean melihat kesekeliling ruangan dan baru sadar jika Akira sudah pergi dari rumahnya. Ia harus meminta penjelasan yang lebih jelas dari wanita itu. seharusnya Akira memberikan penjelasan agar ia percaya bahwa anak dalam kandungannya adalah Anak darah dagingnya tapi wanita itu hanya memberitahu bahwa ia hamil kemudian pergi begitu saja setelah memberitahu.


“Hallo Ethan?” Dean memutuskan untuk pergi menyusul Akira dan meminta alamat rumah Akira pada Ethan.


“Tuan bisakah anda memberikan saya istirahat,? Sepanjang hari saya terus bekerja menemani anda, tidak bisakah malam ini saya tenang tanpa gangguan dari anda, Tuan Dean?” cerocos Ethan merasa kesal waktu istirahatnya terganggu.


Dean mendengus kesal, ini akibat ia terlalu memanjakan asisstennya. “Aku butuh alamat Akira sekarang juga,” ucap Dean dengan nada memerintah.

__ADS_1


Dean mendengar decakan kesal disebrang sana, “Apakah harus sekarang juga?” tanya Ethan lemas.


“Aku tunggu lima menit dari sekarang,” Dean tidak menanggapi pertanyaan Ethan lalu memutuskan sambungan telpon tersebut.


__ADS_2