
“Udah siap?” tanya Dean saat Akira keluar dari kamarnya. Wanita itu sekarang sudah kelihatan lebih baik dari pada beberapa jam lalu. Setelah menghabiskan waktu cukup lama untuk menangis, Akira langsung makan sarapannya, begitupun dengan Dean yang ikut sarapan karena tidak sempat sarapan dirumah.
Akira mengangguk seraya berkata, “Udah.”
Kini mereka akan ke rumah sakit untuk mengecek kandungan Akira. Akira memakai dress polos selutut berwarna Sage Green, dan lengannya sepanjang siku. Lalu dipadukan dengan sneaker warna putih, membuat tampilan Akira terlihat santai.
Sedangkan Dean memakai kaus berlengan pendek warna Armi dan celana jeans panjang. Pria itu memang dari dulu lebih suka memakai baju kaus dari pada baju formal, apalagi memakai jas.
“Tuan Dean beneran gak apa-apa nemenin aku periksa kandungan? Kalau Tuan Dean sibuk aku bisa sendiri kok,” ujar Akira sambil berjalan menuju mobil Dean yang terpakir di depan halaman rumahnya.
Dean yang tiga langkah di depan Akira menengok sekilas ke arah wanita itu, “Aku udah bilang, kalau aku akan nyempetin waktu buat nemenin kamu periksa kandungan. Aku juga ingin denger langsung kondisi anakku, Akira.” Ujar Dean sambil berjalan. Ia membuka pintu mobil lalu mendaratkan pantatnya di kursi kemudi. Kemudian di susul Akira yang duduk dikursi depan, sebelah Dean.
Dean pun menyalakan mesin mobilnya dan perlahan meninggalkan halaman rumah Akira. Disepanjang jalan tidak ada obrolan diantara mereka, keduanya sama-sama diam dengan pikiran masing-masing.
Akira mengarahkan pandangannya keluar jendela, pagi menjelang siang ini jalanan tidak terlalu padat karena sudah lewat dari jam berangkat kerja ataupun sekolah. Sebenarnya Akira malu berhadapan dengan Dean setelah ia menangis, tadi pagi ia benar-benar menangis sepuasnya di pelukan pria itu. Akira tidak menyangka bahwa ia dengan mudah menangis dihadapan Dean.
Karena kejadian pagi ini, keraguan dalam hati Akira juga mulai berkurang terhadap Dean, pikiran buruk Akira yang anaknya nanti akan dilantarkan oleh Dean berkurang drastis karena kata-kata yang dilontarkan pria itu tadi pagi. Dan tidak ada salahnya ia mencoba menerima kehadiaran Dean disisinya. Masa percobaan selama sebulan ini sepertinya cukup untuk Akira meyakinkan hatinya untuk menikah dengan Dean.
Setelah memakan waktu sekitar 20 menit, mereka pun sampai di depan rumah sakit. Dean memakirkan mobinya tidak jauh dari pintu lobby lalu mereka beriringan berjalan menuju gedung yang didominasi warna putih itu.
Di depan lobby sudah ada tiga pria dan satu wanita berseragam Dokter menunggu kedatangan Dean. Tiga pria itu tersenyum ramah dan saling berjabat tangan dengan Dean dan Akira.
“Sekian lama tidak bertemu,” ujar wanita satu-satunya yang berseragam dokter disitu sambil menjabat tangan Dean dengan raut wajah datar.
Dean hanya tersenyum miring tidak menanggapi.
“Jadi ini wanita yang akan diperiksa kanduangannya?” tanya dokter wanita itu saat berjabat dengan Akira. Menatap Akira dari kaki sampai ujung kepalanya.
Akira hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban.
“Ranti, jaga sikap kamu! Ini pertama kalinya Tuan Dean memakai jasa rumah sakit kita,” bisik salah satu dokter pria diantara mereka dan Dean hanya tersenyum kecil mendengar bisikan tersebut. Sedangkan dokter wanita yang bernama Ranti itu hanya berdecak tidak suka.
Setelah Dean berbicang-bincang sebentar dengan ketiga dokter pria itu, ia dan Akira berjalan dibelakang Ranti menuju ruangan wanita itu. Dimana Ranti yang akan memeriksa kondisi kandungan Akira.
__ADS_1
“Kemana aja lo selama ini? anak-anak terus nanyai elo tau,” ucap Ranti ketus sambil berjalan tanpa menoleh kepada Dean.
Akira yang mendengar ucapan itu memberhentikan langkahnya, dan menoleh pada Dean yang berjalan di sampingnya. Dean pun ikut memberhentikan langkahnya dan menatap Akira balik.
“Katanya Tuan Dean belum pernah ngehamilin wanita manapun, tapi kok udah punya anak aja,?” tanya Akira serius.
Dean mengerutkan dahi mendengar pertanyaan Akira yang ambigu, “Hah? Aku gak ngerti apa yang kamu katakan, Akira.?” Dean terheran-heran.
“Kata dokter itu, Tuan Dean terus ditanyain sama anak-anak. Jadi, selama ini Tuan Dean udah punya anak selain yang ada didalam perut aku?” jelas Akira.
Dean bibuat melongo mendengar ucapan Akira lalu terkekeh kecil sambil mengusap belakang lehernya.
“Maksudnya anak-anak tuh temennya Dean, bukan anak-anak kecil anaknya Dean,” celetuk Ranti yang tersenyum geli melihat Akira yang salah menanggapi ucapannya.
Akira hanya ber-oh mengerti sambil mengulum senyum menahan malu. Ia tadi sudah khawatir akan kenyataan kalau Dean sudah punya anak selain yang ada di dalam perutnya. Ternyata ia salah tangkap akan perkataan Ranti.
Ya ampun Akira, malu-maluin banget sih kamu. Gerutu Akira dalam hati.
“Kenalin aku Ranti teman semasa SMA-nya Dean,” ujar Ranti tersenyum sambil mengulurkan tangannya.
“Kamu tenang aja, Akira. Kamu wanita pertama yang datang ke dokter kanduangan sama Dean,” tambah Ranti diakhiri kekehan kecil lalu berbalik badan melanjutkan langkahnya.
“Kalau aku yang pertama berarti nanti ada yang kedua, ketiga dong yang akan datang ke Dokter kanduangan sama Tuan Dean,” ujar Akira sambil melirik pada Dean.
Dean berdecak lalu merangkul bahu Akira, “Kamu yang pertama dan terakhir,” ujar Dean sambil menarik pelan tubuh Akira agar kembali melanjutkan langkahnya.
Akira hanya terkekeh kecil menganggap perkataan itu hanya sekedar candaan belaka. Dan Dean pun mengatakan itu hanya refleks, entah serius atau omong kosong.
......................
Selama pemeriksaan Dean selalu disamping Akira, ikut mendengarkan apa yang dipaparkan oleh Ranti. Saat Akira ingin bangun dari Kasur Brankar setelah pemeriksaan selesai, Dean membantu Akira bangun dan memegang tangan wanita itu ketika ingin turun dari kasur. Semua perlakuan itu tidak luput dari pandangan Ranti sambil tersenyum penuh arti.
“Kalau dihitung dari terakhir Akira datang bulan, perkiraan sekarang kandungannya berusia enam minggu,” ucap Ranti sambil duduk dikusi kebesarannya.
__ADS_1
Akira refelks mengelus perutnya, tidak menyangka ternyata ia sudah hamil selama itu. Akira baru tahu dirinya hamil seminggu yang lalu. Pikiran Akira melalang buana mengingat apa saja yang sudah ia lakukan sebulan yang lalu, bisa saja ia melakuakan yang bisa membahayakan bayi dalam rahimnya.
“Tenang aja kondisi bayinya baik-baik saja,” lanjut Ranti yang melihat raut khawatir Akira, ia seperti bisa menebak apa yang dipikirkan Akira.
“Ini pemeriksaannya gini doang? Gak diperiksa ulang supaya hasilnya lebih akurat?” celetuk Dean seperti meragukan hasil kerja teman SMA-nya itu.
“Akhirnya elu ngomong juga ya sama gue,” Ranti mendelik, menatap sinis pada Dean.
Dean berdecak kesal, tidak mendapati jawaban yang diinginkan. “Tolong keprofessionalannya, Dokter Ranti.”
Ranti mendengus kasar sambil memalingkan muka, ia benar-benar kesal melihat Dean. Tiga tahun tidak ada kabar tiba-tiba datang membawa wanita hamil. benar-benar sudah tidak menganggap dirinya sebagai sahabat lagi.
Ranti kembali professional, menjabarkan tentang kondisi kehamilan Akira serta memberitahu hal-hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan ibu hamil.
“Kalian gak bertanya, apakah boleh berhubungan badan saat lagi hamil? Biasanya yang datang periksa kesini pertanyaan itu gak pernah terlewatkan!” ujar Ranti setelah menjawab berbagai pertanyaan dari Akira dan Dean tapi pertanyaan tentang itu sama sekali tidak keluar dari mulut salah satunya. Cukup mengherankan bagi Ranti.
Dean hanya menghembuskan napas panjang, kalau saja ini bukan rumah sakit terbaik di kota ini Dean sama sekali tidak mau menginjakan kakinya disini dan bertemu dengan wanita dihadapannya itu, sedangkan Akira hanya mengulum senyumnya, merasa canggung.
“Jawab saja apa yang kami tanyaka-“ ucapan Dean terhenti karena ponselnya berdering dari saku celana. Ia mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera dilayar ponselnya.
“Kalau kamu masih ingin ada yang ditanyakan tanyakan saja sama Dokter Ranti. Aku keluar dulu angkat telpon.” Ujar Dean pada Akira sambil beranjak dari kursi lalu keluar dari ruangan Ranti.
Ranti menghembuskan napas panjang lalu bersender pada kepala kursi, “Dia benar-benar sudah berubah,” lirih Ranti dengan raut wajah kecewa.
“Dokter Ranti sepertinya sangat dekat dengan Tuan Dean,” ucap Akira, sebenarnya Akira bukan wanita yang penasaran dengan kehidupan orang lain begitupun dengan kehidupan Dean, tetapi setelah melihat raut wajah Ranti yang kecewa seperti itu dan mengingat kembali perkataan Santi pelayan dirumah Dean. Mau tidak mau rasa penasaran itu muncul dipermukaan.
Ranti kembali menegakkan tubuhnya dan tersenyum kecil sebelum menjawab, “Aku dan lima orang lainnya bersahabat dengan Dean, sangat dekat. Tapi entahlah apa yang terjadi pada Dean, semenjak pria itu pulang yang kedua kalinya dari luar negri perlahan-lahan dia menjauh dan berubah. Aku sama anak-anak yang lainnya sampai sangat keheranan apalagi tiga tahun terakhir ini pria itu sama sekali tidak ada kabar,” Ranti mengungkapkan keheranan yang ada dihatinya.
“Apa kamu tahu apa yang membuat dia berubah, Akira.?” Lanjut tanya Ranti.
Akira tersenyum canggung lalu menggelengkan kepalanya, “Aku gak tahu apapun tentang Tuan Dean, aku hanya tahu dia sekedar boss dikantor tempatku bekerja.” Akira berkata jujur.
...----------------...
__ADS_1
...🍒🍒🍒...