Aku Milikmu

Aku Milikmu
Bermain Dengan Bulan


__ADS_3

Dean menatap malas pada rumah yang berada di hadapannya. Ia sudah menolak tawaran Ethan untuk makan di rumah pria itu, tapi Ethan dengan segala bujuk rayuannya berhasil membawa Dean datang ke rumahnya untuk makan malam bersama.


Ethan dengan sopan membuka pintu mobil untuk Dean dan baru saja Dean keluar dari dalam mobil ia sudah disambut dengan teriakan dua anak kecil yang berlarian dari dalam rumah menuju tempatnya berada.


“Papaah..” teriak dua anak Ethan sambil berlari.


Ethan langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar menyambut pelukan dari kedua anaknya sambil tersenyum lebar. Anak pertama Ethan perempuan yang kini berumur 5 tahun sedangkan anaknya yang kedua laki-laki berumur tiga tahun.


Dean hanya berdiam diri melihat interaksi Ethan bersama anak-anaknya. Ethan mencium wajah anaknya satu persatu lalu menyuruh keduanya bersalaman pada Dean.


Dean dengan ragu-ragu menjulurkan tangannya ketika anak pertama Ethan ingin bersalaman dengannya. Dan tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran Dean. mungkin jika anak dalam kandungan Akira tidak keguguran dan bertumbuh besar, ia juga akan disambut pulang dengan suara riang anaknya. Bukankah itu sangat membahagiakan.? Dan Dengan tak sadar Dean tersenyum kecil membayangkan hal tersebut.


“Pah, mamah nangis lagi.” Ucap anak kedua Ethan setelah bersalaman dengan Dean.


Ethan menghela nafas berat lalu menggendong anak keduanya yang minta untuk di gendong.


“Tadi mamah lihat bibi menggoreng ikan, terus tiba-tiba nangis. Kata mamah kesian ikannya mati padahal dia juga ingin hidup” timbal anak pertama Ethan.


Dean menoleh pada Ethan, ia tidak mengerti yang diucapkan kedua anak Ethan itu.


“Istri saya sedang hamil anak ketiga, dan akhir-akhir ini dia sensitif banget. Sedikit saja lihat kejadian yang mengharukan dia langsung nangis,” ucap Ethan yang mengerti kebingungan di wajah Dean.


“Hamil anak ketiga?” ucap Dean setengah tidak percaya.


Ethan terkekeh kecil sambil mengangguk. “Sebenarnya kami tidak berencana untuk punya anak lagi, tapi ternyata kami malah kebobolan. Bahkan saya dan istri baru tahu ketika kehamilannya sudah 6 minggu.” Ethan menjeda ucapannya dan mencondongkan wajahnya ke arah kuping Dean. “Padahal istri saya sudah minum pil KB tapi tetap aja kebobolan. Itu artinya benih-benih saya sangat hebat kan, Tuan Dean!”


Dean menghentikan langkahnya dan menatap Ethan dengan tatapan kesal, apa maksud Ethan mengatakan kalimat terakhir itu. apa Dia ingin menyombongkan diri karena berhasil membuat istrinya hamil lagi? Atau secara tidak langsung memberitahu bahwa permainannya di atas ranjang sangat hebat? Sungguh, Dean sangat tidak peduli dengan hal tersebut!

__ADS_1


Ethan yang mengerti tatapan kesal Dean langsung mempercepat langkahnya masuk ke dalam rumah dan meminta pelayan untuk menyiapkan makan malam.


Ethan mempersilahkan Dean duduk di ruang tamu dan ia meminta izin untuk ke kamar terlebih dahulu menemui sang istri.


Dean melihat ke sekeliling ruangan, tidak ada banyak perubahan di dalam rumah ini dari terakhir ia datang kesini. ini yang keempat kalinya Dean datang berkunjung ke rumah Ethan, dan terakhir kali ia datang saat anak kedua Ethan masih berumur dua tahun. itu berarti sudah satu tahun yang lalu.


“Om, mau main bola sama Bulan gak?” tanya anak pertama Ethan yang bernama Bulan, datang menghampiri Dean sambil membawa bola basket.


“Om gak bisa main bola ya?” ucap Bulan lagi yang mendapati Dean hanya diam.


“Bisa.” Jawab Dean singkat dan sedikit kaku.


“Kalau begitu ayo temenin Bulan main bola. Bulan gak bisa ngajakin adek Bintang main bola soalnya dia masih kecil. Biasanya Bulan di temenin mamah tapi sekarang mamah nangis terus, kata papah itu wajar karena mamah lagi ngandung adek kedua buat Bulan.”


Dean menelan salivanya sambil mengusap belakang lehernya. Ia tidak tahu harus merespon seperti apa.


Bulan mengerucutkan bibirnya dengan ekspresi kesal. “Papah itu sibuk banget, kerja mulu. Kalau Bulan minta temenin main, papah selalu bilang, harus kerja kalau nggak kerja nanti papah di marahin sama bos papah, terus nanti papah dipecat, kalau papah dipecat  nanti papah nggak bisa beliin mainan buat Bulan dan Bintang.”


Dean merapatkan kedua bibirnya menahan senyum, melihat Bulan berbicara dengan ekspresi kesal, ditambah wajahnya yang begitu polos membuat Bulan terlihat sangat menggemaskan dan lucu di mata Dean. hingga tak sadar Dean menjulurkan tangannya mencubit pelan pipi Bulan yang cabi.


“Padahal mainan Bulan sama Bintang udah banyak, kami nggak apa-apa kok kalau nggak di beliin mainan lagi sama papah, asalkan papah mau nemenin kita main.” Lanjut Bulan yang ekspresinya berubah menjadi sedih.


Dean tersenyum miris. Apa ia sudah keterlaluan memberikan pekerjaan yang begitu banyak pada Ethan, hingga Ethan tidak ada waktu bersama anak-anaknya.


“Yaudah, om temenin Bulan main bola.” Jawab Dean, tidak ingin melihat terlalu lama raut wajah sedih Bulan.


Seketika Bulan tersenyum lebar dan wajah riangnya kembali muncul. Dean yang melihat hal itu pun ikut tersenyum kecil.

__ADS_1


Dengan hal kecil saja anak kecil sudah bisa kembali bahagia, tapi kenapa hal tersebut tidak bisa terjadi pada orang dewasa? Apa karena tingkatan kebahagian anak kecil dan orang dewasa berbeda? Ah, entahlah, Dean tidak ingin dipusingkan dengan hal tersebut!


“Kita mainnya di sana aja, om,” Bulan menarik tangan Dean mengajaknya ke ruangan tempat biasa ia bermain dan Dean hanya mengikuti langkah kecil Bulan.


Sudah sekitar 15 menit Dean menemani Bulan bermain bola basket, sekaligus mengajarkan Teknik dasar Bola Basket. Mulai dari cara memegang bola dengan benar sampai melempar dan menangkap bola. Dan Bulan yang tidak pernah mendapatkan ilmu tersebut merasa sangat senang dengan hal yang baru ia tahu.


Ketika Bulan bermain dengan mamahnya ia tidak pernah diajarkan seperti yang Dean ajarkan. Hanya melempar dan menangkap bola secara asal-asalan dan yang terpenting masuk kedalam ring.


“Seharusnya wanita kan main boneka, tapi kenapa Bulan malah main Bola Basket?” tanya Dean sambil melemparkan bola ke arah Bulan. Ia sudah bisa menyesuaikan dirinya bermain dengan anak kecil dan hal itu ternyata tidak sesulit yang ia pikirkan.


Bulan mengerucutkan bibirnya. “Emang kalau wanita gak boleh main bola?” Bukannya menjawab, Bulan malah balik bertanya.


“Ya boleh-boleh aja, tapi kan kebanyakan wanita main boneka.”


“Bulan pengen jadi wanita yang berbeda dari kebanyakan wanita!” sahut Bulan setelah memasukan bola basket ke dalam ring.


Dean tersenyum miring. Ia merasa aneh mendengar kata-kata tersebut keluar dari anak kecil berumur lima tahun. Entah bagaimana Ethan mendidik anaknya hingga mempunyai pemikiran seperti itu.


“Memangnya Bulan tahu, arti menjadi berbeda dari yang lain?” tanya Dean memancing. Ternyata cukup seru juga ngobrol dengan anak kecil sambil bermain bola seperti sekarang ini, di tambah raut wajah Bulan yang mudah berubah, menjadi suatu hiburan yang seru bagi Dean.


“Tahu,” jawab Bulan dengan raut wajah sombong. Dean yang melihat itu hanya tersenyum miring sambil mendengus. Wajah Bulan yang seperti itu sama persis dengan raut wajah Ethan yang bagi Dean sangat menyebalkan.


“Anak-anak yang lain main Boneka, sedangkan Bulan main bola. Jadi Bulan berbeda kan dengan yang lain?” lanjut Bulan setelah melemparkan Bola ke dalam Ring.


Dean terkekeh pelan. Raut wajah Bulan benar-benar menjadi hiburan bagi Dean. Ternyata ia tidak sia-sia datang kerumah ini.


Jika anak dalam rahim Akira lahir dan bertumbuh besar, apa dia juga akan menggemaskan seperti Bulan? Apa nanti anak ku juga minta di ajari main basket atau di ajari hal lain? Ah, sial... kenapa aku jadi memikirkan hal itu lagi. Sadarlah Dean, kamu tidak akan pernah mendapatkan kebahagian itu, tidak akan ada orang yang benar-benar mencintai kamu. ucap Dean dalam hati.

__ADS_1


Dalam hati Dean yang paling dasar, ia juga ingin mempunyai keluarga yang hangat.


__ADS_2