Aku Milikmu

Aku Milikmu
Perasaan Tak Menentu I


__ADS_3

“Kenapa Dean melakukan ini semua?” monolog Akira setelah mengingat kejadian hari kemarin.


Akira benar-benar tidak mengerti apa yang telah dilakukan Dean. Entah apa tujuan pria itu membawanya pergi dalam keadaan tidak sadar, lalu tiba-tiba terbangun dengan keadaan tangan di ikat.


“Bibi Emil pasti khawatir, tiba-tiba aku tidak ada di rumah.” Bukannya mengkhawatirkan diri sendiri, Akira justru mengkhawatirkan keluarga bibi Emil yang akan kebingungan dengan dirinya yang tiba-tiba menghilang.


Akira kembali mencoba melepaskan ikatan di tangannya, tidak mempedulikan pergelangan tangannya yang sudah sangat terasa perih. Ia hanya memikirkan untuk segera mengabari keluarga bibi Emil agar mereka tidak mengkhawatirkan dirinya.


“Sudah bangun?”


Akira menghentikan usahanya melepas ikatan tersebut ketika mendengar suara pria yang sudah tidak terasa asing di pendengarannya. Akira langsung menoleh pada pria yang tengah berdiri di ambang pintu sambil membawa sebuah nampan.


“Apa yang kamu lakukan padaku, Dean?” tanya Akira garang sambil menatap tajam pada Dean.


“Eh, kenapa kamu jadi galak begini, Akira?” Tanya Dean balik dengan santai dan berjalan mendekat pada Akira.


“Kenapa aku diikat begini?”


“Kamu baru saja bangun, Akira. kenapa bicaranya langsung ngegas begitu?”


Ah, keduanya sama-sama saling melemparkan pertanyaan. Akira yang kebingungan dirinya yang tiba-tiba diikat meminta penjelasan pada Dean, sedangkan Dean yang tidak biasa mendengar ucapan Akira yang galak merasa tidak suka dengan hal tersebut.


“Aku tanya sekali lagi, Dean. apa yang kamu lakukan padaku? Kenapa aku diikat? Kenapa aku berada disini bukan di rumah bibi Emil? Dan kenapa tadi malam kamu membiusku, hah?” ucap Akira setengah berteriak.


Dean berdecak kasar sambil menaruh nampan di atas meja dengan kasar. “Kenapa kamu seolah-olah yang marah, Akira? seharusnya disini aku yang marah!” balas Dean dengan setengah berteriak juga.


“Eh...” Akira mengerutkan dahinya yang merasa bingung dengan ucapan Dean. Akira melihat ke jam dinding yang sudah menunjukan jam 1 siang dan itu artinya Dean tidak mungkin sedang ngelindur, yang tiba-tiba mengatakan hal tidak jelas.


Apa karena sudah dua bulan lebih aku tidak bertemu dengan Dean, pria itu berubah menjadi orang gila. Wajar saja kan aku marah, karena tanpa alasan yang jelas dia membiusku dan membawaku pergi dari rumah bibi Emil, lalu tiba-tiba aku diikat seperti ini, seperti seorang anak yang sedang di culik. Jadi WAJAR SAJA KAN JIKA AKU MARAH! Tapi kenapa dia bilang seharusnya dia yang marah? Ah, pria itu benar-benar sudah gila.


Akira menghela napas dalam-dalam, ia harus tetap menjaga emosinya agar tidak membuang energinya dengan cuma-cuma.


“Dean, aku benar-benar tidak tertarik untuk bercanda dengan kamu. Jadi lebih baik sekarang kamu lepaskan ikatan tali ini dan biarkan aku pulang ke rumah bibi Emil. Mereka pasti mengkhawatirkan aku yang tiba-tiba menghilang dari rumah mereka.” Ucap Akira sedikit lembut daripada sebelumnya.


Dean terkekeh sinis sambil duduk di samping Akira dan mendekatkan wajahnya pada wajah Akira.


“Apa yang akan kamu lakukan, Dean?” lirih Akira sambil memundurkan wajahnya ketika wajah Dean semakin mendekat.

__ADS_1


“Jangan pernah berharap untuk pergi dari sisiku, Akira. Jangankan kembali ke rumah Bibi Emil, kamu keluar dari kamar ini saja tidak akan bisa. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat, Akira.” ucap Dean penuh penegasan tepat di depan wajah Akira.


Akira semakin mengerutkan dahinya, ia menatap Dean dengan wajah penuh tanda tanya. Ia benar-benar tidak mengerti dengan apa yang telah diucapkan Dean dan apa maksudnya ‘bertanggung jawab’ memangnya ia sudah melakukan apa?


“Dean, sungguh, aku tidak mengerti dengan apa yang kamu ucapkan! Aku tidak tahu alasan kamu membiusku dan membawaku pergi dari rumah bibi Emil. Tetapi aku mohon, kalau kamu tidak ingin melepaskan aku, tolong sampaikan pada bibi Emil kalau aku baik-baik saja, tolong buatkan alasan agar mereka tidak khawatir dengan kepergianku yang tiba-tiba.”


Akira yang sudah cukup mengenal Dean mengerti dengan ucapan Dean yang tidak pernah main-main. Jika pria itu sudah mengatakan tidak akan membiarkannya keluar dari kamar ini maka tidak akan ada harapan untuk keluar dari kamar ini. Walaupun ia belum tahu apa tujuan Dean melakukan semua hal ini tetapi setidaknya ia memohon agar Dean memberitahu bibi Emil bahwa ia baik-baik saja.


Sungguh, Akira tidak ingin membuat keluarga yang sudah menerimanya seperti keluarga sendiri harus mengkhawatirkan dirinya. Bagaimana pun selama satu minggu ini Akira benar-benar merasa seperti punya keluarga.


Dean tersenyum miring sambil berdiri dari duduknya.  “Kamu tenang saja, Akira. aku sudah mengatakan pada keluarga bibi Emil bahwa kamu calon istri ku yang melarikan diri dan bilang pada mereka bahwa kita sekarang sedang butuh waktu berdua untuk membicarakan kelanjutan pernikahan kita,” jawab Dean acuh tak acuh. “Jadi mereka tidak akan curiga dengan kepergian kamu yang tiba-tiba.”


Walaupun Akira tidak suka dengan apa yang telah Dean ucapkan pada keluarga bibi Emil, tapi setidaknya ia bisa bernapas lega karena tidak akan membuat keluarga itu khawatir akan dirinya.


“Aku sudah membawa sarapan itu kamu, Akira. Ah, bukan sarapan tapi makan siang. Jadi silahkan di makan.” ucap Dean sambil mendekatkan nampan ke samping Akira lalu pergi begitu saja keluar dari kamar.


“Dasar pria gila... bagaimana aku bisa makan kalau ikatannya belum di lepas. Kamu kira aku hewan yang makan langsung pakai mulut, hah?” Teriak Akira dengan penuh emosi.


Dasar Dean sialan. Kenapa aku harus bertemu kamu lagi? Dan sesuai firasatku, pasti akan terjadi hal buruk ketika kamu kembali hadir dalam hidupku.


****


“DEAN.” Akira berteriak untuk yang ketiga kalinya.


Dean membuka pintu kamar seraya berkata “Kenapa harus berteriak? Memangnya tenggorokan kamu gak sakit teriak kaya gitu?,” ucapnya dengan datar.


“Kamu mau sampai kapan mengikat aku kaya gini, Dean? tanganku sudah sangat pegal dan aku juga perlu ke kamar mandi!” Akira benar-benar tak habis pikir untuk apa Dean menahan dirinya disini.


Dean berjalan mendekat. “Kenapa makanannya belum di makan?” ucap Dean tidak memperdulikan ucapan Akira sebelumnya.


“Bagaimana aku mau makan kalau tangannya diikat begini?” balas Akira sinis.


“Ah iya.” Sahut Dean dengan polos membuat hati Akira merasa geram.


Oh, Ya Tuhan, bolehkah aku melakukan tindakan kriminal satu kali saja. Aku ingin memukul kepala Dean dengan keras agar pria itu bisa kembali waras.


“Jadi, bisakah kamu buka ikatan ini, Dean. Aku perlu ke kamar mandi,” Akira sudah dari bangun tidur menahan buang air kecil, jika tadi ia bangun jam 1 siang berarti ia sudah menahan buang air kecil lebih dari tiga jam karena saat ini sudah jam empat sore.

__ADS_1


“Tapi aku tidak bisa buka ikatan di tangan kamu, Akira,” jawab Dean sambil mendaratkan pantatnya di atas kasur samping Akira.


Akira mengernyitkan dahi, menatap Dean dengan penuh tanda tanya. “Terus gimana aku ke kamar mandi,? Aku gak mungkin menuntaskan hajatku di atas kasur ini, iya kan?”


Dean terdiam beberapa saat. “Kalau aku lepasin kamu nanti yang ada kamu kabur, apalagi kamu punya ilmu beladiri bisa aja nanti memukul aku terus kabur.”


Akira menghela napas panjang seraya berkata “Dean sebenarnya apa tujuan kamu ngelakuin ini, apa salah aku? Aku rasa diantara kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi.”


Dean menoleh pada Akira dengan tatapan tajam, “kamu sudah membohongi aku, Akira. Kamu mau menghancurkan aku, kan, seperti yang dilakuin wanita laknat itu?”


Akira semakin mengerutkan dahinya. Sungguh, ia tidak mengerti apa yang diucapkan Dean.


“Aku ngebohongin kamu? Ngebohongin apa...? Dean... aku beneran gak ngerti apa yang kamu ucapkan, coba kamu jelaskan sama aku, apa salah aku? Apa yang membuat kamu melakukan ini semua? Aku benar-benar gak paham, Dean.”


Dean terkekeh sinis sambil membuang wajahnya ke arah lain. “Kamu pinter akting banget, Akira. Pantesan selama ini aku ketipu sama sikap kamu yang sok alim.”


Akira menatap Dean dengan tatapan tidak percaya, dan kepala Akira terasa pusing karena obrolan yang sama sekali tidak ia mengerti.


“Dean, aku benar-benar gak ngerti apa yang kamu ucapkan,” lirih Akira sendu.


Dean mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat, ia merasa geram pada Akira yang sok polos seperti tidak mengerti apa-apa. Dengan cepat Dean menoleh pada Akira, mencengkram leher Akira dengan kuat, hingga membuat Akira membelalak, terkejut setengah mati.


“Jangan berpura-pura sok polos lagi, Akira! Aku benar-benar sudah muak dengan kamu, Akira.” geram Dean dengan tatapan tajam siap membunuh.


Mata Akira memerah menahan air mata yang ingin keluar. Ia benar-benar kaget dengan Dean yang tiba-tiba mencengkram lehernya dan saat ini ia sangat kesulitan bernapas.


“Apa tujuan kamu kerja di perusahaan ku, hah? Kenapa kamu menyembunyikan identitas kamu yang sebenarnya,? Kamu mau menghancurkan aku, kan? Kamu sengaja hamil untuk menghancurkan aku, kan?” bentak Dean penuh amarah tepat di hadapan wajah Akira.


“Dean... aku tidak bisa bernapas,” lirih Akira bersamaan dengan air matanya sudah tidak bisa ditahan, meluncur keluar dari sudut mata Akira. Bentakan Dean sukses membuat tubuh Akira bergetar ketakutan. Kenangan-kenangan buruk di masa lalu perlahan-lahan muncul kembali di otak Akira dan kembali membuka luka lama di dalam hati Akira.


Dean langsung menghempaskan leher Akira dengan kasar saat air mata Akira meluncur deras dari sudut matanya, dan Dean bisa melihat dengan jelas tubuh Akira yang bergetar ketakutan.


Dean beranjak dari kasur dan mundur beberapa langkah. Apa aku sudah keterlaluan membentak Akira? Bukan kah Akira sudah biasa mendengar bentakan ku, tapi kenapa tubuhnya bergetar ketakutan seperti saat bertemu Nando. Oh... atau jangan-jangan dia hanya akting agar aku merasa kasihan pada dia? Tapi kenapa aku ikut sedih melihat dia menangis dengan bahunya yang berguncang seperti itu. Dia terlihat sangat kesakitan.


Dean mengepalkan kedua tangannya dengan perasaan yang tidak menentu. Ia ingin memeluk Akira, menenangkan wanita itu seperti saat Akira ketakutan bertemu Nando, saat Akira ketakutan seperti di puncak. Dean ingin menjadi tempat untuk Akira berlindung, tapi saat ini ia tidak mungkin melakukan hal itu, terlebih lagi dirinyalah yang membuat Akira seperti saat ini.


Dia cuma akting Dean, dia hanya ingin kamu merasa kasihan pada dirinya. Kamu tidak boleh tertipu lagi dengan aktingnya yang seolah-olah terlihat sangat rapuh.

__ADS_1


__ADS_2