Aku Milikmu

Aku Milikmu
Awal Mula


__ADS_3

3 hari kemudian.


Akhirnya hari ini Akira bisa kembali kerja seperti biasanya, tugas menggantikan Ethan sudah selesai karena pria itu sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Akira merasa senang, tidak lagi berdekatan dengan tuannya itu, jujur saja selama bekerja dekat Dean membuat hati Akira tidak karuan apalagi mengingat mereka pernah tidur bersama.


“Pagi mas Jul,” sapa Akira ceria yang baru datang pada rekan kerjanya.


Julian yang sedang pokus pada layar komputernya menoleh pada Akira dan tersenyum balik, “Pagi juga, Kir”


“Pagi-pagi udah sibuk aja, gimana perjalanan bisnisnya, lancar?” tanya Akira sambil mendaratkan pantatnya pada kursi kerjanya di sebelah meja kubikel Julian.


“Ada sedikit masalah sih tapi overall lancar,” jawab julian. Akira hanya mengangguk kecil sebagai jawaban sambil mengelap meja kerjanya dengan tisu. Walaupun mejanya sudah bersih terkadang Akira mengelapnya lagi. Ia harus memastikan semuanya dalam keadaan bersih dan rapih sebelum memulai kerja.


“Oiya, ini aku ada oleh-oleh buat kamu,” lanjut Julian.


Akira sedikit mendorong kursinya kebelakang agar bisa menengok dengan leluasa pada Julian, “Wow, aku dikasih oleh-oleh.? Padahal mas Julian gak perlu repot-repot, mas Julian kan disana kerja bukan jalan-jalan.”


Julian terkekeh sambil memberikan Paper Bag isi oleh-oleh pada Akira, “Didalam hatinya mah seneng kan, aku kasih oleh-oleh?”


“Ya senenglah, siapa juga yang gak seneng di kasih oleh-oleh.? Makasih ya mas Julian.” Akira tersenyum manis menunjukan deretan giginya yang rapih.


“Iya sama-sama,” jawan Julian. “Eh, Kir, ngomong-ngomong gimana waktu kerja gantiin pak Ethan? Sering dimarahin gak sama Tuan Dean?” tanya Julian sambil kepalanya nongol di kubikel Akira.


Akira menyalakan komputernya lalu menoleh pada Julian “Ya gitu aja deh mas,” jawab Akira sambil mengangkat kedua bahunya.


“Gitu gimana?” Julian kepo masih dalam posisi semula.


“Ya gitu,”


“ya iya, gitu gimana loh,?” Julian masih belum menyerah


Akira tidak mungkin kan cerita kalau ia dan Dean tidur bersama? Kalau masalah itu cukup dirinya dan Dean yang tahu. Ia tidak perlu mengumbar-ngumbar aib tersebut, lagipula dirinya juga malu sendiri jika menceritakan hal itu pada orang lain.


“Ya gitu, kalau aku salah ya dimarahin, kalau gak buat masalah ya enggak,” jawab Akira.


“Dimarahinnya di bentak-bentak gak?” lanjut Julian masih penasaran.


Akira menghembuskan napas panjang, ia lupa kalau pria rekan kerjanya itu mempunyai tingkat penasaran yang tinggi, dia tidak akan berhenti bertanya sebelum rasa penasarannya terpuaskan.


“Mas Julian kan tahu gimana Tuan Dean kalau lagi marah,” jawab Akira tanpa menghadap Julian dan mulia sibuk dengan komputernya.


“Aku kira Tuan Dean bakal tertarik sama kamu, Kir. Dan bersikap beda, Secara kamu kan cantik.”


Akira terkekeh sambil menoleh sekilas pada julian yang masih dalam posisi belum berubah, “Mas Julian kaya orang baru kerja satu bulan disni, tau gak? Noh, si Ayu kepala keuangan aja yang cantiknya aduhay sering tuan Dean marahin. Apalagi aku yang kaya gini.” Sambar Akira, “Tuan Dean itu gak beda-bedain orang cantik dan yang gak cantik, kalau kerjanya salah-salah, ya dimarahin walaupun dia cantiknya kaya dewi Aphrodite,” lanjut Akira.


Julian mengangguk-ngangguk kecil, membenarkan apa yang dikatakan Akira. “Iya juga sih,” ia menarik kursinya kembali pada meja kerjanya. “Kir ada gosip baru gak selama aku gak ada di kantor?” tanya Julian di balik kubikelnya.


“Tanyain aja sama yang lain aku gak tahu,” jawab Akira. Selain kepo, Julian juga suka berita gosip yang menyangkut karyawan-karyawan kantor disini.


“Yah, kamu mah gak uptade, Kir.”

__ADS_1


Akira hanya mengangkat bahunya, tidak menanggapi. Dan mulai pokus pada kerjaannya.


Hari ini Dean tidak masuk kantor, seperti biasa pria itu lebih sering kerja di rumahnya dari pada di kantor. Pria itu hanya ke kantor jika ada rapat yang memang tidak bisa digantikan orang lain. dan Akira bersyukur akan hal itu, karena tidak perlu bersikap canggung bertemu sang tuan.


“Kir, disuruh nganterin laporan rapat tadi pagi ke rumah Tuan Dean,” ucap Julian sambil memainkan ponselnya.


Akira menghentikan langkahnya, saat ini mereka baru selesai makan sing dan sedang berjalan menuju ruangan mereka. “Kok aku Mas Jul? Biasanyakan Mas Julian yang nganterin?” tanya Akira heran.


Julian ikut menghentikan langkahnya, “Gak tahu aku juga, Pak Ethan yang nyuruh. Nih chatnya baru aja.”


“Kenapa gak lewat email aja ngirim notulen rapatnya? Lebih praktiskan dari pada harus kesana?” tanya Akira lagi, sebenarnya ia sangat keberatan harus ke rumah Dean.


“Ck, aku juga gak tahu. Ini Pak Ethan yang nyuruh,” Julian menyodorkan layar ponselnya ke hadapan Akira, memperlihatkan chat dari Ethan. “Iya aku juga heran biasanya notulen rapatnya suka dikirim lewat email, gak perlu dikirim ke rumahnya kecuali memang ada berkas penting,” lanjut Julian.


“Mas Jul aja yang kesana ya,” pinta Akira.


“Kamu yang disuruh bukan aku,” tolak Julian, yang ada ia dimarahi karena ia yang kesana bukan Akira.


“Mas Jul gitu ah, gak solid.” Ucap Akira kesal sambil berlalu meninggalkan Julian.


Julian hanya terkekeh menanggapi ucapan Akira dan berjalan mengikuti dari belakang.


Sekarang Akira sudah sampai di depan rumah sang tuan, ia kira tidak akan pernah menginjakan kakinya kembali ke sini tapi ternyata baru kemarin ia selesai menggantikan tugas Ethan sekarang sudah kesini lagi.


Memang terkadang suka begitu, sesuatu hal yang kita hindari terkadang malah sering menghamiri hidup kita.


Akira masuk kedalam lift dan menekan tombol angka empat, dimana tempat tuannya bekerja.


“hey Akira,” sapa Ethan tersenyum, yang baru saja keluar dari ruangan Dean.


Akira hanya mengangguk kecil sambil tersenyum balik.


“Kamu langsung ke ruangan Tuan Dean saja, nanti ada sesuatu yang mau saya bicarakan.” Ucap Ethan sambil berlalu ke ruang kerjanya.


“Baik pak,” jawab Akira.


Akira mengetuk pintu ruangan Dean, dan dari dalam ada sahutan mempersilahkan masuk.


“Tuan, ini berkas yang anda minta,” ucap Akira sambil menyerahkan berkas tersebut di atas meja.


“Ya taruh aja disitu,” jawab Dean tanpa melirik ke arah Akira. Semenjak Akira masuk Dean tidak melepaskan pandangannya dari berkas-berkas yang menumpuk di meja, membuat kehadiran Akira tidak diacuhkan.


Akira merasa bingung apa yang harus ia lakukan, beberapa saat hanya berdiam diri di depan meja sang tuan.


“Kenapa masih berdiri disini?” tanya Dean dengan ketus sambil melirik pada Akira.


Akira hanya menyengir seraya berkata “Kata pak Ethan ada yang mau dibicarain, tuan.”


“Terus kenapa masih berdiri disini,? Ruangan Ethan ada disebelah,” Dean mengusir.

__ADS_1


“Oh iya,” Akira tersenyum tidak enak, ia kira akan dibicarakan diruangan ini. akhirnya ia pun pamit dan keluar dari ruangan Dean.


“Kenapa keluar?” tanya Ethan sambil berjalan mendekati Akira.


Akira yang baru saja menutup pintu ruangan Dean menoleh pada Ethan, “Saya mau kerungan pak Ethan, kata pak Ethan ada yang mau dibicarain.”


“Kita bicarainnya bersama Tuan Dean, karena ini menyangkut perusahaan.” Ethan mendorong pintu di belakang punggung Akira, sedangkan Akira tidak langsung masuk. Ia berdiam diri beberapa saat lalu menghembuskan napas berat.


Aku merasa dipermainkan. Batin Akira, lalu berbalik badan masuk kembali ke ruangan Dean.


“Silahkan duduk Akira, kamu mau minum apa? Biar saya buatkan,” ucap Ethan


Akira langsung menggelengkan kepalanya, “Gak usah pak, kalau saya ingin minum saya bisa buat sendiri,” mana enak dibuatkan minum sama bos sendiri. Batin Akira.


“Tidak apa-apa sekalian saya mau buat kopi, mau minum apa?” tanya Ethan sekali lagi.


“Saya gak enak pak, masa bos bikinin minum buat bawahannnya.”


“Ck, kalau mau minum ya tinggal bilang saja, dan kau Ethan, kalau dia gak mau jangan dipaksa. Mengganggu saja kalian.” Ucap Dean ketus sambil melirik keduanya dengan tajam.


Akira langsung menundukan kepalanya, merasa bersalah. “Saya bikinin kopi saja ya, saya sering lihat kopi di meja kamu,” bisik Ethan tapi masih terdengar oleh Dean.


“Iya pak,” jawab Akira masih menunduk.


“Kamu duduk aja di sofa aja, saya buatkan dulu kopinya” ucap Ethan lalu berjalan menuju pintu


“Oiya pak, jangan pake gula ya, kopinya.” Ucap Akira sedikit keras saat Ethan ingin membuka pintu.


“Kamu suka kopi gak pake gula, sama kaya—“ Ethan terdiam ketika Dean menatap tajam ke arahnya “Tunggu sebentar ya, saya buatkan,” lanjut Ethan sambil tersenyum lalu menghilang dari balik pintu.


lagi-lagi Akira merasa canggung berduaaan dengan Dean, seharusnya tadi ia ikut membuat kopi dengan Ethan dari pada ditinggal berdua dengan Dean. Akira mengambil ponselnya di dalam tas untuk menghilangkan rasa bosan sambil menunggu Ethan kembali.


“Ah sial,” umpat Dean membuat Akira menoleh padanya.


“Kenapa Tuan?” tanya Akira sambil mendekat.


Akira melihat Dean sedang mengibas-ngibas celananya yang basah, sepertinya celana pria itu ketumpahan kopi minumannya.


Akira mengambil tisu yang tersedia di meja lalu berjongkok menghadap Dean, ikut membersihkan celananya yang basah di sekitar paha.


“Lain kali tuan harus hati-hati,” ucap Akira sambil terus membersihkan celana Dean, sedangkan Dean hanya diam memandangi wajah Akira. Ia ketumpahan kopi juga gara-gara wanita itu, ia jadi tidak pokus bekerja semenjak Akira datang keruangannya. Apalagi hanya berdua dengan wanita itu, membuat pikiran Dean dikuasai dengan pikiran-pikiran kotor.


Apalagi sekarang pahanya sedang disentuh oleh Akira, membuat inti tubuhnya perlahan bangun. Sedikit lagi tangan Akira maju lebih dalam maka tangan itu bisa menyentuh miliknya yang ingin dipuaskan.


“Sudah cukup,” ucap Dean dingin sambil menahan pergelangan tangan Akira agar memberhentikan aksinya. Dean tidak ingin Akira melihat inti tubuhnya yang menyembul dibalik celana karena sekarang inti tubuhnya sudah bangun sepenuhnya.


...----------------...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2